
Bip.. bip... bip....
Suara mengerikan itu sudah terdengar sejak belasan menit yang lalu setelah Valesha sampai di sisi ayahnya.
Ia tidak bisa membendung tangis pada kedua matanya. Tangannya bahkan terus menggenggam salah satu tangan sang ayah, hingga dari sana terasa berkeringat dan juga basah.
Ia tak tahu harus bagaimana sekarang. Tidak ada saudara atau sepupu yang bisa dia hubungi, jangankan saudara sepupu, atau mungkin saudara ayahnya, temannya pun bahkan tidak bisa dia hubungi.
Bukan karena dari seberang yang sengaja mengacuhkan Valesha, lebih tepatnya, Valesha yang memilih untuk diam, memendam semua ini seorang diri, dengan sisa-sisa kekuatan yang dia miliki.
Sampai beberapa saat berlalu, memang hanya suara alat mengerikan di sisi ranjang ayahnya yang terus berbunyi dengan sangat mengerikan, sampai-sampai kedua telinganya hampir dibuat tuli mendengarnya.
Ia terlihat begitu sedih, terpukul, dan juga sangat terluka.
Lihatlah kedua matanya. Bengkak dan berwarna merah. Air mata terus mengucur dari sana, meski ini sudah beberapa jam setelah kejadian bersama Axelo di kantor.
Dia memang masih saja terus berpikir, bagaimana kiranya pria itu bisa menjebak dirinya dengan begitu lincah, seolah dia adalah umpan sekaligus mangsa terbaik dan terlemah yang pernah ada.
Entah karena memang dia yang terlalu bodoh dan terlalu lugu, atau memang pria sialan itu yang terlalu pandai bersandiwara.
Bodohnya aku yang percaya dengan semua kata-kata manis dari mulutmu, sedangkan aku tahu kamu hanya seorang penipu dengan senjata mulut yang berbisa.
Padahal sejak awal aku tahu kamu hanya menikahi aku karena dendam semata, tapi lihatlah sekarang, aku sama sekali tidak pernah berpikir, kalau kaulah yang memberi ayahku virus sekejam ini, sampai-sampai hampir meledakkan kepalanya.
Lalu, kalau sudah begini jadinya, apa kamu akan tetap membalas dendam pada keluargaku? atau kamu akan dengan murah hati memilih berhenti?
Hatinya terus bergumam, menyesali dengan kesal perbuatan dan keputusan yang telah dia ambil beberapa bulan yang lalu, saat dia setuju untuk menikah dengan Axelo.
Air matanya kembali luruh. Bukan karena dia yang lemah, tapi karena dia memang tak sanggup mengatasi semua ini sendirian.
Fakta dan takdir dalam hidupnya terlalu menyakitkan. Kehancuran yang diciptakan oleh dunia untuknya memang sangat menghabisi dirinya, menggerogoti jiwanya sampai seolah tiada lagi tersisa.
Adakah yang sama nasibnya begitu?
Menyesal karena telah menikahi seorang musuh tanpa dia ketahui? dan dengan bodohnya dia mengikuti alur main yang sangat licik? hingga pada akhirnya, penyesalan memang harus datang terlambat.
__ADS_1
Cklek!
Valesha terkejut. Dia menoleh ke belakang saat mendengar suara pintu yang terbuka di sana.
Dia pikir yang datang adalah dokter yang merawat ayahnya, tapi kejutan lain malah dia terima dengan menyedihkan.
"Kamu?"
...----------------...
"Kamu tidak mau makan? kamu bisa sakit nanti."
Seseorang berbicara di atas meja makan yang sejak beberapa saat lalu terlihat senyap dan hening.
Sementara wanita di depannya tak mau berbicara satu patah katapun padanya. Bahkan menoleh dan menatap wajahnya pun tidak.
Mungkin dia sudah merasa muak. Mungkin inilah kemarahan yang sesungguhnya dari wanita itu. Terkesan biasa saja, namun entah mengapa dalam hatinya, ini sangatlah menakutkan.
"Aku minta maaf, tapi bukan aku yang melakukannya."
Suara gebrakan meja langsung terdengar sesaat setelah Axelo berhenti bicara. Wanita itu bahkan tidak mengizinkan jantung Axelo berdetak untuk sebentar saja pada saat itu.
"Sudah berulang kali aku berkata padamu, jangan pernah lukai ayahku, kalau kamu masih punya dendam pada keluargaku, ambil saja semua perusahaan ayah, ambil saja yang katanya perusahaan ayah kamu, ambil saja semuanya! perusahaan di negara R itu, ambil saja, aku sudah tidak lagi peduli, biar saja kami hidup miskin, asal ayahku sembuh dan bisa beraktivitas seperti semula, aku tidak akan marah padamu lagi!!" teriak wanita itu tepat di depan wajah Axelo.
Selama ini Valesha yang kita kenal memang seorang wanita yang diam, acuh, dan suka memilih mengalah.
Dia yang suka dimanfaatkan oleh suaminya, menjadi pelampiasan dendam oleh suaminya sendiri, dan kemudian menjadi semakin hancur saat dia juga kembali dimanfaatkan oleh suaminya, untuk menghancurkan ayahnya sendiri.
Bagaimana tidak seperti itu, sekarang dia bahkan menikah dengan seorang pria yang disinyalir olehnya adalah pria yang menginginkan kematian ayahnya.
Sudah cukup semuanya dia lakukan. Sekarang, memang sudah saatnya dia untuk bangun dari mimpi buruknya.
Prak!
Valesha kembali menggebrak meja makan di rumah Axelo yang bertempat agak jauh dari rumah ayahnya, namun memang lebih dekat dengan rumah sakit tempat ayahnya dirawat.
__ADS_1
Kali ini dia juga bangun dari duduknya, bukan hanya sekedar menggebrak meja dan membuat siapapun terkejut dengan suara gaduh yang dia buat, kali ini Valesha juga memilih untuk pergi dan mengacuhkan pria ini.
"Untuk apa bicara dengan batu, aku bukan orang gila!"
Umpat Valesha sambil berlalu meninggalkan rumah Axelo yang dulunya sempat dia kunjungi sebelum dia dan Axelo menikah, kemudian diboyong oleh pria itu ke negara R.
Dia hendak melangkah pergi, bahkan kedua kaki jenjangnya sudah berbalik dari kursinya, dan bersiap untuk segera lari.
Hap!
Namun tangan Axelo dengan cepat menangkap tubuhnya, menjerat serta menguncinya dengan penuh kehangatan, berusaha untuk tidak membuat Valesha lari.
"Jangan pergi, banyak yang harus aku jelaskan padamu, tolong jangan pergi dari sini."
Pria itu bahkan dengan sangat menjijikan berbisik dengan iba di telinga kiri Valesha, membuat Valesha yang sudah terlanjur muak pun mulai bertambah kesal.
Dia segera memberontak, melepas pelukan dari Axelo dan mendorong tubuh Axelo jauh-jauh dari dirinya.
"Lepaskan aku sialan! aku tidak suka tubuhku disentuh oleh pria bajingan seperti kamu! jangan berharap aku mau memaafkan kamu, apalagi sampai menginap di sini hanya untuk mendengar penjelasan palsumu itu!!" teriak Valesha sambil berlalu keluar dengan air mata yang kabur bersamaan dengan amarah yang mencuat dari lubuk hati terdalamnya.
Untuk apa aku bertahan, kalau yang aku pertahankan, rupanya hanya seorang pengkhianat, yang mengkhianati aku sejak awal, juga mengkhianati janjinya padaku tanpa berpikir dahulu sebelum bertindak!
Dia bergumam dalam hati kecilnya, tak sanggup mendustai dirinya yang sudah terlanjur luka dengan sebegitu dalamnya.
Sementara pria di meja makan juga tak mau kalah dari istrinya. Dia menatap ke arah kepergian Valesha dengan tajam, dan kemudian mulai bergerak.
Hap!
Menangkap tangan Valesha lagi. Kali ini dengan sangat erat.
"Arkh! Axelo, ini sakit!!" teriak Valesha berharap belas kasihan.
"Aku sudah mengatakan padamu kalau aku harus menjelaskan sesuatu, ini penting, jadi kamu harus mendengarnya."
Karena aku tidak mau kesalahpahaman ini akan berlangsung lama, jadi aku minta maaf kalau aku harus memaksa kamu dulu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...