Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 87


__ADS_3

Sampai dari kejauhan, suara orang berlari terdengar oleh keduanya, Natasha dan Sarah tertawa terbahak bahak milihat sang papah ketakutan dengan keringat dingin mengguyuri wajah.


"Papa, setakut itu?"


Tanya Natasha pada Rudi, dimana lelaki tua itu memegang lengan istrinya lalu menganggukkan kepala.


Sarah yang melihat ketakutan suaminya hanya menyunggingkan bibir lalu berkata, " idih penakut."


Rudi merasa terhina dengan ledekan suaminya, ia hanya duduk melipatkan kedua tangan. " Tega benar papah ngeledek mama kaya begitu."


"Siapa yang tega, nggak juga tuh. "


Sarah kini merangkul bahu anaknya, mengajak


Natasha untuk menunggu di kursi. " Ayo sayang, kita duduk saja di kursi, mama pegel nih. "


"Ayo, mah. "


Natasha berjalan memegang tangan Sarah, dimana mereka duduk, sedangkan Rudi merangkul kedua lutut kakinya. Ia merasakan hawa dingin menyeruak pada tubuh.


Menusuk pori pori kulit, " aduh dingin."


Rudi menggeser tubuhnya mendekat pada Sarah, ia perlahan membisikan ucapanya, " mah, dingin. Peluk donk. "


"Mm, ogah. "


"Lah, mama kok gitu. Kan mama istri papa, masa nggak mau dipeluk sih. "


"Ya bukan gitu, liat donk. Ini tempat umum. "


Natasha melirik sekilas kearah Rudi dan juga Sarah, terlihat mereka tengah berdebat dan tangan Rudi masuk ke dalam kain yang melapisi tubuh sang mama.


Natasha kini berpura pura batuk, membuat Rudi terkejut dan menghentikan aksinya.


"Huuk, huuk."


Suara batuk itu membuat keduanya terkejut, Rudi kini merebahkan tubuhnya untuk segera tidur.


Sedangkan Natasha yang melihat kelakuan kedua orang tuanya hanya menggelengkan kepala.


"Mama, papah. Di situasi sepi masih saja melalukan hal yang tak pantas. Hem, dasar mereka ini. "


Natasha melipatkan kedua tanganya, dimana Lorenza keluar dari ruangan, wanita tua itu memanggil Natasha.


"Natasha."


Panggilan dari sang ibu mertua seperti udara segar dipagi hari, karena ia berharap saat itu bisa melihat keadaan suaminya.


"Iya mom. "


Sarah hanya mengawasi gerak gerik Natasha, berharap jika Lorenza tidak melarangnya lagi untuk bertemu Edwin.

__ADS_1


"Bukannya, kamu ingin bertemu dengan Edwin."


Mendengar hal itu, Natasha menganggukkan kepala, " iya mom, aku rindu dengan suamiku. "


"Baiklah"


Natasha diizinkan masuk oleh Lorenza, dimana ia tampak senang dan juga bahagia.


"Ini benaran mom," ucap Natasha, membuat Lorenza tersenyum.


"Iya, hanya saja ...."


Deg ....


Ketika mendapat perkataan yang membuat Natasha ragu, membuat ia menundukkan pandangan. Dengan lancangnya langsung berkata, " hanya apa mom. "


Menghela napas berat, kedua bola mata sejenak melihat ke atas, sepertinya Lorenza tengah menahan air mata.


Wanita tua yang baru saja menenangkan dirinya itu, memegang bahu Natasha dan berkata, " kamu harus kuat jangan putus harapan dengan anak mommy. "


Natasha hampir menduga suatu perkataan yang kurang menyenangkan akan di dengar olehnya, tetapi pada kenyataanya tidak.


Menghembuskan napas, " mommy, tenang saja, aku akan selalu mencintai dan menyayangi Edwin bagaimana pun keadaanya, karena dia orang yang paling aku cinta. "


"Syukurlah kalau begitu, " balas Natasha pada sang ibu mertua.


Natasha perlahan masuk dengan perasaan tak karuan hati yang sulit di artikan oleh dirinya.


Kedua mata berkaca kaca, terasa tak sanggup lagi , sampai Lorenza datang mendekat, " jika kamu ingin menangis, menangislah dan katakan apa yang ada dalam hatimu itu untuk Edwin.


Mendengar perkataan Lorenza pada akhirnya, tangisan yang sengaja ia pendam keluar sudah.


Berlinang sampai mengalir pada pipi kiri dan kanan Natasha.


Bibir tebal yang Natasha milikki, berusaha Natasha dekatkan dengan telinga Edwin, perlahan sampai dimana Natasha berkata. " Kamu harus sembuh Edwin, aku munggumu saat ini. Aku tak akan meninggalkan kamu, walau bagaimana pun keadaanmu."


Natasha mengusap pelan kepala Edwin, mencium beberapa kali kepala suaminya itu, hatinya benar benar rapuh, seperti kehilangan sesuatu pada lubuk hatinya paling dalam.


Meraih punggung tangan suaminya, lalu berkata, " Apa yang kamu rasakan saat ini Edwin. Kenapa kamu tidak menjawab perkataanku. "


Natasha merasa lemas, hatinya tak karuan, apa yang harus ia katakan lagi pada suaminya, agar Edwin bangun.


"Edwin, bukannya kamu ingin memeliki bayi mungil dariku, jika iya. Bagunlah, aku akan menuruti keinginanmu. "


Lorenza yang melihat pemandangan itu, hanya bisa menahan isak tangis dan tak ikut campur.


"Kamu ingat nggak saat kita pertama kali menikah kita sering berantem, hanya karena hal sepele. Saling meledek. "


Edwin tetap menutup kedua matanya, ia masih tak percaya dengan apanyang jika suaminya tak mendengarkan perkataanya.


"Edwin, ayo donk buka matamu. "

__ADS_1


Beberapa kali memanggil nama Edwin, tetap saja Edwin tak membuka matanya sama sekali.


Natasha berusaha tak putus asa, hingga dimana Lorenza mendekat dan memegang bahu menantunya.


"Natasha sudah ya, kamu sekarang istirahat, mommy tak mau lihat kamu kelelahan, mommy ingin nanti pagi kamu terlihat pres ya sayang. "


Natasha melepaskan tangan suaminya, ia mendekat pada Lorenza.


Perlahan memeluk tubuh mertuanya dengan erat, mencurahkan kesedihannya.


"Natasha berharap jika Edwin bangun setelah mendengar suara Natasha, tapi Edwin malah tertidur begitu nyenyak. "


Lorenza memegang pipi menantunya dengan berkata, " Mommy juga berharap seperti itu, tapi kita tak bisa memaksakan diri. "


"Apa yang dikatakan mommy memang benar, kita tidak boleh memaksakan diri. Semua sudah takdir dan kita harus menerima semua dengan ikhlas. "


"Sykurlah kalau kamu mengerti Natasha. Mommy dan juga Edwin beruntung sekali sudah mendapatkan kamu."


Mendengar hal itu Natasha bisa tersenyum, ia mengusap pelan air matanya yang terus mengalir membasahi pipi. " hapus air matamu, jangan sampai Edwin tahu dengan tangisan kita. "


Natasha, hanya bisa menuruti perkataan sang mommy, dimana wanita tua itu menyuruh menantunya untuk tidur di atas sofa ruangan Edwin.


Lorenza perlahan berjalan dan pergi dari hadapan Natasha. " Loh, mommy mau kemana? "


"Mommy, mau pergi keluar sebentar, perut mommy terasa lapar. "


Natasha mulai merebahkan tubunnya setelah kepegian sang mertua.


kedua matanya masih menatap ke arah Edwin yang terlihat berbaring di atas kasur.


"Edwin, aku akan selalu menemanimu di sini."


Sampai kedua mata itu, perlahan menutup. Natasha sudah terlelap dalam tidur.


"Natasha."


"Natasha."


Natasha terbangun, ia mengucek ngucek kedua matanya melihat sosok lelaki yang membangunkannya.


"Natasha."


Natasha seperti mendengar suara yang tak asing pada kedua telinganya, sampai di mana ia melihat ke arah kiri, terkejut bukan main.


sosok lelaki itu ternyata Edwin, dia berdiri di samping kiri Natasha dengan tersenyum dan wajah bercahaya, pakaiannya tak seperti dipakai saat Edwin tertidur di rumah sakit.


"Edwin."


Edwin terlihat begitu tampan sekali, di mana ia menatap wajah Natasha dan tersenyum lebar, " Edwin, benarkah ini kamu. "


Natasha memeluk tubuh Edwin dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2