Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Rindu Ayah


__ADS_3

Pada pagi harinya..


"Ugh.."


Ia mulai membuka kedua matanya secara perlahan-lahan, mengucek kedua matanya yang masih saja terasa berat. Ia memperjelas pandangan matanya, sampai terlihat satu sosok yang saat itu masih setia memeluk tubuhnya yang polos.


Tiada satu helai benangpun yang menempel pada tubuhnya, kecuali selimut berwarna hitam yang membuat dia harus beradu menjadi satu dengan tubuh panas milik Axelo.


Pria itu masih berbaring dengan tenang di sisinya, setelah semalaman keduanya bertempur dengan sangat ganas seakan tak mau kalah satu sama lainnya.


Dan kini dadanya telah berhias bercak merah bekas percintaan semalam, membekaskan noda penuh kenikmatan, namun juga dipenuhi dengan kebencian.


Ia mencelos, menatapi suaminya yang masih tenang dalam tidurnya, dalam posisi menghadap ke arahnya, dengan dengusan nafas yang sangat hangat membakar jiwa.


Ia menghadap ke arah wajah suaminya, dengan tenang dia menatap wajah tampan yang dulunya sangat dia kagumi itu. Tapi sekarang, wajah itu tak ubahnya seperti iblis yang sengaja dikirim oleh takdir untuk menghabisi dirinya.


Jika di pikir-pikir entah mengapa rasanya begitu lucu. Dia jatuh cinta, pada seorang pria yang dengan lihainya menjebak dirinya untuk masuk ke dalam jeratan cintanya melalui pesona ketampanannya.


Sementara dia dengan bodohnya mengikuti langkah kaki pria itu, berjalan semakin yakin dan berpikir semuanya akan baik-baik saja, tanpa dia sadari, ternyata semua topeng itu bisa mengelabui semua orang termasuk juga pada dirinya.


Kini dia hanya bisa menatap wajah Axelo dengan penuh penyesalan. Menyesal karena harus mencintai pria ini, menyesal mengapa harus percaya dan meyakini ketulusan Axelo sejak awal, padahal sebenarnya Axelo ini tak ubahnya seperti ular berbisa.


Dia mulai memalingkan arah pandangnya, menjadi tertuju pada dada bidang Axelo di depan matanya, persis sekali sejajar dengan arah matanya.


Namun dia tak mengagumi hal itu. Dia memandangi dada bidang Axelo, tapi pikirannya melayang-layang jauh terbang menuju pada kediaman ayah kandungnya yang jauh di sana.


Menyeberangi samudera, menghabiskan waktu hampir delapan jam hanya untuk sampai pada tempat sang ayah. Dia dan Tuan Wishnu Fotham harus terpisah oleh jarak, jauh dari negara R menuju negara Z, menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu yang tidak bisa dibilang singkat.


Tapi otak dan kerinduan di dalam hatinya, malah mengarah kesana. Dia tinggal di sisi Axelo, tapi dia tidak bisa merasakan kehangatan dari Axelo, dia juga tidak bisa menaruh kepercayaan terhadap pria itu. Semuanya serba menyulitkan. Ingin kembali ke negara tempat sang ayah tinggal, nyatanya dia tidak lagi bisa.


Dia tahu kembalinya dia kesana hanya akan membuat nyawa sang ayah dalam bahaya, sudah cukup baginya memberatkan sang ayah sejak kecil, sekarang mungkin adalah waktu yang tepat untuk memberi ayahnya sebuah ketenangan.

__ADS_1


Bertahun-tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2017 silam, sang ayah mendadak terserang lumpuh. Dokter belum menemukan obat yang tepat untuk menyembuhkan kelumpuhan yang diderita oleh sang ayah.


Hanya sekelebat informasi yang mengatakan kalau ayahnya terkena lumpuh karena sebuah virus yang tidak diketahui jenisnya. Kata sang dokter virus itu adalah varian baru yang sangat berbahaya untuk tulang-tulangnya. Sejauh ini Tuan Wishnu Fotham hanya bisa meminum obat untuk pereda rasa sakitnya, selama sang dokter berusaha untuk mencarikan obat mujarab untuk Tuan Wishnu.


Namun Valesha tidak mengetahui apapun soal itu, ia hanya mendengar secara samar-samar tentang hal tersebut, dan sekarang, agaknya dia juga tidak terlalu mengingat hal tersebut.


Dia jadi rindu, rindu pada sang ayah yang meski terlihat sangat dingin dan terus melamun sepanjang hidupnya itu, namun bayangan ayahnya itu malah semakin menari di otaknya, dia juga tidak bisa memungkiri, anak perempuan mana yang tidak akan merindukan sosok sang ayah setelah menikah?


Apalagi dia tidak hidup bahagia dengan Axelo, sekarang dia akhirnya tahu, tidak ada yang lebih menyayangi dirinya lebih dari ayahnya sendiri.


Membayang wajah sang ayah dalam otak Valesha, pada akhirnya harus membuat wanita itu memilih beranjak dari posisi tidurnya. Dia bangun secara perlahan-lahan supaya tidak membangunkan pria di sampingnya itu.


Tahu sendiri kalau macan yang tidur dibangunkan. Pastilah Valesha lagi yang akan merasa kesulitan.


Wanita itu mulai bergerak menuju ke arah kamar mandi, lalu mulailah dia mengguyur tubuhnya di bawah air. Dia memejamkan matanya, pada bagian dadanya bekas kemerahan bekas percintaan semalam, sama juga seperti ulah yang dia perbuat di dada bidang milik Axelo.


Ia mengusap sekujur tubuhnya dengan sabun mandi, membersihkan seluruhnya sampai tidak terasa lagi noda hina di tubuhnya.


Ia terduduk di bawah guyuran air, menunduk dan menangis meratapi nasibnya yang sekali lagi diceritakan dengan sangat memilukan. Dia yang mencintai musuh ayahnya sendiri, bahkan memilih untuk menikahinya, memberikan seluruh hidupnya hanya untuk seorang pria yang hadir untuk membalas dendam pada keluarganya.


Menangislah dia dengan seluruh rasa penyesalan di dalam hati kecilnya. Namun sayang sekali, apa gunanya dia menyesal, jika dia tidak bisa melakukan apapun selain menyalahkan keputusannya sendiri.


Di luar sana, tampak Axelo yang mulai bergeming dari tempat tidurnya, setelah merasakan hawa dingin menusuk pori-pori kulitnya.


Ia baru menyadari kalau sang istri sudah tidak ada lagi di sampingnya, meninggalkan dirinya seorang diri di atas ranjang, dan sekarang suara gemericik air terdengar dari arah kamar mandi, memberitahu dirinya kalau wanita itu pasti sedang mandi.


Ia tersenyum miring, memicingkan kedua matanya, dan kemudian mulai bergerak menjauh dari tempat tidur.


Di kamar mandi, tampak sang wanita masih terduduk lemas di atas lantai keramik, dia masih tertunduk menangis sampai kedua matanya terlihat sembab dan merah.


Seseorang datang dan berdiri menatapi wanita tersebut, sampai kemudian, dia tidak tahan untuk menunggu. Mendekatlah pria itu kepada Valesha, lalu memeluk Valesha di atas lantai.

__ADS_1


"Menangislah, jika itu mau kamu.." ucap pria itu dengan suara yang dalam, bahkan suaranya itu hampir-hampir tenggelam oleh berisiknya suara gemericik air dari guyuran shower.


Valesha mendongak, dia tatapi dengan sendu wajah Axelo yang sangat kejam itu, lalu kembalilah dia menangis.


Axelo mendekap wajahnya dengan erat, dia tidak bisa berekspresi apapun di depan Valesha. Jika pada awalnya dia senang karena akan dengan puasnya memberi siksaan pada wanita itu, tapi sekarang, mengapa dia begitu lemah?


Keduanya masih saling mendekap di bawah guyuran air hangat yang entah mengapa tidak memberi ketenangan jiwa sama sekali.


Pelukan dan dekapan itu bahkan tidak ditolak oleh Valesha sama sekali. Entah bagaimana konsep pemikiran Valesha pada saat itu, dia benci, tapi dia juga tidak menolak sentuhan atau semacamnya dari Axelo. Dia berada di tengah-tengah dua tempat yang sangat menyulitkan itu.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



*Hmm, sudah setengah jam aku menunggu di depan pintu kamar mereka, agaknya kedua orang itu tidak akan bangun pagi hari ini*.


Gumam hati seseorang yang sudah terlihat menunggu bangunnya sepasang suami istri di dalam kamar mereka. Sayang sekali, dia sudah terlalu jenuh menunggu.


Dia pun hanya bisa berbalik dengan pasrah, kembali ke kamar Axelo, dan kembali melihat keadaan tawanannya sejak semalam.


"Ashkan! Apa kau tidak bisa melepaskan aku? Aku ini tidak bersalah, dia sendiri yang memaksa aku untuk mengenalkan Valesha padanya, dia yang sudah lebih dulu menyukai Valesha sejak awal, bukan aku yang mengenalkan Valesha padanya!!" Teriak Sheilin di atas ranjang Axelo. Ia tidak bisa bergeming dari sana sedikitpun, karena Ashkan sudah mengikat kedua tangan dan kakinya dengan menggunakan tali.


"Heng! Jelaskan saja sendiri! Aku tidak yakin ceritamu bisa dipercaya!"


*Kakak, apa kau sudah lupa diri? Cepatlah bangun*!


Benak Ashkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2