
Natasha berusaha menghentikan teriakan sang mama," mama ini ngapain coba panggil panggil suamiku. "
Sarah menghempaskan tangan anaknya.
"Natasha, kamu ini gila apa ya? Ngapain tengah malam tiba-tiba saja datang sambil membawa air dari ember seperti itu."
Natasha malah tersenyum sinis, ia melemparkan ember yang sudah tak berisi air itu, hingga terdengar suara bantingnya.
Brak ....
"Mama yang gila, ngapain mama ini ada di dapur, pake ngerayu rayu suamiku, " ketus Natasha, membuat Sarah menjadi gugup.
"Mama, hanya ..... "
"Hanya apa, hah. Ingin meluk, cium gitu. "
Palkkk ....
"Natasha, jaga ucapanmu, " bentak sang mama. Dimana tamparan keras dari mama muda itu terasa menyakitkan untuk Natasha.
"Mama tega nampar Natasha. " Teriak Natasha, merasakan rasa sakit yang luar biasa.
"Makanya kamu ini jadi istri yang baik, jangan bikin suami keluyuran tengah malam, kalau tidak mau dibobol mamamu ini, hah." Sarah pergi dengan wajah sinisnya, ia tak mengerti dengan jalan pikiran sang mama yang terlihat berubah.
Natasha, masuk ke dalam kamar. Ia kini dikejutkan dengan Edwin yang terlihat tak memakai pakaian sama sekali.
"Ahkkk."
"Natasha kenapa, heheh. "
Menutup wajah dengan kedua tangan, " gila, ngapain kamu tidak memakai baju. Hah. "
"Jelas karena kamu. Ngapai coba kamu guyur aku sama mamamu. "
"Kenapa -kenapa, jelas aku tanya sama kamu, ngapain kamu berduaan dengan mamaku?"
Edwin kini menunjuk wajah istrinya dengan berkata, " Cemburu ya. "
"Idih, siapa yang cemburu, enak aja. "
"Pura pura. "
Natasha kini memukul pelan kepala suaminya,
" heh, mana ada wanita metal cemburu. "
Mengerutkan dahi dengan tangan yang ia lipatkan, wajah mengemaskan Natasha membuat Edwin tergoda.
Sampai, Muachhh ....
__ADS_1
Edwin tiba tiba saja mencium pipi megemaskan itu, Natasha yang melihat hal itu terkejut. "
"Edwin, apa maksud kamu. Hah. "
Edwin tertawa terbahak bahak, dimana kedua pipi Natasha memerah, " gimana cemburunya sudah hilang?" Senyuman dari pertanyaan Edwin membuat Natasah salah tingkah.
"Heh, sudah ah, aku mau tidur. "
Natasha kini membaringkan tubuhnya diatas kasur, terlihat ia malu dengan perlakuan Edwin yang tiba tiba saja mencium pipinya.
"Kenapa perasaan ini, tiba tiba nggak karuan. " Gumam hati Natasha, memukul mukul pipinya.
Edwin melihat jika Natasha hanya berpura pura tidur, ia mendekat dan mendekap tubuh istrinya. " Kamu tenang saja, aku dan mamamu tidak melakukan apa apa. "
Menyingkirkan pelukan sang suami, membuat Natasha kini menggerutu kesal, " heh, bisa tidak lu jangan peluk peluk gue. "
Nada bicara Natasha kini berubah kembali, padahal kemarin Natasha begitu lembut saat berbicara, tapi sekarang ....
"Natasha."
"Apa?"
"Kitakan sudah menikah selama dua minggu. Apa salahnya membuat bayi!"
"Idih ogah. " Terdengar Natasha menolak keinginan suaminya, dimana ia memalingkan wajah dan tertidur di atas kasur menutupi semua badanya dengan selimut.
Menghelap napas, berusaha tetap tenang. Natasha kini mengintip pada selimut tebalnya. Edwin yang menyadari hal itu kini menatap ke arah istrinya.
"Ngintip ya. "
Natasha terkejut dengan Edwin yang tiba tiba saja masuk ke dalam selimut, dimana ia berteriak, " Edwin menyingkir. "
Teriakan Natasha sampai terdengar oleh Sarah, di mana wanita yang sudah mengganti bajunya itu, mendekat ke arah pintu kamar anaknya.
Sarah mencoba menempelkan telinga pada pintu kamar Natasha, Iya mendengar suara berisik dari kamar anaknya.
"Bisa bisanya di posisi seperti ini, mereka bercanda. " Gerutu hati Sarah.
Wanita yang selalu dipanggil mama muda itu, kini pergi dari pintu kamar anaknya.
Ia tak sanggup mendengar kemesraan yang membuat telinganya panas.
Sarah berjalan dengan terburu-buru masuk ke dalam, ia mulai merebahkan tubuhnya melihat ponsel yang terdengar berdering.
Sebuah pesan datang dari nomor ponsel suami, Rudi ternyata mengirimkan sebuah foto wanita yang tidur bersama dirinya.
Terlihat Sarah kecewa dengan apa yang ia lihat, membandingkan ponsel hingga berhamburan kemana-mana. Sarah memijat kepalanya yang terasa begitu pusing, ia bangkit dari tempat tidur menatap ke arah cermin. Sembari mengambil ponsel, membenarkan ponsel yang terlihat pecah itu.
"Kenapa? Si tua br*ngsek itu malah selingkuh. Apa yang kurang dariku, " Sarah menggerutu kesal dirinya sendiri, mengajak rambut panjangnya.
__ADS_1
Ponsel kembali mengeluarkan suara, sebuah pesan yang membuat hati Sarah semakin kesal.
(Bagaimana. Apa kamu suka melihat suamimu sendiri bersama dengan wanita?)
(Heh, anak baru gede, bisa-bisanya kamu merebut suami orang, sekolah yang benar, ini malah jadi pelakor. )
( Wah, wah, kamu sedang meledek diri kamu sendiri ya. )
Sarah mengerutkan dahinya setelah membaca balasan dari gadis yang dibawa oleh suaminya ke hotel.
( Apa maksud kamu hah.)
( Sudahlah jangan berpura-pura lagi, kamu itu harusnya sadar diri.)
perkataan gadis berumur belasan tahun itu membuat amarah Sarah semakin memuncak, yakini membalas dengan menghina Gadis itu terang-terangan di dalam pesan.( dasar kamu itu pelakor tidak tahu malu bisa-bisanya menjual harga diri kamu pada suami orang.)
Putri yang melihat sang Om tertidur dengan begitu pulas, merasa kasihan karena sudah mendapatkan seorang istri yang tidak punya harga diri sama sekali.
( yang tidak punya harga diri itu kamu sendiri.)
Sarah bangkit dari tempat duduknya, dia mengoceh dengan marah-marah di dalam kamar, ponsel yang ia banting malah membuat emosinya meluap luap.
Sarah kini mematikan ponselnya, berusaha tidak menanggapi perkataan anak abg itu.
" Jika aku terus melayani dia, bisa bisa isi kepalaku ini pecah. "
Gerutu Sarah, Ya mulai merebahkan tubuhnya kembali untuk segera tidur, perasaannya benar-benar tak karuan saat itu.
Kenapa bisa Rudi lelaki tua bisa mendapatkan sosok seorang gadis yang tak pernah ia sangka-sangka menjadi selingkuhannya. Sarah sudah tidak bisa berpikir positif kembali, dalam isi pikirannya itu selalu pikiran negatif saja yang timbul.
********
Di dalam kamar Natasha masih saja berdebat dengan Edwin, terlihat keduanya malah saling memukul satu sama lain dengan bantal. Edwin malah menekan istrinya agar bisa mengandung seorang anak, namun berbeda dengan Natasha. Ia terus-menerus menolak keinginan suaminya.
"Aku tidak mau punya anak, ribet. Tahu nggak, punya suami kaya kamu juga udah berasa hidup di kegelapan."
"Kegelapan? Aku ini bukan setan, atau demit, sampai kamu merasa hidup dalam kegelapan. Natasha. Aku ini seorang CEO, ingat itu. "
"CEO, preettt .... Papahmu kali yang punya gelar itu, kamu cuman numpang hidup dan menunggu harta warisannya. "
Lama kelamaan mendengar perkataan Natasha membuat Edwin kesal, ia menari baju Natasha hingga sobek.
"Edwin, baju gueeee .... "
Edwin mengedipkan kedua matanya dan berkata, " Natasha. Kalau sudah terlihat bisa kan. "
Plakkk .... " Jangan harap. "
Menarik selimut dan menutupnya kembali.
__ADS_1