
Tak tak tak tak tak!
Langkah kaki seorang wanita terlihat masuk dengan menggunakan high heels panjang berwarna hitam mengkilat.
Dua pria di dalam ruangan nampak tertegun dan tidak bisa berbicara apapun saat melihat kedatangan wanita itu.
"Ibu?"
Tampak wajah kesal dan malas mulai terkuat mengisi wajah Axelo yang entah mengapa sekarang menjadi berubah tak tentu perasaannya pada sang ibunda.
Wanita itu terlihat berhenti melangkahkan kedua kakinya, dan mulai menatap kedua mata anak bungsunya dengan tatapan pembenci.
"Jika kau tak suka dengan cara kakak kamu membalas dendam, maka jangan kacaukan rencana dia, cukup kamu diam dan jangan melakukan apapun, kau harus tahu itu." Ucap Nyonya Armei pada Ashkan yang berdiri mematung di sana.
Sementara dari Axelo sama sekali tidak ada pembelaan untuk si bungsu. Dia malah terlihat diam saja seolah dia begitu mendukung keputusan ibunya.
Namun benarkah hal itu?
"Memang racun itu sengaja kakak kamu gunakan untuk membuat Wishnu Fotham lumpuh, dengan begitu, kita juga akan semakin mudah untuk merebut semua yang dia miliki, asal kau tahu saja Ashkan, semua harta dan perusahaan yang dipegang oleh Wishnu itu punya ayah kalian, jadi wajar saja kalau kakak kamu menginginkan semuanya dengan jalan yang seperti ini." Ucap Nyonya Armei sampai terlihat kerutan di dahinya akibat bicara dengan lantang.
Prak!
Seseorang terlihat tertegun di depan pintu, dengan berkas-berkas yang kemudian telah jatuh berhamburan di atas lantai.
Tes!
Air matanya luruh di pipi, makin kesini makin deras, sampai akhirnya menangis terisak.
Hiks.. hiks..
Ketiga orang di dalam ruangan mendengar kejadian tersebut. Dengan cepat Axelo bangkit dari duduknya dan bergerak keluar, melihat siapa kiranya yang menangis di sana.
Gubrak!
"Ah? Valesha??"
Dia langsung mendekat manakala mendapati sang istri yang tengah menutupi wajahnya dengan kedua tangan sembari terus menangis.
Ia juga melihat berkas-berkas Valesha berjatuhan di atas lantai. Tak tahu apa isinya, tapi memang dia tidak bisa menanyakannya untuk sekarang ini.
__ADS_1
Dia yang cemas akhirnya terlihat mencoba menggapai tubuh Valesha, namun mendadak Valesha menjadi ganas.
"Valesha.."
Mencoba menyentuh Valesha.
Plak!
Tapi Valesha malah menepis tangannya itu, dan bersikap seperti layaknya seorang pembenci.
"Jangan sentuh aku!" ucap wanita itu.
Sekarang sudah jelas terlihat kalau air mata di pipi Valesha makin mengering. Tampak wajah yang semula sendu dan dipenuhi oleh air mata mendadak lenyap, bergantian dengan ekspresi amarah yang meluap-luap.
"Bertahun-tahun aku berusaha untuk mencari penawarnya, dokter bilang racun di tubuh ayah sangat langkah, tidak ditemukan lagi bahan pembuatannya, dan tidak ditemukan pula penawarnya," ucap Valesha tampak seperti tak lagi punya rasa kekalahan, "tapi barulah aku menyadari, kalau iblis itu rupanya benar dirimu."
Di dalam sana, tampak Nyonya Armei yang menyunggingkan senyuman liciknya dengan sembunyi-sembunyi, tak mau juga kalau sampai anak bungsunya itu melihat, karena dia tahu kalau anak bungsunya itu jelas tidak akan menyetujui hal tersebut.
"Valesha!"
"Cukup! selama ini aku mengalah, aku pikir kau tidak akan menyakiti ayahku, tapi lihat sekarang, kau malah lebih dulu menyakiti ayahku sebelum bertemu denganku, apa kamu pikir aku masih bisa memaafkan kamu dan bertahan di sisimu? jangan harap Axelo!!"
Valesha melirik beberapa berkas di atas lantai, sampai akhirnya dia kembali mengingat apa tujuan dia datang kemari.
"Sebelumnya aku ingin bertanya kenapa kau menanam saham begitu tinggi di perusahaanku, tapi sekarang, aku tak mau bertanya lagi, ambil saja apa yang seharusnya kamu rebut, jika sudah puas, maka tinggalkan keluarga kami dan biarkan kami hidup bahagia!"
Humph!
Wanita itu berbalik dan berlari sekencang kilat disertai air mata yang terus berderai di pipinya dengan menyakitkan.
Semua orang melihat kepergian Valesha dari sana namun tak ada satu pun yang bisa membantu Valesha berhenti menangis.
Betapa sialnya nasib hidupku, yang harus mencintai dan menikahi seorang pria yang malah menjadi musuh dalam selimut, dia bahkan dengan kejinya membuat ayahku hampir mati bertahun-tahun yang lalu.
Jika bukan karena kami yang rela mencari obat untuk meredam rasa sakitnya, untuk sedikit mencegah penyebaran virusnya, mungkin ayah sekarang sudah tiada.
Dia kemudian berhenti di pinggir jalan. Ia mengusap air matanya yang sudah terlanjur membanjiri pipinya sampai benar-benar menjadi lautan.
Ia teringat masih punya sahabat baik di kota ini. Dia pun lekas menghubungi sahabat baiknya itu dengan menggunakan ponselnya.
__ADS_1
Bip!
"Hallo, Gesh, Geshka, tolong jemput aku, sekarang.."
Suara itu terdengar sangat lirih, dengan nada yang bergetar dan juga disertai sesenggukan sesekali, membuat Geshka merasa cemas dan akhirnya langsung beranjak menjemput Valesha dengan mobil taksi.
Sementara Valesha terlihat berjalan menjauh dari perusahaan Axelo, menyusuri jalanan sepi yang entah mengapa jadi semakin gelap kali ini.
Namun ia tak peduli, tak juga merasa ketakutan, apalagi merasa terancam. Yang dia tahu hanyalah, dia ingin segera menjauh dari tempat neraka itu.
Hap!
Namun saat dia berjalan, mendadak dia dikejutkan oleh kedatangan seorang pria yang merengkuh tubuhnya dari belakang, menyematkan kepalanya di atas bahunya, dan kemudian meminta dia untuk berhenti.
"Aku mohon berhentilah, jangan buat aku marah!" ucap seseorang itu dengan nada yang begitu dalam.
Valesha tak diam saja. Dia yang semula selalu diam dan pasrah jika suara ini mendekat ke arahnya, namun sekarang dia malah terlihat begitu gagah dan berani menepis tangan kotor Axelo itu dari tubuhnya.
Berbalik.
Plak!
Satu tamparan keras menyambar pipi Axelo, dan membuat ruam merah di sana. Agaknya itu sangat sakit.
"Sudah cukup kau membodohi aku selama ini! jika pun kau mau membodohi wanita lagi, maka itu bukan aku, bukan aku wanita yang akan kau bodohi!" ucap Valesha dengan nada datarnya, namun jujur saja, itu tampak mengerikan.
Valesha terdiam sebentar, melihat kalau suaminya tak lagi bicara, suaminya tak mau mengatakan apapun padanya. Dan akhirnya, dia pun mulai terlihat berbalik dan kembali meninggalkan suaminya.
"Aku bersumpah kau hanya akan menjadi milikku seumur hidup!"
Tak!
Langkah kaki Valesha terhenti, manakala dia mendengar kata-kata itu dari mulut Axelo. Bukan dia merasa takut, mungkin dia juga berpikir kalau pria ini memang sudah gila.
Dia pun lekas berbalik dan tak kalah juga membalas Axelo.
"Itu hanya akan terjadi jika kau tidak bersalah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1