
"Mommy, tunggu. "
Langkah kaki kedua orang tua Edwin kini terhenti seketika, saat Edwin memanggil keduanya.
" Kenapa kalian pergi terburu-buru sekali, padahal aku masih rindu kebersamaan ini, " ucap Edwin membuat kedua orang tuanya, tersenyum tipis.
" Maafkan, Mommy dan Deddy kamu ya sayang, nanti kalau urusan kami berdua selesai di kantor, kami akan menjenguk kamu lagi, " balas Lorenza yang sudah tak sabar ingin keluar dari ruangan anaknya.
Edwin tak mengeluarkan satu patah kata pun, setelah sang Mommy bersekukuh keluar dari dalam ruangan Edwin.
"Kami pulang dulu ya. "
Edwin mengabaikan perkataan Sang Mommy, membuat Natasha yang melihat tingkah Edwin kini membulatkan kedua mata.
"Mereka orang tuamu, apa kamu tidak bisa bersikap sopan kepada mereka berdua?" pertanyaan Natasha membuat Lorenza kini menjawab, " Sudahlah Natasha Mommy tidak kenapa-napa dengan perkataan Edwin seperti itu. "
__ADS_1
"Tapi mommy?"
"Tak apa, Ya sudah kalau begitu kami berdua pergi dulu ya!"
Natasha menganggukkan kepala di saat kedua mertuanya pergi dari ruangan Edwin, " Sebenarnya kamu ini kenapa, tumben sekali kamu terlihat begitu kesal terhadap mommy kamu."
Edwin bingung, iya harus mengatakan cerita sebenarnya atau merahasiakan setelah operasi itu berjalan lancar.
Namun Edwin juga mengingat perkataan sang mommy, yang berucap, jika Natasha sampai tahu semua ini, Lorenza tak akan mau mengakui Edwin lagi sebagai seorang anak.
"Mm, iya juga sih. Tapi aku melihat kamu sangatlah berbeda dari sebelum-sebelumnya."
Jari telunjuk Edwin kini ia tempelkan pada bibir Natasha. " Itu hanya pikiran jelek kamu."
Natasha menyugingkan bibirnya, dimana Edwin merasa bersalah dengan apa yang terjadi. " Soal tadi, maafkan aku ya. Sebagai seorang suami aku tak berhak menyakiti hati dan perasaan kamu, harusnya aku lebih bersabar. "
__ADS_1
Natasha kini melebarkan bibirnya, menatap ke arah sang suami dengan tatapan penuh kebahagiaan, ia menyandarkan dagunya pada kedua tangan, " sudah. Jangan pikirkan lagi soal tadi, aku sudah memaafkan kamu, dan aku berharap sekali kamu tidak akan mengulangi kesalahan yang kedua kalinya. Marah secara tiba-tiba."
Menghela napas, awalnya Edwin ingin sekali membuat Natasha terluka. Namun semua itu tak bisa ia lakukan, setelahnya nasehat dari mulut sang mommy terlontar.
" Apa kamu tidak bisa mencari seorang pendonor yang ikhlas mendonorkan kerusakan dalam tubuhku ini. "
" Sekarang aku belum bisa Edwin, karena mencari seorang pendonor bukanlah yang mudah, Tapi kamu jangan kuatir, aku akan tetap mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan kamu. "
" Apa benar-benar tidak ada sekarang sekarang, aku tak masalah jika orang itu meminta uang banyak. "
" Aku sudah menggunakan cara itu, Tapi tetap saja tidak berhasil, tidak ada satu orang pun yang rela menukarkan semua dengan uang."
Edwin nampak kecewa dengan perkataan istrinya itu, menentukan wajah menenangkan perasaan yang tak karuan," aku sangat berharap sekali ada orang yang benar-benar peduli kepadaku dan mau menerima uang yang sudah aku janjikan untuk jasa mereka. "
Natasha kini memegang punggung tangan suaminya," kamu harus tetap sabar, aku yakin akan ada sosok seorang malaikat yang mau menjadi seorang pendonor."
__ADS_1
Edwin kini memperlihatkan senyuman tipisnya, ya benar-benar tak yakin dengan perkataan yang terlontar dari mulut sang istri. karena dia takut sekali Kehilangan orang yang sangat dan juga sayang.