Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Wajah Aneh Ashkan


__ADS_3

"Tunggu dulu!" cegat Valesha dengan cepat.


Dan hal itu jelas membuat Axelo mengangkat alisnya sebelah dan memasang raut wajah anehnya, "kenapa?"


Dia melihat rasa tidak percaya di wajah sang istri begitu jelas terlihat sampai-sampai rasanya tanpa Valesha berbicara pun sudah sepenuhnya menusuk dan membuat hatinya merasa kalau Valesha sedang menghina dirinya.


Oh, tentu saja.


Siapa pula yang tidak akan memasang ekspresi seperti yang tengah Valesha tunjukkan di depan suaminya. Sedangkan dia tahu kalau suaminya ini tak pernah pandai memasak, mengapa bisa sekarang mendadak menyiapkan makan malam untuk dirinya?


Kerasukan setan koki dari mana suaminya ini?


"Apa kau tidak percaya pada suami kamu ini?" tanya Axelo tampak menaruh pertanyaan terheran-heran pada sang istri.


"Tentu saja aku tidak percaya, selama ini kau tak pernah memasak, jangankan memasak, memegang penggorengan pun aku tak pernah melihatnya, apa kau sedang mengajak aku untuk bercanda?" tanya Valesha sembari terkekeh penuh ledekan.


Melihat wajah istrinya yang sangat menyakitkan itu jelas saja membuat Axelo bertambah kesal.


Dia yang masih memegang alat masak di tangannya beserta dengan celemek yang menghalangi baju mahalnya dari kotoran dan bumbu dapur itu pun hanya bisa berdecak kesal.


"Aku tahu kau memang gila, tapi aku mohon, aku sedang tidak suka diajak bercanda, lebih baik pergi saja kau dari tempat ini, aku tidak suka diganggu oleh siapapun, dan itu terutama untuk kamu." Ucap Valesha agaknya dia benar-benar sedang memiliki perasaan yang cukup buruk.


Wanita itu kemudian terlihat mengabaikan Axelo di ambang pintu dan berniat untuk mengubur dirinya di dalam selimut tebal uang ada di atas kasurnya.


Namun baru saja dia menenggelamkan wajah manisnya, sang suami sudah terlihat mendekat ke arahnya, dan kemudian tanpa basa-basi lagi segera mengangkat tubuh Valesha dengan kedua tangannya yang kekar, huhh, tak bisa dibandingkan dengan tangan siapapun pastinya.


Dasar wanita! kau pikir cuma kau yang bisa memasak?


Wajahnya sudah benar-benar terlihat merah padam, agaknya dia juga murka dengan situasi seperti ini.


Mendekat dengan geram.

__ADS_1


Angkat badan Valesha.


"Eh, mau apa kamu?" tanya Valesha sedikit merasa terkejut karena mendadak tangan Axelo mengangkat tubuhnya dengan sangat enteng, tentu saja seperti hal nya mengangkat kapas dan menerbangkannya ke langit.


"Diam saja!" ucap Axelo, suaranya yang dalam dan juga menyeramkan nyatanya tidak membuat Valesha merasa ketakutan.


Dia justru terlihat memberontak dengan sangat kuat, berusaha semaksimal mungkin untuk bisa lepas dari pelukan Axelo.


"Diam katamu!? kau ini apa sedang memaksa aku? lepas! aku bilang lepas!!" teriak wanita itu sembari memukuli dada Axelo.


Namun Axelo tak mempedulikan perkataan sekaligus permintaan dari sang istri. Dia yang malah menggenggam alat masak di tangannya itu pun terus membawa sang istri keluar dari ruang kamar Valesha, menuruni tangga dan kemudian sampailah kedua orang itu di ujung tangga terkahir, bersamaan dengan kedua orang itu yang berpapasan dengan Ashkan.


"Axelo, lepaskan aku! jangan coba paksa aku! lepaskan!!"


Valesha pun lekas menghentikan aksi pemberontakan yang dia lakukan pada saat itu terhadap Axelo setelah dia juga menyusul sang suami yang lebih dulu menyadari kedatangan Ashkan di sana.


"Ashkan?" panggil Valesha dengan sangat lirih.


Mukanya langsung memerah seperti tomat, dia pun hanya bisa menjatuhkan dirinya dari pelukan Axelo, dan kemudian berdiri dengan sejajar dengan suaminya tepat di anak tangga yang terkahir.


Seperti ada yang tengah pria ini sembunyikan dari mereka berdua, atau mungkin, pria muda ini baru saja bertemu dengan seseorang dan mengalami tragedi terhebat di sepanjang hidupnya. Itu baru mungkin.


Tentu saja itu hanya sekedar dugaan Axelo sejak awal.


"Kau lapar?" tanya Axelo datar saja. Dia bahkan tidak menyambut kedatangan Ashkan meski keduanya sudah terpergok berpapasan.


Agaknya wajah suram yang diperlihatkan oleh Ashkan membuat Axelo tidak bisa menyambut adiknya itu dengan hangat.


Tak beda dengan sang kakak yang menyambut dirinya dengan sangat dingin, Ashkan pun juga sama. Dia menjawab pertanyaan dari sang kakak juga dengan nada yang sangat lirih, dalam, pun juga terasa sangat menyeramkan.


"Tidak."

__ADS_1


Singkat saja dia menjawab pertanyaan dari sang kakak, sampai akhirnya dia hanya terlihat berlalu dari depan tangga menuju ke balik tangga dan kemudian menghilang di dalam kamarnya.


Setelah kepergian sang adik, Axelo tampak tidak baik-baik saja. Dia terlihat memasang wajah datarnya dengan bumbu khas menyeramkan dan juga sangat dingin.


Namun di balik itu, sejujurnya dia juga mencemaskan sang adik yang entah mengapa baru kali ini pulang dalam keadaan seperti demikian.


Tak ayal sikap sang adik barusan tentu saja menimbulkan ragam pertanyaan yang menyelip di hati kecil Axelo.


Ada apa dengan anak itu? aku tidak pernah melihat dia seperti itu, aku juga tidak pernah mendapat perlakuan dingin semacam itu dari dia.


"Hemm."


Namun suara sang istri saat itu hampir membuat jantungnya terlepas dari tempatnya. Dia yang semula sedang asik berpikir dan menerka-nerka apa yang kiranya tengah dipikirkan oleh Ashkan pun harus terkejut dengan suara istrinya itu.


Ia lekas menoleh, hanya sedikit saja, hanya beberapa derajat saja, bahkan kedua matanya pun tak sampai pada wajah Valesha. Sungguh pria yang sangat dingin.


"Kau bilang kau sudah menyiapkan makan malam untukku, mana makanannya?" tanya Valesha pada sang suami.


Di sisi lain Valesha pun menemukan celah yang sangat aneh dalam wajah Ashkan barusan. Dia melihat sebuah kekecewaan, kecurigaan, dan satu hal lain yang tak bisa dijelaskan oleh pria muda itu terhadap sang kakak.


Namun sebisa mungkin dia juga harus diam. Bukan karena dia tak sanggup membongkar semuanya, hanya saja, dia perlu waktu untuk mengetahui semua ini lebih dulu dari Axelo.


Jadi untuk sementara waktu, mungkin akan lebih baik jika dia berpura-pura untuk bodoh di depan Axelo, dan membuat suaminya ini berpikir kalau dia bukan wanita yang mengerti akan apapun.


Sebenarnya dia juga tahu kalau Axelo barusan memang sedang ruwet memikirkan sikap adik kandungnya yang sangat dingin itu, tapi seperti keputusan dia barusan.


Lebih baik berpura-pura bodoh, untuk sementara waktu, biarlah Axelo menganggap dirinya wanita yang polos.


Tunggu saja sampai waktunya tiba, dan dia akan tahu segalanya, termasuk mungkin saja, tentang kekesalan yang dialami oleh Ashkan.


Bisa jadi pria muda itu lebih tahu segalanya, bukankah itu juga tidak termasuk mustahil?

__ADS_1


Saat ini aku harus diam, dan membuat Axelo berpikir aku bukan wanita yang pintar, sampai akhirnya aku akan mengetahui segalanya lebih dulu daripada kamu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2