Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Istriku


__ADS_3

"Buka mulut kamu!" Ucap Axelo bahkan berada di tengah-tengah, antara lembut dan juga kasar.


"Aku tetap tidak mau!"


Tak!


Dengan kesal Axelo meletakkan sendok di tangannya. Dia bahkan mengembuskan nafasnya dengan sangat keras, merasa kesal dengan penolakan keras yang diberikan Valesha padanya.


Melihat sang suami yang mulai tersulut emosi, Valesha beralih mundur, meringkuk, dan kemudian menatap dengan penuh ketakutan.


Namun Axelo sungguh tidak melakukan apapun setelah itu. Pria itu hanya terlihat menaruh piring di atas meja, lalu kemudian dengan cepat mendorong tubuh Valesha.


"Aaa!!" Pekik Valesha, dia sungguh tidak bisa melakukan apapun selain memekik.


"Jangan salahkan aku, karena aku tidak suka caramu menolak, aku juga tidak suka saat kebaikanku di tolak mentah-mentah, apalagi untuk wanita seperti kamu!"


Cup!


"Uhm.."


Dan malam itu akhirnya terjadi. Ciuman ganas itu akan menjadi awal mula malam penuh warna, juga penuh dengan rasa mencekam.


Serangan demi serangan dilakukan oleh Axelo, bahkan tanpa meminta izin lebih dulu pada istrinya. Permainan yang bermula karena sebuah keterpaksaan, dan semakin lama, keduanya malah semakin hanyut dalam permainan mereka, permainan yang bisa membuat kedua orang itu melupakan segalanya.


Valesha bahkan hanya bisa memejamkan kedua matanya, sembari menikmati sekujur tubuhnya yang tengah disentuh dan dibuat mainan lembut oleh Axelo.


"*Sentuhan ini, mengapa sangat memabukkan*?"


Sentuhan tangan itu benar-benar memabukkan, sentuhan tangan yang tidak pernah dia merasakannya sebelumnya. Ya, dan sekarang, dia benar-benar hanyut dal permainan itu.


*Aku bahkan merasa, seakan seluruh tubuhku benar-benar tidak berdaya, kau membuat aku mabuk, Axelo*!


"Arkh, Axelo, berhentilah.. uhm.."


Hanya erangan kecil sembari menggigit bibir bawahnya yang bisa dia lakukan untuk mengekspresikan betapa sekujur tubuhnya bak terkena setrum, apalagi saat Axelo perlahan-lahan mulai memainkan dua bola kenyal miliknya.


Pria itu terasa membuka kancing baju yang dia kenakan satu demi satu. Dan dia tidak bisa mengelak sama sekali.


Dia hanya bisa terdiam dan terus menikmati semuanya. Tangan yang nakal itu menyelisip ke dalam kacamata jumbonya, dan kemudian mulai menemukan sesuatu yang kenyal di dalam sana.


Tanpa ragu lagi, Axelo segera melepas semua yang menghalangi mereka berdua, menyingkap dengan lembut rok mini yang dikenakan oleh istri kecilnya, juga membuka kemeja yang dia kenakan termasuk juga celana hitam panjangnya.

__ADS_1


Dia menunjukkan kegagahannya dalam bermain, juga dalam menaklukkan wanita. Meski ini bukanlah pertama kali baginya menaklukkan seorang wanita, tapi kali ini dia benar-benar sangat berantusias ingin melakukannya di hadapan Valesha.


"Buka matamu, sayang, tunjukkan padaku, betapa menariknya dirimu." Ucap Axelo berbisik dengan lembut di telinga kiri Valesha.


Sekarang gadis mungil itu tampak membuka matanya, dua pipinya yang semula putih bersih, kini mulai terlihat merah dan menggelora.


Dia menatap wajah pria di depannya, wajah pria yang sangat tampan, dengan senyuman manis yang ada di bibirnya.


"Sayang, kau akan memberikannya padaku malam ini," ucap Axelo, lalu terlihat dirinya yang kemudian mengecup tangan mungil Valesha.


"Axelo, aku.."


"Uhm.."


Axelo sungguh tidak membiarkan Valesha berkata-kata. Dia terus membungkam mulut Valesha dengan kecupan mesranya, kecupan maut yang seakan menghabisi Valesha tanpa ampun.


Dan sekarang gadis itu akhirnya terjebak dalam permainan yang sangat mengasikkan bersama suami yang menikahi dirinya hanya untuk membalas dendam.


Apakah perlakuan halus dan hangat dari Axelo ini juga merupakan sebagian dari rencana Axelo untuk menghancurkan keluarga Fotham?


"Ugh.."


"Aku..."


"Uhm..."


"Uhm..."


*Ayah, bagaimana aku akan mengatakannya, aku sudah menyerahkan segalanya untuk pria yang akan membalas dendam pada keluarga kita, bisakah aku lepas dari jeratan ini, ayah*?



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



Dia tampak berjalan menuju ke ruang kerja kakaknya. Dengan jalan perlahan, namun sangat berwibawa. Dia tidak bisa tidur karena kamar sebelah sangat berisik oleh teriakan dua orang yang terdengar..


Arkh!


Dia memang bukan anak kecil, tapi dia benar-benar merasa terusik jika mendengar suara menjijikan itu. Huhh! Rasanya dia dan adiknya tidak bisa hidup tenang.

__ADS_1


Dan karena itulah dia memilih untuk bergerak menuju ke ruang kerja Axelo, berpikir untuk mengambil dan menggunakan laptop milik kakaknya untuk bermain-main sebentar.


Ia mulai membuka pintu. Suasana malam ini benar-benar sepi, tidak ada orang lain di dalam rumah Axelo selain dirinya, dan kedua orang di atas sana, huhh, jangan membicarakannya lagi.


Dia mulai meraih laptop di atas meja, dan berniat untuk membawanya pergi. Tapi sesuatu yang tergeletak di atas meja menarik perhatiannya.


"Um? Apa itu?" Gumamnya dengan lirih.


Dia kemudian mengambilnya, dan membaca isi di dalam kertas tersebut.


Bom!


Sesuatu malah membuat dirinya terkejut, terkejut setengah mati, bahkan dia tidak bisa mengatakan apapun untuk menjelaskannya.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



Prak!


"Apa maksud kamu?" Tanya Ashkan melempar sesuatu di atas meja sang kakak.


Sang kakak hanya meliriknya sekilas, tentunya dengan wajah benci dan tidak sukanya.


"Sejak kecil aku mengajari kamu bagaimana caranya sopan terhadap yang lebih tua, dan sekarang, sikap kamu ini bukanlah atas didikanku, kenapa kau ini?" Tanya Axelo dengan singkat.


"Kau melakukan di luar perjanjian kita, bukankah kau hanya menginginkan keluarga mereka hancur, dan merebut kembali perusahaan ayah di masa lalu? Kenapa aku bisa menemukan ini di meja kamu?" Tanya Ashkan, dia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.


Axelo melirik sedikit ke arah kertas yang dilempar oleh adiknya, dan kemudian dia memiringkan senyumnya.


"Heng! Aku tahu kau tak begitu bodoh!" Ucap Axelo pada sang adik.


"Apa maksud kamu? Kau hanya bilang akan merebut kekuasaan ayah darinya, tapi sekarang, kau sudah bertindak di luar jalur kita berdua, apa maksud kamu, Kak?" Tanya Ashkan semakin menekan sang kakak.


Namun sang kakak tampak sangat santai menghadapinya, mungkin dia masih mengingat kejadian semalam, kejadian yang untuk pertama kalinya dia lakukan dengan istri keduanya.


Dia kemudian menatap tajam ke arah adik kandungnya, lalu memasang wajah datar lagi menyeramkan.


"Kau tahu? Sejak awal kau hanya membantuku, soal bagaimana rencana ini dijalankan, aku yang mengaturnya, bukan kamu!"

__ADS_1


Ashkan tampak tertegun dengan perkataan sang kakak barusan. Tidak, dia benar-benar terkejut, karena sekarang, kakaknya bukan lagi seperti seorang manusia.


"Kau adalah iblis!"


__ADS_2