
"Natasha, jika kamu tidak melayaniku, kamu sudah berdosa. "
Natasha menggeserkan tubuhnya untuk menjauh dari hadapan Edwin, ia terlihat berjaga jarak dengan suaminya.
"Natasha, kamu dengar tidak apa yang aku katakan?" Teriak Edwin pada istrinya.
Natasha yang tak sanggup mendengarkan teriakan suaminya kini mengusap pelan telinganya . "berisik, heh. Gue itu bukan babu lu. Jadi jangan suruh gue layanin lu. "
Edwin terlihat pusing saat menanggapi istrinya, ia memukul kepala dengan berkata, " ahk, sudahlah aku tidur saja. "
Tertidur begitu saja, Natasha kini mendelik kesal lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Edwin ternyata berpura pura tidur, ia tersenyum licik, ada niat jahat terselubung.
"Malam yang bagus untuk membuat dede bayi. "
Edwin kini menjewer telinga suaminya, lalu berbisik, " buat aja sama ayam tuh dibelakang. "
Mendorong wajah Natasha, lalu menjawab, " enak saja."
Natasha tertawa terbahak bahak, wajahnya terlihat mengemaskan, membuat Edwin kini memeluk istrinya itu.
"Edwin, pengap lepaskan. "
"Sudahlah, jangan munafik Natasha kita sudah pernah melakukannya jadi ayolah bersenang senang. "
"Najis lu. "
Brakkk ....
Natasha memegang hiasan kayu, memukulkannya pada kepala Edwin, sampai lelaki itu jatuh pingsan.
"Hahah, rasain lu, memangnya enak."
Natasha merasa tenang, ia kini membaringkan tubuhnya di atas kasur dan tertidur pulas.
*********
Di dalam hotel, terlihat Putri masih memegang ponsel pamannya sepertinya ia senang dengan apa yang sudah ia lakukan.
"Menyenangkan, kalau sudah melakukan hal seperti ini. "
Putri mulai beranjak tidur, menaruh ponsel itu di atas meja, tampak lelaki tua itu sudah tak berdaya. Ia tertidur pulas di atas sofa.
Sampai pagi hari, Rudi bangun dan berkata," Putri, apa yang sudah kamu katakan pada om, kenapa dia mengirim pesan seperti ini. "
Lelaki tua itu kini menunjukkan pesan yang baru saja datang dari istrinya.
(Rudi, pokonya kita cerai. Aku minta sebagian harta kamu.)
__ADS_1
Putri tertawa terbahak bahak dihadapan sang paman, ia tak menduga jika dalam pesan yang dikirim Sarah, masih ada permintaan harta warisan.
"Dih, dia itu tidak punya malu ya. Om. Bisa bisanya, minta cerai sama minta jatah harta. "
Putri sedikit menyindir sang tante yang ia tak suka.
"Putri kenapa kamu malah tertawa, kamu senang jika om dan tante bercerai. "
Mendengar perkataan sang paman, membuat Putri menganggukkan kepala.
"Putri .... "
Tampak raut wajah tak ingin berpisah, diperlihatkan oleh Rudi.
"Kenapa om, bukannya bagus kalau berpisah dengan wanita rendahan itu?"
Bangkit dari tempat tidur, Putri terlihat kesal dengan pamannya yang masih berharap pada Sarah, wanita rendahan itu.
"Putri, semua masalah kan bisa diselesaikan dengan baik, tanpa memakai emosi. " tekan Rudi, pada sang keponakan.
"Diselesaikan bagaimana om, semua sudah terbukti. Sudahlah om, masih banyak wanita diluaran sana yang menunggu om. "
Mengacak rambut dengan kasar, Rudi seharusnya tak pergi sendirian menjemput keponakannya, dan berpura pura pergi keluar kota, yang dimana masalah malah bertambah banyak.
"Kenapa om, aku ini keponakan om. Jadi wajarlah om aku kuatir dan melakukan gertakan pada istri om yang tak tahu malu itu. "
Mengatur napas, seakan tak setabil. Rudi mulai duduk dengan memegang kepalanya.
Lelaki tua itu hanya diam membisu, terlihat ia membuang muka, seakan tak ingin pulang ke rumah.
Putri melihat kegelisahan pamannya kini duduk, mengusap pelan bahu sang paman. " Om ini gimana sih, ayolah jangan seperti itu. Kita pulang ya, nanti kita selesaikan masalah ini di rumah. Oke. "
"Tapi Putri, om tidak mau .... "
Putri menghentikan perkataan sang paman dengan berkata, " stop om, jangan terlalu memikirkan perceraian terlebih dahulu, kita datang ke rumah dan menyelesaikan kesalahpahaman yang Putri sengaja buat. "
Lelaki tua itu menatap kearah sang keponakan, " benarkah itu, Natasha. "
Menganggukkan kepala, " benar omku sayang. "
Saat itulah Putri dan juga Rudi bersiap siap pulang ke rumah untuk segera menghampiri Sarah, dimana rasa gelisah masih dirasakan lelaki tua itu.
*****
Sarah baru saja berdandan, ia berniat mencari hotel yang sekarang ditempati suaminya bersama gadis berusia belasan tahun itu.
"Sudah cukup, waktunya melabrak pelakor, awas aja kamu cabe cabean. Aku cekik kamu sampai koid. "
Sarah sengaja memakai lipstik berwarna merah, agar tampilan percaya dirinya terlihat. " Sudah cuco meong kan, make-up melabrak pelakor. "
__ADS_1
Wanita yang selalu di sebut mama muda itu, kini mencari sebuah baju. " Yang mana ya. "
Setelah berhasil mendapatkan baju yang ia temukan, tanpa berlama lama, Sarah memakai baju pilihannya. Bercermin sembari berlenggak lenggok, belajar berjalan anggun.
"Wah, sudah pas ini. Hahha. Siap siap kau pelakor. "
Keluar dari kamar tidur, Sarah dikejutkan dengan Natasha yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Natasha pagi sekali, kamu ngapain di sini?"
Pertanyaan sang mama membuat Natasha berusaha tetap tenang.
Ia sengaja datang di saat suaminya masih tertidur, "Natasha ingin mempertanyakan kejadian semalam?"
Sang mama mengerutkan dahi, " kejadian apa?"
Natasha melihat bibir merah merona dan make-up tebal sang mama membuat ia berusaha bersikap serius dalam mempertanyakan kejadian semalam.
"Kenapa?"
"Ahk, gini ma. Natasha ingin mama jaga jarak dengan Edwin, apa bisa. Soalnya Natasha lihat akhir akhir ini mama genit dengan Edwin."
Menyungingkan bibir atasnya, Sarah kini menjawab. " Genit bagaimana Natasha?"
"Ya, Natasha sering lihat. Mama suka nempel nempelin badan mama sama badan suamiku!"
Tiba tiba saja Sarah menutup mulutnya setelah mendengar perkataan anaknya, ia batuk. " Uhuk. Kamu ngomong apa sih, Natasha. Ngaur. "
"Ahk, gini ya mah. Natasha hanya ingin mama berkata jujur, jadi jangan banyak drama deh. Coba jujur sekarang. "
Sarah melihat jarum jam pada tanganya, ia tak banyak waktu untuk berbicara dengan Natasha.
"Mama telat nih, nanti saja ya bahas hal itu deh. Soalnya ada urusan penting. "
Sarah berjalan dengan berlengak lenggok melewati anak angkatnya itu.
"Mama."
Sarah mengabaikan panggilan dari Sarah. Sampai Natasha dengan lancangnya berkata, " mama tidak ada niat menggoda Edwin kan?"
Pertanyaan anak satu satunya itu, membuat Sarah berhenti melangkah, ia membalikkan badan dan berkata. " Natasha jaga bicaramu itu, jangan karena mamamu yang sega bugar dan cantik ini. Kamu fitnah seperti itu. "
"Tapi pada kenyataanyakan mah,"
ketus Natasha pada sang mama.
Sarah padahal tengah berburu waktu, ia ingin cepat melabrak seorang pelakor tapi malah terhalang dengan pertanyaan - pertanyaan anaknya.
"Natasha sudah cukup, jangan berpikir negatif lagi seperti itu, mama ini tidak ada niat menggoda suami kamu. Jadi jangan bicara yang aneh aneh, mama tidak suka. "
__ADS_1
Natasha belum puas dengan jawaban sang mama, sampai dimana ia berkata. " Lalu apa itu?" Menunjuk pada leher sang mama. "