Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Oaklard dan Neil


__ADS_3

Kedua orang itu sekarang telah tiba di bandara. Mereka tengah berjalan menuju ke pesawat yang bahkan Valesha sendiri tidak tahu kemana kiranya pesawat itu akan membawa mereka pergi.


Kemana tujuan dia dan Axelo pergi, dia benar-benar tidak tahu apapun, pria itu tidak berkata apapun tentang penerbangan ini.


Dia hanya menjadi buntut di belakang Axelo, berjalan sejauh satu meter membuntuti suaminya. Dia seperti anjing kecil yang mengikuti tuannya kemana saja sang tuan melangkah.


Beberapa pengawal tampak mengikutinya di belakang, ada yang membawa koper juga, padahal sebelumnya saat Valesha terbang ke negara Z dia tidak membawa koper sama sekali, mengapa mendadak pulangnya membawa banyak koper?


Dia bingung, tapi dia tidak bisa banyak bertanya. Hanya terus menyimpan rasa bingungnya itu di dalam hatinya. Agaknya percuma saja dia bertanya, pasti pria itu juga akan mengacuhkan dirinya.


Itu memang bisa terjadi.


Dia hanya bisa terus melangkah membuntuti Axelo di belakang, hingga akhirnya keduanya masuk ke dalam pesawat, dan setelah itu, entah mengapa dengan cepat Valesha melelapkan diri dalam tidurnya.


Dia merasa begitu penat, mungkin setelah semalam digempur oleh Axelo, dengan kekuatan yang tidak ada bandingannya, dan setelah itu pun dia tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Memang di dalam kapal sensasinya sangat berbeda, tapi saat berada di sana, rasanya tidak senyaman rumah sendiri. Tentunya itu penyakit bagi semua orang yang amat sulit untuk beradaptasi.


Dan sekarang dia sudah lelap dalam tidurnya, pesawat juga sudah mengambang di udara, tinggal menunggu mereka semua tiba di tempat tujuan. Valesha bahkan belum makan apapun sejak pagi tadi.


Tapi rasa lelahnya mengalahkan lapar di perutnya, meski begitu, suara perutnya masih saja berbunyi, menandakan dirinya yang tengah kelaparan berat.


Kruuukk!!


Axelo menoleh, sesaat setelah dia mendengar suara yang berasal dari perut sang istri. Tatapan matanya menajam ke arah Valesha, namun dia tidak mau melakukan apapun.


Wanita yang tertidur di sampingnya itu terlihat begitu lelah dan sangat lelap dalam tidurnya. Ia jadi tidak tega untuk membangunkan Valesha.


Dia mengambil minuman yang telah disediakan oleh seorang pramugari untuknya, menyeruput minuman tersebut, sambil memainkan jemarinya di permukaan gelas.


Tentu saja dia tidak membuang waktunya secara percuma. Waktu seluang itu dia juga gunakan untuk berpikir.


Bagaimana kiranya dia harus bertindak jika rencana cadangan yang dia miliki gagal. Tapi tentu saja itu tidak akan mungkin.


Anak buahnya selalu bisa diandalkan. Dia tidak akan mungkin gagal untuk yang kedua kalinya.


Hanya saja, satu hal yang masih mengganjal dalam benaknya. Dia tidak tahu mengapa Tuan Wishnu mendadak membatalkan pertemuan itu, padahal semalam mereka berdua telah membuat janji untuk bertemu pagi ini.


Apa mungkin pria seperti itu masih punya kesibukan lain?


Dia kan sakit, apa dia juga masih mengurus pekerjaan selama dia sakit?


Dengar-dengar memang Tuan Wishnu masih mengelola perusahaan yang ada di kota Z. Tidak termasuk di kita R yang lebih besar, perusahaan itu dikelola oleh anak dari adik laki-lakinya yang bernama Neil.


Pria muda bernama Neil itu hanya seorang anak yatim. Tinggal hanya bertiga dengan ibu dan juga adik perempuannya, sementara ayahnya meninggal karena serangan jantung beberapa tahun silam.


Pria muda itu akhirnya mengelola bisnis milik Tuan Wishnu Fotham dan berhasil terangkat derajatnya oleh Wishnu Fotham.


Senentara itu, sekarang pria itu mungkin juga akan disibukkan dengan perusahaan warisan dari mendiang ayahnya. Dan dia tidak akan mungkin bisa mengelola perusahaan Wishnu Fotham yang terkenal besar itu.


Bagaimanapun juga, dia hanya manusia biasa yang punya batas maksimal kemampuan. Dan agaknya, merembet dan melanjutkan perusahaan Wishnu Fotham di tengah-tengah pergulatannya memajukan perusahaan mendiang ayahnya tentu itu bukan hal yang sangat mudah.


Itu mungkin.


"Tidak akan!" dia tengah mencoba untuk melepaskan diri dari jeratan beberapa tali yang mengikatnya di kursi.


Di hadapannya tengah berdiri empat pria bertubuh tinggi dan tegap, dengan tatapan yang sangat menyeramkan, tengah mencoba mengancam dirinya.


Plak!


Satu tamparan keras menimpa pipi kirinya sampai merah padam. Rasanya sakit sekali, padahal ini adalah tamparan pertama untuknya.


Agaknya dia tidak akan mudah melepaskan diri dari jeratan para pria ini.


"Heng! baiklah jika kau tidak mau!"

__ADS_1


Sling!


Seseorang mengeluarkan pisau mengkilat dari balik jas yang dikenakan. Pisau di tangannya itu sangat mengkilat, terkena cahaya rembulan yang masuk melalui sela-sela pintu.


Kilatan cahaya itu benar-benar menyilaukan kedua mata Neil, sampai-sampai dia dibuat terpejam melihatnya. Mendadak bulu kuduknya meremang hebat.


"Ap-apa yang mau kau lakukan?" tanya Neil dengan sangat gugup, terlihat jelas wajahnya menjadi pucat seperti kapur, dan keringat dinginnya mulai menetes membasahi keningnya.


Ia sangat gugup dengan pisau yang mungkin saja akan menjadi perjalanan akhirnya itu.


"Kau tahu apa yang akan aku lakukan," jawab salah seorang pria, yang agaknya menjadi pimpinan di antara beberapa pria di depan Neil, "aku suka bagian perut, rasanya sangat membuat aku ketagihan, ingin lagi, dan lagi, mungkin daging seorang pengecut akan lebih lezat lagi," sambung pria itu lagi.


Neil tampak meneguk ludahnya dengan kelu, rasanya pahit sekali, seperti empedu yang sangat tidak ingin dia rasakan di lidahnya.


Dia tak bisa berkata-kata lagi, seakan mulut atas dan bawahnya terkunci dengan begitu rapatnya, membuat dia tidak bisa menggerakkan lidahnya, apalagi sampai berbicara.


"Pisau ini sudah melukai beberapa babi, ada yang aku tusukkan di leher, dia adalah spesialis yang sangat ahli dalam membohongiku, lalu ada pula yang aku tusukan tepat pada jantungnya, dia adalah pengkhianat yang tidak bisa termaafkan." Ucap pria itu sambil memainkan pisau di tangannya, dengan sangat lihai.


Agaknya bukan main, dia seperti seorang eksekutor yang sangat handal dalam hal melenyapkan orang. Sepertinya dia berkerja untuk seseorang yang sangat hebat.


Hal itu membuat Neil semakin dibuat merinding hebat. Bulu kuduknya yang semula meremang, perlahan-lahan mulai terasa tercabut dari tempatnya.


Dia tak bisa menahan apapun di dalam tubuhnya, rasa takut itu semakin besar bergejolak di dalam tubuhnya, menjadikan dirinya gugup, dan pada akhirnya, sesuatu keluar dari celananya.


Ck!


Pria di depannya melihat tingkah laku Neil yang terbilang cupu itu. Bukan hal lumrah lagi, siapapun pasti akan ketakutan saat dirinya hampir mati seperti itu.


Pria di depannya hanya terlihat terkekeh melihat itu semua, tingkah bodoh yang terjadi pada Neil, kencing di celananya, celakanya, dia benar-benar tidak bisa menahan sesuatu itu sampai terlihat celananya basah kuyup oleh air seninya sendiri.


"Heng! dasar cupu! kau takut, ya? bagaimana kalau aku memberi sesuatu yang lebih menarik dari itu? seperti, sebuah luka?"


"A?"


"Arkh!"


Tanpa berpikir panjang, pria di depan itu terlihat menggoreskan sedikit luka di pipi Neil, goresan yang lumayan panjang dengan darah yang kemudian mengucur dari sana.


Dia tampan kesakitan apalagi luka itu tepat berada di tulang pipinya, agaknya dia harus merelakan ketampanannya kali ini.


Tidak tahu juga mengapa sampai bisa tersayat di sana, maaf Neil, pria di depanmu ini hanya terlalu terbiasa untuk agresif. Tidak terlalu suka banyak basa-basi, tidak terlalu suka juga dengan sesuatu yang berjalan lama.


Sedikit informasi yang harus diketahui. Pria yang kejam dan memiliki bekas luka di telinga kirinya itu bernama Oaklard.


Dia salah satu anak buah terbaik milik Axelo, salah satu anggota keamanan terbaik yang dilatih secara khusus di sebuah pulau tersembunyi hanya untuk mengawal dan melakukan apapun yang Axelo mau, termasuk melenyapkan seseorang jika perlu.


Dalam jaringan gelap Axelo, semuanya sangatlah lengkap, mulai dari hacker terbaik dan tentunya profesional dalam bidang tersebut, ahli bidik, ahli menyamar, penyelusup terhebat, dan pembunuh yang bisa diandalkan.


Semuanya ada dalam kelompok yang dinaungi oleh Axelo. Termasuk juga pria itu, salah satu pria terhebat yang sengaja diterjunkan langsung oleh Axelo hanya untuk menghadapi pria bernama Neil yang satu ini.


Biar nanti saja menceritakan soal semua orang yang menjadi tim hebat milik Axelo. Mungkin untuk saat ini, lebih baik fokus pada bagaimana nasib yang akan menimpa Neil selanjutnya.


"Bagaimana? rasanya apa sakit?" tanya Oaklard pada pria yang tertahan olehnya di kursi.


Dia menatapi pria itu dengan sangat tajam, seperti halnya sedang menatap buruan yang sudah berhasil dia tangkap, dan sebentar lagi, mungkin dia akan menikmati santapan dari hasil buruannya itu.


"Tolong, jangan sakiti aku, aku mohon, biarkan aku pergi." Ucap Neil dengan cupunya.


Jika dia terkenal dengan sikap gentleman dan penuh wibawa saat di dalam perusahaan, atau pun dalam pergaulannya yang tentu saja di isi oleh para pengusaha kaya, maka saat dihadapkan dengan beberapa pria suruhan Axelo, dia benar-benar tidak bisa melakukan apapun.


Brak!


Oaklard menendang kursi yang tengah di duduki oleh Neil, sampai kursi itu hampir terjungkal olehnya.


Untung saja seseorang berhasil menahan kursi itu, sampai akhirnya Neil pun bisa selamat dari maut yang hampir saja menjemputnya.

__ADS_1


Pak!


Oaklard kini terlihat memegang pundak kiri milik Neil, menekannya dengan sangat kuat, meski dia terlihat mengeluarkan ekspresi yang biasa-biasa saja, dan tidak terkesan sekuat tenaga, tapi jujur saja, penekanan yang dilakukan oleh tangan Oaklard di pundak Neil sangat mengkhawatirkan.


"Jika kau mau pulang dalam keadaan baik-baik saja, maka ikuti arahan yang kami berikan! jika tidak, aku tidak bisa menjamin nyawamu akan selamat!"


Ucapan Oaklard sungguh sangat dalam, pun juga sangat menakutkan. Dia bahkan terlihat memicingkan kedua matanya tatkala menatapi pria yang ada dalam tekanannya itu.


Jika yang ada di depannya adalah seorang wanita, dia mungkin tidak akan berbuat seganas ini, hanya saja, dia bukan pria yang termasuk pilih-pilih makanan, apapun dia suka, wanita, laki-laki, tua, muda, anak kecil, atau mungkin lanjut usia, jika sang tuan menginginkan dia berbuat, maka dia pasti akan segera berbuat.


"Kau mengerti ucapanku?" tanya Oaklard lagi sekedar menegaskan kembali.


Dengan sangat gugup Neil pun hanya bisa menganggukkan kepalanya berkali-kali, meyakinkan Oaklard bahwa dia memang benar mengerti segalanya.


Ya, meski dia harus berpikir dua kali untuk melepaskan perusahaan Wishnu Fotham, karena bagaimanapun selama ini perusahaan Wishnu yang telah memberikan pemasukan uang sangat besar untuk dirinya sendiri.


Mana mungkin dia akan semudah itu memberikan perusahaan itu pada orang lain.


Tapi saat ini dia benar-benar takut. Dia benar-benar ketakutan, apalagi anak buah ini adalah suruhan Axelo, menantu Tuan Wishnu Fotham, paman kandungnya sendiri.


Yang seperti diketahui, Tuan Axelo Devandra Wicaksono itu memiliki kekuasaan yang tidak bisa dibandingkan dengan siapapun, memiliki perusahaan terbesar dan juga menjadi pria yang paling berkuasa selama beberapa tahun terkahir.


Jika dibandingkan dengan dirinya, yang hanya tidak lain seperti ikan Nemo di tengah kepungan para hiu megalodon, tentu saja dia bukan apa-apa dibandingkan dengan Axelo.


Jadi sekarang, akan lebih baik jika dia berusaha untuk lepas dulu dari jeratan ini, soal bagaimana ke depannya, dia pasti akan bisa menyelesaikan semuanya dengan baik, tentu saja tanpa melepaskan kekuasaannya terhadap Fotham Group.


Pria di depannya kini sudah terlihat pergi dari hadapannya, menjauh dan agaknya pergi entah kemana, yang jelas dia terlihat keluar dari ruangan tersebut.


Sejenak dia menunggu, hingga dua orang di sampingnya akhirnya melepaskan dirinya dari jerat tali yang menahannya sejak tadi.


Sementara di luar ruangan, tampak Oaklard yang terlihat tengah berbincang dengan dua anak buahnya.


Wajahnya tampak tegang dan tidak menampilkan senyuman sama sekali. Biasanya ciri-ciri pembunuh yang sangat kejam memang seperti itu, tidak memiliki garis senyum yang khas di bibirnya, karena pada dasarnya, dia memang tidak terlalu suka tersenyum. Itu terkesan menakutkan.


"Aku ingin dia diawasi, aku tahu dia sendiri tidak mau melepaskan Fotham Group, aku juga berpikir ada seseorang yang sangat mendukung pria itu di belakang, jadi mari kita lihat, siapa pula yang mendukungnya itu," ucap Oaklard yang seketika mendapat persetujuan dari dua anak buahnya.


Dia kemudian lekas berjalan pergi, menghubungi sang tuan dan kemudian melaporkan apa yang baru saja dia lakukan.


Tapi sebelum dia menghubungi sang tuan, ia lebih dulu memasuki sebuah mobil yang tentu saja diberikan oleh sang tuan untuk dia gunakan.


Dia memang sangat dimanja oleh tuannya, tak heran, dia sangat setia terhadap sang tuan.


Bip!


"*Ya*?"


"Tuan, aku tidak bisa menghubungi Tuan Axelo, mungkin dia sedang berada dalam penerbangan, tapi aku butuh sesuatu dari tuan." Ucap Oaklard pada seseorang di seberang sana.


"*Apa yang kau butuhkan*?"


"Aku butuh penyusup yang hebat!"


...----------------...


Ia terbangun, sesaat setelah dia merasa pesawat telah berhenti terbang di udara. Benar saja, saat dia membuka kedua matanya, tampak kondisi pesawat yang sudah sepi tidak ada satu orang pun di sana, kecuali satu orang di sampingnya.


Seseorang yang sejak satu jam yang lalu dia jadikan sandaran pada pundaknya, seseorang yang memilih untuk tetap diam dan tak bergerak meski ia sudah begitu penat menopang kepala Valesha di pundaknya.


Valesha lekas bergeming, mengusap wajahnya yang tampak lebih segar dibanding sebelumnya.


"Axelo, apa kita sudah sampai dari tadi?" tanya Valesha dengan polosnya, dia bahkan tidak tahu kalau Axelo tidak bisa menggerakkan lengannya karena keram selama lebih dari setengah jam lamanya.


*A? apa dia membawa aku pulang ke kota R*?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2