
Setelah membayangkan pernikahaan yang kini dijalani Natasha dan Edwin, tampak keduanya tak pernah akur. Mereka cenderung saling menyalahkan. Begitupun dengan sebuah perdebatan yang tak pernah usai. Terkadang membuat Natasha geram, karena dari dulu ia tak mengiginkan pernikahan ini.
Semua karena rencana Edwin, dia seakan membawa Natasha kejurang kesengsaraan. Padahal sudah bersi keras menolak, tapi Edwin terus memaksa.
Hari yang membosankan saat itu untuk Natasha, ia berencana keluar dari rumah untuk segera menghirup udara segar dipagi hari.
Saat Natasha mulai Keluar dari kamarnya, Edwin menarik tangan Natasha. " Aduhh. Sakit. " Menghepaskan tangan Edwin. Natasha terdengar merengek kesakitan karena perlakuan Edwin yang terlihat makin ke sini makin berani.
Edwin berusaha menjelaskan drama yang akan mereka mainkan agar terlihat begitu murni, seperti suami istri.
"Apaan sih lu, pake narik narik tangan gue. Sakit tahuuu. "
Edwin menyapit bibir Natasha yang sengaja ia moyongkan seperti ikan ******, " Mm. "
"Bibirmu ini kadang terlihat tebal, kadang juga terlihat tipis. " Ketus Natasha, melepaskan tangan Edwin dengan kasar. Natasha tak suka dengan cara dan prilaku sang suami yang condrong sedikit menyakitkan.
"Jangan kurang ajar lu, bisa bisanya. Tangan lu yang bau menyan ini berani memegang bibir seksi gue, " sergah Natasha membalas sindiran sang suami. Menunjuk nunjuk tangan Edwin.
"Apa maksud kamu bau menyan?" tanya Edwin terlihat bingung dengan perkataan Natasha yang terdengar aneh.
Baru kali ini ai mendengar menyan, padalah yang ia tahu hanyalah kemenyan.
"Ya elah lu, masa lu yang tinggal di rumah dengan dikelilingi hutan belantara, nggak tahu namanya menyan. Dedemit model apa lu!" jawab Natasha mengerutu kesal dihadapan Edwin. Terlihat amarahnya mengebu ngebu, membuat Edwin menatap tajam kearah istrinya.
Edwin yang melihat wajah Natasha tampak menggemaskan, membuat ia sengaja mencubit hidung mungil milik istrinya.
Beberapa kali hingga hidung mugil itu memerah.
"Hey, Natasha ini hidung apa gorengan terigu. Kecil sekali, bhahahha. "
Medengar perkataan Edwin membuat Natasha berucap, " idih, nggak ada lucu lucunya. Makanya cepat makan tuh makanan sesajen, jangan sampai makananya kamu habur haburkan
, biar otakmu itu jerni. Kagak gobl*k kaya sekarang. "
Natasha mempelihatkan wajah kesalnya, bibirnya cemberut. Membuat ia pergi dari hadapan Edwin, namun langkah kaki begitu cepat saat menyusul sang istri.
"Hey, apa maksud kamu berdiri di pintu, menghalangi jalanku saja, cepat minggir. "
Natasha berusaha menarik tubuh Edwin agar pergi dari badapannya, " hey. Cepat menyingkir. "
"Tidak akan, sebelum kamu berjalan dengan gaya mengangkang. "
__ADS_1
Sontak Natasha terkejut dengan perkataan yang terlontar dari mulut Edwin. " Kamu bilang apa tadi?"
"Kamu harus berjalan ngangkang. "
Natasha mendengar perkataan Edwin membuat ia tertawa. " Berjalan ngangkang. Hey, lu waras apa nggak sih, gue ini cewek. Ngapain pake acara jalan kaki dengan gaya ngangkang, emang gue itu cowok yang habis di sunat."
Edwin mengacak rambutnya dengan kasar, ia berusaha memikirkan cara agar istrinya itu mengerti apa yang ia katakan. Tanpa harus menjelaskan dengan begitu gamblang.
"Natasha ampem kamu itu sudah tumbuh bulu, tapi kenapa dengan perkataanku kamu tidak mengerti sama sekali. "
"Mm, heh lu kalau ngomong di jaga ya. Jangan asal ngomong, apem gue beda sama yang lain, nggak berbulu tapi berewok. Lu paham."
Perkataan Natasha semakin tak jelas Edwin dengar, membuat lelaki berbadan kekar itu menjelaskan semuanya.
Mengusap pelan keringat dingin pada jidatnya, " namanya malam pengantin itu, kamu tahu sendirikan. Selalu banyak drama yang diperlihatkan sang calon wanita."
"Mm, lalu. Apa urusannya dengan ngangkang. "
"Urusannya. Agar drama kita ini terlihat murni, jadi kedua orang tuamu percaya jika kita ini pasangan kekasih dulu. Kita harus mengatakannya pada mama kamu, kita sudah melakukan kewajiban suami istri di ranjang tempat tidur. "
"Jadi maksud perkataan kamu itu kuda kudaan?" tanya Natasha pada Edwin.
"Nah, itu. Jadi kamu pahamkan sekarang, apa yang aku katakan!" balas Edwin mengedipkan kedua matanya.
Mengibas ngibaskan tangan di depan wajah Edwin, Natasha kini berucap, " sudah selesai. "
"Sudah, jadi kamu jangan lupa apa yang aku katakan, oke."
Menghebuskan napas sembari memperagakan gaya ngangkang. Tampak Edwin tersenyum dengan menutup mulutnya.
"Kalau begini gimana?" tanya Natasha, terlihat gaya yang diperagakan olehnya seperti gaya orang yang tengah sembelit.
"Coba semakin lebar!" jawab Edwin, Natasha hanya menuruti perkataan sang suami.
Lebar dan semakin lebar gaya yang diperlihatkan Natasha. Membuat wanita yang kini sudah mempunyai gelar sebagai istri ceo terjadi.
"Duhhh .... "
"Lu, ya @j*ng b£r€ngs£k. Bisa bisanya ngerjain gue, sampe ambeyen gue pecah. "
"bhaaaaaaaa."
__ADS_1
Edwin tertawa begitu reyah, ia tak menyangka jika kejailannya itu berhasil.
"Syukurin, makanya jadi cewek tuh anggun dikit. Jangan galak galak kaya mak lampir. "
Menyunggingkan bibir atasnya, Natasha berusaha bangkit dari atas lantai. " Heh, lu nggak mau bantuin gue apa? Hah. "
Edwin tetap saja diam, mengbaikan perkataan Natsaha, " idih, malas banget. "
Lelaki bergelar seorang CEO itu pergi dari hadapan Natasha. " Hey, dedemit, juring. S£t@@@@@n."
Tetap ada jawaban dan rasa simpati pada diri Edwin untuk membantu istrinya itu.
"Selamat menikmati hari hari, gangkangmu Natasha. "
Setelah kepergian Edwin, Natasha terlihat kewalahan, ia berusaha bangkit dengan memegang clop pintu kamar.
"Aduhhhh duh, pinggangku. "
Natasha berusaha keluar dari dalam kamar, dimana sang mama bertanya. " Natasha kenapa jalan kamu ngangkang gitu, hah, apa ada yang sakit?"
"Aduhh!" Natasha berusaha tersenyum menghilangkan rasa sakit yang ia rasakan.
"Tuh kenapa merengek kaya begitu, mana yang sakit. Biar mama obatin, " ucap Sarah bergitu perhatian terhadap anak semata wayangnya.
"Enggak ma, hanya keseleo saja, " balas Natasha berusaha mengalihkan perkataannya.
"Keseleo apa kesenggol. " Timpal Rudi, membuat Natasha menatap tajam kearah anaknya.
"Maksud papah apa ya?" tanya Natasha terlihat kebingungan.
Rudi seperti sengaja membuat anaknya menjadi malu, " kalau wanita sudah bemain kuda kudaan terlalu heboh ya begitu, imbasnya pinggangnya sakit. Susah jalan. "
"Papah, ini sok tahu!" jawab Natasha seakan tak terima dengan perkataan Rudi.
"Ya papah sok tahu. Itukan rahasia penganten. " ketus Sarah memukul perlahan bahu suaminya itu.
"Ya benar papah ini emang ya nyebelin banget, anak lagi kesakitan bisa bisanya berkata seperti itu, bukannya di tolongin ini malah di tertawaain.
Gebl€k memang papah. "
Rudi kini berani memukul kepala anaknya, " berani kamu berkata seperti itu. "
__ADS_1
Natasha berusaha kabur dari kejaran sang papah, dimana tangannya memegang pinggang. Dan kakinya tetap nganggkang seperti kepiting.
"Natasha, sini cepat. Mau kemana kamu, jangan kaburr. "