
Dengan mengeluarkan beberapa persen dari seluruh kekuatannya, akhirnya Axelo pun mulai mengangkat tubuh wanita yang berada di depannya, membuat semua orang yang semula berpikir kalau Axelo adalah pria jahat, pada akhirnya mulai mengangguk dan mengerti keadaannya.
Meski mungkin mereka bahkan tanpa sadar telah ditipu oleh seseorang.
Dengan langkah tegap dan tidak kelihatan keberatan sama sekali, Axelo membawa tubuh Sheilin menuju ke arah dimana mobilnya terparkir dengan sempurna di area depan restoran.
Seseorang membukakan pintu. Siapa lagi kalau bukan Oaklard. Pria itu memang selalu setia menemani Axelo kemana saja dia pergi.
"Silahkan tuan!" ucap Oaklard dengan kepala yang selalu dia tundukkan ke bawah.
"Ck, aku ingin segera mencuci tanganku dan melepaskan kotoran ini dariku! muak sekali aku dengan wanita ini!"
Sambil menggerutu, Axelo kemudian terlihat meletakkan Sheilin di jok belakang mobilnya, dan setelah itu, dia lekas menduduki jok depan, berjejer dengan Oaklard.
Blam!
Bip!
Dia menghubungi adiknya di seberang sana, dan kemudian kembali mempertanyakan hal yang sama seperti sekitar lima menit yang lalu.
"Bagaimana? apa kau benar-benar sudah siap?" tanya Axelo pada sang adik. Tangannya terlihat begitu sibuk mengenakan sabuk pengaman.
"Tenang saja, aku selalu pandai mengaturnya! hanya saja, istrimu benar-benar keras kepala! dia tetap mau ikut ke lapangan, apa boleh?" tanya Ashkan tanpa basa-basi.
Axelo tak langsung menjawab pertanyaan dari Ashkan barusan. Dia hanya terlihat memijit pelipisnya yang mendadak terasa pening dibuat istrinya sendiri.
"Hahh! baiklah, berikan keamanan untuk dia!"
"Apa itu tidak terlalu berlebihan? kita hanya menangkap satu kecoa kecil yang bisa saja mati walau hanya diinjak oleh kaki kita saja, apa kamu benar-benar selemah itu pada Valesha?"
"Hei! kenapa kamu memanggil-manggil namaku? kau sedang membicarakan aku dengan pria itu? dasar kau!!"
Terdengar suara riuh dari seberang membuat Axelo kembali memijit pelipisnya lagi karena rasa pusing itu benar-benar telah membuat otaknya hampir pecah dibuatnya.
"Hahh! baiklah, aku tutup dulu sekarang." Tanpa berpikir panjang, segera saja Axelo menutup perbincangan antara dirinya dan kedua orang di seberang sana. Entah mengapa dia bertambah runyam setelah mendengar keributan yang terjadi di seberang.
__ADS_1
"Haish! aku sebelumnya benar-benar yakin ingin bercerai dari Valesha, tapi ternyata, sekarang malah adikku sendiri yang memilih untuk mempertahankan wanita itu, Oaklard, apa menurut kamu dengan mempertahankan wanita itu di sisiku, adalah pilihan terbaik?"
Pertanyaan dari sang tuan bagi Oaklard agak terlalu mendadak. Dia yang baru saja berusaha untuk fokus dalam mengemudinya pun pada akhirnya hanya terlihat tertegun.
"Um?"
Sejenak Oaklard mencoba untuk memulangkan semua pemikiran di dalam otaknya.
"I-itu, sebenarnya itu terserah pada Tuan saja, bukannya sejak dulu tuan juga hanya ingin membalas dendam pada keluarga Tuan Fotham, lalu jika Nona Valesha harus bertahan di rumah tuan, bukankah itu lebih bagus, jadi jika kelak tuan menemukan bukti yang memberatkan kasus tersebut, tuan bisa langsung menghukum Nona Valesha." Ucap Oaklard dengan gugup.
Dia bahkan terus saja mengatur nafasnya, karena di dalam dadanya, jantungnya juga bergemuruh layaknya berada dalam pacuan kuda, yang kemudian membuat dirinya tak bisa mengaturnya.
Oaklard meneteskan peluh di keningnya. Ia melirik sedikit saja ke arah Axelo di sampingnya, dan melihat wajah Axelo tak begitu senang selepas mendengar jawaban yang dia lontarkan.
Dan pada akhirnya, dia pun jadi merinding sendiri melihat tingkah si tuan di sampingnya.
"Apa aku sudah salah bicara? wajah tuan berubah begitu cepat dari beberapa detik yang lalu, aku harap dia tak buru-buru memenggal kepalaku!"
Benak Oaklard terdengar berkata-kata, dan bahkan selalu saja berdebar kencang tak menentu. Agaknya dia benar-benar berada dalam ancaman yang super menakutkan.
Bagaimanapun juga, dia juga tak mau kehilangan kesempatan untuk membalas dendam jika kelak Tuan Wishnu Fotham memang benar-benar terbukti menjadi tersangka utama dalam pembunuhan yang terjadi pada sang ayah.
Namun jika ternyata semua yang dia pikirkan adalah sebuah kesalahan, lalu bagaimana dia akan membalas kesedihan yang telah dan akan dialami oleh Valesha?
...----------------...
"Tidak bisa! ini benar-benar tidak bekerja!!"
Sementara kegaduhan mulai terlihat dari salah satu bangsal yang dimana di dalamnya telah terbaring seorang pria yang tengah berada dalam situasinya yang sekarat.
Beberapa dokter tampak bekerja sama dan mencoba menyelamatkan pria di atas ranjang pasien. Sementara beberapa anak buah Axelo hanya terlihat mondar-mandir tak tahu bagaimana harus menyikap kejadian tersebut.
Ada yang mencoba untuk menghubungi Axelo, ada juga yang mencoba untuk menghubungi Valesha dan juga Ashkan. Namun sayang sekali, di antara beberapa orang yang terlihat mencoba menghubungi, mereka sama sekali belum memberi kabar keberhasilan mereka.
"Bagaimana? apa tuan sudah bisa dihubungi?" tanya salah seorang terhadap orang yang lainnya.
__ADS_1
"Tidak bisa!"
"Nona Valesha juga tidak bisa dihubungi."
"Sama juga seperti Tuan Muda Ashkan, mereka semua sama-sama tidak ada yang bisa dihubungi, bagaimana ini?"
Cklek!
Mendadak seorang dokter dengan wajah cemasnya terlihat keluar dari ruangan tersebut dan memberitahu semua anak buah Axelo yang tengah berdiri cemas di depan ruangan.
"Ada apa dokter?"
"Sepertinya ada seseorang yang kembali memasukkan virus itu ke dalam kepalanya! kita harus mencari Profesor Chan untuk meneliti lebih jauh lagi!" jawab si dokter dengan tatapan kecemasan.
"Bagaimana ini? yang punya nomor kontak Profesor Chan hanya Tuan Ashkan, dan dia tidak bisa dihubungi!" ucap salah seorang anak buah Axelo.
Situasi semakin terlihat kacau. Bahkan kelihatan dengan jelas kalau mereka semua sama-sama ricuh di sana. Memang dalam situasi semacam ini yang menyelimuti kebanyakan orang adalah kecemasan.
"Apa kalian tidak bisa bertindak yang lain lagi? misalnya memberikan obat pereda rasa sakit padanya?" tanya salah seorang anak buah Axelo lagi, merasa geram dengan situasi tersebut.
"Kami sudah memberikan obat pereda rasa sakit dosis paling tinggi, tapi agaknya virus di kepalanya mulai bermutasi, dan kami memang benar-benar membutuhkan kedatangan Profesor Chan di sini!"
Bzzz bzzz
Mendadak getar ponsel salah seorang anak buah Axelo menghentikan pembicaraan. Si pemilik ponsel pun hanya terlihat bergegas mengangkat panggilan dan kemudian menyadari kalau yang menghubungi dirinya ternyata si pria yang ditunggu-tunggu.
"Tuan Ashkan!"
"Kenapa menghubungi aku?" suara Ashkan dari seberang terdengar dalam dan hati-hati.
"Tuan, terjadi masalah pada kondisi Tuan Wishnu Fotham, kita butuh kehadiran Profesor Chan sekarang juga!"
"Apa katamu? apa yang terjadi pada ayah?"
"A? No-Nona Valesha?"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...