
"Ayolah Edwin?" Apa kamu tidak tetarik dengan mama mertuamu ini?" tanya Sarah pada sang menantu. Tangan lembut dan berwarna sawo matang itu, terus memegang bahu kekar Edwin, dengan harapan menantunya itu luluh dengan godaan mau Sarah.
Melihat dandanan dan baju kurang bahan yang dikenakan mama mertua. Membuat Edwin beberapa kali menelan ludah, setiap lelaki pasti akan tertarik saat dihidangkan sebuah makanan pembuka, apalagi secara geratis dan pastinya akan menikmati itu semua.
Namun Edwin bukan termasuk lelaki yang mudah tergoda dengan pemandangan yang terlihat jelas di depan matanya. Edwin tidak biasa menjadi lelaki yang gampang celup sana sini, seperti teh manis yang sudah di aduk baru ganti lagi ke gelas yang lain, agar sari teh itu habis tak tersisa.
"Edwin." Tangan mulus sang mama kini menelusuri setiap tubuh Edwin, hingga berani memegang dada bidang yang berotot itu, dimana Sarah berhasil membuka kancing baju Edwin. Tanpa Edwin sadari.
Tangan bergetar, membuat Edwin berusaha keras mengontrol diri, agar ia tak mudah terpancing oleh setiap rayuan dan tangan halus sang ibu mertua.
"Huhhh, seksi. " ucap pelan Sarah dengan bibir merah penuh menggoda. Edwin dengan kesadarannya, mendorong kedua buah dada kenyal itu dengan telapak tangannya.
Sampai. " Aahk. "
Sarah terjatuh ke atas lantai, dengan posisi mengangkang.
Edwin menutup kedua matanya, karena sudah melihat ampem basah milik sang mama.
Berdoa dengan sepenuh jiwa, " menyingkir kamu setan laknat, bau terasi. Penggoda jiwa hati ini, agar aku tidak tergoda, walau mungikin sudah lihat, anggap saja itu ketersengajaan. "
Sarah kesal dengan perlakuan Edwin yang tak sopan kepadanya, berusaha bangkit menutup kedua buah dada yang besar itu.
"Kamu benar benar keterlaluan Edwin bisa bisanya mengabaikan apem basah ini, seharusnya kamu beruntung didekati mama muda seperti mama ini. " Mengerutu kesal, menatap tajam kearah Edwin yang masih menutup kedua matanya.
Edwin tak menjawab pekataan Sarah, dimana ia terus menerus membaca mantra mengusir setan.
"Pergi kamu. Menyingkir. "
Karena diabaikan begitu saja, Sarah membuka pintu yang ia kunci, pergi dari hadapan Edwin.
Sontak saat membuka pintu, Natasha sudah berdiri di balik pintu dengan meringis kesakitan, memegang telinga karena jeweran sang papah.
"Loh, mam, kok ada di kamarku?"
Pertanyaan Natasha membuat raut wajah Sarah terlihat muram.
Pergi begitu saja tak menjawab perkataan Natasha sama sekali, " mam, kok main pergi begitu aja."
Natasha terlihat kesal, ia menggenggam erat bajunya, lalu masuk ke dalam kamar. Terlihat Edwin masih menutup matanya dengan bibir terus mengucapkan suara doa doa.
__ADS_1
"Ngapain sih lu, baca yasin. Emang ada yang meninggal apa?" tanya Natasha, mendekat pada wajah suaminya.
"Menyingkir setan laknat, tak tahu malu. Jangan kamu goda keimanan ini!" Teriak Edwin, membuat Natasha memukul kepalanya.
Plakkk ....
"Sadar woy."
Edwin mulai membuka kedua matanya, ia sekarang melihat dihadapannya adalah Natasha.
"Lu kenapa? Hah. Sampe baca mantra keluar tuh jigong jigongnya. Masa ia dedemit bisa diganggu, sadar diri lu tuh setan, berwujud manusia. "
Edwin baru menyadari jika dihadapannya sekarang adalah Natasha, padahal belum lama sang mertua masih ada di sini.
Perlahan Edwin melihat baju suaminya terbuka, begitupun dada bidang yang terlihat begitu jelas, ia memegang kerah baju Edwin dan menariknya.
"Apa yang lu lakukan pada mama gue. Hah. Ber .... "
Belum perkataan Natasha terlontar semuanya, jari tangan Edwin mulai ia tempekan pada bibir tebal Natasha, " husst, aku tidak melakukan apa apa terhadap mama kamu. "
Menepis tangan Edwin, membuat Natasha membulatkan kedua matanya, telunjuk tangan kini menunjuk pada wajah lelaki yang kini menjadi suaminya. Cengkraman tangan masih dengan posisi yang sama, mencekram kerah baju Edwin yang terbuka lebar.
"Ya mama kamu aja yang .... Yang. "
Edwin kebingungan menjelaskan semuanya, takut jika perkataanya malah membuat Natasha salah paham.
Mencoba menjelaskan lagi, dengan berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
"Begini, tadi itu .... "
"Natasha." Teriakan sang mama mengagetkan Edwin. Mama muda itu tiba tiba saja masuk ke dalam kamar Natasha.
"Mama, kenapa?" tanya Natasha yang lebih percaya pada sang mama. Dimana mama muda itu mendekat dengan mata yang masih terlihat berkaca kaca.
" Ee, tadi itu kamu jangan kuatir ya. Edwin tidak melakukan tindakan yang tak baik kok sama mama, dia curhat. Bahwa mommynya mempunyai riwayat penyakit panu, ia bingung karena sang mommy selalu minta digaruk, Mama yang mendengarnya kasihan, karena Edwin lah yang selalu peduli pada sang mommy, kalau butuh di garuk tuh si panu!" jawab Sarah, membuat sebuah cerita palsu agar anaknya tak curiga sama sekali padanya.
"Owh, gitu, tapi bisa ya. Mommy lu yang kaya raya itu terkena panu, " ucap Natasha merasa aneh dengan penjelasan sang mama.
Apalagi Natasha melihat baju suaminya terbuka lebar.
__ADS_1
"Namanya penyakit, kapan saja bisa tumbuh. Kamu ini Natasha ada ada aja, " balas sang mama, tersenyum lebar. Berharap jika anaknya tidak mempertanyakan masalah tadi.
"Kalian kan baru tiga hari menikah, jadi mama tinggal dulu ya," pamit sang mama kepada kedua anak anaknya.
Sarah pergi sembari melabaikan tangan pada kedua anak anaknya, ia menutup pintu memegang dada dan bergumam dalam hati, " untung belum terlambat. " Memukul mukul kepalanya sendiri, berulangkali.
"Mama sedang apa di sini?" tanya Rudi yang tiba tiba saja berada dihadapan Sarah.
"Papah, eh. Anu, mama disini!"
Rudi yang mendengar perkataan istrinya, kini mengerutkan dahi, " kenapa?"
"Tadi itu mama cuman ngasih tahu mereka, agar bermain pelan!" jawab Sarah beralasan.
"Mama ini ada ada aja, namanya anak muda pasti heboh, dinesehatipun tak guna!" jawab Rudi, menarik tangan sang istri.
"Ayo mam, sini. "
Sarah merasa heran dengan perkataan suaminya, dimana ia di tarik untuk masuk ke dalam kamar.
"Ada apa sih pah?" tanya Sarah, melipatkan kedua tangan, sedangkan Rudi mempelihatkan senyumanya.
Rudi mengedipkan kedua matanya, memegang tangan sang istri, " selagi penganten baru lagi anget angetnya, gimana kita juga ehem, ehem. "
"Apa sih pah, ehem ehem. "
"Ya itu, kaya pengatin baru. "
Sarah menghempiskan tangan Rudi, hingga ia membelakangi tubuh suaminya itu.
"Engga ah, papah itu lemah. Enggak perkasa, mama mau tambah lagi, papahnya keburu letoyyyy. "
"Mama. Kok gitu ngomongnya, kan .... "
Sarah membalikkan badan, " dan apa. Hah. Masih mau mengelak."
Sarah mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia menutup badan dengan selimut, tak mempedulikan panggilan suaminya yang berulang ulang kali memanggil namanya.
"Sayang, mama. Ayo dong, Sarahku papa udah nggak bisa nahan. " Mengoyang goyangkan tubuh sang istri, tampak Sarah begitu cuek, tak mempedulikan suaminya sama sekali. "
__ADS_1