
"Heng! dia berani sekali."
Gumam Geshka di telinga sahabat karibnya manakala keduanya tengah menonton siaran langsung di ponsel milik Geshka.
Tampak wajah jengah mulai terpampang dengan nyata di wajah Valesha yang sudah mulai bosan.
Bagaimana tidak, sejak konferensi pers di mulai, yang sudah sekitar setengah jam yang lalu, sampai pada titik terkahir, dimana Victor akhirnya menang dengan mendapatkan perhatian dan dukungan dari awak media dan berhasil pergi dengan menggandeng Sheilin sebagai istri pura-puranya, mata Geshka tak pernah berlatih satu inci pun dari layar ponselnya.
Kesalnya lagi, Geshka bukan hanya menonton siaran dari idolanya itu seorang diri. Dia juga melarak paksa Valesha untuk menonton bersamanya.
Sebenarnya Valesha juga tak mau mendengar berita tentang wanita ular itu lagi, tapi kali ini dia benar-benar harus mengesampingkan egonya itu, bagaimanapun juga, Geshka adalah salah satu orang yang harus dia pedulikan.
Klik!
Ponsel pun dimatikan, setelah mendapat Geshka benar-benar memastikan kalau siaran memang sudah berhenti.
Dia pun tampak kesal dibuatnya. Dia tampak begitu senang melihat pengakuan dari kedua orang itu.
Agaknya dia benar-benar peduli pada sosok Victor, meski Victor sendiri bahkan tak pernah tahu apakah dia hidup di dunia ini atau tidak.
"Hufff!" ia bahkan berkeluh kesah dengan ketidak puasan yang dia rasakan itu.
Entahlah. Dia terlihat sangat kacau setelah menyaksikan konferensi tersebut.
"Aku tidak menduga kalau Victor begitu bodoh, sampai-sampai wanita gila seperti itu dia bela mati-matian, padahal dia mau wanita seperti apa, asal dia mau, semua wanita juga akan berebut berada di posisinya, dia terlalu bodoh aku rasa." Ucap Geshka dengan tatapan matanya yang terus mengarah pada jendela mobil.
"Kau ini berlebihan sekali, dia hanya idola yang belum tentu juga tahu kamu mengidolakan dia, dia juga bukan urusan kamu, bagaimana kamu bisa sebegitu pedulinya?" tanya Valesha merasa heran pada Geshka.
__ADS_1
Namun perkataan dari Valesha barusan seketika membuat Geshka langsung menoleh dan menatap tajam ke arah Valesha, seolah tak terima dengan ucapan yang terlontar dari Valesha barusan.
"Hei, kau! kau tidak pernah tahu bagaimana jatuh cinta pada idola sampai-sampai tidak bisa berpaling darinya lagi," jawab wanita muda itu dengan sangat ketus, "kau bahkan tak pernah tahu bagaimana dia sangat berjasa pada hidupku yang kacau sebelum ini, dia sangat berjasa dalam mengembalikan hatiku yang kacau, jika aku tidak melihat dia di televisi, aku mungkin tidak pernah bisa menemukan apa artinya cinta dan perjuangan yang tidak bisa aku gapai, tapi harus tetap berjuang, dia sangat berharga bagiku."
Wanita itu tampak membayangkan sesuatu yang tampan ghaib.
Entahlah.
Kecanduan idola tampan, namun sayang sekali, lagi dan lagi idola tampan harus mengecewakan.
Siapapun pasti akan merasa patah hati jika idolanya membuka kabar tentang pernikahan, atau sekedar jalan dengan kekasihnya, itu lumrah terjadi.
Biarlah saja. Hanya sebentar saja, ya, situasi dan kekacauan hati semacam ini hanya akan terjadi sebentar saja, sampai akhirnya lambat laun juga akan kembali seperti semula, normal dan baik-baik saja.
Ya, mendapat pemikiran singkat seperti itu, Valesha pun akhirnya bungkam dan acuh saja, tak mau kembali bersuara untuk meredamkan kekacauan di hati sahabat baiknya itu.
"Oh iya, bagaimana dengan suami kamu? dia juga disebutkan di sini, apa dia memang berselingkuh dengan Sheilin meski setelah menikah dengan kamu?" tanya Geshka kali ini membuyarkan diamnya Valesha.
Benar juga, Sheilin begitu beraninya mengatakan kalau Victor membuat dia dan Axelo putus, apa mungkin hari itu, sebenarnya Axelo merasa kecewa karena tahu sudah dikhianati oleh Sheilin?
Karena itulah dia tidak mau lagi membahas tentang Sheilin, dan malah terus saja mendekati aku, seakan akulah pelampiasan itu?
Jika benar, dia memang sangat hebat dalam bermain! akhirnya aku juga bisa mendapat kesimpulan atas pertanyaan yang membelenggu diriku sekian lama, akhirnya aku tahu kenapa wanita itu tidak lagi menemani Axelo, dan Axelo malah berusaha dengan keras untuk mendekati aku.
"Valesh! kau melamun lagi!" teriak Geshka membuat lamunan Valesha seketika berhenti.
"Kau bertanya apa barusan?" tanya Valesha masih setengah tidak sadar.
__ADS_1
"Hahh! kau ini! apa kau masih tidak bisa tidak serius sebentar saja? aku hanya bercanda menanyakan hal itu, apa kamu masih juga berpikir kalau aku bertanya serius? jangan berpikir macam-macam soal suami kamu itu, aku yakin dia pria yang setia."
Ucap Geshka sembari membuang pikiran curiganya pada suami Valesha. Ya, bagaimanapun juga dia memang jadi curiga pada suami sahabatnya itu karena perkataan dari Sheilin di siaran langsung tadi.
Entahlah. Dia jadi banyak berpikir.
"Tidak juga, ada banyak masa lalu yang aku tidak tahu dari dia, aku tak terlalu peduli, bagiku dia ya dia, aku juga aku, meski kami berhubungan suami istri, tapi kami juga punya privasi masing-masing." Jawab Valesha sedikit menutup aib rumah tangganya, namun juga memberi sedikit celah pada sahabatnya untuk sedikit mengerti.
"Kau berkata seperti ini, aku tak mau peduli, aku masih lajang dan belum merasakan bagaimana menikah itu, jangankan menikah, dekat dengan seorang pria pun tidak, nasibku jauh berbeda dengan nasib kamu, sayang sekali bukan?"
Agaknya sahabat Valesha ini tengah mencurahkan isi hatinya pada Valesha. Situasi memang jadi berbalik, jika sebelumnya Valesha yang sedih dengan nasibnya, kali ini malah terlihat Geshka yang sendu dan berwajah masam.
Mungkin kedua orang ini memang tengah mengalami masa-masa kehidupan yang rumit.
\*\*\*\*\*
Dia tampak asik terduduk di mobilnya, setelah dia berhasil melihat situasi yang cukup canggung antara pasangan suami istri, Axelo dan Valesha.
Ia juga tersenyum miring, melihat keadaan mereka berdua yang tampaknya tidak baik-baik saja dalam hubungan mereka berdua..
Hal itu jelas terlihat oleh kedua matanya, apalagi saat dia mendapati Valesha yang berlalu pergi dengan sahabatnya dan memilih untuk meninggalkan suaminya di bandara dengan kesepian. Jujur saja, dia merasa dia punya peluang di sini, entah perasaan dia benar atau tidak, tak tahu pula, tapi melihat situasi ini, dia memang sedikit merasa senang.
Setidaknya jika aku tidak bisa menghancurkan perusahaan kamu, aku juga bisa menghancurkan kehidupan kamu, asal kau tahu saja, aku sudah lama menginginkan hal ini terjadi, dan aku tidak pernah menduga kalau kamu punya istri yang begitu cantik, agaknya jalan aku untuk mewujudkan tujuanku akan semakin mudah.
Ia tersenyum menyeringai dengan menakutkan, sembari membayangkan betapa dia akan puas nanti jika memang situasi berpihak kepada dirinya.
__ADS_1
"Aku sudah tidak sabar menantikannya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...