
Sedangkan Edwin yang mendengar nama sang papah disebut oleh gadis berumur delapan belas tahun itu, membuat Edwin mengerutkan dahinya lalu bertanya pada gadis itu," Apa maksud kamu menyebut nama papaku?"
Putri tersenyum tipis di hadapan Edwin, suami dari Natasha," Jadi kamu mau tahu cerita sebenarnya?"
Edwin melirik ke arah Natasha dan juga Sarah," Coba ceritakanlah. "
Sarah semakin ketakutan, di saat Edwin mempersilahkan Putri untuk bercerita tentang kejadian semalam.
Gadis berumur delapan belas tahun itu menatap perlahan ke arah arah, lalu bertanya dengan nada sinisnya." Bagaimana Tante Sarah, apa Putri ceritakan sekarang saja?"
Sarah tetap saja dia membisu, seperti malu dengan dirinya sendiri, mana mungkin menceritakan aib kejelekannya sendiri di depan keluarga yang begitu mempercayainya.
"Baiklah, karena Tante Sarah diam terus dari tadi. jadi aku Ceritakan sajalah semuanya di depan kalian semua, percaya atau tidaknya. Terserah kalian saja. " Ucap Putri. Dimana Natasha yang terlihat penasaran dengan perkataan keponakan Papanya kini membalas," Coba katakan saja ke Putri biar semua jelas, tidak salah paham terhadap Mama. "
"Jadi tadi malam itu Om Rudi dan juga Putri melihat tante Sarah berjalan berduaan dengan bergandengan tangan begitu mesra, bersama dengan Om Perwira. "
Deg .....
Semua mata kini tertuju pada Sarah, tampak Sarah terlihat kesal, ia kini menjawab, " bohong. Semua itu hanya rekayasa gadis ini. "
Melipatkan kedua tangan Putri tersenyum lebar," aduhh, tante. Bisa bisanya mengatakan jika cerita Putri ini hanya rekayasa saja, tante. Putri ini jujur loh, mana mungkin Putri ini berbohong. Kalau tak percaya coba tanyakan saja pada Om Rudi yang jadi saksinya dan orang yang paling tersakiti. "
Natsaha masih tak percaya, ia mulai menatap dan bertanya pada sang papah, " benarkah itu pah?"
Sarah membulatkan kedua matanya, berusaha menghentikan jawaban suaminya.
Namun Rudi yang terlanjur kesal kini menjawab perkataan anak angkatnya itu, " semua yang diceritakan Putri benar, Natasha. "
Natasha terlihat kecewa dengan sang mama, baru saja tadi malam, ia melihat Sarah merayu suaminya, dan sekarang mendengar isu dimana Sarah berjalan berduaan bersama mertua Natasha.
"Mama. Sebenarnya dimana akal sehat mama ini, bisa bisanya mama tidak tahu malu." ucap Natasha mempelihatkan kekecewaanya.
Sarah mendekat, memegang tangan anak satu satunya itu, " Natasha semua hanya kesalah pahaman saja. Mama dan mertua kamu itu hanya sebatas bertemu tak ada hubungan apa apa?"
Putri melihat pemandangan memilukan antara anak angkat dan seorang ibu tersenyum tipis.
"Tante, sudahlah, sebaiknya tante itu berkata jujur. Jangan berbohong, kalau tante terus berbohong, yang ada Tante itu merugikan diri tante sendiri. "
"Diam kamu, Putri. Masalahku tidak ada kaitannya dengan kamu, jadi jangan ikut campur. "
Pekik Sarah kepada Putri.
__ADS_1
"Baiklah." ucap pelan Putri, gadis itu mulai duduk di atas sofa, mengambil handset untuk menutup kedua telinganya agar tidak ikut campur.
"Natasha, biar mama jelaskan. Mereka itu hanya mengada ngada, jadi kamu tak usah percaya. " Sarah berusaha membela dirinya sendiri.
Dimana Rudi mendekat dan menunjukkan sesuatu. " Rekayasa bagaimana maksud kamu, aku mempunyai bukti yang nyata. Apa kamu mau melihatnya Natasha. "
Mendengar perkataan sang papah, membuat Natasha menyodorkan telapak tangannya, "Coba Natasha lihat. "
Sang papah menaruh ponselnya pada telapak tangan Natasha, dimana Sarah mulai mengambil dan menghilangkan bukti tentang dirinya.
"Mana lihat sini. "
"Mama, kenapa mama ingin melihat bukti ini, jika mama tidak merasa bersalah, sebaiknya mama diam saja. Biar Natasha yang melihat bukti ini, benar atau tidaknya. "
ucap Natasha, mulai melihat layar ponsel sang papah yang menunjukkan video bukti akan Sarah dan juga Perwira.
Edwin ikut serta melihat video itu, keduanya terkejut dan benar tak menyangka akan kelakuan orang tua mereka.
"Kalian benar benar keterlaluan. "
Edwin yang sudah geram dengan mertuanya kini berucap, " saya tak menyangka jika anda serendah ini, bisa bisanya anda mendekati papah saya yang jelas jelas sudah beristri. Sudah cukup saya menghindar dengan kegenitan anda terhadap saya. "
Deg ....
"Jadi, " Natasha menatap kearah Edwin.
"Kamu pasti akan terkejut, jujur saja saat saya datang ke rumah ini sudah merasa tak nyaman. Karena mama kamu ini selalu menggoda saya. "
Kesaksian Edwin membuat Rudi menggelengkan kepala, ternyata Sarah sudah melakukan hal rendahan ini pada menantunya sendiri.
"Tunggu, kalian jangan percaya akan perkataan Edwin. "
Rudi mendekat pada istrinya, " awalnya aku ingin memaafkan kamu, karena kamu sudah menghianatiku. Tapi setelah mendengar perkataan dari menantumu, membuat aku benar-benar kecewa sekali, sepertinya kamu sudah tak pantas aku jadikan sebagai seorang istri. Jadi maafkan aku sekarang aku sudah rela melepasmu. "
Mendengar ucapan yang disampaikan oleh suaminya, membuat hati Sarah merasa sangat sakit.
"Rudi, kamu jangan memutuskan begitu saja, semua yang dikatakan oleh Edwin hanyalah kesalahan semata. "
"Kesalahan, ma. Jaman sekarang mana ada penjahat yang mengaku, Mama itu terlalu banyak berbohong, dan membuat hati kami kecewa. Padahal kurang apa Papa selama ini sudah membuat mama senang."
Sarah menundukkan wajahnya, berusaha bersikap tenang, walau sebenarnya hatinya sangatlah kacau, setelah mendengar perkataan dari anaknya sendiri.
__ADS_1
"Mama minta maaf Natasha. "
"Kata maaf itu sudah hilang begitu saja, Dari lubuk hati Natasha, Mama tak jauh berbeda dengan orang-orang munafik yang selalu membela dirinya merasa paling benar. "
Natasha pergi dari hadapan Sarah, dia menangis terisak-isak sembari berlari menjauh di mamanya sendiri, Sarah yang melihat pemandangan anaknya pergi dari hadapannya, kini berteriak memanggil Natasha.
"Natasha, tunggu. Mama belum menjelaskan semuanya, tolonglah beri kesempatan untuk mama."
Sarah menatap ke arah gadis berusia delapan belas tahun yang tengah duduk santai sembari memainkan ponselnya.
Edwin terlihat menahan amarah, kedua tangannya mengepal, berjalan masuk ke dalam mobil.
"Edwin, kamu mau kemana?" pertanyaan Rudi membuat Edwin menjawab," saya akan mempertanyakan Kejadian ini terhadap Papa saya sendiri, agar semua menjadi jelas. "
Rudi hanya bisa terdiam membiarkan Edwin untuk pulang ke rumah menemui sang papa.
Tanpa disadari Rudi, Sarah sudah menjabak rambut Putri habis-habisan, iya tak bisa mengendalikan emosinya sendiri, karena kesalahnnya, membuat ia membenci Putri dan terus terang menyalahkannya.
"Sarah hentikan aksimu itu, kamu jangan keterlaluan. "
Sarah tak memperdulikan ucapan suaminya sendiri, terus menyiksa Putri hingga Gadis itu terus meringis kesakitan, handset yang menempel kini terlepas pada kedua telinga Putri, akibatkan ponsel yang iya genggam terjatuh ke atas lantai.
"Ponselku." Natasha seakan tak terima dengan apa yang dilakukan oleh Sarah, ya berusaha melawan dengan menjambak rambut mamah muda itu.
"Kurang ajar ya tante ini, Tante ini sudah merusak ponselku, aku tidak terima sama sekali."
Sarah membalas kemarahan gadis itu," aku tak peduli Siapa suruh kamu memfitnahku,"
" Hai Tante aku tidak pernah memfitnahmu, jelas-jelas semua itu fakta yang nyata, kenapa kamu malah menyebutku seperti itu."
Sarah tak menjawab perkataan gadis bernama Putri itu, ya terus menjambak rambut Putri.
Rudi yang melihat pemandangan istri dan juga keponakannya bertengkar dan saling menjambak satu sama lain, membuat ia berusaha menjauhkan keduanya agar tidak bertengkar.
Namun tenaga keduanya begitu kuat, membuat lelaki tua itu kewalahan," kalian ini kenapa hentikan perdebatan ini, Sarah lepaskan Putri, apa yang dikatakannya itu semua benar,"
Sarah kesal dengan Rudi yang membela keponakannya itu, ia menggerutu kesal lalu menjawab, " bisa-bisanya kamu membela gadis tidak tahu diri ini."
Putri tak terima dengan hinaan yang terlontar dari mulut tantenya itu, " bukannya tante wanita yang tidak tahu diri, selingkuh dengan lelaki yang sudah beristri, jelas-jelas tante juga sudah mempunyai suami. Hello Di mana akal sehat tante sebagai seorang wanita. "
semakin Putri melawan, makin jambakan Sarah begitu keras dan tak dilepas," kurang ajar sekali kamu, rasakan ini. "
__ADS_1
Putri meringis kesakitan meminta tolong kepada sang paman, agar pamannya bisa menghentikan kelakuan Sang istri yang sudah keterlaluan terhadap keponakannya.