
"Aku bukan bermaksud apapun, tapi kau sepertinya tengah mengencani seorang gadis, baru sekali ini kau terlihat sangat aneh, katakan gadis mana yang membuat kamu jatuh cinta, aku yang akan membantu kamu." Ucap Axelo pada sang adik.
"Aish, kakak ini, aku tidak mengencani gadis manapun, aku tidak bisa mengencani mereka, sudahlah, jangan terlalu banyak berbicara, fokus saja pada berlatih berjalan," ucap Ashkan mengelak pada perkataan sang kakak.
Sejenak mereka berjalan, wajah Axelo nampak tersenyum meledek pada sang adik, mengingat selama dua puluh enam tahun terkahir, Axelo tidak pernah sekalipun mendengar kalau adiknya itu tengah jatuh cinta, bukankah akan terasa aneh saja kalau mendengarnya?
Tring!
Namun suara dering ponsel Ashkan membuat dia harus berhenti memapah sang kakak. Dia tahu pesan itu pasti dari pembantu di rumah Axelo, dan bisa dipastikan kalau berita yang akan dia terima adalah berita tentang Valesha.
Dia pun lekas membukanya, dan kemudian segera membaca pesan yang dia dapat, berpikir hal itu jauh lebih penting daripada kondisi sang kakak.
"Tuan, segeralah pulang, Nyonya Armei bisa saja bertindak bodoh di rumah Tuan Axelo, tolong untuk segera kembali pulang!"
Deg!
Sesuatu mungkin telah terjadi di seberang sana. Pesan singkat yang mengisyaratkan dirinya untuk segera pulang membuat dia cemas setengah mati.
Pelayan itu mungkin ketakutan karena suatu alasan, mungkin saja Nyonya Armei melakukan tindakan bodoh terhadap Valesha.
Dia tertegun sejenak, sambil terus menatapi ponsel dalam genggaman tangannya, tak tahu harus berbicara apa untuk sekarang, atau mungkin dia bingung harus pergi atau bertahan membiarkan Nyonya Armei bertindak bodoh pada Valesha.
Hingga akhirnya lamunannya yang asik itu pun ternyata diketahui oleh sang kakak, ya, jelas itu bukan suatu masalah besar, hanya saja, apa yang akan terjadi jika Axelo mengetahui kebenarannya?
Apa mungkin pria itu akan membela wanitanya di rumahnya, atau dia hanya akan berdiam diri membiarkan sang ibu memperlakukan istrinya bak anjing hutan?
"Ada apa? Apa kau sedang melamunkan gadis lagi?" Tanya Axelo pada sang adik.
"Kak, aku harus pergi, ada satu urusan penting yang tidak bisa aku tinggalkan!" Ucap Ashkan sambil melepas pegangan tangan sang kakak dengan perlahan, dia kemudian menyandarkan tubuh kakaknya pada tembok yang dingin, lalu segera pergi.
__ADS_1
Bahkan tanpa pamit, atau mungkin sekedar tersenyum pada sang kakak pun tidak. Axelo bisa melihat dengan jelas wajah sang adik tampak tengah bergelut dengan permasalahan besar.
"Katakan padaku apa yang kau sembunyikan?" Tanya Axelo menghentikan langkah kaki Ashkan.
Pria yang berusia dua tahun lebih muda darinya itu hanya terdiam di tempatnya, dengan raut wajah yang tidak akan bisa dimengerti. Meski dia terus membelakangi sang kakak, bahkan berulang kali dia ingin mencoba menghadap kakaknya, tapi sungguh dia tak pernah punya nyali sebesar itu.
Baru kali ini dia berasa ingin lari menjauh, bukan karena apa, tapi karena dia tahu, mungkin setiap ucapannya tidak akan membuat sang kakak berubah, hanya membuat lelah mulutnya saja, bukankah hal semacam itu sangatlah menjengkelkan?
"Kemarilah! Aku tidak suka adikku sendiri menyembunyikan sesuatu dariku." Axelo mulai terlihat kesal.
Sekarang dia pun terpaksa mengikuti ucapan kakaknya, dengan sangat berat hati dia mencoba untuk berbalik, menatap sang kakak dengan tatapan anehnya, lalu kemudian mendekat ke arah Axelo kembali.
"Kak, istrimu.."
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"Arkh!"
Pekik Valesha sesaat setelah tubuhnya dilempar pada sebuah dinding yang kokoh di dalam kamarnya. Rasa dingin yang menusuk bahkan tidak ada sebandingnya dengan rasa sakit yang baru saja harus dia alami.
Dia tak pernah tahu apa kesalahannya, juga tak pernah tahu mengapa dia ada di sini karena dendam, doa adalah korban pelampiasan dendam yang tidak pernah tahu dimana kiranya letak kesalahannya.
Tapi sekarang dia yang harus menerima hukuman akan dendam yang tumbuh di hati keluarga konglomerat ini. Dia harus menerima semua perlakuan mereka, bahkan andai kata mati di tangan mereka pun, agaknya dia tak pernah bisa menolaknya.
Sekarang seseorang terlihat mendekat, berjongkok pada tubuhnya yang sudah lemah dibanting kesana dan kemari oleh anak buah Nyonya Armei.
__ADS_1
Seorang pria itu akhirnya menjambak rambutnya, sampai seluruh rambutnya serasa mau tercabut dari tempatnya, dan sekarang, yang terlihat pada dirinya hanyalah tangisan yang berderai di pipinya, dengan darah yang mengucur segar dari bibirnya, membuat dirinya terlihat semakin memprihatinkan.
Nyonya Armei dengan gagah beraninya mendekat ke arahnya, dan kemudian menatap wajahnya yang sangat memuakkan bagi Nyonya Armei.
"Lihatlah, lihatlah dirimu, kau tidak lebih hanya seekor anjing peliharaan, maka patuhilah apa yang dikatakan oleh majikan kamu, atau dia akan membuang kamu karena kamu terlalu sulit dia taklukkan." Ucap Nyonya Armei dengan mata tajamnya.
"Setahu aku aku datang kesini bukan untuk dijadikan anjing peliharaan, melainkan untuk dijadikan ratu, aku menikah dengan Axelo untuk diberi kasih sayang layaknya seorang wanita lain yang dinikahi oleh kekasihnya." Jawab Valesha, agaknya dia sudah tidak merasakan rasa takut sedikitpun.
Plak!
Satu tamparan keras pun akhirnya terjadi, sampai-sampai tamparan itu seketika membuat darah di bibir Valesha semakin deras mengucur.
Sementara senyuman terbersit dengan indah pada bibir manis Sheilin, tatkala mendapati lawan mainnya tengah dihabisi oleh pihak Axelo. Dia sangat senang, ya, pada akhirnya Nyonya Armei mendukungnya, untuk ke depannya, bukankah dia tak perlu lagi untuk merasa khawatir?
"Seorang anjing tidak pernah menjawab perkataan dari majikannya, dia akan tertunduk malu saat tuannya marah." Ucap Nyonya Armei lagi, dia bahkan tak ada bosannya membandingkan Valesha dengan seekor anjing, tentu saja perkataan itu sangatlah menyakitkan.
"Sayang sekali, aku bukan anjing, aku istrinya Axelo."
"Cih! Mimpi yang terlalu tinggi! Dia tidak pernah mencintai kamu, dia hanya menjadikan kamu alat untuk balas dendamnya, sakit bukan?" ucap Nyonya Armei, sejujurnya memang terasa sangat menyakitkan, entahlah, perkataan wanita ini benar-benar terlalu tajam terdengar di kedua telinga Valesha.
*Andai aku bisa memotong lidah nenek tua ini, aku akan memotongnya dan menjadikannya sup*!
*Mengapa hal ini harus terjadi padaku? sementara sekarang tidak ada yang membelaku sama sekali, mau bicara pada keluarga, aku takut akan membuat penyakit yang diderita oleh ayahku semakin parah, bagaimana aku bisa keluar dari permasalahan ini*?
*Aku berharap akan ada malaikat penolong yang bisa menolong aku dan membebaskan aku dari jeratan keluarga yang kejam ini, setidaknya kirimkan aku bantuan untuk lepas dari Nyonya tua ini sekarang juga*.
Kasihan sekali wajahnya, dia sangat tertekan dengan keadaan seperti itu, tapi dia tak bisa apa-apa selain berdiam diri dalam Kungkungan seorang pria bertubuh kekar.
Semoga seseorang segera datang untuk menolongnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...