
"Sialan! mana bisa menikah dengan orang yang seperti itu? aku saja melihatnya sudah muak, mana tidak bisa memuaskan aku di ranjang, beda jauh dengan Axelo, dia selalu membuat aku puas, apalagi kalau sampai aku punya banyak uang nanti, bisa-bisa dia setiap hari hanya menghabiskan sisa hidupnya dengan berfoya-foya menggunakan uangku! ck, tidak punya muka sekali!!"
Wanita itu terus saja mengumpat bahkan setelah sampai ke dalam kamarnya lagi. Ia buru-buru menutup dan mengunci pintu, dan setelah itu dia pun langsung mengguyur sekujur tubuhnya dengan air hangat.
Semalaman dia tak tidur sama sekali. Niat hati ingin membujuk Neil untuk balas dendam juga pada Victor, dia malah terjebak dalam situasi yang semakin rumit. Kalau begini caranya, lebih baik dia diam saja dan bertindak seorang diri. Pikirnya.
Ia kemudian lekas membalutkan handuk dari bagian dadanya sampai tepat pada pahanya. Ia memang kelihatan mulus dengan kulit selembut itu. Sayang sekali, kulit seperti itu dia gunakan untuk memeras pria lain.
Dia memang murahan, lebih dari itu, dia jelas bukan wanita yang memiliki harga diri.
Dring!
Mendadak ponselnya berdering, memberi tahu dia kalau seseorang telah mengirim pesan untuknya. Dia pun tanpa ragu lagi segera membuka ponselnya dan melihat siapa yang mengirimi dia pesan.
Namun dia begitu terkejut, manakala nama yang tertera di sana adalah Axelo. Ia yang semula berwajah datar dan kesal pun akhirnya perlahan mulai kelihatan melunak dan kegirangan.
"Axelo? dia menghubungi aku! apa dia sudah mulai, merasa rindu padaku?"
Dia bahkan kelihatan begitu percaya diri setelah menerima pesan dari pria yang dia kencani bertahun-tahun tersebut.
Entahlah, meski bagi Axelo dia bukanlah apa-apa, bahkan tak pernah terasa telah mengencani dirinya, namun dia bahkan selalu saja merasa antusias setiap kali mendapat pesan dari pria yang satu ini.
Ia pun lekas membuka pesan tersebut. Senyum gembira yang semula tersemat di bibirnya mendadak hilang dan juga lenyap bersamaan dengan satu kalimat yang dia baca dari pesan tersebut.
'Aku tahu kamu ada di kota ini, lekas temui aku dan kita harus bicara!!'
"Sialan! bahkan dia bisa mengetahui aku ada di sini! apa dia ini punya banyak mata-mata?" gumam Sheilin dengan kesalnya.
Hampir saja ponsel yang baru saja diberikan oleh Neil dia banting ke lantai kembali. Dia yang selalu saja mudah terpancing emosi pada nyatanya memang tak pernah merasa mudah untuk mengendalikan emosinya tersebut.
...----------------...
__ADS_1
Csssssss!!
Suara sesuatu yang dimasukkan ke dalam penggorengan.
Entah apa yang akan dimasak oleh wanita tersebut. Asal saja dia mengambil ide masakan untuk pagi hari ini. Yang jelas, dia ingin segera kembali ke rumah sakit dan merawat sang ayah di sana.
Wajahnya sama sekali tidak kelihatan baik. Dia bahkan hanya tidur beberapa jam semalam. Memang Axelo tidak mengganggunya di atas ranjang, tapi dia benar-benar merasa kelelahan akibat kejadian yang terjadi semalam.
Ia meraba bagian pipinya, rupanya luka goresan kaca yang mengenainya sudah ditutup dengan sempurna oleh seseorang, yang dia duga adalah Axelo.
Meski dia tak melihat secara langsung Axelo mengobati lukanya, namun jika bukan Axelo yang melakukannya, lalu siapa lagi.
Dia terus mengaduk masakannya di atas api menyala, dan terus mengaduknya sampai matang.
Ia sama sekali tak berpikir apapun, hanya kekosongan yang melanda dirinya dan terus menguasai jalannya otak di dalam kepalanya dengan menyedihkan.
Sekali lagi, dia bahkan hanya terlihat murung dan memiliki perasaan yang tak cukup baik di dalam hati kecilnya.
Sesaat dia tertegun hebat. Tangannya yang semula tengah mengaduk masakannya, dengan perlahan di tangkap oleh seseorang dan kemudian dibantulah dia dalam aktivitasnya tersebut.
Tak hanya itu saja, dia juga dipeluk oleh Axelo dari belakang, dan dengan manjanya pria itu bahkan menyematkan kepalanya di dalam ceruk lehernya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Valesha basa-basi.
Ia tampak sesekali menjauh dari suaminya itu karena memang merasa tak nyaman sekali. Namun entah bagaimana pria ini lagi dan lagi terus saja berhasil menangkap tubuhnya dan kembali mengunci dirinya di dalam dekapan tangan.
"Aku kedinginan karena tidak melihat istriku ada di sampingku." Jelas Axelo dengan nada dalamnya.
"Sejak kapan kamu anggap aku istri? sayang sekali aku sudah tidak bisa kamu tipu lagi." Ucap Valesha lagi, kali ini dia bahkan tanpa menolak sentuhan tangan Axelo.
Benar-benar wanita munafik.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih saja dingin? apa kamu tidak suka aku terlalu dekat seperti ini?"
Axelo terlihat begitu sedih dengan respon yang diberikan oleh Valesha di pagi ini untuknya. Entahlah, dia merasa wanita ini semakin hari semakin berbeda.
Dia yang berpikir Valesha akan memaafkan dia setelah memberi penjelasan semalam nyatanya salah besar. Dia tak pernah menduga kalau kemarahan yang tersemat dalam hati kecil Vinara jauh lebih menyeramkan dari apa yang dia bayangkan.
"Aku bukan kamu yang selalu bilang aku tidak suka, aku hanya tahu aku harus mengalah demi ayahku, dan terus berusaha kuat kamu tindas sesuka hati kamu." Ucap Valesha seketika membuat Axelo mundur satu langkah dari posisi memeluk istrinya itu.
Namun hal yang dia lakukan tersebut kalau kembali membuat Valesha tertegun hebat, dan pada akhirnya terlihat bingung melihat apa yang dilakukan oleh Axelo padanya.
Dia mundur? apa dia sakit hati karena ucapanku barusan?
Sejenak Valesha pun berpikir dan bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Axelo beberapa detik yang lalu.
Bukankah biasanya pria ini tidak semudah itu untuk mengalah hanya karena ucapan Valesha yang terlalu biasa tersebut. Lalu apa yang tengah terjadi saat ini?
Valesha tak berkutik. Dia diamkan saja pria yang mundur dari pelukannya itu, dan hanya bisa memegang alat masaknya dengan kedua tangan bergetar.
"Maafkan aku, sejak awal aku memang bersalah, tapi aku juga punya alasan tersendiri untuk melakukannya, aku punya alasan yang tidak bisa aku ceritakan di depanmu."
Klik!
Valesha hanya terlihat mematikan kompor listriknya, dan kemudian lekas berbalik menatap suaminya tersebut.
"Yang kamu maksud alasan itu apa? karena kematian ayah kamu yang kamu pikir ayahku juga terlibat di dalamnya? kalau begitu, apa yang bisa ayahku lakukan untuk membayar semua perbuatannya? katakan saja padaku, siapa tahu aku dan ayah bisa memenuhinya, dan setelah itu, aku bisa pergi dengan bebas dari sisi kamu!!"
"Ah?"
Mata Axelo langsung membola manakala mendengar istrinya berkata demikian. Mendadak hatinya seperti dihantam gelombang besar yang menyebabkan dia tak bisa mengendalikan rasa sakit di dalamnya tersebut.
Entah mengapa dia menjadi begitu terluka mendengar perkataan Valesha barusan. Apa benar wanita ini sudah tidak mencintai dia sama sekali? atau Valesha hanya sedang mengancam dan membuat Axelo ketakutan?
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...