Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Diculik


__ADS_3

Dug!


Jantung Axelo serasa berhenti berdetak. Sebenarnya itu terkesan berlebihan. Apalagi untuk seseorang yang masih hidup dengan normal seperti dia.


Tapi, entah kenapa hatinya mendadak tersentuh, dengan perkataan Ashkan yang amat sederhana, namun begitu berkesan di dalam sana.


Kesan yang menusuk, menyedihkan, juga, terkesan.. Arkh! tak tahu pula apa yang tengah dia rasakan selepas mendengar perkataan Ashkan barusan.


Yang jelas, dia akhirnya sadar kalau dirinya, memang tidak pantas memperlakukan Valesha dengan sesuka hatinya.


"Hahh! kadang aku bingung padamu, kamu bilang hanya mau menikahi Valesha untuk membalas dendam, tapi yang aku lihat sekarang, kamu bahkan seperti lebih mencintai dia daripada dirinya sendiri, aku pikir kamu tidak seharusnya membawa masa lalu dalam hubungan rumah tangga kamu dengan dia." Ucap Ashkan yang kemudian dilanjutkan dengan menyulut ujung rokok di sela-sela jarinya.


Wosh!


"Kamu salah," namun kakaknya mendekat, dan kemudian merebut rokok yang tengah asik dinikmati oleh adiknya itu.


Axelo pun berlanjut menghisap rokok sisa adiknya.


Wushh!


"Bukan membawa masa lalu dalam pernikahan kami, tapi tidak menyertakan cinta dalam balas dendamku, seharusnya."


"Heng!"


Mendengar perkataan dari Axelo barusan, Ashkan lekas menyunggingkan senyuman lelucon. Dia merasa kalau perkataan sang kakak memiliki kesan lucu, dan mungkin, tidak lebih baik dari apa yang dia pikirkan.


"Kau bahkan baru saja mengatakan mencintai dia, apa kau tidak sadar?" tanya Ashkan sambil mengambil kembali rokok dari dalam wadahnya..


Axelo tertegun. Dia mulai berwajah aneh kala mendapati perkataan Ashkan barusan. Rupanya dia memang sudah kacau pemikirannya, bahkan jika dibandingkan dengan Ashkan, dia tak jauh lebih pandai daripada adiknya itu.


"Kau baru ingat?"


Slush!


Menghisap rokok yang baru.


Wush!


"Kau tidak bodoh, bukan? bagaimana sekarang akan melangkah? apa mau tetap bertahan pada dendam, atau mau mengalah dengan perasaan? terserah padamu, hanya saja, seperti yang wanita itu katakan, kalau kau mau ambil perusahaan ayah dari Tuan Wishnu, maka ambil saja, tidak perlu melakukan banyak cara untuk menghancurkan, cukup jatuhkan saja apa yang jadi sumber kehidupannya."


"Sejak awal aku bingung apa kau ini sedang melawan aku, atau kau sedang berusaha untuk membujuk aku, aku bahkan kelihatan bodoh sekarang saat di depan kamu, tidak seperti dulu, yang selalu menang berdebat denganmu, sekarang aku bahkan tidak yakin apa bisa untuk tidak melawan kamu atau tidak." Ucap Axelo sambil berjalan menuju ke arah jendela kamarnya, dan kemudian membuka tirai yang menutup kaca jendela.


Sejenak dia diam, menatapi situasi di luar sana, dimana terlihat Valesha yang sudah berada di pelataran rumahnya, hendak menuju ke arah gerbang.


"Cukup dengarkan aku saja, karena kau sendiri sudah tahu mendengarkan kata-kata ibu, tidak sepenuhnya benar." Jawab Ashkan dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Namun Axelo tidak bergeming, atau sekedar menggubris perkataan dari Ashkan pada saat itu.


Dia hanya terus menatapi kepergian istrinya dari rumahnya, keluar dari gerbang tanpa adanya cegatan dari seseorang di sana, dan kemudian menghentikan sebuah taksi.


Sekilas tidak ada yang aneh dari situasi yang terjadi di luar. Axelo bahkan hanya terus menatap dengan kesedihan di kedua matanya melihat kepergian Valesha, yang entah untuk sementara, atau mungkin, untuk selamanya.


Dia bahkan tak melihat wajah Valesha mempercayai kata-kata kejujuran yang beberapa saat lalu sempat dia utarakan di depan Valesha.


Hingga pada menit berikutnya, dia mulai mendapati satu hal aneh dari taksi yang ditumpangi oleh Valesha.


Si sopir taksi yang dengan sengaja membuka kaca mobilnya, dengan mengenakan topi hitam pekat, mengenakan masker yang menutupi bagian hidung sampai area dagunya, dan hanya memperlihatkan bagian matanya saja.


Posisi yang lumayan jauh dari arah pandangan mata Axelo nyatanya tidak membuat pria itu tertipu.


Dia segera menutup tirai kamarnya dan bergerak pergi usai menyadari sesuatu akan segera terjadi.


"Sialan!!"


Umpat pria itu sambil melalui posisi adiknya berada, dan tanpa berpikir panjang segera saja dia ambil senjata api di tempat khusus.


Ashkan hanya terlihat menatapi kakaknya dengan tatapan polos, masih juga tidak mengerti apa yang kiranya tengah terjadi pada saat itu.


"Ada apa? kau mendadak sibuk."


"Hum, baiklah, aku akan ikut denganmu."


Klak!


Menggapai senjata yang dilempar oleh kakak kandungnya.


Axelo pergi lebih dulu dari Ashkan. Sementara adiknya terlihat menyusul dua detik kemudian.


Sekarang mereka berdua akhirnya keluar dari rumah dengan gagah berani.


Seseorang menunduk memberi hormat pada sang tuan.


"Oaklard, kirim pasukan untuk menjaga Tuan Wishnu, aku punya banyak urusan dengan putrinya, setelah pria itu bangun, pastikan tidak mencemaskan putrinya, dan pastikan juga tidak menerima obat-obatan asing dari seseorang, kau paham?" tanya Axelo sambil bersiap-siap maju.


"Baik, tuan."


Csss


Vroooooommmmmm


Mobil segera melaju dengan kencang keluar dari halaman rumah Axelo, mengejar mobil taksi yang membawa Valesha pergi.

__ADS_1


Sementara wanita di dalam taksi terlihat sedang sibuk menatapi ruang kosong di luar kaca jendelanya.


Malam yang sudah sangat sepi. Ini bahkan hampir tengah malam. Saking kesalnya, dia bahkan lupa kalau taksi di jam segini sudah tidak lagi beroperasi.


Lalu, apa dia sudah mulai sadar sekarang?


Dia menatapi ke arah luar kaca jendela, menatapi suasana kota yang sudah sangat sepi, dan kemudian menatap ke satu sisi dimana seharusnya dia berbelok untuk sampai ke rumah sakit tempat sang ayah dirawat.


Namun dia malah dibuat bingung, saat mendapati sopir taksi membawa dirinya berlalu pergi, bahkan tidak mendapati belokan jalan yang seharusnya dia lalui.


"Loh? pak, ini bukan jalan ke rumah sakit, apa anda memang salah jalan?" tanya Valesha semula memang masih belum mengetahui apapun.


Hingga akhirnya Valesha melihat sekilas wajah pria bertopi di depan, tengah memiringkan senyum smirknya, dengan sangat mengerikan.


"Apa kau sedang berusaha menculikku?" tanya Valesha dengan bodohnya.


"Heng!"


Dan sekarang pria bertopi itu terlihat tersenyum licik.


"Selamat datang empat juta dollar!!"


Empat juta dollar?


"Dasar sialan! lepaskan aku!!"


Sekarang Valesha mulai berteriak usai menyadari kalau dia tengah berada satu mobil dengan seseorang yang ingin menculik dirinya.


"Tolong!!! tolong aku!!!!"


Dia terus berteriak sambil memukul-mukul kaca mobil dengan sekuat tenaga, berharap ada seseorang yang mendengar teriakannya itu.


Tapi dia benar-benar bodoh, tengah malam seperti ini, kalau bukan hantu yang lewat, maka tidak ada.


"Teriak saja sampai suara kamu habis! setelah ini, kau hanya akan lemas dan muntah!"


Sayang sekali Valesha tidak bisa membuka pintu mobilnya. Semuanya terkunci dengan sangat rapat, membuat dia benar-benar terkurung di dalam sana..


"Lepaskan aku, sialan!! tolong!!!"


"Heng! mana mungkin aku melepaskan kamu, kalau mendapat uang darimu saja sudah begitu mudah."


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2