
"Papah."
Mobil mengeluarkan asap, dimana Rudi dan juga Sarah keluar dari dalam mobil dengan bantuan orang orang yang melihat mereka.
Rambut lurus milik Sarah kini menjadi gimbal dan wajah menghitam, membuat Rudi tertawa terbahak bahak.
"Bhahah, kaya cepot. "
Duduk di atas rerumputan orang orang mencoba membantu keduanya, terlihat mobil mengeluarkan asap. " Ini semua gara gara papah, coba kalau papah nggak bahas batang milik si Perwira, mungkin tidak akan begini. "
"Ya elah mama, siapa suruh mama ngeledek punya papah, jadinya kan begini, papah emosi dan tak bisa kendalikan diri."
"Idih, papah yang mulai duluan, mama kan cuman berkata jujur dengan apa yang mama sampaikan."
"Oh, jadi mama nggak puas dengan batang milik papah?"
Sarah mengacak rambutnya kasar, ia kesal dengan sang suami yang tak mengerti mengerti ucapannya. " Ahk, sudahlah. Malas jika meladeni papah."
Orang orang saling berbisik dengan perdebatan kedua insan yang baru saja mengalami kecelakaan, mereka menggelengkan kepala di saat situasi menyeramkan datang di hadapan mereka beruda, keduanya malah terlihat begitu santai dan saling menyalahkan satu sama lain.
Rudi kini menelepon Natasha yang berada di rumah sakit, memberitahu bahwa dirinya mengalami kecelakaan.
"Papah mau telepon siapa?"
"Ya anak papah lah Natasha!"
"Ngapain nelepon Natasha, kasihan dia, toh kita nggak kenapa kenapa, hanya luka lecet saja. "
"Mending luka lecet, noh lihat. "
Rudi malah mempelihatkan kedua bok*ngnya yang terkena luka bakar, mempelihatkan betapa hitamnya bekas asap yang menempel.
"Kok, bisa. Gimana ceritanya?"
"Kalau nggak ngerti udahlah, jangan banyak tanya."
"Benar- benar ya, papah dari tadi nyebelin. "
"Idih, nyebelin. Mama kali, liat tuh muka udah kaya cepot hitam. "
Menyugingkan bibir, " Biarin, dari pada papah, bok*ng areng. "
"Issh, kurang ajar kamu jadi istri. "
"Lah, papah mulai duluan. "
Salah satu warga disana yang membantu Rudi dan Sarah kini bertanya, " jadi sekarang mau di bawa ke rumah sakit tidak?"
Keduanya menatap satu sama lain. " mm, ya iyalah, kami kesakitan gini!"
"Ya sudah saya panggilkan ambulan. "
"Cepat, " keduanya menjawab bersamaan.
"Makanya, jangan suka bahas barang orang lain, mungkin nggak bakalan kaya gini. "
__ADS_1
"Sudah, sudah. Papah malas bahas hal itu lagi. "
Rudi mulai bangkit dari tempat duduknya, dimana Sarah melihat celana Rudi robek parah.
"Papah, duduk. "
"Apan sih. "
"Aduhh, nih aki aki nggak nyadari diri apa, bisa bisanya tuh batang begelantungan, mana ada bijinya dua kelihatan lagi. Ahk, dibilangin kagak ngerti ngerti, apun deh. "
Semua orang menatap ke arah Rudi, mereka menahan tawa, dimana Sarah menarik tangan suaminya untuk duduk dan merapatkan kedua kaki.
Brukkk ....
Terjatuh, Rudi malah mengamuk di hadapan Sarah, " mama ini kenapa sih, sebegitu bencinya ya sama papah, tega teganya narik tangan suami. "
"Papih lihat, di bawah. "
"Apaan."
Sarah menunjuk nunjuk, sampai Rudi, menantap ke arah celananya sendiri.
"Astaga, gila bisa jadi begini ya. "
Menutup dengan kedua tangan. Kedua pipi Rudi memerah, ia menahan malu," pantas orang orang menatapku. Mm, aku kira mereka terpana dengan ketampananku, ternyata salah. Mereka melihat batang yang bergelantungan ini. "
"Heh, pah, sadar diri, sudah aki aki juga tuh batang udah mengekerut. "
"Dih, mengkerut juga kalau bangun keras mah, sampai bisa buat mama kelilipan. "
"Ih."
"Astaga, mama, papah. Apa yang terjadi dengan kalian berdua, kok bisa bisanya wajah kalian kaya areng gitu, hitam. "Teriak Natasha, datang ketempat dimana kecelakaan itu terjadi.
" Ya elah, Natasha, jangan shock gitulah. Kami hanya uji nyali saja. " Ucap Rudi dengan santainya.
"Kalian sadar nggak sih, nggak sayang sama nyawa sendiri?" tanya Natasha menatap heran kepada kedua orang tuanya.
Rudi dan Sarah saling menatap satu sama lain. " Kamu ngomong apaan sih, Natasha, sudah. Sekarang bantu mama papa ke rumah sakit. "
"Ya sudah ayo. "
"Tunggu, Natasha." Baru saja ingin membantu sang papah berdiri.
"Kenapa, pah?" tanya Natasha.
Sarah mulai menjawab pertanyaan anaknya, mewakili sang suami yang terlihat malu. " Celana bapak kamu sobek, dia malu titinya kelihatan orang. Ya kamu tahu sendirikan, papah kamu ini kena Azab. "
"Sarah, kamu kalau ngomong. Ngaur ya. Bisa bisanya bilang kalau aku kena Azab, " pekik Rudi pada sang istri. Dimana Natasha berusaha menghentikan perdebatan keduanya.
"Sudah."
Namun Sarah tak ingin kalah debat dengan sang suami, " lah memang benarkan apa yang aku katakan, itu balasan dari ucapan kamu yang ngasal. "
"Heh, jangan ngaur kalau bicara, kalau aku kena Azab lantas kamu apa?" tanya Rudi yang tak mau kalah debat.
__ADS_1
"Ya aku nggak papa, hanya apes saja, " ucap Sarah beralasan.
"Alah, sok sok apes. " balas Rudi bernada ketus.
"Papah, sadar diri dong, saat papah menjelekan orang lain tuh papah udah di kasih peringatan, Rudi mendapatkan Azab terbukanya sarang titip di depan orang lain. "
Natasha berusaha menarik napas, bersiap siap, teriak di depan kedua orang tuanya.
"Mama, papah, bisa tidak kalian berhenti bertengkar. Kalian ini nggak sadar apa, kalian itu habis mengalami musibah, tapi kalian malah saling menyalahkan. Sadar coba, usia kalian itu sudah tua, waktunya introfeksi satu sama lain. "
Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Natasha membuat keduanya menundukkan pandangan, mereka merasa menyesal dengan ucapan yang sudah mereka katakan.
"Papah, mama, sebaiknya kalian cepat saling memaafkan satu sama lain. Agar kalian tidak mendapatkan teguran lagi atas ucapan kalian yang asal ceplos itu. "
"Nggak mau. "
"Iw, mama juga nggak mau. Ogah banget. "
"Mama, papah ayolah. Jangan engois seperti itu, Natasha pusing kalau liat mama dan papah berantem terus kaya begini, kalian itu tidak kasihan apa sama Natasha?"
keduanya saling menatap satu sama lain, Gimana cara mulai menyodorkan tangannya di hadapan sang suami," pah, maafin mama. "
Terlihat jika Sarah begitu tak ikhlas meminta maaf di hadapan suaminya, ia membuang wajah. Membuat Rudi berkata, " yang ikhlas dong minta maafnya, sujud kek atau cium punggung tangan papah. "
Sarah kembali lagi menyunggingkan bibirnya, membulatkan kedua mata mendengar ucapan suaminya yang membuat dirinya ketawa.
"Yang penting minta maaf kan?"
Natasha memukul jidatnya, melihat keegoissan dari kedua orang tuanya, membuat dia berusaha tenang." mama Please deh jangan gitu, ayo dong minta maafnya yang ikhlas, biar kelihatannya enak gitu. "
"Hah, Natasha, kamu ini selalu menekan mama, jelas jelas yang salah papah peot kamu ini, dia harusnya banyak sadar sudah tua bau tanah, bentar lagi di kubur."
"Mama, jaga ucapan mama, bagaimana pun papah suami mama. Jangan gitu. "
Sarah seperti anak kecil yang dinasehati, " mama ayo. "
Melihat Natasha membuat Sarah menurut, ia tak bisa membantah anaknya yang selalu membuat dirinya tenang.
Walau Natasha anak angkat, tapi bagi Sarah, Natasha adalah berlian tak ternilai harganya.
"Ayo mah, Please ya. Minta maaf sama papah, biar Natasha liatnya tuh enak banget. "
Menarik napas dan berkata, " mm, ya sudah mama ulang lagi kata minta maaf ya sama papah kamu. "
Sarah mendekat, memegang kedua pipi suaminya. " Oh, papah, suamiku yang ganteng, baik hati dan tidak sombong ranjin menabung, maafkan istrimu yang selalu membuat kesal papah. "
"Ayo pah, " ucap Natasha, membuat Rudi membalas ucapan istrinya, karena perintah sang anak.
"Ya mama, papah maafkan, papah juga minta maaf sudah buat mama marah karena membahas tentang batang milik papah dan Perwira."
Natasha berusaha menahan diri untuk tidak tertawa, saat pembahasan itu mengenai batang.
"Nah, gitu dong kan dilihatnya jadi enak. "
Keduanya menganggukkan kepala, dimana Natasha berjalan ke arah mobil, untuk mengambil selimut menutupi celana sobek milik sang ayah.
__ADS_1
Saat Natasha pergi, Sarah malah berkata, " ingat ya, setelah ini mama bakal bikin perhitungan sama papah, jangan karena ada Natasha papah enak enakan. Sok paling benar. "
"Iya, iya, terserah mama. Papah nggak peduli. " balas Rudi, memajukkan bibir bawahnya.