
"Ck! yang benar saja, ini benar-benar sama persis." Gumam Ashkan setelah membandingkan dengan laporan yang diberikan oleh Professor Chan dan laporan penyelidikan yang dilakukan oleh anak buahnya.
Dia terdiam sesaat, mengingat kata-kata yang Chan lontarkan perihal kandungan zat berbahaya ini beberapa saat yang lalu.
"Virus ini sangat berbahaya, bisa menyebabkan kelumpuhan otot dan juga kelumpuhan otak, bahkan sampai pada tingkat menghambat pernafasan dan menimbulkan kematian."
"Sangat tidak mungkin seseorang akan selamat jika tidak langsung mendapat penanganan, meski begitu, virus ini termasuk mudah untuk dikeluarkan dari tubuh, kecuali jika yang terkontaminasi mengalami keseriusan seumur hidup, seperti cacat dalam waktu yang cukup lama, mungkin saja penyuntikan virus ini dilakukan secara berkala, itu yang bisa saja terjadi."
Dia memikirkan hal itu begitu keras, sampai terlihat wajahnya mulai kering dan tak lagi memiliki raut apapun selain datar.
Dia bahkan lupa kalau malam mulai menjelang. Selama seharian ini dia tak pulang ke rumah kakaknya hanya untuk menyelidiki racun yang dia temukan di meja kerja sang kakak.
Rupa-rupanya dia mulai berpikir negatif pada kakak kandungnya itu.
Jika benar virus ini sangat mudah untuk dikeluarkan, tapi bagaimana mungkin Tuan Wishnu Fotham mengalami cacat yang sangat lama? apa mungkin memang benar kalau pemberiannya ini dilakukan oleh seseorang secara berkala?
Jika benar begitu, seharusnya ada orang dalam yang ditugaskan untuk masuk ke dalam kediaman Fotham dan menjadi orang kepercayaan Tuan Wishnu Fotham.
Apa aku juga harus menyelidiki hal ini?
Apa ini tidak terlalu jauh dan tidak terlalu lancang? sedangkan aku tahu sejak awal kakak pasti akan menyalahkan aku jika melakukan penyelidikan dan mengambil keputusan sepihak tanpa dia ketahui.
Dia menyambar cangkir berisi kopi miliknya, dan kemudian menyeruput kopi hitam itu sambil berpikir keras.
Tapi aku sungguh tidak bisa membiarkan kakak menjadi seorang pembunuh. Jika dia mau membalas dendam pada Tuan Wishnu Fotham, mengapa dia tidak melakukan cara yang lain saja untuk menjatuhkan keluarga itu? termasuk, mungkin, dengan merebut semua perusahaannya dan menyingkap kejadian puluhan tahun silam.
*******
Dia meletakkan ponselnya di atas kasurnya, dia lupa kalau hari ini sahabat baiknya akan datang ke negara R. Tentu saja dia harus menjemputnya atau mungkin Geshka akan jadi penceramah nomor satu di dunia kegilaan.
"Hahh! aku harus menyelesaikan permasalahan di kantor, dan sekarang, di waktu yang sama, Geshka juga datang ke sini, aku harus menjemputnya, tapi masalahku selalu sama, suami!"
Gumamnya dengan lirih sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur.
__ADS_1
Ia bahkan tidak menyadari kalau suaminya sekarang sudah terlihat berdiri sejajar dengan pintu masuk, dan tengah memperhatikan setiap apa yang Valesha lakukan.
Dia baru saja bilang kalau masalah dia hanya satu, yaitu aku, kau pikir kau tidak datang dengan membawa masalah? kau jauh lebih merepotkan dari pada aku.
Dari kata-kata dalam benaknya jelas terlihat kalau pria ini tengah merasa kesal pada istrinya.
Mungkin karena dia memergoki istrinya yang tengah merecoh tentang dirinya kala itu. Entah mengapa hatinya mendadak panas dan ingin sekali membanting wanita ini dan menyerangnya sampai habis.
"Hemm."
Namun tentu saja dia hanya memulai suasana dengan sikap dingin.
Jika tidak, namanya bukan Axelo.
Mendengar suara serak-serak basah dari seorang pria yang tentu saja Valesha sangat paham siapa pemiliknya itu, dia lekas menoleh, dan menjadi begitu terkejut manakala dia mendapati wajah dingin dan menyeramkan itu rupanya sudah berdiri menunggunya dan sudah bersiap untuk menerkamnya.
Dia pun langsung bangun dari rebahannya, dan mulai berdiri di samping kasurnya.
"Axelo!"
Dia yang merasa menang itu pun tak ragu lagi untuk berjalan mendekat ke arah sang istri yang tengah ketakutan, dan kemudian menatap dalam kedua mata Valesha dengan tatapan mautnya yang khas.
"Ax.."
Shutttt!!
Dengan segera Axelo menghentikan panggilan gugup dari Valesha untuknya, dan meletakkan jari telunjuknya di bibir ranum Valesha.
Seketika Valesha terdiam membisu. Dia tak mampu melakukan apapun selain terdiam dan tak berkutik dari tempat berdirinya. Jangankan untuk melawan, bergeser satu inci saja dia sudah tidak berani.
Dia bisa saja mengambil keputusan untuk pergi dari sana, tapi dia jelas harus menerima resikonya untuk dihabisi malam ini oleh Axelo.
Tentu saja dia tak pernah bisa menolak hukuman itu.
__ADS_1
"Kau bilang aku masalah terbesar bagimu? lalu bagaimana dengan perbuatan ayah kamu bertahun-tahun yang lalu? apa bagi kamu itu juga bukan termasuk masalah terbesar bagiku?" tanya Axelo dengan nada yang sangat dalam, sampai terasa merasuk ke dalam jiwa Valesha, dan kemudian memutus urat-urat nadinya.
Tapi mendengar kata-kata Axelo barusan, Valesha malah terlihat menatap kedua mata Axelo semakin berani.
Entah apa yang dia pikirkan pada saat itu, tapi dia jelas terlihat berpikir untuk melawan.
"Ouh, akhirnya kamu bercerita tentang hal itu juga padaku, setelah sekian lamanya." Ucap Valesha membalas perkataan dari Axelo .
Mendengar perkataan Valesha barusan, Axelo nampak memalingkan kedua matanya, menatap ke sudut yang lain, dan mulai mengacuhkan istrinya.
"Kenapa kamu berhenti bicara? apa kamu tidak mau lanjut menceritakan kejadian itu padaku? apa kah kau mau meminta adik kandung kamu saja yang menceritakan semuanya?" tanya Valesha semakin menimpuk Axelo dengan ribuan pertanyaan yang dia lontarkan tanpa ampun.
Dia berusaha untuk menyudutkan Axelo dengan pertentangan yang dia lakukan kala itu. Padahal dia sendiri bahkan tidak berharap ingin menang, tapi setidaknya, dia bisa mendengar apa yang kala itu Axelo nampak dari permusuhan kedua orang tua mereka yang sampai akhirnya harus berujung pada kematian dan pembunuhan.
Namun Axelo malah diam seribu bahasa. Dia terlihat tak mau menggubris perkataan dari Valesha beberapa detik yang lalu, dan hanga terus memilih untuk bungkam.
Entah apa alasan pria ini tak mau mengatakan segalanya yang dia lihat tentang kejadian mengerikan itu, tapi yang pasti, setiap dia disinggung dengan masalah di hari itu, dia jadi pendiam dan terlihat takut.
Sama seperti kali ini, yang akhirnya harus berada pada posisi menjauh dan pergi dari hadapan Valesha.
Ia mundur beberapa langkah, hingga terlihat istrinya yang kesal bertambah kesal.
"Kenapa kamu pergi? kau tidak tahu bagaimana akan menjawab pertanyaan dariku!? apa itu juga berarti kalau kejadian di hari itu tidak sepenuhnya kamu ingat? apa kau merasa takut kalau kau akan berbicara tentang sebuah fakta yang belum kelihatan jelas atau tidaknya? jawab aku Axelo!"
Huhh!
Pria itu terlihat mendengus kesal. Dia pun lekas berhenti, dan mencoba untuk membuang nafasnya dan juga emosinya yang mulai melanda hati.
Ia mencoba untuk lebih sabar menghadapi istrinya ini, dan tidak mau termakan omongan sang istri. Karena itulah dia memilih untuk tenang.
"Aku tidak peduli, jika kau mau menemui sahabat baikmu, maka pergi saja, jangan cemaskan aku akan melarang kamu."
Pergi.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...