Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Kejadian Masa Lalu


__ADS_3

Dua puluh tahun yang lalu..


"Ayah, kemana kita akan pergi, yah?" tanya Axelo kecil pada Aeslen Wicaksono di dalam mobilnya dengan mainan robot di dalam genggaman tangannya.


Pada saat itu usianya baru menginjak angka delapan tahun, dan dia masih begitu muda dengan usia sedini itu.


Sang ayah nampak menyetir mobilnya dengan perlahan, dengan wajah penuh sukacita dan gembira. Pada saat itu adalah malam perayaan tahun baru, berhubung sang ibu dan adiknya masih berada di luar negeri dan hanya bisa pulang setelah tanggal dua Januari, Aeslen berpikir ingin mengajak sang putra sulung ke rumah sahabat karibnya.


Pria itu pun nampak mengelus rambut sang putra dengan penuh kehangatan dan juga kasih sayang.


"Ayah ingin mengenalkan kamu dengan seorang gadis, dia sangat manis, meski usianya masih sangat kecil, kau pasti akan menyukai dia." Ucap Aeslen pada putra sulungnya, tak lupa juga dia membumbui senyuman manis di bibirnya pada Axelo.


"Apa ayah berniat menjodohkan Axelo dengan gadis pilihan ayah itu?" tanya Axelo dengan polosnya, "ayah, apapun akan Axelo lakukan, asalkan ayah bahagia." Jawab anak itu dengan sangat cerdas.


Sang ayah hanya bisa membalas ucapan sang putra dengan senyum simpulnya, bangga dengan putra kesayangannya sendiri.


Setengah jam berlalu, mereka berdua pada akhirnya sampai di pelataran sebuah rumah dengan nuansa Eropa kuno, berdiri lah di depan rumah itu dua orang sepasang suami istri dengan bayi kecil dalam dekapan sang pria.


"Nah, itu Om Wishnu, sahabat ayah, dia orangnya baik banget, kamu harus kenal sama mereka, ayo kita turun." Ajak sang ayah padanya, ia bahkan dengan polosnya mengikuti sang ayah untuk segera menuruni mobilnya.


Dengan langkah kakinya yang masih kekanak-kanakan, ia mencoba mengikuti kemana sang ayah hendak pergi. Ia amat polos pada waktu itu, lagipula pada saat itu terjadi, dia juga masih sangat kecil, jadi dia hanya bisa menurut kemana saja ayahnya melangkah pergi.


Ia bahkan tak pernah tahu kalau hari itu, tragedi besar akan segera menimpanya dan juga ayahnya, tragedi yang dalam seumur hidupnya, dia bahkan tak akan pernah bisa melupakannya.


"Selamat sore, Tuan Aeslen! senang sekali rasanya bisa dikunjungi oleh anda dan juga putra anda!" ucap Wishnu sambil menjabat tangan Aeslen dengan sangat ramah.


"Selamat sore, Wishnu, senang juga bisa datang ke rumah kamu ini, bagaimana kabar keluarga kecil kamu ini?" tanya Aeslen pada Wishnu dengan senyum ramahnya pula.

__ADS_1


"Seperti yang bisa anda lihat, kami semua baik-baik saja."


Mereka nampak berbasa-basi agak panjang di dalam rumah, sampai akhirnya pada beberapa menit kemudian, di ajaklah masuk Aeslen dan Axelo kecil oleh Wishnu.


Keduanya pun nampak masuk ke dalam rumah, kemudian terduduk di ruang tamu. Sang istri nampak memberikan bayi perempuannya pada Wishnu, dan segera menuju ke dapur untuk mengambil minum.


Wajah sang istri sangat cantik, dengan potongan rambut pendek sebatas bahu dan rok yang hanya sebatas lutut, semakin menambah kesempurnaan yang dimiliki oleh wanita itu.


Sepeninggal sang istri menuju ke dapur, Wishnu nampak banyak bercakap-cakap dan bercerita banyak hal pada Aeslen. Keduanya memang sangat akrab, dan bahkan mereka seperti sahabat baik, meski keduanya baru saling mengenal sebagai rekan bisnis sejak beberapa bulan yang lalu.


Dalam diamnya Axelo, ia nampak memperhatikan sosok wajah istri Tuan Wishnu yang kebetulan bisa dia lihat dengan jelas meskipun wanita itu berada di dalam dapur.


Antara dapur dan ruang tamu memang hanya di pisahkan oleh satu kepung meja makan dan ruang keluarga. Dan itu semakin memudahkan Axelo untuk melihat wanita cantik itu di sana.


Nampak oleh kedua matanya wanita itu tengah tersenyum simpul, meski dia sendiri masih tak begitu paham sampai sekarang, apa yang membuat wanita itu tersenyum dengan canggungnya di dapur itu.


Ia melebarkan senyuman. Itu pasti untukku, begitulah pikirnya. Ia sangat bergembira melihat camilan lezat itu dibawa mendekat ke arahnya, dan kemudian benar saja, wanita itu menjamunya dengan beberapa camilan lezat di dalam toples.


"Silahkan diminum, tuan, tuan muda." Tawar wanita itu pada kedua tamunya, termasuk juga Axelo. Tapi senyumnya lagi dan lagi terlihat aneh.


Wanita itu semakin aneh dalam menyimpulkan senyuman di bibirnya, namun hanya Axelo yang menyadari hal tersebut. Dan ia masih begitu kecil untuk mengerti perihal orang dewasa.


Ia pun nampak acuh saja, tidak menghiraukan sikap aneh yang ditunjukkan wanita itu pada.. mungkin ayahnya.


Ia hanya suka dengan camilannya, bingkisan permen cokelat dengan susu hangat yang disediakan khusus untuknya. Humm, rasanya pasti sangatlah nikmat.


Disambar saja olehnya satu toples cokelat itu dengan kedua tangannya, lalu dia mulai melahapnya.

__ADS_1


"Jangan seperti itu, Axelo." Ucap sang ayah mencegatnya.


"Tidak apa-apa, aku suka dengan anak seperti dia, makanlah yang banyak, nanti kau bisa bermain dengan Valesha." Ucap Wishnu pada Axelo.


Hingga pada beberapa menit setelah itu, nampak Tuan Wishnu Fotham yang mendadak mendapat kabar dari seseorang.


Pria itu bergegas mengangkat panggilam dari seberang, dan kemudian raut wajahnya berubah begitu cemas.


"Apa?" ia melirik ke arah semua orang, merasa situasi yang dia hadapi sedikit pelik, ia akhirnya memilih meninggalkan Aeslen di sana dengan senyumnya. Beralihlah dia ke halaman belakang untuk berbicara dengan seseorang di dalam sambungan ponselnya.


Namun pada saat itulah sesuatu yang aneh terjadi. Kedua orang itu nampak saling mengedipkan mata mereka, seolah memberi sebuah kode. Sayang sekali Axelo kecil tidak menyadarinya.


Sang istri yang tengah memangku putrinya yang tertidur lebih dulu meninggalkan mereka berdua di ruang tamu. Lalu beberapa saat kemudian, tinggal Aeslen yang mengusap kepala putranya, sembari berkata halus pada anaknya itu.


"Nak, ayah mau ke belakang, kau tunggu saja di sini, ayah tidak akan lama, kau janji tidak akan pergi kemanapun?" tanya Aeslen pada putra sulungnya.


Axelo yang polos pun hanya bisa mengangguk, mengiyakan sang ayah. Tak berapa lama setelah itu pun Aeslen nampak menyusul wanita tadi masuk ke dalam, meninggalkan putranya di ruang tamu seorang diri.


Axelo masih asik dengan cokelat di dalam toples, hingga beberapa menit lamanya dia ditinggal oleh sang ayah, barulah dia merasa bosan.


Ia yang pendiam, tak banyak bicara dan tidak suka bertanya-tanya pada akhirnya merasa penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh ayahnya di belakang.


Ia bangkit dari kursinya, dan bergegas menyusul sang ayah menuju ke ruang belakang untuk melihat sesuatu yang terjadi di belakang sana.


Bukk!


"Arkh!" pekik sang ayah dari kejauhan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2