
Hari itu, di rumah sakit Axelo mulai sedikit membaik keadaannya. Ia akan mulai berlatih untuk berjalan dan mengerakkan kakinya setelah satu Minggu berlalu dia tidak bisa leluasa menapakkan kedua kakinya di atas lantai.
Di sampingnya tampak pula Ashkan dengan wajah datarnya yang tampan tampak menatap sang kakak yang mulai turun dari atas ranjang dan kemudian mencoba untuk melangkah.
Beberapa hari di atas ranjang dan tidak bisa berjalan memang sangat menyulitkan Axelo. Ia hanya terus berbaring dan mengandalkan kursi roda jika hendak pergi ke kamar kecil, itu pun harus ada anak buahnya yang terus mengawasinya.
Dan sekarang Sheilin sudah bersiap untuk memapahnya turun dari atas ranjang. Dia bahkan sudah sigap dengan segala hal yang akan terjadi terhadap Axelo nantinya.
Ya, sikap sigapnya memang harus selalu dia tampilkan di depan wajah Axelo untuk menggaet perhatian pria itu, bukankah cari muka selalu jadi nomor satu untuk wanita murahan seperti dirinya?
"Kemarilah, akan aku bantu." Ucap Sheilin dengan sangat lembut.
"Ck, aku mau seorang pria yang menjagaku, aku sudah terbiasa dengan Ashkan, pulanglah!" ucap Axelo dengan dingin, jujur saja, hal itu sangat menyedihkan, juga sangat mengecewakan.
"Apa yang kau katakan? kenapa kau malah mengusir aku?" tanya Sheilin mulai merasa kesal.
"Ashkan, tolong aku!" ucap Axelo malah mengacuhkan Sheilin, entah mengapa sekarang Axelo malah lebih sering mengacuhkan wanita itu. Entah dia merasa bosan, atau mungkin, dia ingin bermain dengan satu wanita saja, entahlah, dia tak tahu.
Tapi di sudut yang lain, Ashkan malah asik bermain ponselnya, sedang berbicara dengan seseorang melalui aplikasi chat di ponselnya, agaknya panggilan dari Axelo pun tidak dia dengarkan.
*Dia belum makan sama sekali? apa mereka membiarkan dia dalam kelaparan*?
Gumam hati kecil Ashkan, agaknya dia malah tengah mencemaskan istri sah dari kakak kandungnya itu. Dia bahkan terus saja menatap layar ponselnya, sembari mengepal erat tangan kirinya.
*Dasar tidak tahu diri! apa kalian sudah tidak waras*?
Gumam dalam hatinya lagi kali ini dia memang sungguh merasa sangat kesal dibuat para pelayan di rumah Axelo.
"*Tuan, tapi kami mendapat perintah dari Nyonya Armei untuk tidak memberi makan Nona Valesha, bagaimana kami bisa mengatasi kekacauan ini*?" tanya seorang pelayan melalui chat yang terhubung dengan Ashkan.
__ADS_1
Bahkan pelayan itu pun tak bisa leluasa mengirim pesan pada sang Tuan Muda kedua, karena memang peraturan Nyonya Armei saat tinggal di rumah Axelo terlalu ketat, juga terlalu keras.
Mereka tidak bisa menghindar, sampai akhirnya, Ashkan terlalu lama berada dalam lamunannya yang asik. Ia pun tanpa sadar telah mengacuhkan saudara kandungnya hanya demi mencemaskan Valesha.
"Hemm!" dia sengaja mengeluarkan suara seraknya, berharap sang adik bisa melihatnya ada di sana, tidak melulu menatap ke arah ponselnya.
Benar saja memang. Ashkan langsung sigap bergeming dari tempatnya manakala mendengar suara serak menakutkan yang keluar dari pita suara kakak kandungnya.
"Ya." Pria bernama asli Ashkan Verhagh Wicaksono itu tampak mendekati ke arah kakaknya, setelah berhasil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana jeans yang dia kenakan.
"Aku lihat kau sangat sibuk, apa itu menyangkut pekerjaan, atau menyangkut seorang wanita?" tanya Axelo saat adiknya mencoba untuk membantunya berjalan keluar dari ruangan inapnya.
Sementara wanita iblis bermata cokelat kekuningan itu tampak berdiri bak patung yang tidak berguna. Ia menjadi pajangan dan hiasan di ruangan itu, seakan dia sudah tidak lagi memiliki nilai.
Dia pun menggerutu dengan kata-kata yang tidak jelas, namun sudah bisa dipastikan kalau dia pasti tengah menggerutu pada kekasihnya di sana.
Dia menghentakkan satu kakinya dengan kesal, namun kekesalan di dalam hatinya terpaksa harus berhenti, tatkala kedua telinganya mendengar suara dering ponselnya di dalam tas.
*Victor? dia kenapa*?
Bip!
Dia mengangkat panggilan tersebut, setelah rasa penasaran itu menguasai benaknya tanpa ampun. Dia tahu pria ini selalu datang dengan membawa kejutan, Bukankah bisa saja kejutan itu akan membuat dirinya mati penasaran?
"Hallo? kenapa kau memanggilku? aku sedang tidak bisa bicara leluasa, banyak anak buah Axelo di sini, jika ada urusan, bicaralah dengan cepat!" ucap Sheilin dengan nada lirih, tidak mau ada seseorang yang bisa mendengar pembicaraannya dengan laki-laki yang dia panggil dengan nama Victor.
"*Hahh! hari ini aku senang sekali, saat aku lihat kalau ternyata bidadari yang kau tunjukkan padaku, lebih dari kata sempurna*."
Ucap pria di seberang dengan nada puas, juga berselimut keinginan yang cukup tinggi.
__ADS_1
Agaknya mendengar perkataan Victor barusan, membuat Sheilin merasa lebih senang. Dia bahkan sampai memiringkan senyum licik di bibirnya, membuat ekspresi senang dan puas.
"Heng! aku sudah tahu dia pasti tipe kamu, tapi satu hal yang harus kau ingat, aku hanya minta kau untuk mengancam dia, bukan menyentuhnya, jika kau sampai menyentuh dia, maka aku yang akan habis." Jawab Sheilin sedikit memberi penekanan, meski dengan nada yang masih cukup lirih.
"*Baiklah, aku akan menuruti perkataan kamu, tapi aku tidak tahu dengan adik nakalku ini, dia terbiasa aku bebaskan, hanya bermodal uang, maka aku bisa mendapatkan segalanya untuk dia, jika nanti dia mulai macam-macam*..."
"Awas saja kalau kau atau adik nakal kamu itu mulai macam-macam, maka pisau tajamku yang akan memotong adikmu sampai ke pangkalnya!" ancam Sheilin agaknya dia benar-benar membuat Victor sedikit bergidik ngeri.
"*Ohohoho.. baiklah, baiklah, ketahuilah, aku hanya bercanda saja, jangan dimasukkan ke dalam hati, lagipula, untuk apa aku meniduri dia, mungkin saja dia sudah ternodai oleh pria brengsek itu*!"
"Sayang sekali kau salah mengira, malam pertama mereka aku yang menghabiskannya, dan tidak akan mungkin juga Axelo melirik wanita seperti dia! itu sungguh tidak akan mungkin pernah terjadi!" ucap Sheilin, di dalamnya sejujurnya mengandung kecemburuan, "sudah, jangan bicara lagi, jika kau mau bicara banyak, ajak saja pohon sebagai lawan bicara kamu, aku bukan orang yang tidak sibuk!"
Bip!
Panggilan yang dimulai dengan tenang, pada akhirnya harus dia tutup dengan sangat kesal. Tentu saja hanya karena ucapan Victor di seberang barusan.
*Awas saja! kamu tidak akan pernah bisa hidup tenang, Valesha*!!
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Sementara itu, dua kakak beradik itu tampak kompak melangkah dengan tangan Ashkan yang setia memapah dan membantu sang kakak berjalan.
Keduanya sangat hangat, memang sejak kecil keduanya benar-benar sehangat itu, tidak bisa dipisahkan, hanya saja, ambisi Axelo untuk balas dendam sangatlah besar, hingga karena itulah menjadi awal mula kehangatan mereka berubah menjadi dingin dan menusuk.
"Kau belum menjawab pertanyaan dariku, apa kau sangat sibuk akhir-akhir ini?"
__ADS_1
*Ya, sibuk memikirkan istri kamu*!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...