Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Drama Sheilin


__ADS_3

Ia hendak mencium bibir lembut istrinya, tapi sekalinya dia mendekat, sang istri malah memalingkan wajahnya, memberi pertanda akan penolakan yang sangat jelas terlihat.


Melihat sikap sang istri, dia jadi merasa tidak dihargai. Dia akhirnya hanya bisa berhenti bersikap nakal dan menggoda istrinya, lalu mencoba untuk bertanya pada Valesha.


"Kenapa?"


Tanya Axelo dengan singkat, namun pertanyaan itu sejujurnya telah mewakili banyak hal.


Dia meraba wajah sang istri, bagian pipi kirinya yang sangat lembut seperti sutera. Tapi sekali lagi Valesha malah memalingkan mukanya. Dia enggan untuk menatap wajah Axelo, apalagi sampai disentuh oleh pria tersebut.


"Kenapa kau menjauh?"


Suara gemericik air dari shower.


"Kenapa kamu diam?"


Pria itu mulai melihat ketidaknyamanan pada wajah Valesha. Wajah yang sangat sendu dengan tatapan mata yang sangatlah dalam. Tatapan mata Valesha padanya bahkan terlihat begitu menyedihkan, mungkinkah dia masih tidak mengerti juga mengapa Valesha bersikap demikian?


Valesha masih terdiam. Dagunya diraih oleh Axelo dengan lembut, kemudian di tatap olehnya wajah anggun berbibir tipis merona itu dengan kehangatan.


"Kenapa? Kau tidak mau melayani aku?" Tanya Axelo lagi.


Bukankah sudah cukup jelas sikap Valesha barusan? Mengapa pria ini masih belum juga dapat menangkap alasan Valesha untuk bersikap dingin padanya?


Dia tidak bisa berkata apapun, baginya percuma saja untuk menjelaskan semuanya di depan pria ini, toh, semuanya bukankah hanya akan berakhir dengan sebuah kekalahan.


Dia tidak kunjung menjawab. Hanya terlihat kedua matanya yang sembab dan tidak lagi mengeluarkan air matanya, hanya terlihat matanya yang memerah akibat tangisannya sendiri.


"Jawab aku." Ucap Axelo pada sang istri.


"Kau tidak berhak mengetahui jawaban atas pertanyaan kamu." Wanita itu mulai mengeluarkan suaranya.


"Kenapa aku tidak berhak?" Pria itu kembali lagi melontarkan pertanyaan pada istrinya, agaknya dia tak pernah puas dengan jawaban yang dikeluarkan oleh Valesha untuknya.


"Kau memang tidak berhak untuk apapun, sekalipun kau suamiku," jawab Valesha tidak kalah beraninya.


"Jika semalam kau menyerahkan segalanya padaku, lalu kenapa sekarang mendadak kamu malah berubah pikiran? Apa kau sedang mempermainkan aku?"


"Tidak! Kau sendiri yang membuat permainan di antara kita, jika kau ingin aku mengalah, tentu tidak bisa, di dalam permainan, kita tidak boleh kalah dari lawan kita, dan jika kau termasuk pria yang berpikir, seharusnya kau tahu kau tidak akan mungkin memilih lawan yang tidak sepadan denganmu, apalagi aku, yang bagimu jauh lebih lemah, seharusnya kau malu sendiri memilih lawan seperti aku."


Valesha tidak menampilkan wajah takutnya di depan Axelo. Dia malah menepis tangan Axelo dari tubuhnya, dan kemudian mulai beranjak meninggalkan Axelo di kamar mandi, yang masih berada dalam suara gemericik air nan menyejukkan.


Wanita itu meraih handuk dari gantungan, dan kemudian mengenakan handuknya tersebut sampai terlihat dirinya yang mulai keluar dari kamar mandi.


Namun Axelo hanya terdiam seribu bahasa. Dia malah tertunduk di bawah guyuran air tersebut, tidak menoleh ke arah sang istri yang sudah lebih dulu keluar dari kamar mandi.


Dalam diamnya dia berpikir, mengapa rasanya begitu sakit saat melihat wanita yang dia nikahi itu tidak lagi menganggap dirinya sebagai seorang suami.


Entah rasa sakitnya itu karena merasa tidak dipedulikan, atau dia hanya merasa dia tidak dihargai, padahal sudah sepatutnya dia dihargai oleh Valesha.


Namun dia tidak mau terlalu memikirkannya. Dia hanya terlihat mengusap sekujur tubuhnya menggunakan sabun yang sama yang dikenakan oleh Valesha, dan kemudian air semakin deras mengguyurnya, sampai tubuhnya menjadi sangat bersih.


Ia juga menyambar sebuah handuk yang letaknya juga berada di gantungan. Dia mengambil handuk putih tersebut, lalu mengenakannya, mengikatkannya di bagian pinggang, lalu keluar dari kamar mandi.


"Tidak, ayah! Aku baik-baik saja, terima kasih sudah peduli, jaga diri ayah baik-baik.."


Sekilas Axelo mendengar suara istrinya yang tengah berada di dekat almari pakaiannya sembari menghubungi seseorang di seberang. Seseorang yang mungkin saja adalah ayahnya di kejauhan.


Ya, mendengar perkataan terkahir Valesha dalam sambungan itu, seharusnya orang yang tengah dia hubungi itu memang ayahnya.


Namun wanita itu lebih dulu mematikan sambungannya, dan berlanjut memilih pakaian yang akan dia kenakan.


Axelo melirik sedikit tubuh sang istri yang telah tertutup dengan kain handuk sebatas paha, dengan bagian atas menampilkan punggungnya yang indah nan molek.


Ia menelan ludah. Bagaimana pun juga, Valesha memang seorang wanita yang sangat cantik dan juga anggun. Andaikata dia tidak sedang membalas dendam pun dia pasti akan jatuh cinta pada wanita itu.


Aish!

__ADS_1


Kenapa jadi bicara yang tidak-tidak. Seharusnya sekarang dia sudah mendapatkan hati wanita itu untuk urusan selanjutnya, mengapa malah dia sendiri yang cemas akan jatuh cinta?


Bodohnya dia yang sejak awal mengutarakan niatnya untuk membalas dendam pada wanita itu, dengan membawa Sheilin pula dalam rumah tangga mereka, hingga akhirnya kebohongannya pun tidak bisa dia sembunyikan lagi.


Jika saja dia lebih dulu diam dan tidak mengatakan apa alasan dia untuk menikahi Valesha, seharusnya sekarang dia masih terlihat seperti malaikat penolong bagi Valesha, sayang sekali, semua itu sudah benar-benar gagal.


Ia melirik lagi ke arah Valesha yang malah tidak sedang mengenakan apapun. Wanita itu tidak menyadari akan kehadiran Axelo di sana, Valesha pikir Axelo masih setia di kamar mandi, karena itulah dia tidak segan untuk membuang handuknya di atas lantai, dan kemudian membiarkan tubuhnya terbuka dengan sangat polos..


Namun di sisi lain Axelo malah meneguk salivanya. Dia tak tahan melihat pemandangan menakjubkan seperti ini, dari sisi Valesha pula. Wanita yang amat menggoda dengan sekujur tubuh tak ubahnya seperti biola.


Wanita itu tidak sadar telah membangunkan sesuatu yang memang sejak tadi pagi tidak bisa dikendalikan apalagi saat melihat tubuh Valesha yang sintal itu tampak menunjukkan keindahannya.


Wanita itu akhirnya tertegun, manakala sebuah pelukan mesra dan sangat panas mendadak dia rasakan dari bagian belakang. Sebuah sentuhan dan nafas yang sangat membara, menjadikan kulitnya yang semula sudah agak lumayan dingin itu kembali terasa panas, dan sedikit bergeming.


"Axelo! Lepaskan aku.." ucap Valesha tidak suka dengan sentuhan yang semakin lama semakin membuat dirinya tidak tahan lagi.


"Tidak bisa! Salah sendiri malah menggodaku.."


Pria itu tidak segan untuk membalikkan tubuh Valesha menjadi berhadapan dengannya, bersamaan dengan handuk yang dia lilitkan di pinggangnya mulai merosot jatuh di atas lantai kamar Valesha.


Cup!


Kecupan mesra kembali mendarat di bibir Valesha, meski wanita itu sudah dengan kuat mencoba untuk menolaknya. Apalah daya, mainan memang harus selalu menurut pada sang tuan.


Dibaringkan saja tubuh wanita itu di atas ranjang, lalu permainan ganas pun pada akhirnya harus kembali terjadi.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



Cklek!


"Dua jam.. tiga belas menit.. empat puluh delapan detik.." ucap Ashkan sambil menatap jam di tangannya.


"Lama sekali, apa semalam kau sudah menghabiskan malam kalian dengan tertidur pulas? Ck!" Ucap Ashkan menyindir, "agaknya dia harus menyiapkan tiga jam khusus untuk melayani kamu." Sambung pria itu lagi.


Axelo tidak menggubris perkataan Ashkan yang itu, dia hanya terlihat menyibukkan diri dengan jas yang dia kenakan, mengingat kemeja putih di dalamnya bahkan tidak sempat dia kancing semua.


"Kenapa kau menunggu aku dalam waktu dua jam tiga belas menit empat puluh delapan detik itu? Apa kau sedang kurang kerjaan?" Tanya Axelo sambil berjalan mendahului adiknya.


"Kau harus tahu sesuatu." Cegat Ashkan pada langkah kaki Axelo.


"Aku tidak punya banyak waktu, jika ada urusan penting, bicara saja sekarang."


"Bukan aku yang bicara, tapi dia.." melirik ke arah ruang kamar Axelo, membuat pria di depannya tampak merasa penasaran.


Axelo pun hanya memicingkan kedua matanya, melirik ke arah kamarnya, dan kemudian tanpa keraguan lagi, dia membuka pintu tersebut.


Cklek!


Sosok wanita yang masih terpenjara dalam ikatan tali terlihat sangat memprihatinkan.


"Axelo! Kemarilah, tolong aku, adik kamu ini malah menghukum aku dengan cara seperti ini, tolong aku, Axelo." Ucap Sheilin bahkan dia baru melihat kekasihnya itu masuk, tapi dia sungguh tidak bisa menahannya lagi untuk meminta bantuan Axelo.


"Ada apa dengan dia? Kenapa dia dihukum?" Tanya Axelo dengan nada dalam pada adik kandungnya.


"Biarkan dia saja yang menjelaskan semuanya." Ucap Ashkan dengan sangat yakin.


Pria yang berusia lebih muda itu kemudian terlihat berjalan mendekat ke arah Sheilin, dan kemudian mulai mengancam wanita itu.


Sementara Valesha mulai terlihat keluar dari kamarnya, dia pun dibuat tertegun saat mendapati keributan dari kamar sebelah, yang disinyalir kalau keributan itu juga melibatkan Sheilin dan Ashkan.


Ia jadi penasaran. Sekalipun dia masih tetap membenci suaminya, tapi dia juga ikut mendekat, meski hanya sebatas berada di pintu masuk, bersembunyi dari semua orang dan berdiam diri sampai tidak ada yang menyadari akan posisi dirinya itu.


"Katakan semua yang aku dengar tadi malam," ucap Ashkan pada Sheilin.

__ADS_1


A? Ada apa ini? Tadi malam? Apa jangan-jangan, soal pria yang datang padaku?


Benak Valesha ikut-ikutan menebak.


"Katakan apa? Aku tidak mengatakan apapun, kenapa kamu sangat menginginkan aku untuk menjelaskan semua yang tidak pernah aku lakukan?" Tanya Sheilin terlihat membela dirinya sendiri.


Ashkan hanya tersenyum miring menanggapi sikap Sheilin yang sangat menantang kesabarannya itu. Dia terlihat menatap dalam-dalam kedua netra Sheilin, sampai terasa menusuk saja tatapan matanya itu, membuat Sheilin merasa agak takut.


"Apa perlu aku menambahkan beberapa kata dan tindakan untuk memaksa kamu bicara?" Tanya Ashkan sudah cukup membuat Sheilin mengeluarkan keringat dinginnya, dan menjadi semakin takut.


"Katakan sekarang!" Ucap Ashkan dengan dalam namun penuh penekanan.


"Ba-ba-baiklah, aku akan bicara.." jawab Sheilin dengan sangat gugup.


"Cepat katakan!" Ucap Ashkan tidak sabar lagi.


"Semalam, pria itu, ak-aku yang, aku yang telah, me-menyuruhnya."


Deg!


Mendengar kata-kata Sheilin barusan, Axelo mulai memasang wajah dingin dan marahnya. Dia mulai terlihat memicingkan kedua matanya dengan sorot kebencian, dan sangat tajam membunuh.


"Dengarkan aku, Axelo, aku hanya, aku hanya tidak suka dia di sini, sejak awal kamu berjanji padaku bahwa hanya aku di sisi kamu, tidak ada wanita lain, tapi kamu malah membawa dia kesini, dan setelah itu, kau tidur dengan dirinya.." jelas Sheilin di hadapan Axelo.


Namun Axelo tidak menampilkan marahnya, atau mungkin, dia memang selalu pandai menyembunyikan amarahnya.


Entahlah.


"Axelo, aku minta maaf, bukankah aku tidak bersalah berbuat demikian? Aku hanya.."


"Posisi seorang istri di rumah suaminya selalu berada di atas siapapun." Jawab Axelo terdengar menyahut perkataan dari Sheilin.


Dug!


Jantung Valesha seakan berhenti berdetak, saat kata-kata itu keluar dari mulut Axelo, tentu saja dengan penuh penghayatan.


Ia bahkan tidak menyangka kalau pria ini bisa mengatakan kata-kata seperti itu di saat dirinya tidak pernah mendapat penghargaan dari suaminya, bahkan hanya dijadikan alat untuk balas dendam oleh suaminya itu.


Bagaimana aku bisa percaya, kalau aku sendiri tidak pernah merasakan posisiku yang jauh lebih berharga di rumahmu.


Benak Valesha lagi.


Dan kata-kata dari mulut pria itu, sudah berhasil membuat nyali Sheilin seketika menciut, tidak lagi berani unjuk gigi.


Axelo terlihat berbalik, dan mendapati istrinya berada di balik pintu, tengah menyaksikan drama pagi hari dari Sheilin itu.


Dia lekas mendekat ke arah Valesha, merapatkan dadanya pada wajah Valesha, dan kemudian mendekap sang istri dengan satu tangannya.


"Manusia yang bisanya hanya menghina istriku, maka tidak dibolehkan lagi untuk sekedar singgah di rumahku, usir dia dan jangan izinkan dia kembali lagi kesini." Ucap Axelo dengan datar.


Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulit Sheilin, tatkala mendengar keputusan dari Axelo barusan, dia bahkan seakan tengah berada dalam sidang vonis hukuman mati di sana.


"Apa?" Tanya Sheilin dengan lirih, agaknya dia tak punya kekuatan lagi untuk berteriak-teriak meminta belas kasihan.


Sementara Axelo dan Valesha terlihat beranjak dari tempat mereka berdiri, dan perlahan-lahan mulai menggerakkan kaki keduanya dengan seirama meninggalkan panggung drama Sheilin, menciptakan hawa panas dan kemarahan di hati Sheilin seakan meletup-letup.


Sepeninggal dua orang di sana, hati Sheilin semakin dibuat kacau tidak karuan. Ia tidak mengerti mengapa Axelo justru berubah semakin menjadi bahkan setelah dia berusaha untuk menjadi dirinya yang sempurna, hanya demi seorang wanita yang sejak awal tidak pernah dia cintai.


Entah tak-tik apa lagi yang akan digunakan oleh Axelo untuk melancarkan aksi balas dendamnya ini, mungkin saja menjerat Valesha kembali dalam pelukan cintanya adalah salah satu cara untuk memudahkan dirinya menghancurkan keluarga Fotham, tidak ada yang tahu.


Senyum menyeringai dari wajah Ashkan, merasa puas dengan diusirnya Sheilin dari tempat tinggal sang kakak itu, sekarang, berkurang lagi satu wajah memuakkan yang ingin sekali dia tendang dari sisinya.


"Lihatlah dia! dia sudah tidak lagi menyukai kamu, sekarang pergilah, karena kau sudah dianggap sampah di sini." Ucap Ashkan, lalu setelah itu dia pun berlalu pergi meninggalkan Sheilin masih dalam keadaan terikat.


"Sialan kau Ashkan!"


*Lihat saja! pembalasan dendam Axelo, akan menimpa padamu juga, akan aku pastikan kalau kau dan Valesha tidak bisa hidup tenang sampai kapanpun*!

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2