Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Tragedi Suami Istri


__ADS_3

"Jangan macam-macam kamu, Axelo!!"


Namun Valesha malah menepis sentuhan tangan Axelo. Ia sungguh tak akan pernah Sudi jika tubuhnya disentuh, apalagi dijadikan mainan Axelo setelah tragedi malam pertama mereka berdua.


"Kenapa? kau tidak sudi melayani suami kamu sendiri?" tanya Axelo dengan wajah yang sangat dekat, hanya berjarak beberapa Senti dari wajah istrinya.


Jujur saja, posisi ini agak membuat Valesha muak, pun agak menjijikan. Bau rokok yang tercium dengan sangat menyengat dari tubuh Axelo, ini sungguh seperti racun yang akan menghabisi nyawanya dalam sekejap.


Padahal yang dia tahu, Axelo bukanlah tipe pria yang suka merokok, ya, itu dulu sebelum mereka menikah.


Entah apa yang terjadi pada saat ini, semuanya serba membingungkan. Mendadak Axelo menjadi orang lain, bahkan orang asing baginya. Semua yang ada pada diri Axelo, jauh seperti apa yang dia lihat pada diri Axelo di masa lalu. Dan itu sungguh membuat dirinya merasa muak.


"Suami?" mendengar pertanyaan aneh dari Axelo barusan, Valesha langsung saja menoleh ke arah suaminya, lalu menatap kedua mata Axelo dengan tatapan penuh kebencian, "sejak kau menghancurkan malam perkawinan kita, bagiku tidak ada lagi hubungan lain yang mengikat antara aku dan kamu, kecuali tuan dan tahanannya sendiri." Jawab Valesha dengan sangat berani.


Namun suaminya tak juga bergeming dari arah pandangannya. Dia tetap saja menatap Valesha dengan sangat hangat, seolah dia amat rindu akan pelukan kehangatan dari seorang wanita.


Hanya beberapa saat keduanya terdiam, sampai akhirnya Axelo mengambil inisiatif untuk mendekat ke arah Valesha, lalu kemudian berniat untuk mengecup bibir ranum milik istrinya itu.


Tapi keadaan Valesha masih sangat marah. Ia yang pada awalnya terlihat biasa saja, kini mulai dibuat geram dengan sikap dari suaminya yang amatlah menjijikan.


Ditampar saja pipi Axelo dengan kedua tangannya, sebelum akhirnya kecupan itu mendarat di bibirnya.


Plak!


Dan tamparan keras itu akhirnya berhasil membuat Axelo memalingkan muka, menahan perih, dan juga menahan harga dirinya yang hampir habis akibat wanita ini.


"Jangan mimpi bisa sentuh aku! aku tidak akan pernah rela melepas kesucianku untuk pria brengsek seperti kamu!" tegas Valesha tepat di depan muka suaminya, seolah sekarang semua kekuatan ada tubuhnya, membuat dirinya tegar dan menjadi amat kokoh di hadapan suaminya, bahkan ia bisa melepas kata-kata penolakan tersebut untuk suaminya, kata-kata yang tak akan pernah dia duga.


"Ck! aku bingung dengan sikap kamu ini, kenapa kau malah datang ke kamarku dan mengakui aku sebagai istri sah kamu? dimana wanita iblis itu? apa dia tidak ada di sini? atau dia sudah bosan lalu akhirnya kau usir pula dia dari rumah kamu ini?" tanya Valesha masih dengan nada kesal.

__ADS_1


"Jangan katakan apapun yang bisa membuat aku marah, karena aku juga suka membunuh seseorang dengan anak kesayanganku," salah satu tangannya meraba wajah Valesha dengan sangat menakutkan, sementara tangan satunya lagi dia gunakan untuk memingkis bagian belakang bajunya, memperlihatkan sebuah senjata api kesukaannya.


Namun bukannya takut, Valesha malah menatap dengan tajam mata Axelo di depannya. Ia bahkan memiliki nyali yang lebih besar kali ini dibanding sebelumnya.


Dengan cekatan, diambil dan direbut saja senjata api dari sentuhan tangan Axelo, lalu ditodongkan olehnya ke arah kepala, membuat Axelo sedikit tersentak.


"Kau pikir aku takut? ingin membunuh aku? bunuh saja aku saat ini juga, lebih baik kiranya aku mati, daripada harus seumur hidup hanya untuk menjadi pelampiasan dendam keluarga kesumat kalian!!" ucap Valesha sambil terus mengarahkan ujung pistol ke arah kepalanya.


Berpikir Axelo akan mencegah apa yang dilakukan oleh Valesha, nyatanya semua itu hanya khayalan semata. Pria itu nampak tersenyum dengan memperlihatkan deretan gigi-giginya yang tersusun dengan sangat rapi, mengabaikan ucapan Valesha di depannya.


Menatap perbuatan Axelo, tentu saja Valesha jadi diam dan tertegun. Ia hanya terus bergetar dan merasakan keram di kedua kakinya, hingga ingin bergerak lari pun agaknya tak lagi bisa.


"Jika kau mati, maka tidak akan ada yang bisa melindungi ayah kamu." Ucap Axelo, entah dia sedang membicarakan penawaran pada Valesha, atau dia hanya sedang membuat Valesha kehilangan harapan untuk selamanya.


"Kau pikir aku peduli? bahkan kau selalu mengancam ku dengan menggunakan nyawa ayahku, kau pikir aku takut? hah?" tanya Valesha, dengan tangan kanan yang semakin gemetar dalam genggamannya pada pistol milik suaminya itu.


"Ya, aku pikir kau harusnya takut, karena meskipun kau mati, tapi dia juga akan tetap mendapat balasan atas semua perbuatan yang dia lakukan di masa lalu, jadi mati saja kalau kau mau, lagipula tidak ada gunanya bagiku, bukan?" ucap Axelo semakin membuat hati Valesha meradang.


Klik!


"Jangan gila kamu!!"


Seseorang merebut senjata apinya, dan kemudian mencoba merebutnya dari tangan Valesha.


Namun Valesha yang kekeh mempertahankan senjata itu berada di dalam genggaman tangannya, menjadikan sebuah tragedi yang tak akan pernah bisa dia lupakan dalam seumur hidupnya.


"Arkh!?"


Dor!

__ADS_1


Dor!


Dor!!


Senjata itu mengeluarkan beberapa peluru dari dalam wadah, lalu mulailah acara menembak ke segala arah, hingga membuat dua peluru berhasil menembus tubuh Axelo di hadapannya.


"Axelo!" teriak Ashkan dengan kedua tangan yang masih menahan erat Valesha agar tidak bertindak ceroboh seperti tadi lagi.


Dia melihat kakaknya tumbang dengan sangat memprihatinkan di atas kasur, dengan darah yang berceceran membasahi sprei tempat tidur Valesha.


Dilepaslah pegangan tangannya pada Valesha usai merasa Valesha juga perlahan-lahan mulai tenang, lalu berlari saja dia menghampiri kakak kandungnya di atas ranjang.


"Sial! peluru ini menembus jantung!!"


Prak!


Mendengar ungkapan Ashkan barusan, membuat Valesha reflect menjatuhkan senjata di dalam genggaman tangannya, dan kemudian beralih menutup mulutnya tak percaya dia hampir akan membuat nyawa seseorang melayang.


Tak lama setelah itu, datanglah beberpaa pelayan masuk ke dalam kamar Valesha, diiringi pula para bodyguard yang langsung menolong Ashkan mengangkat tubuh Axelo yang terkapar tak sadarkan diri.


"Kita harus cepat menangani dia, peluru ini mungkin saja menembus jantungnya," ucap Ashkan sambil berusaha menggendong sang kakak keluar dari kamar Valesha, lalu beralih menuju ke arah mobil, meninggalkan Valesha di kamarnya sendirian, dengan bekas darah yang berceceran di atas kasurnya.


Blam!


Pintu ditutup dengan sempurna, Valesha berdiri mematung saja melihat semua yang entah mengapa dengan bodohnya dia sendiri yang melakukannya.


Sekarang dirinya cemas, pun merisaukan keadaan suaminya yang entah sekarang bagaimana.


*Axelo? apa kamu akan selamat*?

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2