
Dia berhenti memikirkan hal yang runyam di dalam otaknya yang hanya tersisa berapa ruang untuk berpikir.
Ia juga berhenti mengaduk teh gula dalam teh yang dia seduh, dan kemudian meminumnya.
"Valesha, kau minum teh manis lagi? apa kamu tidak takut gemuk? lihatlah, kamu sudah menghabiskan berapa gelas untuk minum teh manis, iya kalau hanya teh aku mungkin bisa mentolerir, tapi kalau sudah bercampur dengan gula, aku tidak bisa lagi membiarkan kamu meminumnya, atau tidak kamu akan jadi gemuk." Ucap Geshka panjang dan lebar sembari menyambar segelas teh hangat buatan tangan Valesha yang bahkan belum sempat diminum oleh Valesha.
"Eh, jangan diambil, nanti tumpah." Wajah Valesha bahkan terlihat begitu lemah.
"Mungkin kamu sudah terlalu lelah menghadapi semuanya, tapi cobalah kamu ingat, di sisi lain masih ada aku yang selalu di samping kamu, jangan terus memaksa diri untuk terlihat baik-baik saja," ucap Geshka terlihat sambil meletakkan gelas berisi teh penuh di atas meja makan, "semalaman kamu tidak tidur, terus saja menangis dan menangis, kamu pikir semalam tidurku nyenyak? tidak Valesha, kamu yang begadang dan terluka, tapi aku juga harus mengetahui betapa tidak pantasnya membiarkan kamu sendirian semalaman, karena itulah aku tidak bisa tidur juga."
Geshka tampak marah dengan ekspresinya yang lucu itu. Rupanya dibalik kegilaan yang diciptakan oleh Geshka di lain sisi, dia juga punya keseriusan dan perhatian yang luar biasa untuk sahabatnya.
Ia pun segera memapah langkah kaki Valesha hingga terduduk di atas kursi makan.
Geshka tampak meletakkan tas miliknya di atas meja makan dan lekas membantu Valesha menata hatinya yang kalut.
"Valesha, jika kau mau pulang ke rumah ayahmu, aku sarankan lebih baik kau memang pulang, asal jangan mengatakan apapun tentang niat kepergian kamu ini, kalau kamu terus bertahan di sini, sama artinya dengan berlayar di lautan, tak tahu harus mengarah kemana, kamu jelas tidak tahu." Ucap Geshka sambil mengusap punggung Valesha dengan peduli.
Sekarang tampak wajah Valesha yang semula pucat mulai terlihat sedikit membaik, berona, dan yang pasti, dia kembali tersenyum pada sang sahabat.
"Terima kasih atas saran kamu ini, aku akan kembali, entah bagaimana aku harus menjelaskan semuanya pada ayah, tapi di sana ayahku juga sudah terancam nyawanya, dan aku harus mencegah semua kejahatan ini agar ayahku bisa selamat dari mautnya."
Tampak Valesha yang tersenyum jauh lebih baik dari sebelumnya, menatap ke arah Geshka dan kemudian kembali menatap ke arah meja kosong di hadapannya.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan sesuatu yang membuat aku tidak bisa melangkah pergi? jeratan yang aku sendiri tak tahu apa ini, bagaimana aku bisa memastikan kalau aku benar-benar lepas dari jeratan ini?
...----------------...
"Satu penyuntikan lagi, Tuan Wishnu kemungkinan akan tewas, dan penyuntikan itu akan dilakukan besok pagi, jadwal seperti biasa." Ucap seseorang pada orang yang lain yang tengah terduduk di atas kursi kebesarannya.
Orang di atas kursi kebesarannya terlihat menyunggingkan senyuman licik di bibirnya, mengetuk pegangan kursinya dengan jari jemarinya yang terlihat menua.
"Baguslah, aku mau mendengar kabar baik selanjutnya, setelah dia berhasil mati, aku akan datang dengan air mata buayaku di depan semua orang, atau mungkin, aku akan menendang jasadnya keluar dari rumah itu."
Dia terlihat kembali tersenyum licik, dengan bibirnya yang merah merona, ditambah di pipi kanan kiri yang mulai terlihat keriput, meski begitu dia masih terlihat begitu muda.
...----------------...
Semilir angin sepoi-sepoi terasa menusuk sekujur tubuh, hingga badan yang berbalut jaket berbulu pun tak bisa melindungi dirinya dari hawa dingin nan menusuk tajam ini.
Ia bahkan tak bisa bergeming sedikit saja dari tempat duduknya di taksi yang dia tumpangi. Hanya sesekali kepalanya mengarah keluar jendela, dan menatapi gemerlap lampu-lampu jalanan kota yang terlihat sangat ramai, berhias bintang-bintang bertaburan di atas angkasa.
Namun dia tak juga tersenyum meski telah mendapati keindahan yang tidak ada duanya itu. Dia hanya terlihat menatapnya dengan sorot mata yang dalam. Dia memang tidak tengah serius menatapi bintang-bintang di langit, matanya memang menuju ke sana, tapi otak dan pikirannya, menuju pada satu hal yang lain.
Satu hal yang bukan termasuk sebuah kekaguman, satu hal yang lebih tepatnya seperti halnya warna abu-abu, yang tidak bisa dijelaskan, seperti apa itu.
Antara harus berlanjut pergi ke kediaman ayahnya, tapi hatinya yang sudah terlanjur kecewa juga tak bisa berbohong, dia masih menginginkan keberadaan Axelo, seorang pria yang bahkan sudah dia dengar mengkhianati dirinya.
__ADS_1
Atau mungkin dia yang sudah terlanjur jatuh dalam kekecewaan dan tidak ingin lagi kembali kesini...
Arkh!
Mengambil keputusan ini sungguh sangat menyulitkan. Terlebih lagi dia hanya seperti patung yang dipindah ke sana dan kesini, namun jiwanya tetaplah patung.
Dia tak bisa memungkiri, di dalam kekecewaan yang besar itu, dia masih mencintai Axelo. Dia tetap mencintai pria itu sampai kapanpun juga..
Tapi dia juga tak mau dibodohi dengan kata cinta yang dia ucapkan. Sekarang sudah dia ketahui kalau semua ini ulah Axelo, lalu apa gunanya dia mengatasnamakan cinta untuk bertahan?
Hal yang dari dulu ingin sekali dia ketahui, hal yang sejak dulu menjadi pertanyaan dalam benaknya, bagaimana cara virus itu masuk, siapa pula yang telah memberikan virus itu untuk ayahnya, akhirnya sekarang semuanya telah terjawab.
Meski sejujurnya dia juga masih meragukan kenyataan yang dia dengar, tapi tak ada salahnya juga kalau dia pergi untuk memastikan semua ini.
Dulu dokter yang mengobati ayah mengatakan kalau virus itu masuk melalui makanan atau minuman, sementara aku sudah memecat semua karyawan lama yang ada di tempat itu, dan mengganti semuanya yang baru, kondisi ayah memang masih tetap saja sama, tapi setidaknya hal itu tidak membuat ayah kenapa-kenapa.
Lalu apa mungkin kondisi ayah yang tidak kunjung sembuh ini juga karena efek virus yang masuk dulu, atau sekarang pun, virus itu masih saja masuk ke dalam tubuhnya melalui seseorang?
Pikirannya bertambah runyam, berpikir bagaimana selanjutnya ini akan dia hadapi, sementara kejelasan tentang semua tebakan dalam otaknya pun belum sepenuhnya dia menerima jawabannya.
Lalu jika sudah begini, apa dia masih bisa untuk tidak mencurigai Axelo? sementara yang dia tahu adalah, selama ini Axelo bahkan selalu saja memiliki kekuasaan yang meluas, dengan anak buah dan Intel yang bahkan tidak pernah dia ketahui dimana saja Axelo mengerahkannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1