Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 15


__ADS_3

"Apa kamu bilang, hah. Jangan seenaknya ya," cetus Sarah, menjambak rambut Lorenza dengan kedua tangannya.


"Ahk, lepaskan. Ini menyakitkan," rengek Lorenza berusaha menjambak balik rambut Sarah.


Namun tenaga Sarah begitu kuat, membuat Lorenza terjatuh keatas lantai, " begitulah kalau sudah nenek- nenek, pasti kalah sekali di tendang."


Lorenza berusaha berdiri untuk menghadapi Sarah yang memang tenaganya begitu kuat. " Waw, masih punya nyali kamu?" tanya Sarah pada sang sahabat.


Lutut terasa bergetar, saat menatap kearah Sarah, dimana wanita tua itu, ingin memukul Sarah.


Namun tangan tertahan, " sudahlah, akui dirimu. Kalau kamu memang lemah. "


Tubuh lemas Lorenza tak sanggup lagi melawan Sarah, dimana wanita muda yang menjadi ibunda Natasha itu meraih gaun untuk segera membayarnya.


"Saya beli gaun ini. "


Memberikan kartu debit yang ia punya, dimana Lorenza mengambil kesempatan, menarik rok pendek Sarah hingga rok itu melorot.


Tawa keras Lorenza membuat kedua pipi Sarah memerah, dimana wanita tua itu berkata, " Wajah gelowing, keliatan awet muda. Eh bokongnya item kaya bokong panci."


Membenarkan rok, Lorenza kini berucap kembali, " Iw, iw, banyak kurap lagi."


Lorenza terlihat begitu tak mau kalah, ia sedikit mengangkat rok pendeknya dengan berkata, " Aku kaya nenek-nenek, liat tuh tetap mulus."


Sarah hampir hilang kesabaran, ia mengambil barang yang sudah ia beli, lalu meninggalkan Lorenza begitu saja. " Dasar tidak tahu malu. "


"Huh, pergi kan, baru tahu rasa. Makanya jadi orang jangan sombong, wajah gelowing tak menjamin ********** mulus kaya, tetap aja ada kekuranganya, burik. " Cemoh Lorenza, mulai mengambil jas yang sudah ia pilih untuk Edwin.


"Cepat bungkus, ya. Mbak. "


"Baik, bu. "


Lorenza seakan tak puas dengan apa yang ia lakukan, dengan kejahiliannya. Lorenza menyusul Sarah.


"Heh, bokong katel. Kemana?"


Sarah tak mempedulikan teriakan Lorenza, ia pergi dengan menaiki mobil, " tunggu, kok aku kaya lihat sosok Natasha ya. "


Menggelengkan kepala, memegangnya, " apa aku salah lihat. "


Suara kelakson mobil terdengar, dari belakang punggung Lorenza, dimana suara Edwin memanggil sang ibunda. " Mommy. "

__ADS_1


"Edwin, kamu nyusul kesini?" tanya Lorenza terlihat senang dengan perubahan Edwin yang begitu peduli padanya.


"Ya dong, Edwin segaja. Jemput mommy ke sini, ada sesuatu yang ingin Edwin katakan!" jawab anak semata wayangnya itu. Terlihat begitu bahagia.


"Apa yang kamu ingin katakan?" tanya Lorenza mengerutkan dahi merasa penasaran dengan perkataan anaknya.


"Edwin nggak jadi nikahin Natasha, kedua orang tuanya tak merestui kita berdua!" jawab Edwin tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ia tampak tenang dari pada sebelumnya.


"Apa." Lorenza terkejut dengan perkataan anaknya sendiri. " Ini tidak bisa dibiarkan, kalau kamu tidak jadi menikah dengan Natasha, bagaimana kehidupan Natasha yang sudah bermain kuda kudaan itu bersama kamu?"


"Aduh, mommy, tenang saja, santai. Kita itu tidak main hal begituan kok, asli deh, suwer. Mommy dan Daddy hanya salah paham saja!" jawab Edwin, dihadapan sang ibunda.


" Edwin, tetap saja, kamu harus menikah dengan Natasha, karena Daddy kamu sudah mengurus pernikahan kamu seminggu lagi," ucap Lorenza, berusaha membuat Edwin mengerti. Wanita tua itu tak mau jika Perwira tahu, jika Edwin batal menikahkan dengan Natasha.


"Kenapa kalian malah memutuskan tanpa memberi tahu aku, seenak yang kalian mau, rasanya tak adil." balas Edwin, merasa kecewa dengan pernyataan sang mommy.


"Sayang, umur kamu sudah menginjak tiga puluh tahun, mommy dan Daddy sudah semakin tua. Kami ingin melihat kamu menikah dan memiliki anak, agar kami merasakan kehadiran seorang cucu dimasa tua kami, " ucap sang mommy menasehati anaknya.


Namun Edwin tetap keras kepala, tak mau mendengarkan nasehat sang mommy, ia tetap pada pendiriannya.


Mobil melaju untuk segera pergi ke rumah sakit, terlihat keduanya tak saling bicara, mereka seperti seseorang yang tak saling mengenal.


Setelah sampai di rumah sakit, " Mommy berharap kamu tidak memberitahu Daddy kamu masalah penolakan kedua orang tua Natasha, karena jika dia tahu, pasti Daddy akan kecewa pada kamu. "


Membuka ruangan sang suami, membuat Lorenza terkejut, karena di ruangan itu ada sang suster tengah berduaan dengan suaminya.


"Hm, kenapa kalian berduaan dengan pintu terkunci seperti ini. "


"Ehh, kamu ngomong apa sih sayang. "


Lorenza melihat ke arah suster itu, terlihat wanita muda itu seperti membenarkan rok pendeknya dan mengancing bajunya.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Lorenza dengan begitu tegas, ia memegang kepala yang tiba tiba terasa berdenyut kesakitan.


"Sayang kami tidak melakukan apapun, sumpah!" Jawab Perwira terlihat gugup, Lorenza melihat wajah ketakutan suaminya saat menjawab pertanyaannya.


"Tidak melakukan apapun. " Lorenza mengelap pipi sang suami yang terlihat ada bekas tanda lipstik.


"Warna lipstiknya sama seperti warna lipstik suster ini?" tanya Lorenza, membuat Perwira semakin gugup.


Suster itu mulai beranjak pergi dari hadapan Lorenza, dimana ia menahan tanganya lalu berbisik. " Temui aku nanti diluar rumah sakit, kalau tidak kubuat kamu tidak bekerja lagi di rumah sakit ini. "

__ADS_1


Mendengar bisikan Lorenza, membuat wanita muda bergelar suster itu menganggukkan kepala.


"Sayang, dia tidak salah apa apa?"


Lorenza duduk di samping kiri suaminya, ia menekan sang kepejakaan," memangnya kamu ini tidak ada puas puasnya. "


Memencet, membuat kedua mata Perwira berkaca kaca. " Aduh, sakit. "


"Baru di gini-in sakit, apalagi nanti kalau aku potong potong, dan kugoreng sampe berwarna kecoklatan, kuhidangkan saat itu juga pada sang suster yang tadi berduaan bersamamu. "


Deg ....


Jantung Perwira merasa tak karuan, beberapa kali menelan ludah merasa gelisah, akan perkataan sang istri. " kok kamu gitu sih sayang. "


"Sudah tua bukannya memperbaiki diri, malah semakin menjadi jadi. "


"Ya maaf, tadi cuman ingin liat tumpukan gunungnya, kali kali aja berbeda dari yang kamu punya. "


Mendengae perkataan Perwira, membuat Lorenza tampak bersedih, seketika ia memegang kedua pipinya, lalu melihat tubuhnya.


Memang perubahan Lorenza begitu tak terlihat menarik lagi, iya ingat akan perkataan Sarah, yang meledeknya seperti nenek-nenek.


" Jadi perkataan Sarah, tadi itu ada benarnya. "


Lorenza berlari pergi dari ruangan sang suami, ia menangis, dimana Edwin mengikuti langkah kaki sang mommy.


"Mommy."


Edwin terus berteriak memanggil Lorenzo yang sudah pergi jauh dari hadapannya.


"Ya elah, Daddy ada ada aja. Ngapai coba pake nyoba susu segar, kan mommy jadi kecewa. "


Menggaruk belakang kepala yang tak terasa gatal, Edwin kembali ke ruangan Perwira.


"Edwin, mana mommymu. "


Edwin menghebuskan napasnya, " Daddy ngapain coba pakai acara coba coba. "


"Daddy tadinya tidak berniat seperti itu, tapi suster tadi menawarkan dengan cuman cuman, ya sudah Daddy nikmatin saja, toh geratis. Tanpa dipungut biaya sepeserpun. "


Edwin mengusap kasar wajahnya, merasa kesal dengan lelaki tua yang ada dihadapannya.

__ADS_1


"Tapi nggak harus gitu juga kali. "


__ADS_2