
"Kenapa kamu tidak bilang padaku lebih dulu?"
Pertanyaan pembuka dari Axelo setelah dia berhasil membawa sang istri dan adiknya kembali ke rumahnya di kota R.
Sekarang dia terlihat tengah menuangkan sedikit wine ke dalam gelas yang kemudian setelahnya dia langsung memberikannya pada Ashkan.
Sang adik tampak menggapai pemberian dari kakaknya tanpa basa-basi, lalu kemudian juga meneguknya dengan beringas.
Entah dia tengah kehausan, atau bagaimana, yang jelas Ashkan memang tidak kelihatan baik pada saat itu.
Sementara Axelo akhirnya terduduk juga di depan adiknya. Sebentar dia menoleh ke arah kamarnya, dan menatapi putri cantik di atas kasur. Ya, wanita itu tampak jauh lebih baik. Ia juga sudah terlihat memejamkan mata. Axelo yakin Valesha pasti sudah tidur sekarang. Jadi, mau membicarakan apa saja dengan Ashkan, seharusnya bukanlah suatu masalah.
"Kamu pernah bilang padaku, untuk tidak bertindak lebih dulu kalau kau belum memberi perintah." Ucap Ashkan tanpa beralih pandang sama sekali.
"Ya, lalu?"
Gluk!
__ADS_1
Axelo juga menenggak setengah gelas minuman.
"Dan aku baru mengerti mengapa kau lakukan itu padaku."
Kedua mata Axelo tampak memicing dengan sangat mengerikan. Padahal sudah begitu jelas kalau Ashkan menurut dirinya tidak akan mengerti apapun. Tapi lihat saja sekarang Axelo, adik kecilmu ini sudah bukan lagi bayi yang tiap harinya hanya menimang satu botol susu.
Dia sudah beranjak dewasa. Dia juga mungkin jauh lebih tahu segalanya dibanding dengan dirimu. Apa kau masih belum juga sadar?
"Dan aku yakin sebenarnya kau tahu kenapa semua ini bisa terjadi." Ucap Ashkan langsung pada poin utama saja.
"Tahu soal apa? bisa saja aku tahu, jakun bisa saja aku tidak tahu apapun."
Gluk!
Brak!
Namun secara tiba-tiba Ashkan menggebrak meja di depan Axelo, sampai-sampai meja itu bergetar dengan sangat mengerikan.
__ADS_1
"Jangan bohong padaku lagi, kak! kau jelas punya hubungan dengan semua ini! aku jelas tidak percaya kalau kau tidak tahu semuanya, karena itu sudah jelas bisa kau lakukan, terutama karena kau punya uang!" ucap Ashkan lagi.
Lelah dia meluapkan emosinya yang berkobar-kobar di dalam dada. Hampir dia memukul kakaknya lagi. Rasanya ia hanya akan puas setelah sang kakak menerima ganjaran yang setimpal.
"Kenapa kau jadi ketakutan dan marah? apa kau juga punya hubungan atau mungkin, perasaan yang rumit pada kakak ipar sendiri? sampai-sampai sepeduli itu kamu padanya??"
Plak!
Satu pukulan keras menimpa bibir Axelo, membuat bagian ujung dari bibir itu tampak sobek dan mengeluarkan banyak darah juga.
Sementara dua anak buah Axelo langsung mendekat dan menjegal Ashkan, mencoba untuk membuat Ashkan tidak semakin menggila.
"Kep*rat kau! aku tidak pernah berpikir hal semacam itu, apalagi sampai memiliki hubungan dengan istri kamu!! aku hanya tidak tega melihat nasib dia harus setragis ini!" ucap Ashkan dalam jegalan dua anak buah milik Axelo.
Namun Axelo hanya kelihatan memijit pelipisnya, dan kemudian lekas berkata, "apa kau tidak bisa tidak berisik sebentar saja? rasanya telinga ini mau pecah kalau kamu terus menerus memberontak dan berteriak, lagipula kakak ipar kali itu sudah tertidur, kasihan kalau dia sampai terbangun karena mendengar suara kamu berteriak." Ucap Axelo. Ekspresinya kala itu benar-benar sudah ditebak.
Ia memang pria yang terlalu sulit untuk diketahui.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...