
Melihat tingkah tidak menyenangkan dari Axelo, membuat Valesha merasa risih dibuat oleh suaminya sendiri. Dia pun mulai melepaskan pelukan Axelo secara perlahan, dan kemudian berbalik menghadap ke arah Axelo. Namun sebisa dia juga harus menjaga jarak dari pria itu, dia memang selalu merasa bimbang, antara tidak suka namun terasa nyaman.
Sangat nyaman.
Ia mundur satu langkah, menjauh dari Axelo dan kemudian menutupi sekujur tubuhnya menggunakan selimut yang tadi diberikan oleh Axelo padanya.
Namun sikap acuhnya Valesha ternyata membuat Axelo tidak suka. Membuat pria itu merasa diacuhkan dan agaknya, dia menjadi kesal pada saat itu.
*Baru saja kau memuaskan aku, dan sekarang kau berniat untuk menjauh dariku lagi*?
Tanya Axelo dalam benaknya, begitu tidak sukanya melihat sikap acuh sang istri padanya.
Ia pun lekas memicingkan kedua matanya, dan mulai menatap wajah Valesha dengan rasa tidak sukanya itu, ya, tentu saja hal itu membuat Valesha sedikit merasa resah, bukan karena apa, tiap kali pria ini dia buat kesal, bukankah harus selalu dirinya yang akan menanggung akibatnya?
Entah apa mau kamu, Axelo.
"Umm, maaf, aku hanya.." ucap Valesha sedikit terbata bata. Jujur saja, dia memang merasa gugup.
"Hanya apa?" namun sang suami lekas menyela perkataan Valesha barusan, sembari memajukan langkah kakinya satu langkah ke depan.
Melihat langkah kaki sang suami, Valesha pun ikut melangkah, hanya saja, langkah kakinya malah mundur ke belakang, seakan masih saja ragu untuk mendekat dan bersatu dengan tubuh suaminya. Tanpa sadar dia telah menambah kemarahan dalam hati Axelo.
*Sialan sekali aku punya istri seperti dia*!
Gumam hati Axelo merasa kesal sekali pada wanita yang dia sebut sebagai istrinya itu.
"Axelo, tolong biarkan aku.."
"Tidak akan aku biarkan itu!"
__ADS_1
Belum juga Valesha menyelesaikan ucapannya, buru-buru saja Axelo menyela ucapan itu, tidak mau menunggu Valesha mengakhiri kalimatnya, rasanya sungkan saja menunggu satu hal yang sudah jelas akan berkahir sangat mengecewakan baginya. Dan sebelum hal itu terjadi, mungkin akan lebih baik jika dia menyelanya lebih dahulu.
"Tap-tapi.."
"Kau baru saja membuat aku marah, dan sekarang kau ingin menambah tingkat kemarahan dalam hatiku? apa kau ingin kembali dihukum dengan lebih keras lagi?" tanya Axelo sambil terus maju secara perlahan-lahan mendekat ke arah istrinya.
Valesha pun akhirnya terdiam di tempatnya, ingin sekali dia bergerak menghindar dari sana, namun sayang sekali, dia telah sadar akan konsekuensi yang akan dia dapat jika dia membuat tingkat kemarahan Axelo naik lagi.
Ia pun hanya bisa pasrah mengalah di hadapan Axelo, dengan pandangan mata yang tak tentu arah, dengan sekujur tubuh yang dia tutup dengan sangat rapat dan juga begitu sempurna dengan menggunakan selimut, dan dengan perasannya yang juga berbalut kecemasan tingkat dewa.
Hap!
"Ah?"
Dan saat pelukan Axelo mendarat dengan sangat rapi dan melingkar pada pinggulnya, dia pun tidak bergeming. Mungkin akan lebih baik jika dia diam dan tidak berkutik, demi keselamatan nyawa yang lebih utama.
Pria itu mendekatkan wajah ke arahnya, dan menyatukan kedua kening mereka, bersatu hingga nafas Axelo yang setengah memburu itu akhirnya terasa sampai seluruh permukaan wajah Valesha.
Valesha bahkan merasa seluruh permukaan wajahnya menjadi sangat panas, dan sangat merah. Ia pun mulai merasa tidak karuan dalam keadaan yang sangat canggung itu.
Apalagi saat tangan nakal Axelo mulai dengan lihainya membelai helai rambutnya yang tersapu angin laut, rasanya dadanya ikut bergemuruh, tidak tahu mengapa, namun rasa gugup itu menang selalu hadir pada saat seperti itu.
"Valesha, sayang.." dia berkata dengan nada yang sangat menjijikan, huhh!
Valesha pun mengakuinya, nada bicara Axelo yang seperti itu memang acap kali membuat dirinya tergoda. Tapi kali ini dia benar-benar harus bisa menahan godaan itu.
"Aku suka wangi rambutmu, tapi terkadang, aku lebih menyukai setiap lekuk tubuhmu, bagaimana aku bisa tidak menggodamu?"
Cup!
__ADS_1
Dan godaan itu berkahir pada kecupan yang dengan sengaja didaratkan oleh Axelo di kening Valesha.
Dan kecupan maut itu telah berhasil membuat Valesha memaku di tempat berdirinya.
*Itulah yang aku cemaskan, kau yang mengecup keningku, tapi jantungku yang tidak bisa aku kendalikan, menurut kamu, siapa yang salah di sini*?
Gumam Valesha dalam benaknya, merasa tidak berdaya untuk menolak kecupan dari Axelo padanya, meski ada sebersit perasaan benci pada pria itu. Hidupnya memang sangat rumit.
Pria itu kembali menatap Valesha, kali ini semakin dalam dan semakin terhanyut dalam pelukan yang sangat hangat itu.
"Valesha, andai kau tahu, aku juga terjebak dalam situasi yang rumit," gumam lirih Axelo tanpa sadar malah mengungkap tekanan hidupnya sendiri.
Mendengar perkataan Axelo barusan, Valesha membulatkan kedua matanya, bergeming dari pelukan Axelo, dan mulai menatap pria itu dengan tatapan datar.
"Kau terjebak dalam situasi yang rumit? jika kau sedang merasakan hal itu, mengapa kau menjerat aku sama seperti dalam posisi kamu? apa kau tidak sadar kalau sikap kamu juga telah menjebak ku?" tanya Valesha akhirnya dia kembali punya keberanian.
Axelo lama terdiam. Entah apa yang tengah dilakukan oleh Axelo pada saat itu, entah tengah berpikir, atau mungkin hanya sekedar tidak bisa menjawab pertanyaan dari Valesha barusan, tidak ada yang tahu.
Merasa tidak ada yang perlu dia jawab, Axelo pun hanya berkahir mundur, berbalik dari posisinya yang semula berhadapan dengan Valesha, dan kemudian dia mulai berjalan menjauh dari wanita itu.
"Kenapa kau tidak mau menjawab pertanyaan dariku?" tanya Valesha menghentikan langkah kaki Axelo.
Axelo membuang nafasnya dengan sangat berat, bahkan terlihat dia membuang nafasnya sambil memejamkan kedua matanya, agaknya dia merasa tertekan di dalam hati kecilnya, benarkah itu?
"Masuklah, kalau tidak kamu akan kedinginan." Ucap Axelo tanpa menoleh ke arah Valesha, lalu dia pun terlihat melangkahkan kedua kakinya kembali.
Ia mulai masuk lagi ke dalam kamarnya, dan mengambil kembali ponselnya. Dia membuka ponselnya dan melihat beberapa pesan gambar dari adiknya Ashkan. Entah kenapa pria muda itu selalu mengganggunya malam ini. Apa Ashkan masih belum puas juga membuat dirinya kesal?
Sementara di luar sana, Valesha masih terdiam berdiri di tempatnya, masih melamun sembari menatapi tirai yang kemudian terlihat terbang terkena angin yang agak kencang menerpa.
__ADS_1
*Aku bahkan tidak pernah menyangka kau pun bisa terjebak dalam situasi yang rumit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...