
Bip.. bip... bip...
Suara mesin pendeteksi jantung terdengar begitu keras memekakkan telinga sepanjang berjalannya operasi.
Pria itu dipasangi beberapa alat di beberapa bagian tubuhnya, hingga hanya beberapa bagian tubuhnya saja yang bisa dilihat tanpa penghalang apapun.
Di luar ruangan, para bodyguard dan Ashkan nampak berdiri dengan tenang tanpa terlihat cemas sedikitpun. Iya, bukan hanya sekali mereka melakoni kejadian semacam ini, mungkin ini kejadian yang ketiga, atau bahkan yang keempat kalinya, mereka bahkan tak bisa menghitungnya.
Kehidupan Axelo yang selalu berbalut dendam, kekuasaan, dan pertarungan, permusuhan, persaingan, dan sisi negatif lainnya, memang membuat Axelo tidak akan bebas dari hal semacam ini, semua ini sudah biasa terjadi, dan anehnya lagi, Axelo selalu berkali-kali selamat dari kejadian naas yang hampir merenggut nyawanya.
Mungkin dia punya sembilan nyawa, iya, itu mungkin..
Ashkan nampak menatap ponselnya yang baru saja berdering, memperlihatkan nama ibunya di sana. Ia baru saja memberi kabar pada ibunya bahwa anak sulungnya itu mengalami kecelakaan dengan istrinya sendiri, dan benar saja, tak butuh waktu lima menitan untuk mendapat panggilan masuk dari ibunya itu.
'*Nyonya Armei*.'
Bip!
"*Bagaimana keadaan kakak kamu itu? dia baik-baik saja*?"
Yang di seberang sana bahkan jauh lebih cemas dibanding dirinya sendiri.
"Dia masih di dalam ruang operasi, kali ini operasinya jauh lebih lama dari biasanya."
Jawab Ashkan dengan sedikit acuh, agaknya dia sudah terbiasa dengan keadaan semacam ini.
"*Kenapa bisa dia mengalami kecelakaan seperti itu? apa yang mereka ributkan di dalam kamar*?"
Tanya Nyonya Armei pada putra keduanya.
"Malam kedua biasanya jauh lebih agresif." Jawab Ashkan dengan nada datar, bahkan wajahnya pun tanpa berekspresi, dan dari jawabannya itu, pada akhirnya harus membuat wanita di seberang terdiam, lalu akhirnya memilih untuk memutuskan sambungan.
*Heng! kau cemas putramu itu akan meniduri anak musuhmu sendiri? agaknya kalian memang sangat berambisi ingin menghancurkan keluarga Fotham*.
Di seberang masih tertegun, terdiam dengan segala pemikiran di dalam otaknya.
__ADS_1
*Mana mungkin? mana mungkin Axelo melakukannya dengan gadis itu? jika benar dia melakukannya, bukankah itu akan sangat keterlaluan*?
Kembali lagi di rumah sakit, terlihat seorang wanita yang hadir, dengan tangisnya yang berlebihan, hingga membuat semua perhatian orang tertuju padanya, membuat sebuah keributan di rumah sakit tersebut.
"Dimana kekasihku? hu.. hu.. hu.... dimana Axelo Devandra Wicaksono kekasih pujaan hatiku itu? aku harus melihatnya.."
"Nyonya, anda harus tetap tenang." Ucap salah seorang satpam pada wanita gila yang kini tengah berjalan menuju ke arah Ashkan terduduk.
"Ck! wanita gila itu datang, dari mana dia bisa tahu informasi ini?" gumam Ashkan dengan lirih, bahkan hampir tak terdengar oleh siapapun.
"Hu.. hu.. hu... kekasihku, apa dia sudah selesai dioperasi?" tanya Sheilin pada Ashkan dengan tangis buayanya.
"Kenapa dia bisa masuk ke sini? sudah aku katakan aku bukan kakak, yang menyukai wanita semacam ini, usir dia dari sini, aku tidak suka melihatnya ada di sini, bisa muntah aku dibuatnya." Ucap Ashkan pada salah satu anggota keamanan dibawah naungannya.
"Ashkan, aku hanya ingin memastikan keadaan kekasihku, tolong izinkan aku duduk sebentar menunggu operasinya selesai." Ucap Sheilin jangan lupakan pula tangisan palsunya itu.
"Tidak, aku akan menendang kamu keluar kalau sampai kamu berdiri di sini sampai lima menit!"
"Tidak, Ashkan! jangan lakukan itu!"
Dengan sangat terpaksa, wanita itu pun akhirnya tetap harus memilih pergi, meninggalkan Ashkan dengan senyum kecutnya.
"Ah, baiklah, kalau kau tak Sudi lagi, aku akan segera pergi, tolong jaga kekasihku, aku mohon.."
"Ck! aku tidak percaya kakak masih saja memelihara anjing seperti dia." Umpat Ashkan dengan kesal.
Langkah kaki wanita itu pun semakin menjauh pergi, sampai akhirnya dia tak lagi terlihat di kedua mata Ashkan, atau memang, wanita itu tak pernah nampak dalam pandangan Ashkan.
*Semua ini gara-gara gadis itu, dia harus mendapat pelajaran*!
...****************...
Dia meremas kedua tangannya, dengan tatapan tertuju ke arah lantai, namun agaknya tatapan matanya itu kosong tak berisi apapun. Ia nampak cemas, tidak, bahkan terlihat sangat jelas wajahnya memang benar-benar cemas.
Tak bisa dipungkiri, sekarang dia bahkan sangat mengkhawatirkan suaminya, akibat ulah kedua tangannya sendiri, pada akhirnya tragedi mengerikan itu harus terjadi.
__ADS_1
Apa yang harus dia lakukan sekarang?
Kenapa rasanya berdiam diri di dalam kamar seperti ini, dengan kedua telinga yang tak bisa mendengar kabar dari rumah sakit, rasanya sangat meresahkan?
Ia bahkan tak bisa tidur, berbanding terbalik dengan Axelo yang masih terlelap tidak sadarkan diri di ruangan operasi. Ia bahkan masih harus bergelut dengan peralatan medis, mencoba mengambil dua peluru yang bersarang di dalam jantungnya.
Entah ini sebuah kebetulan, atau memang karena Valesha yang terlalu mencemaskan suaminya. Ia jadi bolak-balik tidur dan beranjak, seolah tempat tidur itu bukanlah tempat ternyaman baginya.
*Aduh, gimana ini? apa aku susul saja ke rumah sakit? tapi aku tidak punya jalan keluar selain mereka yang membukakan pintu untukku, bagaimana aku bisa mengetahui keadaan Axelo*?
Dia hanyut dalam pemikiran menakutkan, hingga diremaslah kepalanya dengan sangat kesal, dia jambak rambutnya penuh kemarahan, mengaku bodoh, dan yang lebih besar adalah mengakui kesalahannya sendiri.
*Bodohnya aku yang tidak hati-hati, kalau aku tidak egois, dan tidak seceroboh itu memainkan senjata miliknya, bukankah semua ini tentu tidak akan pernah terjadi*?
*Axelo, semoga dia baik-baik saja*.
Kini dia mulai berusaha untuk duduk dengan tenang di atas ranjang, meski perasaan kacau itu masih ada dalam hatinya.
Hingga dua detik berlalu, tiba-tiba seseorang datang ke kamarnya, mendobrak pintu kamarnya, dan kemudian memaksa masuk ke dalam kamar Valesha tanpa permisi, membuat pintu itu sudah jelas rusak parah dan akhirnya tetap harus Axelo yang menggantinya.
"Dasar wanita gila!!" teriak Sheilin sambil berlari ke arah Valesha lalu tanpa basa-basi lagi dia menjambak rambut Valesha tanpa ampun.
"Aaaaaaa!! apa yang kamu lakukan? lepaskan aku!" teriak Valesha sambil terus mencoba melepaskan jeratan tangan Sheilin dari rambut indahnya..
"Melepaskan kamu? jangan mimpi kamu!! bisa-bisanya kamu buat Axelo dalam bahaya, kamu pikir kamu ini siapa? gimana kalau Axelo tiada, kamu harus bertanggung jawab atas semua yang kamu lakukan padanya!!" ocehan wanita itu sambil terus mencoba menarik dan menghabisi rambut di kepala Valesha.
"Dasar wanita gila! lepaskan aku! lepaskan tangan kamu dari rambutku!" teriak Valesha lagi, berusaha melepaskan dirinya.
"Kamu harus menerima akibatnya, kamu harus terima akibatnya!!"
Plak!!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1