
"Coba kalian Katakan yang sejujurnya, jangan ada kebohongan lagi, " ucap Lorenza, ingin mendengarkan kepastian yang sebenarnya dari mulut Perwira dan juga Sarah.
Mendengar ketegangan yang dihadapi kedua orang tua Edwin dan juga Natasha, membuat kedua Insan itu pergi.
Natasha menarik tangan Edwin untuk keluar dari ruangan yang menegangkan baginya, " kenapa kamu malah menarik tanganku Natasha?"
Natasha menjalankan kepalanya setelah mendengar perkataan Edwin," kita ini sebagai seorang anak tak usah lah ikut campur masalah mereka, biarkan mereka menyelesaikannya. "
"Tapi, mommyku?"
Natasha berusaha menenangkan sang suami untuk tidak gelisah terhadap ibunya, " kamu tenang saja, Mommy kamu pasti bisa menghadapi situasi menegangkan seperti tadi. "
"Aku berharap seperti itu, karena Mommy itu terlalu lemah untuk menghadapi hal-hal yang malah menyakiti hatinya. "
" Makanya biarkan Mommy kamu itu menyelesaikan masalahnya dengan kemampuannya sendiri. "
Edwin terlihat tak terima dengan apa yang sebenarnya terjadi, ia juga harus bisa melepaskan ibunya untuk menghadapi masalah sendirian tanpa campur tangan dari anaknya sendiri.
"Jadi bagaimana, apa kamu sudah mengerti sekarang, setelah mendengar apa yang aku katakan?"
Edwin menganggukan kepala, dimana Natasha membawa suaminya itu untuk menemui. Lelaki berjanggut itu ada di luar Villa, terlihat ia sedang dijaga oleh para satpam.
"Hai Asep. "
Sapaan Natasha yang terlihat ramah dan mengerikan membuat Asep menundukkan wajah.
"Jadi gimana, mau masuk ke dalam penjara atau mau uang ini. "
Tentu saja Asep dengan nada angkuhnya menjawab, " ya uang itulah, masa ia masuk ke dalam penjara, nggak jadi dong dong beli baju lebarannya. "
Natasha memukul kepala Asep dengan uang lembaran merah itu, " oke. Kalau kamu mau uang ini, ada syaratnya. "
"Dari tadi syarat melulu, kapan lah uangnya. Nunggu mati apa?"
Edwin berusaha menahan tawa dengan menutup mulutnya," bisa-bisanya kamu berkata seperti itu?"
"Lah, memang pada kenyataannya bukan!"
Natasha berusaha membuat Asep menurut padanya, " kalau kamu memang mau uang ini, harus bekerja dulu di villa ini selama sebulan, setelah kamu bekerja di sini saya akan memberikan uang gepokan ini pada kamu.
"Lah, keburu selesai dong lebarannya?"
"Ya nggak lah, masih lama! Jadi bagaimana? Mau atau tidak, Kalau nggak mau ya sudah aku akan taruh lagi uang ini pada tas. "
__ADS_1
"Jangan jangan, ya sudah deh demi baju baru dan istri baru, saya siap kerja di sini sampai Lebaran mendatang. "
"Bagus."
Natasha lalu pergi dengan Edwin, dimana Asep berteriak, " kok main pergi begitu saja, uangnya mana. "
"Nanti kalau kamu udah kerja di sini sebulan. "
Asep menggaruk belakang kepalanya, mengusap kasar wajah," hanya karena mencari uang begitu berat sekali. Nasib nasib. "
Para satpam itu mentertawakan Asep," ngapain kalian tertawa. "
" Pantas saja sampai ngotot ingin baju lebaran, toh celana yang dia pakai bolong tengahnya. "
Sontak Asep terkejut dengan perkataan para satpam yang ada dihadapanya, ia kini membungkukan badan melihat sobekan pada tengah celananya.
"Ya elah benar saja sobek. Sampai si otong keluar ya ampun. Bisa bisanya hanya karena ingin bini baru. " Menggelengkan kepala, para satpam tertawa dengan begitu reyahnya.
"Asep, Asep, makanya sekolah dulu yang pinter, " ucap Satpam penjaga villa dengan menepuk nepuk bahu Asep. "
"Lah, saya sekolah dulu, sampai lulusan snd, kurang pintar gimana coba. "
Keduanya menatap satu sama lain, tak mengerti maksud yang dikatakan oleh Asep.
Asep menggelengkan kepala dan menjawab, " bukan bodoh. "
"Sekolah dasar. "
Satpam itu membulatkan mulutnya, lalu tertawa lagi, " Asep, Asep, SD. Bukan SND, nggak jelas. '
Natasha kembali lagi menghampiri Asep, ia memberikan baju satpam yang masih baru, " Asep ini untuk kamu. "
"Wah, kebetulan sekali, karena si otong keluar ada baju baru. "
Mendengar hal itu, Natasha terkejut, ia kini melirik pada celana Asep, " Astaga, ada kadal buntung. " Menutup wajah dengan kedua tangan, Natasha tak menyangka jika Asep dari tadi itu memakai celana bolong.
Asep mengambil baju itu lalu pergi ke kamar mandi, melihat kepergian Asep, membuat Natasha menggelengkan kepala, " ada ada aja, tuh orang, bisa bisanya nggak pake daleman. Tahu gitu gue pinjemin cancuet."
"Apa sayang. "
"Tuh si Asep, otongnya keluar. "
"Kamu lihat tadi?"
__ADS_1
"Makanya aku ngomong, ya aku lihat lah. "
Edwin tak terima dengan perkataan Natasha, ia berulang kali mengusap ngusap wajah istrinya, " istigpar. "
"Apaan sih, nggak tertarik juga. "
Edwin kini menyentil hidung istrinya, " ya elah jangan bohong. "
"Siapa yang bohong, serius malahan berisu rius."
"Gedaan mana. "
Mendengar perkataan Edwin malah membuat Natasha kesal, " apaan sih, kamu ini kalau ngomong suka nggak jelas deh. "
Natasha terlihat malu, dimana Edwin menarik tanganya dan bertanya lagi, " coba jawab, gede mana punyaku atau punya si Asep. "
Dengan malu malu dan perasaan tak karuang, akhirnya Natasha menjawab, " gedean kamu. Udah ah."
Natasha mempelihatkan kenormalannya sebagai wanita. " Natasha tunggu."
Edwin malah sengaja membuat mulutnya membisikan sebuah perkataan, pada telinga Natasha.
"Puas nggak. "
Natasha kini terpancing akan perkataan yang terbilang menyesatkan untuk ia dengar.
"Cukup, Edwin. Mm, jangan katakan hal kaya begitu lagi. "
Keduanya kini berjalan bergandengan tangan, tak menyangka jika ketidak mauan antara keduanya, menjadi kemesaraan.
*******
Di tengah-tengah kebahagiaan yang melanda Natasha dan juga Edwin.
Kedua orang tua mereka semua tengah membincangkan kejujuran satu sama lain, sampai Perwira tak tahan Lagi dan kini mengakui semuanya.
" Sebenarnya aku berniat mendekati Sarah karena dia begitu cantik dan juga masih awet muda," menghelap napas membuat Lorenza yang mendengarnya merasa sakit hati. Menjadi seorang Istri ia berusaha tetap tegar mendengarkan keluhan suaminya itu," aku sudah bosan melihat wajah kamu yang terlihat menua itu, kamu tak segar lagi seperti dulu dan kecantikanmu itu tak indah,se jujurnya. Aku ingin sekali melihat kamu cantik seperti wanita-wanita di luar sana."
kedua mata Lorenza ber kaca-kaca, sedangkan Sarah tak menyangka dengan apa yang dikatakan Perwira.
Sampai dimana Lorenza kini bertanya pada Sarah, " Apa kamu juga berniat seperti suamiku, selingkuh dengannya karena kamu merasa cantik dan masih awet muda tidak sepertiku yang sudah menua ini. "
Menundukkan wajah, Sarah menjelaskan semuanya," aku tidak ada niat sama sekali seperti yang dikatakan suamimu itu, aku menuruti keinginannya untuk datang menemui dia di cafe dan juga berjalan-jalan di mall, karena suamiku yang tak mengerti keadaanku saat ini. Dia tiba-tiba saja berubah, tak memberikan hak yang aku inginkan. "
__ADS_1
Rudi, merasa bersalah, sebagai seorang suami harusnya ia tak membalas perlakuan istrinya juga," Sepertinya kita harus saling intropeksi diri, jika semua yang berada di sini salah."