
Sudah berulang kali dia memutar ponsel di tangannya, dia gunakan untuk bermain ponsel miliknya itu, sampai terlihat halus permukaannya akibat sentuhan tangannya yang tidak pernah lepas dari permukaan ponsel itu.
Ia nampak asik berpikir dan juga merenung tanpa di ganggu oleh siapapun di dalam ruangannya, termasuk juga Sheilin. Sejak sore tadi wanita itu sudah pergi, dia sengaja mengusirnya, ia tak mau mendapat gangguan dari mulut beo yang amat memekakkan kedua telinganya itu.
Ia bahkan tak segan-segan meminta para anggotanya untuk melarang Sheilin masuk ke dalam kamarnya, dan sungguh sebenarnya hal itu sangat berlebihan.
Tok tok tok!
Namun ditengah keasikannya bergerilya dengan lamunannya, suara pintu diketuk dari luar membuat dirinya terbangun, dan harus memicingkan matanya hanya untuk melihat siapa pula yang datang mengganggu dan mengacaukan semedinya.
Cklek!
Tak begitu lama setelah itu, terlihat sepatu hak tinggi yang dikenakan oleh seorang wanita cantik nampak berjalan bergantian mendekat ke arah Axelo dan kemudian lekas berhenti.
Axelo masih tidak menatap ke arah wajahnya, dia masih asik menatap bagian kaki wanita itu hingga pada beberapa saat kemudian, akhirnya wanita itu terduduk di samping ranjang Axelo.
"Hem, dia punya nyali juga untuk melakukannya padamu," ucap wanita setengah abad itu pada Axelo.
Pria itu tak juga berkutik, tak juga bergeming apalagi sampai menoleh ke arah wajah sang ibunda, Nyonya Armei.
"Apa dia seberingas ayahnya? apa dia seberani Wishnu Fotham saat dia membunuh ayah kamu?" tanya Armei pada sang putra.
Namun putranya masih juga tak mau bergerak satu incipun dari posisinya. Pria itu malah semakin dalam menatap kedua sepatu hak tinggi yang saat itu masih dikenakan oleh Nyonya Armei.
"Kenapa kau menatap aku dengan tatapan seperti itu?" tanya Armei merasa sang putra tidak menghormati dirinya.
"Itu adalah sepatu pemberian dari Tuan Wishnu puluhan tahun yang lalu sebelum ayah meninggal, kenapa ibu malah memakainya? aku pikir ibu sudah membuangnya jauh-jauh," ucap Axelo membuat Armei nampak celingak-celinguk merasa gugup.
"Kau tahu kalau ibu tidak selalu memandang pemberian dari siapa, dan setelah itu ibu tidak pantas memakainya, hanya dendam saja yang boleh ibu sematkan pada Wishnu, untuk sepatu ini, rasanya masih agak nyaman, tidak ada salahnya jika ibu untuk mencobanya, bukan?"
"Heng! aku pikir kau sudah membuangnya, rupanya selama ini kau menyimpan barang pemberian dari musuhmu." Ucap Axelo sambil membersitkan senyuman smirk nya.
__ADS_1
*Bagaimana kau bisa berbohong padaku, sedangkan bertahun-tahun aku yang ada di sisi ibu, mana bisa ibu membohongi aku? kau juga punya rahasia yang tidak pernah kau beritahu aku selama puluhan tahun terkahir, apa semua ini juga ada hubungannya dengan Tuan Wishnu*?
...****************...
Hap!
Satu suapan terakhir akhirnya masuk juga ke dalam mulut Valesha. Wanita itu pun akhirnya mengunyah makanan dalam mulutnya, dan kemudian meneguk minuman air putih di dalam gelas miliknya.
Tak!
Sementara itu Ashkan nampak meletakkan mangkuk kosong di atas nakas, lalu mengambil satu lembar tisu di dalam wadah.
Sret!
Dengan cekatan dia melarak tisu lembut itu, dan kemudian mengarahkannya ke wajah Valesha.
Valesha pada saat itu masih terlihat meneguk minuman, sampai akhirnya dia berhasil menghabiskan setengah gelas air kosong dari wadahnya, dan kemudian menatap Ashkan yang tengah terdiam dengan satu lembar tisu di depan wajahnya.
"*Ah? apa yang dia lakukan*?"
Benak Valesha bertanya-tanya, berkata-kata tak percaya dengan pemandangan menakjubkan yang berhasil tertangkap oleh kedua matanya sendiri.
Pria itu dengan lembut mengusap area bibirnya dan dengan sentuhan lembutnya itu membuat Valesha mematung di tempatnya.
Namun segera Ashkan menyadari akan kecanggungan ini. Dia yang pada mulanya tidak terlalu peduli pada ekspresi yang ditunjukkan oleh Valesha di hadapannya, kini perlahan-lahan mulai mundur dan menarik tangannya dari area milik Valesha itu.
"Maaf, aku hanya reflect saja, bukan maksud aku.." ucap Ashkan dengan canggung.
"Ashkan, kenapa kamu tidak mau menjawab pertanyaan dariku? kenapa Axelo dan kamu ingin balas dendam pada keluargaku? apa yang membuat kalian sampai senekad ini melakukannya padaku dan juga ayahku? tolong beri aku penjelasan Ashkan, aku ingin tahu semuanya dengan jelas, supaya ke depannya aku lebih berusaha lagi untuk memperbaiki kesalahan keluargaku." Ucap Valesha dengan tatapan penuh permohonan.
*Huhh! benarkah kau ingin tahu? apa Kakak tidak akan marah jika aku memberitahu kamu semuanya*?
__ADS_1
Huhh!
Sekali lagi Ashkan menghembuskan nafasnya dengan kasar, hingga udara yang keluar dari hidung pria itu sampai terasa menusuk pada tangan Valesha.
"Kenapa kamu gugup?" tanya Valesha pada pemuda itu.
"Aku akan sedikit menceritakannya padamu, tapi janji untuk tidak memberitahu Axelo kalau aku sudah mengatakan semuanya padamu, kau janji?" tanya Ashkan meminta sebuah perjanjian.
Tanpa berpikir lebih panjang lagi, segera saja Valesha menganggukkan kepalanya mengiyakan perjanjian yang baru saja ditawarkan oleh Ashkan.
"Baiklah, aku janji!" menyematkan jari kelingking kanannya dengan jari kelingking kepunyaan Ashkan.
"Aku tidak punya dendam pada keluarga kamu, pada saat kejadian itu, hanya kau dan Axelo yang menjadi saksinya, tidak ada orang lain selain kau dan dia." Ucap Ashkan pada Valesha mulai mencoba untuk menjelaskan.
Di depan Ashkan, gadis muda itu tampak khusyu mendengarkan setiap perkataan yang dilontarkan oleh Ashkan padanya, bagaimanapun, dia berhak tahu apa yang pada saat itu terjadi, hingga membuat dendam itu terus bertumbuh semakin menyedihkan sampai sekarang.
"Dan Axelo kecil yang pada saat itu tengah asik memakan kue cokelat di dalam wadah merasa penasaran dengan kepergian sang ayah yang sangat lama." Ucap Ashkan lagi.
Gadis di depan Ashkan masih saja terdiam mendengarkan.
"Lalu dia melihat pemukulan yang terjadi, menimpa ayah kami, dan bersiap untuk membunuh ayahku dan Kakak Axelo." Jelas Ashkan seakan tidak pernah bosan untuk bicara.
"Baiklah, lalu setelah itu?" tanya Valesha sudah tidak sabar ingin tahu kelanjutan ceritanya.
"Apa lagi? mereka adu pukul, dan menurut keterangan dari Axelo kecil puluhan tahun yang lalu, Tuan Wishnu, atau ayah kamu tampak mengambil sesuatu dari dalam laci, dan kemudian menembak pelipis ayahku sampai tewas, itu yang dikatakan oleh kakak setiap harinya, sampai dia harus mengalami trauma berkepanjangan karena kejadian tersebut.
Valesha hanya terus mengangguk dan mengerti setiap perkataan yang dikeluarkan oleh Ashkan barusan.
Namun satu pertanyaan yang masih mengganjal di dalam hatinya, sebenarnya masalah apa yang terjadi antara ayahnya dan mendiang Tuan Aeslen sampai harus menimbulkan tragedi mengerikan seperti itu?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1