Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 23


__ADS_3

Saat perjalanan menuju ke tempat tujuan , Natasha tetap mengerutkan bibir atas, bawahnya. Ia merasa kakinya tak karuan, karena memakai sepatu berhak tinggi.


"Natasha."


"Iya."


"Senyum dong sayang, bibirnya jangan kaya ikan ****** gitu ih, nggak suka mama lihatnya."


Natasha menatap kearah Sarah dengan tatapan kesal, " ikan ******? Halo, masa ia bibir tebal seksi seperti tersengat lebah ini di sebut seperti ikan ******, aduhh mah, nggak benget deh. "


Rudi yang mendengar perdebatan keduanya hanya menggelengkan kepala, lalu berkata, " sudah sudah, kalian ini selalu saja bertengkar. Bukannya saling memahami satu sama lain, jangan malah bertengkar terus menerusan . Kaya monyet sama Anjing saja. "


"Papah, bilang kami berdua kaya monyet dan Ajing, lantas papah apa? Gorila, " balas Sarah memperlihatkan raut wajah kesalnya.


Rudi menatap perlahan wajahnya, pada kaca yang tak jauh dihadapannya, " mm, papah nggak kaya Gorila tuh, kalau diliat liat kaya artis korea, namanya Lim tikusruk. "


"Apa pah?" tanya anak semata wayangnya itu, mendengar nama artis korea yang disebut sang papah.


"Lim tikusruk!" jawaban sang papah membuat kedua wanita yang berada dibelakang tempat duduknya tertawa kencang.


"Papah ini ada ada aja, mana ada artis korea namanya Lim tikusruk, ngaco. Yang ada papah tuh artis korengan. " cetus Sarah, meluapkan kekesalanya.


Rudi mengusap perlahan rambut depan kebelakangnya. " Loh, kalian ini tidak tahu ya, para karyawan papah selalu memuji ketampanan papah. Kata mereka papah seperti bintang film yang ada di channel ikan terbang. "


Keduanya saling menyungingkan bibir ke atas, " alah mana ada, papah ini udah peot, si otong udah mengkerut juga, masih mau disamain kaya bintang film, palingan bintang film disenetron azab. "


Mendengar perkataan istrinya, membuat Rudi mengusap pelan dadanya, " aduhh, mamah kok ngomongnya gitu, harusnya sebagai istri papah. Mama itu senang dong, karena banyak yang suka sama papah. "


"Termasuk si Iyem, pembantu baru kita, bukan begitu pah?" Sindiran Sarah, membuat Rudi menelan ludah, kedua pipinya memerah.


"Mama kok gitu, kan si Iyem hanya mena .... " Belum perkataan Rudi terlontar semuanya, Sarah kini menimpal, " menawarkan apem hangat atau apem basah yang baunya kaya terasi!"


"Mama ini, " ketus Rudi, Sarah sosok seorang istri tak mau kalah dengan suaminya sendiri. "Apa, mau cari pembelaan, bahwa si Iyem tak salah."


"Mm, kalian ini kenapa malah ribut, maksud dari perdebataan kalian apa lagi, " timpal Natasha berpura pura polos.


Sarah kini memegang bahu anaknya, lalu berkata. " Sayang, jadi kamu tidak tahu namanya apem basah dan hangat, lalu kamu tidak tahu, bekakak ngangkang. "

__ADS_1


Natasha menggelengkan kepala dihadapan sang mama. Dimana Sarah menepuk jidatnya, " makanya cepat kawin, biar ngerti. "


"Apa sih mah, nggak jelas. Kagak nyambung, " balas Natasha melipatkan kedua tangannya.


"Memang Natasha, mama kamu ini selalu tak jelas kalau bicara, apapun di sebutin, memang mama kamu kurang waras. " Tegas Rudi.


"Papah."


Mendengar hal itu, membuat Sarah kesal, ia mengepalkan kedua tangan lalu berbisik dalam hati, " awas saja, aku tidak akan tinggal diam. Setelah pulang dari pesta, kukuliti otong kamu. "


Rudi sudah tak nyaman dengan tatapan istrinya yang terlihat pada kaca mobil, dimana ia seperti menyimpan dendam kusumat.


Mobil kini berhenti di tempat tujuan, mereka kini keluar dari dalam mobil untuk segera menginjakan kaki pada atas lantai tempat para Ceo berkumpul.


Sedangkan Natasha masih mengatur langkah kakinya, ia telihat kewalahan sekali.


"Mama, Natasha copot saja ya sendalnya. Nggak nyaman banget. "


"Eh, nggak boleh, masa ia kamu ke pesta nyeker. Apa nanti kata orang, mau kamu dibilang gembel."


"Ya elah mah, ribet banget sih jadi orang kaya, harus datang ke acara nggak jelas kaya begini."


"Idih mama, memang aku ini apaan, hah. Manusia jadi jadian. "


"Kamu itu bukan manusia jadi jadian, tapi manusia yang tak bisa di atur. Sudah jangan marah marah terus, sekarang kita cicipi makanan di sini, lalu temui beberapa rekan kerja papahmu. "


"Ya ampun mama. "


Natasha terlihat kelelahan, setelah berjalan menggunakan hak tinggi pada kakinya. Ia melihat ada taman di belakang gedung itu.


Mengambil makanan, lalu pergi ke taman yang ingin ia tuju. Natasha baru pertama kali melihat taman begitu terlihat indah dimalam hari, seakan ketenangan mengelilingi hatinya.


"Indahnya."


Tampak disadar Natasha, ia berjalan menginjak jalanan yang terasa licik. Sampai ..... " Ahkkk. "


Seseorang menahan tubuh Natasha, sampai ia perlahan membuka kedua matanya.

__ADS_1


"Kamu tidak apa apa. "


Natasha berusaha berdiri, dimana tubuhnya merasa tak seimbang. " Hati hati. "


Tersenyum lalu menjawab. " Terima kasih. "


Lelaki itu kini mengajak Natasha bersalaman," kenalakan namaku Alex. "


Natasha kini meraih tangan lelaki yang mengajaknya berkenalan, " Natasha. "


"Loh, kamu sendirian?" tanya Alex, mengusap pelan bahunya, ia menjadi salah tingkah melihat wanita cantik dihadapannya.


"Alex." Kedua orang tua lelaki itu memanggil, dimana Alex kini berucap, " aku tinggal dulu ya, kedua orang tuaku memanggilku."


Menganggukkan kepala dan menjawab. " Owh baiklah. "


Lelaki itu melabaikan tangan kearah Natasha, dimana Natasha berusaha membalas labaian tangan Alex.


Setelah kepergian lelaki bernama Alex, Natasha berusaha membersihkan tangan bekas sentuhan Alex. " Iw, iw. Karena mamah aku harus melakukan semua ini, bersikap anggun dan ramah jika bertemu orang di pesta. Menyebalkan sekali. "


Natasha kini meneruskan langkah kakinya, menuju tempat duduk yang ia idam idamkan saat pertama kali masuk gedung.


"Akhirnya aku bisa duduk juga menikmati pemandangan di luar ruangan. " ucap Natasha, melepaskan sandal berhak tinggi pada kedua kakinya.


Terlihat kedua kaki Natasha tampak lecet, ia belum terbiasa memakai sandal dan pakaian wanita. Membuat ia merasa tak nyaman sekali.


Menyandarkan punggung pada tiang, Natasha melihat bintang berkelap kelip, begitupun dengan bulan. "Nyaman, anginnya sepai sepoi, seperti menyuruhku untuk tidur. "


Natasha hampir saja menutup kedua matanya, terlihat ia kelelahan, " Heh, aku nggak nyangka banget ya bisa bertemu dengan wanita berwajah dempul terigu. Hahha. "


Natasha membuka kedua matanya, mendengar suara sang mama yang terdengar marah marah.


"Kaya dengar suara mamah ya, tapi dimana."


Natasha mencoba mencari sumber suara yang begitu percis dengan mamahnya sendiri.


"Berani kamu menyiram aku dengan jus, ini gaun mahal, kamu harus tahu itu, " ketus Sarah, dimana Natasha bangkit dari tempat duduknya mencari keberadaan sang mama.

__ADS_1


Saat menatap ke arah luar jendela, Natasha terkejut melihat sosok wanita tua yang menjadi ibunda Edwin tengah bertengkar dengan sang mama.


"Tunggu." Menepuk nepuk kedua pipi dengan tangan. " Apa ini mimpi, kenapa tuhan mempertemukanku kembali dengan ibunda Edwin, apalagi mama sekarang tengah membentak ibunda Edwin terang terangan di depan semua orang. "


__ADS_2