
Senja di ufuk barat kota R memang sangat mengagumkan. Apalagi jika ditemani satu cangkir kopi panas yang tidak terlalu manis, huhh! entah mengapa Axelo menjadi sebegitu tergila-gila nya pada situasi senja di sini.
Ia hanya kelihatan menatapi luar rumah yang sibuk dengan hiruk pikuknya. Tak ada yang bisa dia tatapi selain kesibukkan kota R meski sudah hampir melampaui senja.
Bayangan wajah indah bidadari nan memukau di hari itu, pada nyatanya tak pernah lagi dia temui sejak berakhirnya pula drama rumah tangga yang bermulakan dendam di antara keduanya.
Masalah keluarga yang sebenarnya semuanya hanya bermula dari Nyonya Armei yang tergila-gila pada uang.
Nyatanya, di hari ini, semua kebohongan dan kebodohan Axelo benar-benar menemukan jawabannya.
"Sampai kapan kamu akan terus menyesali semua yang diakibatkan oleh ulah sendiri?"
Pertanyaan kejutan dari sang adik yang entah hadir darimana membuat Axelo sedikit menggerakkan kedua bola matanya dengan sendu.
__ADS_1
Wajahnya memang selalu terpaut aura kesedihan yang jelas memancar menguasainya. Apalagi setelah dia berhasil mengalahkan kebenciannya pada sosok Valesha, dan berubahlah perasaan itu menjadi buih-buih cinta yang bersemi dengan indah, rasanya penyesalan yang tak berujung itu membuat dirinya lebih baik mati saja.
Ia tak menjawab pertanyaan dari Ashkan sama sekali. Hanya kelihatan kembali menatap ke arah luar lampu kelap-kelip di jalanan kota dari lantai tiga rumahnya.
Sementara adiknya mulai menduduki kursi kerja milik sang kakak, dan kemudian mulailah menyampaikan apa maksud kedatangannya.
"Kau menunggu sudah lima bulan lamanya, tapi istrimu, UPS! maksud aku, mantan istri kamu hanya meninggalkan secarik kertas perpisahan, kau pikir, setelah semua yang terjadi, dia masih akan datang untuk menemui kamu lagi? aku pikir, kau hanya sedang terlalu berharap!" ucap Ashkan pada sang kakak.
Entah digubris atau tidaknya, Ashkan sama sekali tak tahu. Yang dia tahu hanyalah, ia hanya ingin menyampaikan unek-unek di dalam hatinya selama masa menunggu di kota R ini.
Namun Axelo tak menjawab apapun. Masih membeku dengan kakunya di tempat semula, bahkan dia sama sekali tidak menoleh atau menggerakkan apapun salah satu anggota tubuhnya.
Apakah cinta dan penyesalan ini, memang benar membuat dia menjadi sekeras batu?
__ADS_1
"Hahh! baiklah! aku harap kamu tidak egois di sini, pulang saja, jika dia memang benar milikmu, maka dia akan kembali, jika tidak, maka relakan saja dia, tata kembali hatimu, dan cobalah untuk menerima keadaan.."
Tak ada kata-kata lain lagi yang bisa diucapkan oleh Ashkan selain kata-kata barusan. Pria itu pun kemudian hanya terlihat bangkit dari kursi, dan perlahan tapi pasti nampak kedua kakinya meninggalkan ruangan Axelo.
Blam!
Pintu ditutup oleh Ashkan. Kini hanya tinggal Axelo dan ribuan pemikiran rumitnya di sana.
Ya, entah bagaimana dia harus keluar dari semua permasalahan ini. Mungkinkah benar kata Ashkan, bahwa lebih baik jika dirinya tidak seegois ini?
Jika aku dipaksa untuk menata masa depan kami, lalu bagaimana dengan kondisi hatiku yang hancur? apa masih ada yang peduli?
Lalu..
__ADS_1
Apa benar, semua ini, adalah balasan terindah buatku?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...