
Lorenza mendekat ke arah Natasha, Iya kini bertanya pada menantunya itu, " ada apa? Apa Edwin mengatakan sesuatu yang membuat hatimu terluka Natasha."
Berulang kali Lorenza bertanya pada menantunya itu, tetap saja Natasha hanya diam membisu.
"Kamu jangan kuatir Natasha, mommy akan selalu mendukung kamu."
Pertama kalinya Natasha menangis dihadapan sang mertua, ia memeluk erat tubuh Natasha.
"Cerita saja, jangan di pendam. Ayo cerita. "
Natasha berusaha mengatur napas, ia meluapkan kesedihannya, " Edwin, mengusir Natasha."
Melepaskan pelukan dari tubuh Lorenza, Natasha terlihat tak tenang, sebagai seorang ibu Lorenza kini mengusap pelan air mata yang mengalir pada pipi menantunya.
"Mungkin Edwin tidak mau melihat kamu sakit hati. "
"Justru jika Edwin memperlakukan Natasha seperti ini, malah menyiksa Natasha. "
"Kamu yang sabar ya sayang. "
Natasha menganggukkan kepala, setelah mendengar perkataan dari sang mertua.
"Apa sebegitu terpengaruhnya Edwin, sampai membuat Natasha tersiksa. Ini tidak boleh dibiarkan, aku harus menasehati Edwin. " Gumam hati Lorenza.
"Sekarang kamu ikut, mommy masuk ke dalam ya."
Natasha tetap menggelengkan kepala, saat Lorenza mengajaknya masuk.
"Ayo."
Rasa tak percaya diri menghantui hati Natasha, dimana Lorenza terus menyakini menantunya.
__ADS_1
"Sudah, ayo. "
Dibujuk beberapa kali, pada akhirnya. Natasha mau ikut.
Ceklek.
Pintu di buka. Edwin terlihat menyenderkan badannya pada ranjang tempat tidur, terlihat wajahnya memerah.
. "Edwin."
Tatapan menyeramkan di perlihatkan Edwin pada Natasha, dimana Natasha tiba tiba bersembunyi dibalik punggung mertuanya.
"Natasha, kenapa kamu sembunyi, " ucap Lorenza pada Natasha.
"Edwin." Panggil Lorenza pada Edwin. Dimana tatapan mata itu berubah jadi sayu.
Lorenza mendekat dan merangkul bahu anaknya, ia kini berbisik. " Tolong jangan sangkut pautkan masalah ini dengan istrimu. Kasihan dia. "
Di posisi Edwin sekarang, ia menjadi sosok serba salah, " Natasha, maafkan aku. "
Natasha menitihkan ari mata, mengusapnya perlahan." Aku terlalu emosi, sampai melukai hatimu."
Natasha memegang tangan Edwin, mencium punggung tangannya dan berkata," aku mencintai kamu."
"Aku juga. "
Bagaimana bisa Edwin menyia nyiakan wanita yang begitu mencintainya. " Natasha, ingin sekali aku memeluk tubuhmu saat ini. "
Perkataan Edwin tak bisa dipungkiri membuat Natasha terharu. " Edwin, aku mencintaimu. "
Lorenza hanya bisa membalikkan badan, berusaha menahan air mata yang terus mengalir membasahi pipi.
__ADS_1
Perwira tahu jika istrinya sedang menangis, membuat ia mendekap dan memeluk tubuh Lorenza.
"Kenapa, apa yang sedang kamu rasakan saat ini."
"Perwira, lepaskan pelukan kamu ini, malu anak anak pasti lihat kita. "
"Biarin, biar mereka sirik. "
"Gila kamu, sampai bilang sirik seperti itu. "
"Mm."
Edwin berpura pura batuk, " ini nenek - nenek sama kakek kakek, nggak tahu kondisi apa? Bikin orang ngiler aja. "
Lorenza memukul bahu Perwira dengan berkata, " tuh kamu dengat tidak, anak kamu bilang apa. "
Perwira tersenyum manis, dimana Natasha yang terlihat bersedih kini tertawa terbahak bahak.
"Loh, kamu ketawa?"
Natasha menutup mulutnya, " uups maaf. "
Semua tertawa bersama, seperti tak ada beban yang dirasakan mereka berempat saat ini." andai aku tak sakit, mungkin mommy tidak akan menyerahkan hidupnya demi aku." Gumam hati Edwin, dimana Natasha tak tahu menahu dengan Lorenza yang menjadi pendonor untuk Edwin.
"Natasha?"
"Mm, iya kenapa!?"
"Gimana bayi kita sehat. "
Natasha memegang tangan Edwin, membuat ia menempelkan telapak tangan sang suami pada perutnya.
__ADS_1
"Kata dokter anak kita sehat. Hanya saja?"
"Hanya saja kenapa!?"