
"Lihatlah, Yuri, kuku-kuku ibu sangat cantik, apa kau tidak iri pada ibu?" tanya seorang wanita di atas sofa tempat duduknya.
Dia baru saja tiba di rumah beberapa saat yang lalu setelah berhasil menghabiskan beberapa milyar hanya untuk perawatan dan kecantikan diri, pun juga dengan berbelanja barang-barang mewah.
Sesuai dengan jadwal, setiap satu minggu sekali, tepatnya pada akhir weekend, dia memang selalu menghabiskan waktunya dengan merawat diri, mencoba mempertahankan kulitnya untuk lebih awet muda, dan pastinya, dia selalu mengeluarkan uang yang sangat banyak hanya untuk hal seperti itu.
Berlian mewah, tas mahal, baju-baju branded, sepatu kelas dunia, semua itu dia beli tanpa berpikir dia akan kekurangan uang.
Anak pertamanya sudah berhasil melanjutkan perusahaan mendiang suaminya, sementara itu, di sisi lain anak pertamanya juga masih memegang jabatan sebagai CEO dalam perusahaan kakak iparnya.
Apalagi yang kurang selain itu? selain hanya dengan anak keduanya, yang saat ini masih asik menyibukkan diri dengan menghabiskan waktu dengan teman-teman sebayanya, menghabiskan uang hanya untuk berfoya-foya.
Ia tak pernah ambil pusing. Dia juga ahli dalam bisnis tas mahalnya itu, dia tidak akan pernah kekurangan uang, bahkan untuk tujuh turunan sekalipun.
Gadis muda yang bernama Yuri tampak menoleh, memalingkan pandangannya sejenak dari ponsel yang ada di tangannya, dan memaksa diri untuk melihat ke arah sang ibunda.
Dia melebarkan mulutnya tercengang melihat sang ibu yang kini telah berubah bak putri di negeri dongeng, sejujurnya tidak terlalu cocok juga si, hanya saja, kedua wanita itu memang selalu berlebihan dalam hal memuji.
"Wow! Mama?"
Gadis itu pun lekas meninggalkan ponselnya di atas sofa tempat dia semula membaringkan tubuhnya yang penat.
Ia bergeming dari sana, dan mulai menghampiri sang ibunda di sisi sofa yang lain. Dia memegangi tangan-tangan cantik milik ibunya, yang sekarang sudah tampak terawat.
"Ya ampun, mama, kuku-kuku mama cantik banget, kenapa tadi tidak ajak Yuri? ih, mama, tega banget sama Yuri." Ucap gadis itu setengah merengek, mungkin dia kesal karena ibunya tidak mengajak dirinya keluar bersama.
"Kamu, ish, jangan manja, mama hanya keluar uang sedikit untuk perawatan kuku-kuku mama, kamu harus perawatan yang lebih mahal dari ini," jawab sang ibunda, terlihat dengan sangat jelas kalau ibunya juga sangat memanjakan putrinya itu.
Keduanya tengah asik berbincang saling memuji di ruang tengah, sampai pada akhirnya kedua wanita itu dikejutkan oleh suatu hal.
Brak!
Dia membuka pintu secara paksa, sesaat setelah dia berhasil sampai di rumahnya dengan aman, dan selamat.
Untung saja nyawanya tidak jadi dibuat taruhan dengan para bawahan Axelo itu. Jika tidak, dia pasti hanya membawa namanya pulang saja. Mereka semua memang terlihat sangat menakutkan, dia sendiri bahkan hanya bisa gemetar sekujur tubuh sesaat setelah dia berhasil sampai ke dalam rumah.
Dia melangkahkan kakinya ke dalam rumah, dan kembali menutup pintunya, kali ini benar-benar sangat rapat.
Brak!
Klik!
Dia bahkan sampai menguncinya, agaknya dia benar-benar dibuat ketakutan oleh para pria itu.
Kedua wanita yang tengah asik bercengkerama di ruang tengah pun tampak bergeming dari tempat duduk mereka, menatap ke arah Neil dengan sangat bingung, dan kemudian lekas mendekati Neil dengan cemas.
"Neil, ada apa dengan dirimu?" tanya sang ibunda pada Neil, dia masih merawat dan menjaga kuku-kuku cantiknya supaya tetap aman terkendali.
Hosh! Hosh! hash!
Neil tidak langsung menjawab pertanyaan dari ibunya, dia lebih dulu menata nafasnya dan juga degup jantungnya yang tidak semudah itu dia atur kembali menjadi normal.
Sang adik pun ikut mendekat, sesaat setelah Neil mendongak, dua wanita itu barulah menyadari kalau pipi Neil rupanya tersayat sesuatu.
"A? kakak? kenapa dengan pipi kamu? apa kamu terluka?" tanya Yuri dengan cemasnya, dia bahkan melihat darah yang mengucur dari luka itu bahkan sampai menodai kemeja biru milik kakak kandungnya itu.
"Ya ampun, Neil, apa yang terjadi padamu? kenapa kau sampai terluka begini?" tanya Ibunda Neil pada putranya.
"Pelayan, tolong bantu putraku!" teriak wanita bernama Ahwei pada seluruh pembantu di rumahnya.
Dia sangat cemas, cemas yang sangat berlebihan, sampai membuat dirinya harus memanggil semua pelayan di rumahnya hanya untuk memastikan kalau anaknya ini tidak kenapa-kenapa.
Dengan cepat semua pelayan datang mengerubungi Neil, membawa Neil masuk ke dalam ruang tengah, dan kemudian mendudukan pria muda itu di atas sofa.
Perawatan dadakan pun segera dimulai. Beberapa terlihat membersihkan lukanya, ada pula yang mengganti baju Neil, kemudian ada yang membersihkan kedua kaki pria muda itu, ada pula yang bertugas mengobati luka di pipi Neil, luka yang sangatlah panjang, dimulai dari bawah matanya, sampai mendekat ke arah bibirnya.
Huhh!
Perawatan dadakan itu sungguh sangat berlebihan.
Namun dua wanita di samping Neil tampak sangat cemas melihat kondisi Neil yang entah mengapa menjadi seperti ini.
Entah apa yang terjadi pada Neil, apa mungkin pria muda itu baru saja memenangkan pertempuran merebut seorang gadis?
Setalah menghabiskan beberapa menit untuk merawat Tuan muda itu, akhirnya para pelayan itu berhasil menyelesaikan tugas mereka.
Mereka pun lekas bergeming dan segera membereskan semua peralatan yang mereka gunakan sebelumnya untuk membereskan tubuh Neil.
__ADS_1
Sekarang hanya tinggal Neil bersama dua wanita itu di ruang tengah, sekarang mungkin sudah saatnya memberitahu apa yang telah terjadi pada Neil..
Sang ibunda tampak mendekat ke arah Neil, begitupun dengan adik perempuannya. Kedua orang itu duduk di samping Neil, satu duduk di samping kanan, dan satunya lagi duduk di samping kiri.
Mereka menjadi semakin kompak dan serasi saya duduk berjejer seperti itu.
"Aduh, Neil, apa yang sebenarnya terjadi padamu? kenapa kau sampai terluka begini?" tanya sang ibunda tak mau basa-basi, dia sudah terlalu mencemaskan putranya.
"Aku baru saja diserang oleh anak buah Axelo, mereka meminta aku untuk melepaskan jabatan di perusahaan Fotham." Ucap Neil sembari menahan luka di wajahnya.
"Apa?" mendengar perkataan pemula dari Neil tentu saja Ahwei tampak cemas. Dia yang selama ini berpikir kalau perusahaan itu pasti akan diwariskan pada putranya, tapi ternyata ia salah.
Sampai kapanpun juga, Wishnu Fotham tidak akan pernah memberikan perusahaan itu untuk Neil, sekarang malah Axelo yang dengan berani melawan dirinya.
Sedangkan dia jika dibandingkan dengan Axelo, dia tentulah bukan siapa-siapa, lalu bagaimana dia akan melawan pria terkuat itu?
"Aku rasa Valesha menggunakan anak buah Axelo untuk mendapatkan perusahaan itu dariku, jika dia bergerak sendiri, bukankah dia wanita yang sangat lemah untuk melakukannya?" tanya Neil pada sang ibu.
Di samping kiri tempat ia terduduk, tampak Yuri yang juga mendengarkan perkataan dari Neil secara seksama.
"Apa kau yakin untuk itu? bagaimana dengan Wishnu Fotham? apa dia sudah berbicara dengan dirimu?" tanya Ahwei pada putranya, dia terlihat lebih serius dibanding sebelumnya.
"Dia memang pernah mengatakan padaku sejak awal, tapi dia tidak yakin Valesha bisa mengelola perusahaan sebesar itu, meski Valesha menempati nilai tertinggi saat kelulusan kemarin." Ucap Neil pada sang ibunda.
"Tidak boleh, Wishnu tidak boleh memberikan perusahaan itu pada putrinya, jika dia memberikan perusahaan itu pada Valesha, maka itu artinya, kita akan hidup dalam kesulitan." Ucap Ahwei, dia sekali lagi merasa sangat cemas.
Bagaimana kalau semua ini adalah akhir dari segalanya?
Tentu saja dia tidak bisa melalui kesulitan seperti dulu saat mendiang suaminya masih hidup kan?
Bagaimana jika dia kembali miskin?
Tidak!
Itu tidak boleh terjadi!
Bagaimanapun juga, perusahaan itu harus tetap dibawah kendali Neil, tidak boleh Valesha yang mengambil alihnya.
"Kalau begitu, kita perlu berbicara pada Wishnu!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mereka pada akhirnya tidak menggunakan tiket bulan madu yang dibelikan oleh Tuan Wishnu Fotham dengan sengaja.
Padahal Tuan Wishnu Fotham sudah mendambakan seorang cucu yang akan mewarisi peninggalannya kelak. Tapi apa boleh buat, Axelo tidak pernah memiliki rencana sejauh itu dalam pernikahannya bersama Valesha.
Itu tidak sepenuhnya salah, bukan?
Sekarang dia hanya bisa terdiam menatap sang istri yang tengah lahap menyantap makan siangnya di hadapannya.
Sedangkan dia sendiri hanya menghadap satu cangkir teh hangat, tanpa suguhan apapun yang menemani teh miliknya di atas meja, bahkan sepotong kue pun tidak.
Dia tidak selera makan, bahkan setelah melihat banyak makanan yang dipesan oleh Valesha di atas meja, dia nyaris tidak menatapnya.
Sekarang dia berhasil membuat Valesha menjadi bingung. Bukan tanpa alasan, dia memang tidak berbicara satu patah katapun setelah kepergiannya dari kapal pesiar.
Valesha jadi sangat lelah. Dia segera mengakhiri makan siangnya, dan kemudian menyimpan kedua tangannya di atas pangkuan.
"Kau selalu diam sejak bangun pagi di kapal pesiar," ucap Valesha pada suaminya, dia terlihat begitu gugup dalam berbicara, mungkin benar adanya, kalau dia tidak akan pernah berani melawan Axelo, "apa aku berbuat kesalahan?"
Tanya wanita itu pada suaminya, membuat sang suami yang pada saat itu tengah asik mengaduk teh hangatnya pun hanya bisa berhenti dari aksinya, dan mulai menatap kosong ke arah meja penuh di depan matanya.
"Aku tidak berniat untuk minta maaf, karena menurut aku, aku dan kamu sama-sama punya salah, bahkan kesalahan kamu jauh lebih besar dariku, jadi aku tidak pantas untuk minta maaf." Ucap Valesha, dia terlihat sangat lucu saat mengatakan hal tersebut.
Ya, dia begitu lucu, sampai-sampai Axelo hampir saja dibuat terkekeh untuk tingkah lakunya itu, sayang sekali, dia pria yang pandai untuk menahan tawanya.
Kulkas seribu pintu!
Ia pun meletakkan sendok yang dia gunakan untuk teh miliknya itu di atas meja, lalu kemudian memilih untuk bersandar di kursinya.
Dia melipat kedua tangannya sembari menatap ke arah Valesha yang tampak gugup berada di hadapannya itu. Entah mengapa dia jadi ingin tertawa melihat wajah lucu milik Valesha yang sedemikian lucunya itu.
"Aku tahu bukan Tuan Wishnu yang membatalkan pertemuan," ucap Axelo, seketika membuat Valesha bergeming dari posisinya yang setengah menunduk.
Dia memang tidak berani mendongak, apalagi menatap r wajah Axelo saat sedang marah. Bukan tanpa alasan, saat tidak marah saja wajah pria itu sudah seperti iblis dari neraka jahanam, bagaimana kalau sedang marah?
Tentu saja itu akan sangat menakutkan bagi dirinya.
__ADS_1
Namun saat Axelo mengatakan hal itu padanya, dia lekas mendongak, menatapi wajah kesal Axelo yang entah sudah melunak atau belum, agaknya si belum.
"Kenapa kau melakukannya?" Tanya Axelo tampak tidak suka basa-basi, dan ingin langsung mendengar penjelasan dari mulut Valesha secara langsung.
Mendengar pertanyaan kejutan dari Axelo barusan, sontak saja Valesha menjadi terkejut. Dia juga tertegun untuk sesaat, mulutnya bagai diberi lem perekat yang membuat dia tidak bisa berbicara.
Ia pun hanya bisa terdiam gugup dan membisu di tempat duduknya.
Melihat kegugupan yang di alami oleh istrinya, Axelo lekas mendekat, menatap secara dalam wajah Valesha yang sangat imut itu.
Dug! Dug! dug!
Jantung Valesha berpacu begitu kencang, seakan mengajak dirinya untuk mengikuti pacuan kuda yang sangat gila, bisa membuat mukanya merah padam. Dia memang sangat gugup pada saat itu, agaknya pandangan mata Axelo yang terlalu dalam juga terlalu dekat mampu membuat dirinya tenggelam dalam kecanggungan.
"Ak-ak aku.."
Ia mencoba menjawabnya, tapi dia mala. terbata-bata, sampai akhirnya dia benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan dari Axelo.
"Satu hal yang perlu kamu tahu, aku melakukannya bukan tanpa alasan! jika kamu sudah tahu apa yang terjadi di masa lalu, seharusnya kamu bisa mengerti." Ucap Axelo dengan lirih di depan wajah Valesha, tentu saja Valesha semakin dibuat gugup dengan perbuatan Axelo barusan.
"A? benarkah?" tapi dia mendapat keberanian juga dari sana, mencerna setiap perkataan dari Axelo, dan sekarang, dia akhirnya menemukan sebuah senjata yang akan membinasakan Axelo, mungkin, "jika benar begitu, kenapa kamu tidak mengatakannya padaku? supaya aku tahu lebih dalam apa yang kau tahu di masa lalu." Ucap Valesha dengan sangat berani pada suaminya.
Tentu saja jika benar ucapan Axelo barusan, bukankah tidak ada salahnya jika dia diberitahu tentang masa lalu yang masih menyimpan seribu tanda tanya itu?
"Katakan padaku, apa yang perlu aku tahu tentang dendam kamu itu, apa yang perlu keluarga aku kembalikan padamu, jika perusahaan itu termasuk yang harus kami kembalikan, maka aku akan berusaha untuk mengembalikannya, tapi jika yang niat untuk kau ambil dariku ternyata bukan milik kamu, maka aku akan berusaha sebisaku untuk mempertahankannya darimu." Ucap Valesha dengan sangat berani.
Dia juga tidak mau kalah dari suaminya, dia harus membuktikan pada suaminya kalau dia juga bukan perempuan yang lemah, yang bisa ditindas sesuka hati oleh Axelo.
Jika perusahaan itu merupakan miliknya secara sah, maka dia akan mempertahankannya hidup ataupun mati.
Mendengar pertanyaan dari Valesha, Axelo malah menjadi diam membisu. Diam seribu bahasa, tanpa berkata apapun lagi di sana.
Dia kemudian terlihat membangkitkan tubuhnya dan berjalan menuju ke arah meja kasir.
Ia terlihat membayar semua tagihan makanan Valesha, dan kemudian segera keluar dari restoran tersebut.
Apa mungkin dia mengaku salah?
Valesha hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan sangat kesal, tak tahu lagi apa yang ada dalam pikiran Axelo. Sejauh ini dia bukanlah tipe wanita yang bisa dengan mudahnya menangkap pemikiran Axelo. Pemikiran pria itu sangatlah sulit untuk dia tebak.
Agaknya dia perlu banyak waktu untuk mengerti dan juga memahami apa yang dimaksud oleh Axelo, apa yang perlu dia dan keluarganya bayar pada keluarga Axelo tentang yang dimaksud hutang di masa lalu itu.
Dia perlu mencari tahu semuanya. Semoga saja dia lekas menemukan semua jawaban atas teka-tekinya sendiri.
Singkat cerita, dia akhirnya telah menyusul suaminya ke dalam mobil, ingin sekali memang tidak memasuki mobil dari suaminya itu, tapi sekali lagi, dia bisa apa di sini, sebelum dia bisa menaklukkan dendam Axelo, dia hanya bisa menjadi anjing penurut untuk majikannya.
Hidupnya sejauh ini memang benar-benar menyedihkan.
Mobil pun kembali melaju meninggalkan restoran, dan selama perjalanan mereka berdua, keduanya juga masih terlihat sama seperti sebelumnya, diam dan sama-sama tidak peduli.
Valesha yang menatap ke arah luar jendela, lebih memilih untuk menikmati udara sejuk dan juga segar di luar, sana dan mengabaikan Axelo di sampingnya, dan juga Axelo yang lebih suka sibuk dengan ponselnya, berbicara entah pada siapa di seberang sana, yang menjadi kawan baiknya di dalam mobil.
Suasana pun bertambah hening, seperti tengah berada dalam kesunyian malam, entah sampai kapan semua ini akan melanda mereka, hubungan yang tidak harmonis dan sangat dingin ini, apakah mungkin akan segera berakhir?
Axelo mulai menoleh ke arah Valesha, menatap wajah mungil Valesha dari samping, tanpa disadari oleh wanita itu.
Tapi dia tidak melakukan apapun selain menatap wajah Valesha dengan tatapan aneh yang dia miliki.
Ia masih tidak mau menjelaskan apapun, apa yang dia dengar dari ibunya, dan apa yang dia lihat di masa lalu.
Mendadak dia teringat pada ucapan ibunya beberapa tahun silam, mengenai sebuah perusahaan yang dulunya adalah milik keluarga Wicaksono.
Tapi perusahaan itu lenyap, bersamaan dengan uang masuk beberapa triliyun ke dalam rekening Armei.
Menurut penjelasan dari ibunya, uang itu adalah bukti transaksi dari Wishnu Fotham untuk membayar ganti rugi atas kematian suaminya, juga uang untuk membayar perusahan yang seharusnya sekarang dikelola oleh Axelo dan adik kandungnya.
Tapi uang yang masuk dengan perusahaan yang terjual dianggap tidak seimbang, dan sejak beberapa tahun lalu, Armei memang selalu mendidik putranya untuk bisa menjadi pengusaha yang hebat, dan setelah itu, Axelo harus mengambil kembali apa yang seharusnya memang menjadi miliknya.
Tapi jujur saja, Axelo tidak pernah tahu berapa besarnya nominal yang ada dalam rekening ibunya di masa lalu, apa mungkin semua itu hanya akal-akalan dari ibunya saja, dia tidak tahu apapun, benar-benar tidak tahu apapun tentang itu.
Karena itulah dia memilih untuk terdiam, tidak dulu berbicara apapun pada Valesha, karena memang benar, semuanya masih tabu, belum ada kejelasan.
Mungkin ucapan Valesha sebelumnya ada benarnya juga. Semua itu masih belum jelas, jika hanya mengandalkan omongan dari Nyonya Armei, bukankah tidak menutup kemungkinan kalau semuanya bisa saja bohong?
Tapi sejauh ini, dia memang masih belum mendapatkan bukti apapun tentang transaksi dan perusahaan itu, entah apa benar Tuan Wishnu Fotham pernah meminta untuk berdamai dengan mengirimkan sejumlah uang ganti rugi, atau ternyata, ada hal lain yang tidak pernah dia mengerti, dia sendiri masih dibuat bingung dengan semua itu.
Semoga saja dia lekas mendapat semua jawabannya, dan untuk dendam yang tersemat di hati Axelo, agaknya Valesha harus berusaha keras, karena bagaimanapun juga, alasan Axelo ingin membalas dendam, selain karena dia melihat Tuan Wishnu Fotham membunuh ayahnya, maka tidak ada lagi alasan yang lebih kuat dari itu.
__ADS_1
*Aku melihat kamu yang merasa bingung, benarkah kau membalas dendam atas kekesalan mu sendiri*?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...