Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Jadi Istriku Malam Ini


__ADS_3

"Bos, dia sudah kami urus," ucap Chris memberi laporan khusus untuk tuan mudanya.


Namun di kursi putar, Axelo hanya acuh dan terus menerus memainkan puntung rokoknya dengan sangat mahir, merasa seolah laporan tersebut tidak membuat dia terkejut atau bahkan terkesima.


Fushhh!


Mengeluarkan asap rokoknya.


Di belakang Axelo, nampak Chris yang masih berdiri dengan tegak dan tidak bergeming kemanapun.


Axelo memutar kursinya dengan perlahan, hingga berhadapan mereka berdua di dalam ruangan khusus Axelo itu.


"Aku mau Grup Fotham mengalami masa krisis," ucap Axelo tanpa basa-basi.


Di depannya, Chris nampak biasa saja, tidak terkejut, atau bahkan menolak dan semacamnya. Ia begitu memahami sifat tuannya yang sangat keras kepala, dia juga paham betul bagaimana tuannya memiliki dendam pada keluarga Fotham.


Saat Axelo mengatakan ingin membuat Grup Fotham berada dalam ambang kehancuran, seharusnya tidak membuat dia merasa terkejut dan heran.


"Pengaruhi pemasarannya, buat mereka terjerat hutang yang besar, aku yakin dia pasti akan mengejar kita untuk menyelesaikan masalahnya.."


"Tapi masalah terbesarnya adalah, bukan Wishnu yang memimpin dan mengendalikan perusahaannya, justru orang lain yang ada di sana untuk membantunya." Sambung Chris.


"Aku tidak butuh informasi itu, yang aku mau hanyalah menghancurkan Wishnu dan melenyapkan dia tanpa aku harus mengotori kedua tanganku, soal perusahaannya, jika nanti mengalami perkembangan setelah Wishnu disingkirkan, bukankah tidak lagi berguna bagiku?" tanya Axelo pada Chris.


Pria muda berusia dua puluh tujuh tahun itu memang seakan menjadi sahabat terbaik untuk Axelo, bahkan persahabatan itu lebih baik dibanding hubungan persaudaraan ya dengan adik kandungnya sendiri.


Ya, adiknya tak jarang menolak ucapannya, dan lebih suka bertindak seorang diri, meski mereka hidup dalam keluarga yang sama, namun keduanya seringkali bertengkar hanya karena dua pendapat yang berbeda.


Axelo memang tipe manusia yang senang menuruti kemauannya sendiri, juga tak suka saat kemauannya di bantah oleh orang lain. Sejauh ini memang hanya Chris dan Sheilin yang berhasil menemani dia dalam masa sesulit apapun.


"Yang jelas, buat Wishnu merasa terusik kehidupannya, aku punya umpan yang sangat bagus untuk hal ini, lakukan setelah aku memberi kamu perintah, aku perlu mengurus umpanku lebih dulu, dia juga butuh sentuhan tanganku untuk membujuknya!"


Membuang puntung rokoknya ke asbak, lalu berdiri dan mulai bergerak meninggalkan kantornya.


Grup W.S. yang menjadi kebanggan keluarga besarnya, namun perjuangan itu sesungguhnya tidak mereka lalui dengan begitu mudah.


Ia bahkan masih saja merasa semua yang dia dapatkan saat ini, tak akan pernah cukup untuk mengganti rugi semua yang telah hilang dari hidupnya.


Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa pula. Tidak ada yang namanya tawar menawar. Dulu sebelum ayahnya tewas, Wishnu membuat skenario lebih dulu, membuat grup A miliknya hancur, dan bahkan membuat mereka bangkrut.


Dan setelah itu, barulah Wishnu menyerang secara perlahan, menjadi rekan kerja yang berpura-pura baik, namun ternyata di belakang Aeslen, Wishnu adalah pengaruh racunnya, yang membuat Aeslen harus meregang nyawa dengan ketidakadilan.


Dan sekarang dialah yang akan menjadi kaki tangan sang ayah, untuk menghancurkan Wishnu Fotham dengan kedua tangannya. Ia akan melakukan cara yang sama seperti Wishnu melakukannya pada ayahnya.

__ADS_1


Ia akan menjadi malaikat maut yang akan menentukan kapan dan dimana Wishnu akan tewas.


Sejujurnya keadaan Wishnu saat ini akan sangat memudahkan baginya untuk membuat pria itu tewas. Tapi baiknya, memberi rasa sakit lebih dulu lebih mengesankan dibanding langsung membuat Wishnu mati.


Bukankah sebelum menyerang buruan, kita memang harus lebih dulu membidiknya?


*Dan semua yang akan melakukannya, tidak lain dan tidak bukan adalah anakmu*.



Vroooooommmmm


...----------------...


Kruk.. krukk...


Perutnya sudah mengajaknya berdansa sejak siang tadi. Sudah sekitar enam jam setelah kepergian Ashkan dia terus meringkuk karena rasa lapar itu memang selalu mengganggu aktivitasnya.


Ia terus menutup kedua matanya. Sejak kejadian semalam dia bahkan belum makan apapun, siapa saja pasti akan merasa kelaparan jika berada dalam posisi Valesha.


Sekarang dia meringkuk dengan penuh rasa sakit, tak kuat lagi menahan rasa laparnya yang sangat menyedihkan.


Di layar ponselnya, terlihat waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, bukankah artinya dia akan segera kembali?


Ya, bukankah sekarang dia sudah pasti akan segera kembali, itu artinya dia akan segera makan, dan pada akhirnya, sisa makanannya, akan dia berikan pada Valesha.


Andai saja siang tadi dia memilih untuk menerima makanan itu. Huhh! mungkin ini memang kesalahannya, tapi bukankah Ashkan juga berpengaruh dalam drama kejam ini?


Cklek!


Valesha tak bergeming sedikitpun dari posisi meringkuknya. Dia bahkan tak tahu kalau yang datang ke kamarnya dan kemudian terduduk di sampingnya rupanya adalah suaminya sendiri.


Ia terus saja memejamkan kedua matanya, dengan sangat pedih, menahan perutnya yang sudah tidak bisa lagi dia ajak berkompromi.


Namun tangan itu terlihat membelai rambut Valesha yang tergerai menutupi sebagian wajahnya, membuat Valesha yang tengah terpejam pun akhirnya mencoba untuk membuka kedua matanya menatap siapa pula yang berani menyentuh rambutnya itu.


"Ah?" namun dia terkejut saat menatap siapa yang datang pada malam itu.


Sontak saja dia bangkitkan tubuhnya dengan sangat cepat, sebelum pria di depannya itu kembali berulah dengan lebih menjijikan lagi.


"Jangan sentuh aku!"


Tolak Valesha dengan cepat.

__ADS_1


Namun pria di depannya hanya tersenyum menyunggingkan bibirnya dengan menampilkan beberapa deret gigi-giginya pula di sana.


"Kata Ashkan kau belum makan apapun."


"Um?" merasa heran kenapa suaminya tiba-tiba sangat lembut dan hangat.


*Apa ini? apa dia sedang mencoba mengelabui aku*?


Pikir Valesha.


"Kau tidak lapar?" tanya Axelo pada Valesha.


"Tidak perlu khawatir, aku bisa menahan perutku ini, lagipula dia sahabat yang sangat baik semenjak aku mendapat hukuman kurungan!" ucap Valesha sambil memalingkan wajahnya.


*Dasar munafik! sudah tahu sedang kelaparan, masih saja mau menolak tawaranku*!


Benak Axelo merasa kesal dengan jawaban ketus dari Valesha.


*Hum! apa gunanya bertanya hal seperti itu, toh, kamu juga hanya akan memberiku makanan sisa, tidak berguna*!


Sama seperti Axelo yang mengumpat dalam hatinya, Valesha pun juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Axelo, bahkan agaknya umpatnya dalam hati lebih menggambarkan perasaannya sendiri.


"Makanlah, kau harus makan malam ini." Ucap Axelo sambil meraih pucuk tangan Valesha, membuat Valesha dengan seketika merubah raut wajahnya menjadi sangat terkejut dan terheran-heran.


*Hum? ada apa dengan orang ini? apa dia sedang kesurupan*?


Valesha masih saja memaku di tempatnya, tak bisa berkutik kemanapun. Genggaman tangan Axelo benar-benar telah menguncinya dari apapun.


"Ke-kenapa aku harus makan?" tanya Valesha dengan gugup, jangan lupakan pula keringat dinginnya.


*Atau jangan-jangan, ini adalah makan malam terakhir ku*?!



Tidak!


Bukan itu jawabannya.


Tapi..


Berbisik di telinga Valesha...


"Karena kau harus jadi istriku malam ini.."

__ADS_1


*Ah*?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2