
Tanpa basa-basi Valesha langsung menghujani kedua pria itu dengan pukulan pada bagian wajah dan terutama pipi keduanya.
Barulah setelah itu suasana mulai sedikit membaik, dan perkelahian pun akhirnya usai sudah.
"Dasar kalian berdua! apa tidak bisa sehari saja tidak berkelahi? apa kalian tidak lelah terus menerus seperti ini!?" tanya Valesha dengan nada tegasnya.
Kedua matanya memicing, dilirik saja Ashkan olehnya karena ia tahu Ashkan tak terlalu bersalah dalam keadaan ini.
Namun sekarang dia mulai menatapi ke arah Axelo. Pandangan yang berbeda dengan pandangan yang ia lempar pada Ashkan sebelumnya.
Jika sebelumnya dia menatapi Ashkan dengan acuh dan tak terlalu marah, maka berbeda kali ini dengan saat dia menatap ke arah Axelo berada.
Amarah yang bercampur dengan kekecewaan yang berkecamuk. Rasa heran yang bertubi-tubi memukuli hati kecilnya, seolah bertanya-tanya dan terus menebak apa kiranya yang tengah dipikirkan oleh pria ini.
"Kamu! sudah tua masih saja memukuli adik kandung sendiri! sudah tahu adikmu tak pernah melawan kamu, tapi kamu sama sekali tak pernah merasa malu! pantaskah kamu disebut kakak? sudah dibilang jangan terlalu egois dan mengedepankan pemikiran sendiri! tapi kamu terus saja melakukannya! kamu melihat adik kamu ini terus dia saat kamu pukuli, kamu juga melihat kami semua selalu diam saat kamu memutuskan hal yang tidak kami sukai, tapi kamu tetap saja tidak sadar! mau sampai kapan kamu akan jadi pria bajingan seperti ini?"
Emosi Valesha meledak-ledak, seperti tabung gas elpiji yang kemudian ledakannya hampir melenyapkan seluruh penduduk kota.
__ADS_1
Hanya perumpamaan yang berlebihan.
Namun sepertinya amarah yang memuncak darinya sama sekali tidak memberi pengaruh pada Axelo sama sekali. Dia bahkan tidak melihat pria itu melunak sedikit saja dari kondisi sebelumnya.
Justru apa yang dia tangkap sekarang, dia hanya melihat suaminya kesal diceramahi olehnya panjang lebar seperti lapangan golf.
Dari situlah dia akhirnya tahu, hati suaminya yang terlalu keras dan juga terlalu sulit untuk dia pecahkan.
"Huf!!"
"Baiklah, terserah kamu saja! aku tidak mau lagi berdebat dengan dirimu!"
Hanya satu bait kalimat yang keluar dari mulut Valesha sebelum akhirnya dia memutuskan untuk sehera pergi dari tempat tersebut.
Ya, karena aku tahu, percuma saja aku bicara, jika dia mencintai aku, seharusnya dia mau mendengar apa kataku, tapi sekarang, dia tak lebih dari sekedar membenci aku, dan hanya menginginkan kepuasan akan balas dendamnya, lalu kenapa aku masih saja merasa peduli?
Dia merasa kacau dengan apa yang dia rasakan dan apa yang ia dapat dari suaminya tersebut. Meski dia tahu semuanya hanya berakhir pada kata percuma saja, namun jujur sekali, dia merasa suaminya sudah cukup membuat dia kecewa. Jika sudah begini, mengapa dia harus bertahan hanya untuk dibohongi?
__ADS_1
"Maafkan aku!"
Namun suara serak dan dalam yang keluar dari pita suara Axelo dengan seketika menghentikan langkah kaki Valesha dan juga membuat wanita itu tersentak kaget.
Ia sempat tak percaya kalau suaminya yang dingin dan juga arogan itu akan meminta maaf kepadanya. Atau mungkin, benar sekali dia hanya sedang mengalami kerusakan telinga?
Hap!
Tidak!
Ini salah!
Ini bukan kerusakan telinga, karena memang, dia juga merasakan sebuah tangan melingkar pada pinggulnya, membuat dia yang kala itu masih terkejut pun bertambah lagi terkejutnya.
"Aku hanya merasa... tidak suka!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1