
Singkat cerita, malam pun telah tiba. Tampak Valesha yang tengah asik menyiapkan bahan masakan di dapur kediaman ayahnya. Dia juga masih terlihat murung dengan bibir yang dia majukan beberapa Senti ke depan, membuat bentuk tidak ubahnya seperti kerucut, namun ekspresinya itu justru membuat Valesha terlihat sangat menggemaskan.
Padahal sejujurnya dia tengah gusar, pikirannya melayang kesana dan juga kemari memikirkan bagaimana kiranya kalau sang suami akan melakukan hal menakutkan seperti yang dia pikirkan pada saat itu.
Cssssss
Suara telur yang digoreng di atas penggorengan, bersahutan dengan suara pisau yang tengah mengiris bawang.
Nampak tangan Valesha memang sangat lihai menggarap semua bahan masakan yang ada di atas meja dapur, bukan hanya bawang, dia juga tampak mengeksekusi beberapa kepiting, daging ayam, dan juga lobster kesukaan ayahnya.
Dia suka sekali memasak, ya, sebenarnya dia hanya tengah mencicipi nikmatnya dunia wanita seutuhnya, menjadi seorang wanita yang bekerja keras di rumahnya sendiri, sejak beberapa lama dia memang hanya sedang berusaha untuk menjadi seorang wanita yang sibuk di rumahnya, sebenarnya hal itu dia siapkan sejak sebelum dia menikah dengan Axelo, berusaha untuk bisa memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, dan juga berlatih untuk menjadi wanita rumahan yang menjadi impian semua pria.
Hanya saja, dia menjadi mati, semua yang dia angankan sejak berbulan-bulan lamanya, semua yang dia bayangkan saat sudah menikah nanti, nyatanya semua itu bahkan tidak pernah dia dapatkan.
Dia hanya menjadi wanita yang berguna karena berasal dari keluarga Fotham, dia juga menjadi sosok wanita yang harus tampil kuat dan bisa menyembunyikan kepedihan lukanya meski hal itu rasanya benar-benar sulit.
Apalah daya, tidak ada yang bisa dia lakukan selain menuruti apa maunya takdir. Bukankah semua orang juga pasti melalui takdir sulit masing-masing?
*Betapa sedihnya aku, saat aku tahu Axelo hanya datang ke dalam keluarga kita karena untuk membalas dendam, tapi aku justru tidak bisa melawannya, sama sekali tidak bisa*.
Gumamnya dalam hati sembari terus mengiris bawang.
Sementara terlihat di sofa ruang tengah Tuan Wishnu yang tengah asik dengan beberapa berkas di hadapannya. Dia tengah duduk berhadapan dengan Axelo, dan entah mengapa keduanya tampak terlihat menampilkan wajah yang serius.
Mereka berhadapan, tidak saling menatap, hanya saja, keduanya tengah membicarakan suatu hal penting yang agaknya tidak bisa dibicarakan begitu saja.
"Iya, aku sudah memikirkan semuanya sejak awal, bahkan aku sangat senang saat mendengar kalau kalian akan hadir, aku jadi bisa leluasa bicara dengan kalian." Ucap Wishnu Fotham kepada Axelo.
Fuhhh!
Tampak Axelo menghembuskan nafasnya yang berat dengan nada sedang, tidak terlalu rendah, juga tidak terlalu tinggi.
__ADS_1
"Aku harap kau mau membantu Valesha memajukan perusahaan itu, aku percayakan semuanya padamu," ucap Tuan Wishnu Fotham pada Axelo, selaku menantu satu-satunya.
Dengan santai Axelo tampak meraih secangkir kopi di atas meja, lalu mulailah dia menyeruput kopi tersebut.
Slurp!
Bunyinya terdengar begitu menggoda.
Tak!
Ia kemudian terlihat meletakkan cangkirnya kembali di atas meja kaca.
"Aku tidak yakin, dia masih terlalu polos untuk memimpin sebuah perusahaan, dan aku juga begitu terkejut saat aku mendengar ayah mertua sudah siap memberikan warisannya pada Valesha, bagiku, itu agak terburu-buru." Ucap Axelo dengan datar, dia bahkan tidak terlihat gusar sedikitpun.
Mendengar ucapan Axelo barusan, Wishnu jadi terkekeh kecil. Dia tidak menyangka kalau Axelo memang punya pemikiran sejauh itu. Rupanya dia tidak salah pilih suami untuk Valesha, begitulah pikirnya.
Ia bahkan belum tahu kalau pria muda di hadapannya itu tidak lain dan juga tidak bukan adalah buaya yang bersembunyi di balik wajah tampannya itu. Entahlah, penyamaran Axelo melalui wajahnya memang selalu berakhir dengan kata sempurna.
"Aku percayakan semuanya padamu, jika kau masih berpikir kalau Valesha belum siap untuk memimpin perusahaan, maka aku percayakan perusahaan itu di bawah kendali kamu," jawab Wishnu Fotham.
"Kau bersedia?" tanya Wishnu pada Axelo untuk memastikan apa pria itu sudah yakin atau belum.
"Baiklah, aku akan memegang kendalinya," jawab Axelo setelah beberapa detik asik berpikir.
Ia kemudian meraih kembali setengah cangkir sisa kopi miliknya, dan kemudian kembali menyeruputnya lagi dengan sangat tenang.
Dia bahkan tidak menunjukkan ekspresi apapun di sana.
*Heng! sesuai dengan rencana, aku suka pria bodoh ini*!
Tak lama setelah itu, tampak seorang wanita bergerak dari arah dapur dengan pakaian yang sudah jauh lebih rapi dibanding sebelumnya. Dia terlihat mengenakan kaus oblong biasa, yang dia padu padankan dengan rok mini berwarna hitam polos, semakin menambah keanggunan di wajah manisnya.
__ADS_1
"Ayah, makanan sudah siap, ayo kita makan!" ajak Valesha pada sang ayah, wajahnya terlihat lebih kerung dibanding hari-hari biasanya.
Sang ayah menatap kedua mata putrinya yang tampak dalam itu. Tapi dia tidak berpikir apapun, selain hanya memikirkan pekerjaan malam yang pastinya akan membuat siapa saja kekurangan tidur.
"Oke, ajak suami kamu juga, kasihan dia belum makan apapun sejak sampai tadi siang." Ucap Wishnu Fotham sambil mendorong kursi rodanya menuju ke arah meja makan.
Sementara itu, ucapan sang ayah malah membuat Valesha mematung di tempat berdirinya, sambil menatap dengan sinis kedua mata milik Axelo. Entah mengapa dia begitu muak saat mendengar ayahnya memanggil pria itu dengan sebutan suaminya.
Huhh?
"Kenapa diam?" tanya Axelo menyadari sang istri yang hanya menatap dirinya di atas sofa.
Namun sang istri tidak memberikan respon apapun selain berbalik dengan congkak dan meninggalkan dirinya di atas sofa. Hal itu sudah jelas akan menimbulkan kemarahan di hati Axelo. Entah mengapa wanita itu suka sekali membuat Axelo marah.
Hap!
Srett!
Brukk!
Namun Axelo tidak mau diacuhkan terus menerus oleh istrinya. Dia selalu punya seribu cara untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, termasuk perhatian dari istrinya.
Dia terlihat menarik lengan Valesha, sampai jatuh saja tubuh wanita itu dalam pelukannya, dan sekarang keduanya tampak asik bertatap muka dengan sangat romantis.
"Sayang, jangan terus menerus mengacuhkan aku, kau tahu aku sangat membencinya." Ucap Axelo sambil meraba pipi Valesha dengan sangat lembut.
Namun Valesha selalu tidak bisa dia taklukkan. Sejak dendamnya diketahui oleh Valesha, wanita itu berubah menjadi sangat dingin dan juga menusuk. Agaknya dia memang harus bekerja lebih keras lagi untuk mendapatkan perhatian Valesha.
Cup!
Sekilas dia mengecup bibir istrinya yang ranum, lalu kembali menatap Valesha dengan tatapan mautnya.
__ADS_1
"Jangan suka mengacuhkan aku, atau aku akan menghukum kamu semalaman."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...