
Brakkk ....
Tubuh Sarah tak sengaja beradu dengan Rudi, karena memikirkan hal yang tak harus ia pikirkan.
Wanita yang menjadi mama muda itu terkulai lemah di atas lantai.
Tangan kanan kini memegang kepala, merasakan rasa sakit yang luar biasa. Bangkit seraya membentak pada lelaki yang menjadi suaminya itu. " Papah ini kalau jalan pakai mata. "
"Apaan sih mama ini, dimana mana jalan itu pake kaki bukan mata, mama ini aneh. "
Sarah mengerutu kesal dihadapan suaminya, ia ingin sekali memukul wajah suaminya itu, dan menendang pisang kecilnya itu.
"Apa liat liat. "
Rudi malah mendelik kesal, ia memajukan bibirnya lalu pergi dari hadapan Sarah.
"Papah, mau kemana?"
"Ke surga!"
Mendengar hal itu membuat Sarah mengerutu kesal, " dasar laki peot. "
Rudi yang mendengar perkataan istrinya, kini datang dan berkata, " apa tadi kamu katakan?"
Sarah berusaha menutup mulut, berpura pura tak menatap sang suami. " Apaan sih, nggak ada apa apa. Perasaan papah saja. "
Rudi terlihat cuek kepada Sarah, hingga lelaki tua itu pergi dari hadapan istrinya.
*******
Sarah yang melihat hal itu, membuat ia tak peduli. Sarah pergi dengan raut wajah merahnya memikirkan sang menantu.
Saat sampai di dalam kamar, Sarah terkejut ia baru saja menyadari jika Rudi ada di rumah. " Bukannya tadi suamiku bilang pergi keluar kota, tapi sekarang tiba tiba ada di rumah. "
Penasaran membuat Sarah bergegas pergi menghampiri Rudi yang pergi keluar rumah.
"Papah, tunggu. "
Rudi membalikkan badan dan bertanya?" ada apa, mah."
"Bukannya tadi papah bilang pada mama mau pergi keluar kota, lewat telepon, tapi sekarang sudah ada di rumah saja!"
"Ya kebetulan sekali, tadi ada barang papah yang ketinggalan jadi papah pulang dulu, karena barang itu penting sekali. "
"Kok, nggak ngabarin sih. "
"Ngapain ngabarin mama, toh mama cuek gitu. Nggak mentingin papah sama sekali. "
"MM, ya deh. Mamah ngaku salah, soal kemarin malam. Ya kan mama lagi cape. "
__ADS_1
"Alasan aja, dari kemarin alasannya cape."
Terlihat raut wajah Sarah, tampak kebingungan setelah mendengar perkataan sang suami.
"Ya elah papah, sudah ah. Malas mama dengarnya. Sekarang. "
Sarah tiba tiba saja menyodorkan telapak tangannya. Rudi yang melihat telapak tangan sang istri langsung menciumnya.
"Dah."
"Idih, apaan sih pah. Bukan di cium tapi diberi pulus. Apaan dicium emang bikin kenyang. "
Rudi tampak cuek, dia masuk ke dalam mobil. Dimana Sarah mengedor gedor kaca mobil suaminya.
"Papah, ini gimana sih, buka dong. Masa sama istri sendiri pelitnya kebangetan. "
Rudi hanya bisa mendengarkan musik dengan mengunakan hadsetnya, ia malas mendengar keluhan istrinya yang selalu meminta uang dan uang terus menerus.
Sedangkan napsu birahinya selalu diabaikan Sarah.
"Kenapa dengan Sarah yang sekarang, perasaan dia berubah semenjak si otong mengkerut. "
Gumam hati Rudi.
Sarah tetap mengedor gedor pintu mobil suaminya, ia belum mendapatkan jatah uang yang ia inginkan.
Rudi kini membuka kaca mobilnya, dimana Sarah terlihat kesal. " Rudi, mana jatah uangku. "
Rudi hanya tersenyum tipis ia kini menjawab. " Nggak ada. "
Sarah kini berkacak pinggang dan merasa heran akan perubahan suaminya, "Loh, gitu sih. Pokoknya kamu harus memberikan aku uang. "
"Nggak ada, jadi maaf ya. Sayang. "
Rudi menyuruh sopir untuk segera menjalankan mobil agar segera pergi dari hadapan Sarah.
"Jalan pak. "
Sarah merasa terabaikan saat itu, ia hanya bisa menatap mobil suaminya pergi.
"Rudi."
Sarah berteriak memanggil nama suaminya. " Rudi. Kamu benar benar tega ya. "
Sarah mengira jika uang akan diteransper saat itu juga, tapi sayang Rudi mengabaikan keinginan Sarah.
"Kenapa sih dengan tua bangka itu, bisa bisanya dia mengabaikan jatah bulananku. Kurang ajar. "
Ponsel Sarah kini kembali bergetar, dimana satu pesan datang dari seorang lelaki yang baru tadi pagi meminta nomornya.
__ADS_1
"Perwira ada apa lagi dia mengirim pesan kepadaku. "
Membuka layar ponsel, melihat isi pesan dari Perwira. (Bagaimana acara nanti malam, apa kamu mau datang?)
Sarah tak menduga jika Perwira masing mengharapkan kedatangannya malam ini, padahal Ia baru saja ingin menolak permintaan Perwira untuk menemuinya nanti malam.
Karena Sarah hari ini merasa kesal dengan sang suami, pada akhirnya ia membalas pesan dari perwira.( Baik, nanti malam aku akan datang, hanya saja ....)
Perwira melihat pesan yang belum terucap dari Sarah, sampai dimana ia bertanya. ( Hanya saja kenapa?)
Ada rasa malu menyelimuti hati Sarah. Ketika ia menginginkan sesuatu saat meminta kepada Perwira.
(Ngomong saja kenapa?)
Sarah kini diberi kesempatan untuk mengatakan keinginannya, sampai ia memberanikan diri membalas pesan dari Perwira. ( Aku tak memiliki uang untuk membeli baju dan alat make-up lainya, kalau nanti ketemu laki laki tampan kaya kamu, pas aku nggak dandan rasanya malu deh. )
Sontak Perwira terkejut dengan keinginan Sarah yang secara tiba-tiba,( Wah, kasihaan sekali kamu, memangnya Rudi tidak memberikanmu uang?)
Pertanyaan Perwira membuat Sarah malu, sampai ia berani mengungkapkan semuanya di hadapan suami orang lain, tak peduli jika Perwira mentertawakannya.
Karena bagi Sarah apa yang ia katakan adalah sebuah kenyataan dan juga sebuah fakta yang ia alami saat ini.
(Tidak, Rudi tiba-tiba saja pelit kepadaku. Entah kenapa ia berubah membuat aku menjadi kesal. )
(Kamu butuh berapa?)
Wanita mana yang tak terkejut mendengar seorang laki-laki menanyakan kebutuhan yang ia inginkan.
(Tidak lah. Aku tidak mau jika nanti kamu mengatai aku kalau aku ini wanita matre.)
Perwira malah tertawa setelah mendapat balasan pesan dari Sarah, niat isengnya untuk mendekati Sarah semakin menggebu-gebu pada hatinya.
Perwira terlihat penasaran sekali dengan wanita yang dulunya jelek sekarang berubah menjadi cantik.
( Aku tidak pernah menganggap seorang wanita yang meminta uang ataupun aku berikan uang itu adalah wanita matre. Sebagai seorang lelaki wajar saja aku memberikan apa yang aku punya, karena menginginkan seorang wanita bukanlah omong kosong belaka melainkan pembuktian. Jadi katakan saja berapa yang kamu butuhkan saat ini, segera mungkin aku akan mentransfer uang yang kamu inginkan. )
Sarah yang membaca balasan pesan dari Perwira membuat ia takjub, lelaki yang dulu sangat ia cintai. Ternyata begitu baik hati dan juga royal terhadap orang lain.
Kalah dengan Rudi yang selalu memberi uang ketika Sarah meminta.
(Mm, kamu ternyata baik banget. Sebenarnya aku membutuhkan uang hanya sekitar dua puluh juta saja.)
(Baiklah, aku akan mengirimnya saat ini juga, tadi coba kamu kirimkan nomor rekening kamu. )
Sarah. dengan begitu sigapnya mengirim nomor rekening pada Perwira.
Terlihat raut wajahnya nampak ceria, karena sebentar lagi menunggu transferan uang dari Perwira.
"Aku benar benar nggak sabar. "
__ADS_1