
Natasha melihat ke arah mobil, ternyata kedua Sarah dan juga Lorenza tengah mengobrol.
Tok .... Tok.
Ketukan pintu beberapa kali dilayangkan Natasha, sampai dimana Lorenza keluar dari mobilnya. " Natasha ada apa?"
"Mommy, apa kalian bisa menemani Natasha di ruangan Edwin!" Melihat permohonan Natasha membuat Sarah menganggukkan kepala.
Mereka berdua pergi menuju keruangan Edwin, terlihat Rudi tengah tertawa dimana Perwira berdiri dengan celananya yang basah.
"Aduhh, papih ini ngapain coba, malu maluin tahu nggak. "
"Semua juga gara gara mami sih, jadi papih begini. "
"Idih, malah nyalahin mami, papih yang salah. "
Rudi mendekat dan berkata, " sudah, jangan bertengkar. Nggak akan ada ujungnya, sebaiknya kamu cepat ganti celana kamu itu."
"Ya sudah, mami. Papih pulang dulu ya mau ganti baju. "
Rudi yang tak mau sendirian menunggu di rumah sakit, kini ikut bersama dengan Rudi.
"Heh, tunggu. Aku ikut. "
Sarah mendengar keinginan suaminya, kini berucap," tumben amat papah mau ikut. "
"Nggak ada teman di sini mah."
Karena merasa kasihan, akhirnya Sarah mengizinkan suaminya untuk pergi. " Ya sudah kalau begitu sana. Hati hati, jangan banyak tingkah. "
Rudi seperti anak kecil yang sedang dinasehati, membuat ia menggaruk belakang kepalanya.
*******
Mereka bertiga masuk ke ruangan Edwin, lelaki itu terlihat lemah tak berdaya, membuat rasa kuatir pada diri Sarah dan juga Lorenza.
"Kenapa Edwin tak sadarkan diri sampai sekarang ya. "
Keluhan Natasha membuat Lorenza mengusap pelan bahu menantunya. " Hanya sang maha kuasa yang bisa menentukan."
"Aku takut, tidak ada yang mau mendonorkan kerusakan pada organ tubuh Edwin. "
"Hust, jangan berkata seperti itu. Berdoa saja lah. "
Mereka duduk, mulai memposiskan diri untuk beristirahat sembari menunggu kesembuhan Edwin. Terlihat Natasha dari tadi melamun terus sembari menatap wajah suaminya.
__ADS_1
"Sudah jangan memikirkan hal yang malah mengganggu pikiranmu Natasha, mama tahu apa yang kamu rasakan, sekarang kamu harus banyak banyak bersabar. "
Mendengar nasehat dari sang mama membuat Natasha hanya menganggukkan kepala. " Aku sedang berusaha mah."
Obrolan yang semakin larut, membuat mereka kini tertidur nyenyak. Sampai pagi menjelang, Natasha sudah bangun, ia duduk di samping kiri suaminya.
Mengusap pelan jidat sang suami.
Lorenza yang melihat ketulusan hati menatunya membuat ia percaya jika hanya Natashalah yang tulus menerima Edwin dalam keadaan apapun.
Suara ketukan pintu terdengar begitu jelas, membuat Sarah membuka dan melihat siapa yang datang, dan betapa terkejutnya ia sosok itu ternyata adalah Nadia.
Entah maksud apa ia datang dengan menangisi Edwin, dimana Lorenza terkejut dan bertanya. " Nadia, apakah itu kamu. "
"Ahk, iya tante ini aku. "
Semakin ke sini, semakin banyak wanita yang mendekati Edwin, apalagi ketika Edwin dalam keadaan kristis di rumah sakit.
Seperti sebuah peluang untuk wanita wanita itu menunjukkan rasa simpati mereka.
Natsaha yang melihat kedatangan Nadia, membuat ia geram dan ingin mengusirnya saat itu, tapi hatinya berkata lain. Ia berusaha menghormati sang tamu karena ada mama mertua.
"Nadia sekarang kamu pakai hijab."
Natasha semakin jijik dengan kemanjaan yang diperlihatkan Nadia pada ibu mertuanya.
"Sialan, nggak ada pantas pantasnya bersikap sok baik dan anggun. " Gerutu hati Natasha, ketika menatap ke arah Nadia.
"Hai, Natasha. Apa kabar?"
Natasha hanya menyapanya dengan tatapan sinis!" baik. "
Nadia yang terlihat penasaran kini mendekat, dimana Natasha berkata, " jangan terlalu dekat."
Mendengar hal itu, siapa yang tak kesal, membuat Nadia melirik ke arah Lorenza, seperti membuat kode agar Nadia bisa dekat dengan Edwin.
"Natasha aku hanya ingin melihat Edwin, kenapa kamu begitu pelit," ucap pelan Nadia, membuat Natasha mengepalkan kedua tanganya.
"Karena dia suamiku, bukan suamimu, aku tak sudi jika orang yang menjadi miliki di sentuh oleh wanita seperti kamu yang, hemm. Aku rasa tak pantas. "
"Sialan juga kamu ya, kalau bukan karena ada Tante Lorenza di sini. Sudah kubanting kamu."
Natasha menangapi semua itu hanya dengan senyuman lebarnya. Dimana ia menunjukkan ponsel yang baru saja merekam suara Nadia.
"Licik kamu Natasha. "
__ADS_1
Natasha malah mengedipkan sebelah matanya, " siap siap saja di usir sama ibu mertuaku. "
"Hentikan, jangan lakukan itu. Aku tak suka. "
"Makanya jangan sok kecentilan, duta ee ayam."
"Sialan."
Nadia terlihat geram, ia menggerakan kakinya menahan rasa kesal dimana Lorenza berkata. " kamu kenapa, Nadia."
Nadia berhenti dari gerakan yang berulang ulang ia lakukan, " tidak kenapa kenapa tante, hanya kesemutan saja."
Suasana menjadi hening, dimana Natasha mengabaikan Nadia, ia seperti enggan mengajak mengobrol wanita berhijab itu.
"Padahal kemarin Edwin tidak kenapa kenapa tante, baru saja Nadia mengajak dia menggobrol."
Mendengar hal itu, membuat Natasha geram, wanita yang berada dihadapannya sok carmuk kepada ibu mertua Natasha.
"Idih, gila aja si Nadia ini, sok kecentilan dan sok cari muka. Kesal aku lihatnya."
Natasha berusaha tetap tenang, tidak mengandalkan emosinya yang terus meluap-luap karena melihat tingkah Nadia.
"Mm, tante juga tak menyangka jika Edwin akan bernasib seperti ini Nadia. Padahal Natasha sekarang tengah mengandung Edwin."
Deg ....
Betapa terkejutnya Nadia mendengar perkataan dari Lorenza yang mengatakan jika Natasha tengah mengandung anak dari Edwin.
"Ahk, yang benar tante, kok aku baru tahu. "
Natasha yang geram mendengar jawaban dari Nadia kini menjawab, " biasa aja kali nanyanya jangan sok Kaget gitu."
Nadia berusaha merapikan kerudungnya berpura-pura tak memperdulikan perkataan Natasha." tante. Bolehkah aku menjaga admin di sini, aku kasihan terhadap Natasha kalau dia lagi hamil dan jagain Edwin di sini. "
Natasha ini menggerutu kesal di hadapan Nadia," Eh kamu itu bukan siapa-siapa suamiku ya, pake acara sok kasihan terhadap Edwin."
" Ya aku bukan siapa-siapa Edwin, tapi aku merasa kalau Edwin Itu keluarga bagiku dan juga tante Lorenza juga berasa aku menganggap dia sebagai seorang ibu."
"Ya elah, sok ngaku-ngaku lu, ngomong aja lu pengen dapetin Edwin kan?" Natasha tak segan-segan mengatakan yang malah membuat Nadia malu.
"Natasha aku ke sini itu datangnya berniat baik lho tapi kok kamu ngomongnya kayak gitu sih, kalau memang kamu tak suka sama aku yang ngomong saja jangan sampai menjelekan aku. " Nadia memperlihatkan raut wajahnya yang terlihat bersedih, membuat Lorenza hanya bisa terdiam.
" kalau kamu memang datang ke sini dengan niat baik, jangan kelihatan Carmuk lah di depan ibu mertuaku, Dari awal kamu datang ke sini itu yang kamu sapa itu Ibu Lorenza, sedangkan aku kamu anggap seperti angin berlalu. Hey ingat aku ini istri sah Edwin. "
Nadia berusaha mencari celah untuk bisa membuat Natasha tersalahkan," aku tidak ada maksud seperti yang kamu katakan Natasha?"
__ADS_1