Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Kejadian Pagi Itu


__ADS_3

Pagi harinya, ia membuka kedua matanya yang semalam terlelap tidur di atas kasur milik suami sahnya.


Saat bangun di pagi itu, nampak jelas matahari menyemburat menyinari wajahnya hingga silau terasa menimpa kedua matanya.


Ia lekas bangun, tanpa lebih dulu meraba kasur, atau sekedar menilik dimana suaminya berada. Saat itu, dia tak punya pemikiran apapun selain ingin kembali ke rumah sakit, dan menemui ayahnya yang tengah terbelenggu.


Lekas dia terbangun dan mandi secara gugup, lalu dia lanjut lagi dengan mengganti pakaian yang lebih pantas.


Tak tak tak tak tak


Dengan langkah tergesa ia mencoba untuk menuruni tangga. Namun mendadak langkah kedua kakinya terhenti, manakala kedua bola matanya menangkap pemandangan mengejutkan yang dia dapat dari arah sofa ruang tengah.


"Um? Axelo? kau ini kenapa?"


Kedua matanya membola dengan sangat tajam pandangannya. Langkah kakinya menjadi begitu tegas dan cepat menuju ke arah suaminya berada.


Suaminya tampak menoleh dengan lelah. Tak beda pula dengan adik kandung Axelo yang tergeletak dengan lemah di samping Axelo, dengan seluruh wajah tampak membengkak dan mengeluarkan banyak darah.


Dari pemandangan ini, Valesha bisa mengetahui semuanya tanpa mereka bercerita.


Valesha yang semula langsung terduduk di samping suaminya mendadak kembali bangkit dan mengepalkan kedua tangannya dengan marah. Wajahnya memang mulai tampak murka kala itu.


Bahkan murka di wajahnya bisa membuat kedua kakak beradik itu agak ketakutan. Wajah manis bak boneka milik Valesha pada nyatanya mampu berubah menjadi iblis nan mengerikan saat dalam keadaan marah besar.


"Kalian ini! apa kalian tidak bisa akur untuk sebentar saja? apa kalian tidak kasihan padaku? aku ini sedang menanggung masalah yang sangat besar, aku sedang dibuat bingung dengan kondisi ayahku yang kian hari kian memburuk! tapi kalian seolah tidak peduli!"

__ADS_1


Valesha berhenti saat itu, membiarkan kedua pria di atas sofa berpikir sejenak.


"Bertengkar saja terus! bertarung saja sampai kalian mati di tangan masing-masing! aku sudah tidak peduli lagi! obati luka kalian sendiri! aku muak menghadapi kalian yang seperti anak kecil!!!"


Dengan amarah yang kian bergejolak, Valesha pun menitah langkah kedua kakinya meninggalkan Axelo dan Ashkan di ruang tengah, dengan kondisi yang menyedihkan, dan juga begitu mengkhawatirkan.


Tidak ada pencegatan dari siapapun entah dari Axelo maupun Ashkan. Kedua pria itu bukannya tidak peduli pada kepergian Valesha. Mereka hanya tengah sibuk berpikir tentang ucapan Valesha barusan.


Dalam kondisi yang marah seperti itu, saat berjalan keluar dari rumah suaminya pun Valesha tetap merasa kesal, menggerutu dalam hati kecilnya, dan terus saja begitu sampai pada akhirnya dia menjumpai seseorang di ambang pintu.


"Um?"


Valesha sejenak tertegun. Ia pun berhenti dan menatap seorang wanita yang datang ke sana dengan langkah tegak dan seolah siap menendang Valesha dari rumah tersebut. Namun benarkah itu tujuan si wanita ini datang?


"Selamat pagi Nyonya Axelo Devandra Wicaksono?!"


Valesha yang masih dalam keadaan tertegun pun tidak menjawab apapun yang dikatakan oleh Armei padanya. Ia hanya diam dan bisu seperti patung.


"Apa kabar si tukang adu domba? kau yang sudah membuat keadaan semakin kacau, dan kau pula yang membuat kedua putraku bermusuhan seperti ini!" ucap Nyonya Armei sambil masuk dan kemudian mendekati kedua putranya, berniat untuk mengelus kepala dua anaknya.


Valesha hanya menatapi wanita itu dari ambang pintu, tanpa mendekat ke arahnya sama sekali.


Tangan wanita itu dengan perlahan mulai mengusap kepala Axelo, namun mendadak tangan Axelo menepisnya.


Plak!

__ADS_1


"Ouh!"


Wanita itu terkejut bukan main. Ia tak tahu mengapa bisa anak sulungnya yang terkenal penurut padanya itu mendadak berubah menjadi liar dalam sekejap waktu.


Berdirilah Axelo dari duduknya. Padahal belum sempat Armei menata hatinya sejak Axelo menepis sentuhannya dan membuat dirinya bertanya-tanya apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Axelo, kau kenapa? kamu marah pada ibu? katakan saja, apa yang membuat kamu marah, Nak?" ucap Armei basa-basi, berpura-pura seolah dia tak mengetahui apapun.


Namun tatapan mata Axelo menajam dengan sangat mengerikan, membuat bulu kuduk Armei seketika meremang hebat, juga membuat langkah kakinya terpaksa bergerak mundur.


"Ibu, tidak perlu berpura-pura! aku tahu kau juga terlibat dalam semua ini! aku tahu kau adalah dalangnya dibalik semua ini!" ucap Axelo langsung membuat Ashkan dan Valesha yang semula agak tidak peduli menjadi sedikit menaruh perhatian.


Tak hanya Valesha dan Ashkan yang terkejut dengan perkataan Axelo barusan. Armei pun nampak terkejut dikala mendengarnya.


"Apa? dalang apa maksud kamu? ibu tidak mengerti apapun, coba jelaskan padaku apa yang kau pikir tentang ibu?" tanya Armei masih berpura-pura tak mengerti apapun.


Axelo tahu ibunya adalah wanita yang terlalu pandai berbohong. Entah darimana dia tahu hal tersebut. Ia bahkan hanya melihat ibunya sekilas saja sebelum menyimpulkan pemikiran seperti itu.


Ia yang tak mau mendebat ibunya dengan cara yang kasar pun hanya bisa berlalu mengambil air putih di atas meja dapur, dan kemudian meneguknya.


Semua orang masih terus menatap dirinya, menunggu jawaban pasti dari mulutnya, tak terkecuali Valesha.


"Ibu, malam itu, saat kejadian penculikan Valesha, aku mengangkat panggilan di ponsel salah satu penculiknya. Dan suara yang ada di seberang adalah suara ibu, apa kau bisa menjelaskan padaku soal itu?" pertanyaan Axelo tentu membuat Armei mendadak gugup.


Wanita itu pun hanya terlihat meringis ketakutan dan juga berpikir dengan rumit untuk menjawab pertanyaan tersebut.

__ADS_1


Bagaimana dia akan berbohong lagi nantinya?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2