
"Tidak bisa, aku tidak mau mati duluan!" ucap Oaklard meski dalam hatinya terasa pasrah.
"Heng! mimpi saja di neraka!!"
Dor!!
\*\*\*\*
"Hiks hiks, bagaimana ini bisa terjadi? ayah, ayahku.."
Hiks hiks.
Suara tangis yang amat menyayat terdengar sampai ke telinga beberapa orang yang terlihat berlalu lalang di sekitar bangsal tempat ayahnya di rawat.
Sementara di sampingnya terlihat Ashkan yang tak pernah melepaskan elusan lembut tangannya di punggung kakak iparnya tersebut.
Meski dia begitu memahami betapa jarak yang terbentang di antara mereka berdua begitu luasnya, namun siapa saja manusia yang masih memiliki rasa kemanusiaan seharusnya juga melakukan hal yang sama seperti yang tengah dia lakukan terhadap Valesha.
"Sudahlah, tenang saja," ucap Ahkan mencoba untuk menguatkan hati wanita di sampingnya.
"Bagaimana? apa profesor Chan sudah tiba?"
__ADS_1
"Belum!"
Bahkan dari dalam terdengar begitu jelas keributan antar dokter yang kemudian diakhiri dengan keluarnya salah seorang di antara mereka.
Si dokter pun tampak mendekat ke arah Ashkan dan Valesha berada.
"Maaf, apa kalian sudah mendapat kabar terbaru dari Profesor Chan?"
"Aku sudah ada di sini!" terlihat seorang pria yang tengah membenarkan jas kebanggaannya sembari berjalan dengan bergegas menuju ke arah ruang gawat darurat.
"Dokter macam apa kalian ini, mengapa Menyelamatkan satu nyawa saja kalian bahkan harus memanggil aku, aku ini bukan ahli bedah semacam kalian!"
Cklek!
Sekarang hanya tinggal hati Valesha saja yang rasanya tak karuan dan sangatlah kacau. Ia tahu kondisi ayahnya benar-benar kritis, dan sekarang, dia hanya punya sedikit kekuatan di dalam hatinya untuk menerima apa yang mungkin saja akan terjadi.
Ia menangis. Tanpa sadar tubuhnya juga ambruk di atas lantai, membuat Ashkan yang kala itu hanyalah dia yang berada di sampingnya nampak cemas.
Bruk!
Valesha tampak tidak sadarkan diri, "Valesha!! bangun!" teriak Ashkan sambil mencoba membangunkan Valesha.
Namun wanita itu sama sekali tidak menyahut panggilan darinya. Situasi pun mulai bertambah kacau dan semakin dibuat kacau dengan berakhirnya Valesha di ruang rawat inap.
__ADS_1
Bip.. bip.. bip..
"Axelo.. Axelo.."
Wanita itu terus memanggil nama suaminya. Namun sayang sekali, sampai detik itu pun suaminya belum juga hadir. Yang ada di sana tetap hanya Ashkan seorang, dan itu jelas membuat Ashkan seidikit merasa canggung.
Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi setelah seorang dokter mengatakan Valesha benar-benar kelelahan. Dan wanita itu juga membutuhkan istirahat total.
Ia menoleh ke arah dimana Valesha berbaring dengan lemah. Namun rupanya Valesha memanggil nama Axelo dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Sebegitu besar cintanya kah pada Axelo, hingga dalam keadaan seperti itu pun nama yang dipanggil oleh Valesha hanyalah Axelo?
Mendadak dia jadi kesal. Entahlah, entah apa yang Ashkan kesalkan. Namun dia jelas tahu, wanita ini benar-benar bodoh karena masih sanggup mempercayai Axelo, yang sudah jelas terbukti hanya menipunya dan memanfaatkan dirinya untuk membalas dendam.
"Axelo, Axelo..."
Sekali lagi panggilan Valesha menyeru hati kecilnya. Ia yang semula canggung pun pada akhirnya harus menepis perasaan tidak nyamannya itu, dan mulailah dia berjalan mendekat ke arah tempat Valesha berada.
Hap!
Tangannya yang baru saja tiba di sisi ranjang Valesha mendadak langsung digenggam oleh wanita itu, dan kemudian diamlah wanita itu secara seketika, bersamaan dengan jantungnya yang juga mendadak seperti berhenti berdetak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1