
Selesai menangani sang suami, waktunya Sarah menghampiri anak satu satunya yang masih berada di kamar mandi.
Tok .... Tok ....
Ketukan pintu beberapa kali dilayangkan, " Natasha ayo, sudah jam berapa ini. "
Tak ada jawaban sama sekali, sampai akhirnya. Sarah nekad mendobrak pintu kamar mandi anaknya.
"NATASHA."
Berteriak Natasha tetap saja tidur di kamar mandi, sampai Sarah menuangkan percikan air pada wajah Natasha.
"Ahkkkkk ...."
Mereka berdua berteriak bersamaan. " Ya ampun mama. Ada apa?"
"Kamu masih tanya mama ada apa, hey Natasha, sekarang hari pernikahanmu, kamu harus bersiap siap mandi. Jadi cepat mandi!" Pekik mama muda itu, sembari berkacak pinggang mempelihatkan kemarahanya.
Menguap mulut beberapa kali, membuat Sarah mengambil sabun memasukkan pada mulut anaknya.
"Huek. Mam, ini kenapa sih, bisa bisanya berbuat jahat pada anaknya sendiri, kalau operdosis gimana?"
Sarah tak peduli dengan perkataan anaknya, yang ia inginkan saat ini Natasha sudah selesai mandi dan bersiap siap dandan untuk pergi ke acara pernikahannya sendiri.
"Operdosis kalau kamu makan, ya kalau di makan nggak bakal kenapa kenapa, palingan mabok sebentar dong. " ketus Sarah, seakan hilang rasa sabarnya sebagai seorang ibu, ingin sekali ia memukul anaknya itu.
"Aduhh. Memang ya, mama ini agak sengklek. " ucap Natasha, membuat darah Sarah seketika naik ke ubun ubun. " Cepat mandi, mau mama sembur badan kamu pake air. Hah. "
"Tidak mam, aku tidak mau. "
"Ya sudah makannya cepat mandi. "
"Hah, baiklah. "
Keluar dari kamar mandi anaknya. kini Sarah mendapatkan panggilan telepon dari Lorenza.
"Hah, si nenek peot lagi, ada apa dia nelepon. "
Mengangkat panggilan telepon "Halo. Ada apa?"
Sampai pertanyaan Sarah membuat Lorenza tak nyaman.
"Aku cuman ingin memberitahu kapan kamu datang ke gedung, ini sudah jam delapan. Aku dan Edwin sudah menunggu kalian dari tadi. Karena jika kalian sampai tidak datang, awas saja, bisa bisanya aku akan memberikan kalian perlajaran."
"Iya, iya aku tahu soal itu, jadi santai saja. Nanti juga kami akan datang ke gedung yang kamu katakan. "
"Ya sudah, awas saja kalau kamu sampai tak datang. "
Panggilan telepon kini dimatikan sebelah pihak, Sarah tampak frustasi dengan suami dan anaknya.
"Kenapa mereka lama sekali."
__ADS_1
Menunggu sudah hampir satu jam, Sarah datang dan berteriak." Papah. Natasha. CEPAT, KALAU KALIAN TIDAK CEPAT CEPAT, MAMA PASTIKAN .... "
Belum ucapan Sarah terlontar semuanya, kini Natasha dan juga Rudi datang.
"Kami sudah siap. "
Menatap dandanan Natasha, membuat Sarah tak bisa berkata kata, ia berusaha tetap tenang. Melihat jam sudah tidak ada waktu untuk mendandani anaknya.
Dengan terpaksa, Sarah membawa anaknya dengan keadaan tampak make-up.
"Ayo cepat kita berangkat. "
Semua menaiki mobil, dimana Sarah yang memegang stir agar mobil cepat sampai pada tujuan.
"Mama pelan pelan. Mama mau kita mati. "
Sarah mengabaikan perkataan suaminya, ia terus melajukkan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Mama. Please. Mama sudah gila ya. "
"KALIAN SEBUT MAMA GILA, SEMUA INI GARA GARA KALIAN, KENAPA LAMA HAH. KALAU SAJA KALIAN TIDAK BERLEHA LEHA MUNGKIN MAMA AKAN MEMJALANKAN MOBIL INI PELAN. "
Natasha dan Rudi saling menatap satu sama lain, mereka saling melempar kode jika Sarah sudah gila.
Dan pada akhirnya mereka sampai.
Tamu dan juga mempelai laki laki sudah menunggu kedatangan Natsha dari tadi.
Natasha dan kedua orang tuanya melangkahkan kaki, dimana Lorenza terkejut dengan penampilan Natasha, ia menarik tangan calon menantunya itu.
"Ini kenapa calon pengantin wanitanya belum di dandanin. "
Sarah malah tertawa, ia tak sempat mendandani anaknya sendiri, karena keadaanya yang begitu mendesak. Membuat Sarah dan Natasha berpenampilan apa adanya.
Pada akhirnya Lorenza membawa calon menantunya untuk berjalan lewat belakang, agar penampilan Natasha cepat di ubah.
********
"Kalian, tolong dandani pengantin wanitanya."
"Baik, nyonya. "
Penata rias dan Make-up mulai kompak mendandani calon pengantin, raut tak suka diperlihatkan oleh Natasha.
"Aduhh, apaan sih ini. " Gerutu Natasha, Sarah yang berdiri dihadapan anaknya kini berucap, " Natasha."
"Iya mam. "
Pada akhirnya Natasha menurut, ia mulai diam dan menuruti perkataan sang mama.
"Gimana sudah selesai?" Pertanyaan Lorenza membuat Sarah menjawab." Sudah. "
__ADS_1
Kini penampilan Natasha begitu berbeda, ia tampak begitu cantik.
"Waw, Natasha kamu sekarang begitu cantik. "
Natasha hanya tersenyum kecil, ia kurang suka mendapatkan pujian, dimana sang ibunda menyenggol tangannya. " kamu dengar apa kata calon mertuamu itu. Bilang terima kasih. " Bisik Sarah pada anak semata wayangnya itu.
Sekilas menatap kearah sang ibunda, menundukkan pandangan lalu berkata, " terima kasih atas pujiannya, tante. "
Lorenza mendekat, lalu memegang bahu Natasha, " ya sudah ayo, acaranya akan segera di mulai. "
"Iya tante. "
Natasha mulai dipertemukan dengan Edwin, dimana mereka saling menatap satu sama lain, terlihat raut wajah penuh kebencian diperlihatkan Edwin kepada Natasha.
"Apa lu liat liat?" tanya Natasha pada Edwin, dimana mereka kini berdekatan.
"Idih geer, siapa yang lihat kamu cumi!" balas Edwin, mendelik kesal. Ia fokus pada para tamu yang hadir di acara pernikahnya.
Natasha terlihat tak nyaman dengan pakaian pengantinnya. " Aduhh, mampus gue seharian pake ni baju pengantin, gatal ajrit s*l&ngk&ng@n gue." Gerutu Natasha dalam hati, ia terus mengatur napasnya agar tetal setabil.
"Heh, kamu ngapain. Berdiri yang benar, malu maluin, bentar lagi penghulu datang, " ucap Edwin, melihat tingkah Natasha yang terlihat aneh, dari tadi Natasha seperti anak cacingan.
"Dasar curut," gerutu Natasha, meremas kedua tanganya.
Pengantin kini dipersilahkan untuk duduk, karena acara ijab qobul akan segera dimulai.
Keduanya merasa tegang padahal mereka menjalankan pernikahan karena kesengajaan.
"Sudah bisa dimulai. "
Edwin mulai mendengarkan amil menuntunnya untuk mengucapkan ijab qobul, dimana ketegangan dirasakannya sendiri.
"Saya terima nikah dan kawinnya Natasha dengan mas kawin sebogkah kolor dibayar ngutang. "
Sontak semua terkejut dengan perkataan Edwin, apalagi sang ibunda, ia mendekat dan berkata dengan berbisik. " Edwin kamu jangan malu maluin mama dong. "
Natasha yang berada disamping Edwin sedikit menahan tawa.
"Maaf saya salah kata. " Perkataan Edwin membuat semua orang memakluminya, karena terlihat lelaki tampan itu tampak gugup.
"Ya sudah bisa kita mulai lagi. "
Satu kali pengucapan dan pada akhirnya, Edwin begitu lancar mengucapkan Ijab-qobul yang kedua kalinya. Pengantin wanita disuruh untuk mencium punggung tangan pengantin laki laki.
" Idih, ogah. " Gumam hati Natasha. Karena ia melihat bulu lebat di tangan Edwin, membuat ia bergidig ngeri.
Namun sang mama berusaha menasehati anaknya agar segera mencium tangan Edwin, " Natasha ayo. "
Karena tekanan dari sang mama, pada akhirnya Natasha menurut.
Sampai dalam hati berbisik, " ditangan bulu udah lebat ke begini, apalagi dibawah pusarnya. Ihhhh. "
__ADS_1