Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 32


__ADS_3

Edwin membuka pintu kamar, disaat Natasha berlari untuk segera menghindar dari kejaran sang papah.


Lelaki tua yang sudah berumur itu, begitu pandai mengejar anaknya.


"Natasha berhenti kamu. " Teriakan Rudi, membuat Natasha semakin panik dan ketakutan.


Ia bergumam dalam hati, " mudah mudahan saja, Edwin tidak menutup pintu kamarnya. "


Natasha terus berlari, ia ingin segera masuk ke dalam kamar. untuk segera menghindar dari kejaran sang papa, jika Natasha sampai tertangkap, bisa-bisanya Rudi akan mempermalukan dia seperti anak kecil yang berbuat nakal.


"Natasha." Teriak kembali Rudi, teriakan lelaki itu begitu kencang, membuat orang-orang yang tinggal di sana terasa terganggu, dengan teriakan yang begitu kencang keluar dari mulut Edwin.


Dan, Brakkk ....


Pintu ditutup begitu saja oleh Edwin, Natasha terlihat geram, ia mengetuk ngetuk pintu kamarnya sendiri.


Tok .... Tok ....


"Edwin buka, b@n&sat lu."


Mendengar ketukan pintu dari Natasha membuat Edwin hanya tertawa kecil, ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Menatap layar ponsel, ia kini mengirim pesan dari Natasha.


(Natasha, kamu berani berteriak teriak di luar rumah, berisik tahu.)


(BODO AMAT.)


"Ya Allah, gimana ini. Lelaki tua itu sudah mau mendeka lagi, Edwin. Cepat buka," teriak Natasha, berulang kali berharap jika Edwin mau segera membuka pintu kamarnya.


Karena harapan satu-satunya Natasha, hanya ingin menjadi dirinya sendiri.


"Natasha." Rudi semakin mendekat, membuat Natasha membulatkan kedua matanya, ia terus berteriak memanggil nama sang suami.


"Edwin, buka. Kurang ajar sekali kamu Edwin, tega teganya tak membuka pintu kamar. " Teriak Natasha, tak membuahkan hasil, hingga dimana. " Natasha. "


Ceklek .... Suara pintu kamar terbuka.


Edwin membuka pintu kamar. Menarik tangan Natasha, hingga tubuhnya berdempet dengan Edwin.


Brakk ....


Wajah sang papah mencium pintu kamar Natasha, dimana anak satu satunya sudah masuk ke dalam kamar karena tarikan Edwin.


Memejamkan kedua mata, Natasha tetap ketakutan. Dengan lancangnya Edwin mencium bibir tebal Natasha.


Sontak Natasha yang merasakan ciuman itu membulatkan kedua mata, menatap senyuman Edwin. Dengan kesal ia menendang si udin yang masih mengkerut itu, " Ahkkk. "


Edwin meringis kesakitan, sedangkan Natasha mendorong tubuh suaminya, ia pergi menghindar untuk segera mencuci bibirnya itu.


"Huek, huek. "

__ADS_1


Keluar dari kamar mandi, Edwin kini berucap. " ya elah jangan sok munafik, pake acara muntah segala. "


Natasha mengusap kasar bibir basahnya, mendekat, mencekram kerah baju suaminya.


"Beraninya kamu menghilangkan kesucian dari bibirku ini, bertahun tahun aku menjaga bibir ini agar tidak di sentu oleh laki laki."


Edwin mengerutkan dahinya, tertawa terbahak bahak di depan istrinya itu, Natasha yang kesal kini mendorong tubuh suaminya.


"Aku berbicara serius, tapi kamu malah mentertawakanku. Gila kamu. " Ketus Natasha.


Edwin bangkit dari atas lantai, menatap sipit sang istri, perlahan ia memegang dagu Natasha dan berkata, " Jaman sekarang mana ada wanita murni, yang memang tidak pernah di sentuh oleh lelaki, itu MUSTAHIL. "


"Sembarangan lu bicara, walau dandanan seperti rock in roll, berbicara kasar, tetap gue sebagai wanita punya harga diri. Tidak sembarangan memberi pada lelaki yang bukan muhrim. "


"Sok bijak."


Edwin kini melangkahkan kakinya ke arah belakang melihat Natasha masih marah kepadanya, membuat ia sengaja menarik tangan sang istri.


Menjatuhkan tubuh Natasha di atas kasur, dimana tatapan mereka saling beradu. Natahsa berusaha bangkit melepaskan tubuhnya dari genggaman Edwin


"Lepaskan, jangan berani beraninya kamu memelukku." Pekik Natasha, ia tak terima dengan pelakuan Edwin.


Edwin malah sengaja membuat Natasha meronta ronta, dalam pelukannya." Lepaskan aku. "


"Kenapa aku harus melepaskanmu dari pelukan ini, bukannya kita sudah sah menjadi suami istri. "


Natasha berusaha membebaskan diri, namun usahanya tak berhasil. Karena tenanga Edwin begitu kuat.


"Sepertinya kamu tengah menbayangkan aksiku sekarang bukan?" tanya Edwin pada Natasha. Wanita berbibir tebal itu menimpal perkataan Edwin. " Idih, kepedean kamu. Siapa wanita yang mau di sentu lelaki kerempeng seperti kamu itu. "


"Waw, ternyata kamu berusaha menantangku ya. "


Natasha hanya mengerutkan bibirnya, Edwin mulai membalikkan posisi tubuh Natasha.


"Lu mau ngapain, cepat menyingkir. Pengap. "


Edwin malah sengaja, membuat Natasha terhimpit oleh tubuhnya. " Lepaskan. "


"Bukannya kamu menantangku. "


Natasha mulai menendang sesuatu yang terasa keras pada badannya, membuat Edwin melepaskan pelukan Natasha.


Meringis kesakitan, " Ahkk, kurang ajar kamu Natasha. "


Wanita berbibir tebal itu tertawa terbahak bahak, dan berkata. " Sykurin, baru tahu rasa lu, siapa suruh meluk sembarang. Sekarang kena tuh akibatnya. "


Edwin berusaha mendekat ke arah Natasha, ia ingin memberi pelajaran pada istrinya. Namun langkah kakinya terasa berat, karena menahan rasa sakit yang tak tertahankan. "


Kini Natasha mulai membuka pintu kamar, masih dengan gaya yang sama, berjalan nganggkang.

__ADS_1


"Natasha kembali kamu. "


"Nggak mau masa bodo, siapa suruh bikin orang kesal. "


Natasha yang baru saja keluar dari kamarnya, kini dikejutkan dengan sang papah, yang tiba tiba saja menjewer telinganya.


"Ketangkap juga kamu hah, siapa suruh kamu kabur, hah. Seenaknya mengerjai orang tua, sekarang papah akan beri kamu pelajaran."


"Haduhhh, pah. Ampunnn. "


Edwin mendengar rengekan istrinya kini keluar dari kamar, melihat sebenarnya apa yang terjadi.


berdiri di depan pintu, Edwin tertawa terbahak bahak melihat istrinya di sered paksa dengan ditariknya telinga.


"Sykurin emang enak, siapa suruh melawan. " Gerutu hati Edwin.


Tiba tiba saja Edwin dikagetkan dengan sang mah mertua.


"Edwin, kamu kenapa. Jalanmu ngangkang gitu, hem. "


"Eh mama. "


Wanita tua itu menarik tangan menantunya, membawa Edwin masuk ke dalam kamar.


"Loh mah, kok pintunya dikunci. "


"Kamu tenang saja, sekarang hanya ada kita berdua. "


Edwin terlihat kebingungan saat mertuanya masuk dengan sembarangan dan mengunci pintu ruangan Edwin.


Sarah menyuruh Edwin untuk duduk bersebelahan dengannya, namun Edwin berusaha menolak dengan seribu alasan.


"Mama, boleh Edwin minta kunci kamar ini. "


Sarah menunjukkan kunci kamarnya, " sudah mama simpan di tas ini. "


Mamah muda itu berusaha menanyakan prihal tentang Natasha.


"Edwin, mama ingin bertanya sama kamu?"


Kecentilan mulai diperlihatkan Sarah, dimana wanita yang sudah mengadopsi Natasha, mengusap pelan punggung tangan Edwin, lalu berkata. " apa kamu bisa bikin Mama Mertuamu ini ngangkang kaya Natasha. "


Deg ....


Mendengar perkataan Sarah, membuat Edwin kini melapaskan tangannya yang digenggam erat oleh Sarah.


"Sebaiknya, mama keluar jangan bahas hal itu pada Edwin. "


Sarah seperti tak punya rasa malu, mengoyangkan kedua buah yang terlihat kenyal itu.

__ADS_1


"Edwin."


Mengusap kasar wajah, Sarah seakan tak ingin menyerah untuk mendepatkan Edwin.


__ADS_2