
Kedua orang itu tetap diam, bahkan sampai mereka tiba di rumah Axelo, keduanya masih tetap diam, saling diam dan saling mengacuhkan. Hubungan mereka menjadi semakin rumit, lebih dari kata itu, mereka sangat miris dalam menjalani kehidupan rumah tangga itu.
Cerita yang manis bagi Valesha pada awalnya, cerita yang bermula dari sebuah pertemuan yang baginya tidak disengaja, namun rupanya, dia hanya satu di antara segelintir wanita bodoh yang bisa ditipu dengan mudahnya oleh seorang pria.
Ia yang mencintai Axelo dengan sepenuh hatinya, melabuhkan seluruh perasaan dalam hatinya hanya untuk sosok Axelo, tapi lihat saja sekarang, Axelo menatap kedua mata Valesha pun tidak Sudi.
Seperti halnya barang sampah, yang setalah dipakai lalu lekas dibuang, saat dibutuhkan lagi, maka akan kembali dipungut dan dipakainya, setelah bosan, maka seperti biasa dilepeh lagi.
Apa mungkin Axelo memperlakukan Valesha juga begitu?
Jawabannya mungkin lebih mengarah pada kata tidak. Ya, tentu saja demikian. Selama ini memang belum pernah terlihat Axelo membuang istrinya, dia justru lebih terlihat mulai membaik untuk saat ini.
Tapi memang benar adanya, kebencian dan dendam lama menghiasi rumah tangga mereka, sampai akhirnya yang ada di antara mereka berdua hanyalah jarak yang membentang menjadi seluas samudera Pasifik, seperti halnya antara barat dan timur, yang entah sampai kapan pun itu, mereka tidak akan pernah bersatu.
Tapi harapan lain tentu saja harus terjadi pada kedua pasangan suami istri ini. Mereka sudah cukup hidup dalam bayang-bayang masa lalu, dan sekarang seharusnya Axelo mulai mengalah, mencoba melupakan bayang-bayang kematian orang tuanya. Bukankah seharusnya dia tahu apa yang dia lihat belum tentu benar adanya?
Keduanya masuk ke dalam rumah Axelo, seketika para pelayan menyambut kehadiran keduanya, mereka pun lekas masuk meski tidak secara bersamaan, Valesha yang lebih memilih untuk berada pada jarak yang agak lumayan menjauh dari suaminya.
Bukan tanpa alasan, seharusnya suaminya akan terganggu dengan dirinya yang begitu dekat, itu wajar bagi siapa saja yang tengah bertengkar.
"Selamat datang, tuan."
"Selamat datang, tuan."
Semua pelayan menyambut kedatangan Axelo, tapi wajah mereka seakan menyembunyikan sesuatu yang sangat menakutkan. Mereka terdiam, tapi ekspresi mereka saat menyambut kehadiran Axelo, tentu saja bisa terlihat sangat aneh.
Apa yang tengah mereka sembunyikan dari Axelo?
"Selamat datang nyonya."
"Selamat datang nyonya."
Tak hanya Axelo yang kedatangannya disambut secara hangat oleh semua pelayan, bahkan saat Valesha masuk pun para pelayan juga membungkuk kepadanya, memberi hormat yang sewajarnya mereka lakukan pada atasan mereka sendiri.
Valesha hanya bersikap acuh tak acuh. Bukan tak biasa dia melakukannya, dia memang seperti itu entah di rumahnya sendiri dahulu, atau mungkin saat setelah sudah menjadi istri Tuan Axelo Devandra Wicaksono.
Ia acuh saja berjalan membuntuti Axelo dari jarak yang agak lumayan jauh, sampai pada akhirnya, Valesha melihat langkah kaki Axelo yang mendadak berhenti di tempat, menandakan ada suatu hal yang dia tangkap di dalam rumahnya.
Melihat sikap sang suami, Valesha pun ikut berhenti di tempatnya, melihat ke arah Axelo, dan kemudian menatapi seseorang yang mendadak datang menghampiri Axelo.
Bruk!
Wanita itu langsung bersimpuh di kedua kaki Axelo, menangis tersedu-sedu, dan dia bahkan bersujud di kaki Axelo. Harga diri wanita ini sungguh sangat rendah.
"Axelo, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk mengkhianati kamu, aku hanya terjebak dalam situasi yang rumit, dan dia telah memaksaku.."
Ucap Sheilin hanya dengan satu tarikan nafasnya saja. Dia bahkan tidak pernah tahu kalau Axelo sesungguhnya sudah tidak lagi merasa peduli terhadap dirinya.
Sebenarnya dia salah satu ciri wanita yang tak lagi punya malu.
Axelo masih saja acuh tak acuh. Dia sangat muak kalau harus menghadapi wanita ini, apalagi kondisi dia sekarang sedang kesal, yang bercampur dengan hawa penat di sekujur tubuhnya. Mengapa wanita ini mendadak datang ke rumahnya dan mengacaukan waktunya?
"Axelo, aku janji tidak akan mengkhianati kamu lagi, tolong ampuni aku." Pinta Sheilin dengan sangat memohon.
Cih!
Bahkan terlihat dengan begitu jelas kalau air mata yang menetes dari matanya itu hanya air mata tipuan, air mata buaya, pantaskah wanita seperti dia mendapatkan kepercayaan?
Valesha menatapi dengan geram tingkah laku wanita di kaki Axelo itu. Ia saja yang menjadi sesama wanita merasa malu, padahal dia sendiri tak pernah melakukannya pada pria manapun, rupanya wanita bernama Sheilin itu sudah kehilangan akal sehatnya.
*Dia bersimpuh di kaki laki-laki yan. telah bersuami? ck, murahan sekali*.
Umpat Valesha di dalam benaknya. Namun selain itu, dia juga penasaran akan sikap apa yang akan diambil oleh Axelo untuk menghadapi wanita murahan ini.
Apakah Axelo akan dengan mudahnya memaafkan Sheilin, dan kemudian kehidupan mereka berdua ke depannya akan kembali membaik?
Atau mungkin Axelo malah akan melempar dan menendang wanita ini keluar dari rumah Axelo?
Ia bahkan tidak pernah berpikir alasan utama mengapa Sheilin datang ke sini, yaitu karena foto-fotonya yang tersebar luas di media sosial. Untung saja Axelo bertindak benar, dengan mengirim seseorang untuk segera menghapus semua foto-foto mesra Valesha dengan Victor di media sosial, jika tidak, Valesha pasti sedang bersedih saat ini.
"Axelo, aku mohon, bukan maksud aku untuk melakukannya, aku hanya.."
"Mulut kotor kamu tidak pantas untuk mengucapkan satu patah katapun di rumahku! pergilah kau dari sini! sebelum aku menyobek mulut kamu dengan pisauku!" ucap Axelo sangat tajam, dia sedang memberi ancaman serius pada Sheilin.
Tapi wanita itu masih tidak mau kalah. Dia masih tetap bertahan dalam posisi yang sama, memohon ampun pada Axelo atas semua kesalahannya.
"Tapi Axelo, aku tidak melakukannya, kenapa kau malah berbalik menyerang aku? Axelo, tolong maafkan aku, tolong hapus semua berita dan foto-foto aku itu, aku tidak mau hidup dengan rasa malu seperti ini." Ucap Sheilin masih memohon pada Axelo.
Namun Axelo menepis pegangan erat tangan Sheilin dari kakinya. Dia terlihat menjauh dari wanita itu dengan muak.
"Menyingkir dariku!" ucap Axelo dengan sangat dingin, dia lebih menakutkan dari yang diperkirakan oleh Valesha.
Rupanya saat berada di depan Sheilin, Axelo bahkan jauh lebih kejam dari saat berada di hadapannya. Agaknya Valesha masih termasuk dalam wanita yang beruntung.
"Tapi Axelo.."
"Kalian, bawa dia keluar!" ucap Axelo pada dua bodyguard yang tengah berdiri di pintu.
Kedua pria kekar itu terlihat menganggukkan kepala mereka, dan kemudian lekas membawa Sheilin pergi dari depan rumah Axelo.
__ADS_1
"Tidak, Axelo! jangan kejam begini! Axelo!!"
Axelo tidak menggubris panggilan dari Sheilin, hanya terlihat dia yang mulai memijit pelipis kanannya, dan kemudian melanjutkan langkah kakinya untuk segera masuk.
"Lepaskan aku!!"
Wanita itu diseret secara paksa oleh dua pria bawahan Axelo keluar dari pekarangan rumah, dan saat wanita itu tiba di depan Valesha, dia berhenti, memaksa berhenti dan sekilas berbicara pada Valesha.
"Dia hanya menginginkan kehancuran kamu! jangan bangga dan jangan pernah percaya." Ucap Sheilin entah sedang memberi nasehat atau wanita itu hanya sedang memberi ancaman tidak berguna bagi Valesha, tidak tahu.
"Untungnya aku tidak pernah percaya dengan pria itu."
Gumam Valesha sesaat setalah Sheilin pergi meninggalkan dirinya seorang diri, hanya berteman beberapa pengawal dan para pelayan.
Mengapa dia berkata dia sendirian? karena dia memang tidak pernah merasakan kehangatan apapun setelah menikah dengan Axelo.
Meski dia hidup berdampingan dengan orang banyak, namun dia seakan tengah sendiri, seakan dirinya tidak pernah berteman dengan siapapun.
Agaknya dia tengah merasa kesepian.
Dia hanya bisa acuh saja, mengalihkan pikiran ruwetnya, dan kemudian mulai dia kembali berjalan masuk ke dalam rumah, menyusul Axelo di dalam sana.
Namun saat dia masuk, dia kembali dibuat canggung dengan sikap yang ditunjukkan oleh Axelo dan Ashkan padanya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
Terlihat Ashkan yang pada awalnya bertanya pada sang kakak, namun setelah Ashkan melihat kedatangan Valesha dari luar, pria itu lekas mengalihkan perbincangan, dan tidak lagi membahas hal tersebut dengan Axelo.
Satu hal yang entah apa yang tengah mereka bahas pada mulanya.
"Ah? kakak ipar? kau sudah pulang?" sapa Ashkan terlihat wajahnya dibuat sedemikian rupa untuk membuat Valesha tidak merasa canggung.
Dia pria yang sangat dingin, tapi saat berpura pura seperti ini, dia lebih handal dari Valesha rupanya.
Humph! baiklah, mari kita lihat siapa yang pandai dalam berakting ini.
Valesha lekas melebarkan senyuman di bibirnya, kemudian terlihat sangat senang pun juga begitu gembira menjawab pertanyaan dari Ashkan dengan wajah palsunya beberapa saat yang lalu.
"A?" dan sekarang malah Ashkan dan Axelo yang dibuat bingung, apalagi Axelo, dia yang tadinya melihat istrinya tampak murung, kenapa sekarang wanita itu malah terlihat begitu senang dan baik-baik saja?
*Kak? apa dia sudah kau minumkan racun yang sangat banyak? kenapa dia begitu aneh siang ini*?
Kontak batin yang sangat kuat antara kakak beradik.
*Entahlah, aku tidak salah memberi dia makan, kenapa dia jadi aneh begitu*?
Hap!
"Ah? apa yang terjadi pada dirimu? kau aneh sekali selepas pulang, apa kakak salah memberi kamu makanan?" tanya Ashkan langsung pada orangnya.
"Ahahaha.. dasar anak bodoh! mengapa kamu bertanya seperti itu? bagaimana mungkin aku menjadi aneh? sedangkan aku selalu merasa waras di setiap hariku!"
Jawab Valesha dengan senyum lebarnya, yang bahkan hingga menyebabkan kedua matanya menutup saya tengah tertawa.
Sebenarnya dia begitu lucu dan menggemaskan.
Tapi mengapa Axelo selalu merasa muak?
*Hahh! dasar wanita aneh*!
Ia bahkan tidak bergeming satu inci pun dari tempat berdirinya semula.
"Baiklah, apa kalian berdua lapar? aku akan memasak untuk kalian, tolong jaga sikap. baik-baik, ya, anak baik." Ucap Valesha pada dua pria yang padahal sudah berusia hampir kepala tiga.
Kedua pria itu pun hanya bisa melongo tidak percaya dengan pemandangan aneh yang baru saja mereka saksikan dari sosok Valesha.
Entah apa yang terjadi pada wanita itu, yang jelas wanita itu sangat aneh.
Valesh segera beranjak dari tempat mereka berdiri semula, dan mulai menuju ke arah dapur hanya untuk memasak, atau mungkin, ini hanya pengalihan semata.
Ia berbalik dan bersembunyi di balik tembok yang dingin, dan mulai mendengar perbincangan antara adik dan kakak di seberang sana.
Mungkin jika dia tidak ada di antara mereka, mereka akan melakukan perbincangan dengan lebih leluasa, karena sudah pasti, semua yang akan mereka bicarakan, pastilah tentang rencana mereka ke depannya untuk membalas dendam pada keluarganya.
Benar saja, kedua pria itu mulai terlihat terduduk di sofa ruang tengah, menyulut batang rokok yang dikeluarkan oleh Axelo dari dalam sakunya, lalu mulai berbincang-bincang.
"Kau tahu aku sudah menasehati kamu sejak awal, salah sendiri tidak mau mendengarkan adik kamu ini." Ucap Ashkan pada sang kakak, tapi sayang sekali, hati kakaknya masih sekeras batu, masih tidak mau kalah dan mengaku salah.
"Aku sudah bilang, ada yang tidak beres dari semua ini, tapi kau tetap saja tidak mempercayai aku, sekarang kalau sudah begini, apa yang harus kau lakukan?" tanya Ashkan menyerang sang kakak secara bertubi-tubi.
Agaknya dia kesal karena dalam sejarah kehidupannya bersama dengan Axelo berpuluh-puluh tahun lamanya, dia tak pernah dianggap ada oleh pria yang dia anggap sebagai kakak itu.
Dia tak pernah mendapat kesempatan untuk mengemukakan pendapat, sekalinya dia memberi saran, Axelo sudah jelas tidak akan pernah menerima saran yang dia berikan.
Dan sekarang sang kakak mengalami kesulitan dengan keputusan yang dia ambil sendiri secara sepihak, dan tidak mau melibatkan Ashkan dalam hal tersebut.
Sekarang semuanya sudah terlanjur, mau mundur pun rasanya agak sulit. Apalagi sekarang Neil sudah tahu dia menggerakkan pasukan untuk memaksa dirinya.
Sekarang bagaimana kalau sampai Valesha mendengar semua itu? bukankah dirinya akan merasa menjadi pria yang paling bodoh?
__ADS_1
"Baiklah, tarik mundur dulu, sementara aku memang butuh kejelasan, aku tidak bisa bertindak kalau semua ini masih diragukan," ucap Axelo, hampir tidak terdengar dengan jelas di telinga Valesha.
Kedua kakak beradik itu memang memiliki tipe suara yang sangat khas, dalam dan sangat halus. Tapi sekalinya mereka bicara, rasanya seluruh dunia akan roboh bersamaan dengan suara mereka yang begitu menakutkan itu.
Ashkan hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan sangat kesal, jenuh dan tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Dia meminta aku mengirimkan penyusup, dan aku sudah mengkonfirmasi itu." Ucap Ashkan seketika membuat Axelo dan Valesha terkejut pun juga tertegun di tempat masing-masing.
*Um? penyusup? apa dia mengirim penyusup ke rumah ayah*?
Benak Valesha sibuk bertanya-tanya, agaknya dia masih belum tahu apa yang baru saja terjadi pada Neil.
"Ck, lagi dan lagi kau bertindak di luar perintahku." Ucap Axelo terlihat tidak menyukai laporan yang Ashkan berikan padanya barusan.
"Menunggu kamu memberi kabar pasti akan sangat lama, segera saja aku iyakan permintaan dia, bukankah bagus juga kalau ada seseorang di sana? kita akan dengan mudah mengawasi mereka semua." Sambung Ashkan merasa dirinya sudah benar, ya, sejujurnya itu juga karena semua ini sudah terlanjur terjadi, bisa apa dia selain mengalah?
"Baiklah, kau saja yang mengurusnya, aku punya urusan lain yang jauh lebih penting," ucap Axelo sambil mematikan batang rokoknya di atas asbak.
Dan sekarang dia terlihat mulai beranjak dari tempat duduknya, lekas bergeming dan hendak pergi menuju ke lantai atas.
Buru-buru Valesha mengalihkan dirinya dari tempat tersebut, bergerak ke arah bagian kompor, dan kemudian berpura-pura untuk menyibukkan dirinya dengan beberapa alat masak di depannya.
Namun agaknya Axelo tidak menyadari apapun, dia tidak sadar kalau sejak tadi Valesh mendengarkan kata demi kata yang dia dan Ashkan lontarkan dari mulut mereka.
Pada akhirnya pria dingin itu pun terlihat mulai menaiki anak tangga menuju ke lantai dua, dan meninggalkan Valesha di dalam dapur seorang diri.
*Apa yang dia masuk dengan penyusup? apa yang dia katakan tentang butuh kejelasan itu? apa mungkin sebenarnya Axelo juga tidak terlalu yakin dengan masa lalunya*?
*Jika benar begitu, maka seharusnya ada yang mengendalikan pria itu dari belakang? apa orang itu termasuk orang yang juga pernah memiliki dendam terhadap keluargaku*?
Mendadak pemikiran Valesha itu berputar-putar, mencoba mencari kejelasan tentang semua teka-teki yang baru saja di dengar olehnya dari Axelo.
Bukan perjuangan sia-sia, karena pada akhirnya dia menemukan sebuah petunjuk, meski itu hanya sedikit, asalkan dia bisa mengerti sedikit sesuatu hal yang ada dalam hati kecil Axelo.
Ia pun akhirnya benar-benar memasak, dengan menggunakan trik hebatnya yang selama ini tidak pernah dia tunjukkan pada orang lain, termasuk pada suaminya sendiri.
Cih!
Buat apa menunjukkan trik hebatnya di depan suaminya, apa suaminya akan peduli dengan itu?
Tidak, kan?
Ia sibuk membalikkan telur dengan cara yang cukup ekstrim, seperti ala-ala restoran, seperti halnya chef profesional yang sangat handal.
Hingga saat dia melakukan aksi hebat itu, mendadak seseorang mengacaukannya.
Brak!
"Arkh!"
Orang itu tak sengaja menyenggol tangannya yang tengah beratraksi, hingga membuat telur yang panas itu terjatuh tepat di atas kaki Valesha.
"Oh, kakak ipar!"
Segera saja Ashkan mematikan kompor, dan kemudian lekas membantu Valesha yang tengah merasa kesakitan oleh tingkahnya.
"Apa terasa sakit?" tanya Ashkan pada Valesha.
Dia melihat kaki Valesha benar-benar merah padam terkena telur itu. Ini benar-benar luka bakar yang membutuhkan pengobatan khusus.
Dan luka itu dia yang menyebabkannya.
Mungkin dia harus bertanggung jawab.
"Tidak apa-apa, jangan cemas, aku baik-baik saja." Jawab Valesha, sembari meniup luka di kakinya.
Ia berkata dirinya baik-baik saja, tapi ekspresi wajahnya menunjukkan rasa kesakitan, kenapa Valesha malah membohongi Ashkan?
"Tidak apa-apa bagaimana? kulitmu terbakar sempurna, kemarilah, aku bantu kau duduk!" ucap Ashkan menawarkan bantuan pada Valesha.
Namun Valesha malah tertegun saat mendapat tawaran bantuan dari Ashkan, dia pikir, seharusnya antara kakak dan adik ipar tidak begitu, kan?
"Ayo, kemarilah!"
"Tidak perlu! aku bisa jalan sendiri." Jawab Valesha menolak dengan sangat keras kepala.
Ia kemudian tampak berusaha untuk berjalan ke arah meja makan yang letaknya lumayan jauh dari arah dapur, dengan langkah yang terbata-bata, sampai pada akhirnya, dia pun terjatuh juga.
Bruk!
"Ouh."
Namun seseorang mendekat ke arahnya, dan kemudian lekas mengangkat tubuhnya dengan sangat cepat, tanpa menunggu persetujuan dari Valesha lebih dulu.
"Auw! turunkan aku!" tolak Valesha pada pria yang kini tengah membawa dirinya ke ruang tengah, bukan meja makan lagi.
"Sudah ditawari bantuan masih pura-pura tidak butuh, dasar sok jual mahal!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1