Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 28


__ADS_3

Natasha terbangun setelah mendengar teriakan dan juga hantaman benda keras, yang membuat


tidurnya terganggu. Mengucek ngucek kedua mata, membuat ia turun dari ranjang tempat tidur. Untuk segera melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Sontak kedua mata membulat, mulut mengagah membuat Nastaha terkejut. Karena melihat keadaan sang papah yang mengenaskan, "Astoge, papah kenapa, bonyok begini kaya dilempar gagang panci."


"Aduuhhh, duhhhh. " Rudi merengek di depan anaknya, sembari memegang pipi.


"Papah kenapa sakit gigi?" tanya Natasha dengan kepolosannya.


"Natasha, papah bonyok kaya begini kamu kata sakit gigi, hey sayang matamu itu kelilipan napas genderowo apa!" bentak sang papah, membuat Natasha malah tak sengaja menekan pipinya.


"Ahkkkk." Teriakan Rudi terdengar begitu keras.


Membuat Sarah yang tengah mengontrol emosi kini menatap kearah anak gadisnya. " Sedang apa kamu disini, Natasha?"


Pertanyaan sang mama membuat Natasha menggaruk belakang kepalanya. " Bantuin papah mah, kasihan mukanya kaya kelepar gagang panci!"


Jawaban yang membuat Sarah mendekat pada anaknya. " Kamu bilang kasihan. "


Sarah menarik rambut putih lelaki tua itu, " Yang model begini dikasihani, sudah tua banyak tingkah lagi. "


"Lah, memang papa ngapain sampai bonyok ke begini?" tanya Natasha terlihat kebingungan.


"Kamu mau tahu. "


Natasha kini menganggukkan kepala, ia penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, sampai mengakibatkan keganduhan di dalam kamar pembantunya.


Sekilas Sarah menatap kearah pembantunya yang berdiri dengan dilumuri keringat dingin, perasaan pembantu itu terlihat tak karuan, antara pergi secara baik baik atau kabur begitu saja.


"Papah kamu dan pembantu baru itu si Iyem, mereka sudah bercocok tanam. Natasha, tanpa sepegetahuan mama, " ucap Sarah menangis histeris. Hingga pelukan kini dilayangkan oleh anak semata wayangnya itu.


"Apa? Yang benar mah. " Natasha masih tak percaya, ia perlahan memegang kedua bahu Sarah menatap tajam pada Iyem dan Rudi.


"Kalian ini gila apa, bercocok tanam disini, bodoh. Kenapa tidak sekalian di ruang tamu noh. Memalukkan, " hardik Natasha, membuat sang mama kebingungan.


Palkk, tamparan melayang pada bibir tebal Natasha. " Aduh. "


"Natasha yang bercocok tanam itu bukan mama sama papah tapi Iyem dan papah kamu, " jelas Sarah, berharap jika anaknya mengerti.


"Mm, maksud?" tanya Natasha. Sudah berulang kali Sarah menjelaskan, tapi Natasha seperti orang bodoh yang tak paham akan alur cerita disampaikan sang mama.


"Aduhh, Natasha. Kamu ini bodoh nggak ketulungan, bukannya membuat mama tenang, kamu malah membuat mama tambah stres lagi."


"Ya maaf ma, namanya orang baru bangun tidur, jadi alam sadarnya belum pada ngumpul gitu. " Menggelengkan kepala, melihat kepolosan anaknya membuat Sarah menyuruh Natasha untuk diam.


"Iyem, sekarang juga kamu angkat kaki dari rumah ini, kalau kamu tidak mau. Saya akan laporkan kamu pada pihak berwajib, karena sudah mencicipi batang singkok milik orang lain." Tegas Sarah.

__ADS_1


Nampak lelaki tua berambut putih itu seperti membaca mantra, dimana Natasha tertawa pelan dan bertanya." papah lagi baca apa?"


"Husst, papah lagi baca mantra agar setan dalam tubuh mama kamu segera keluar!"


"Lah emang mama kesurupan?"


"Enggak sih, cuman papah takut. Mama ngusir papa dari sini!"


"Bhhahhahah."


"Makanya jangan centil jadi laki, coblos sana sini, berabe kan urusannya. "


"Lah, kalau coblos sana sini itu menyenangkan tahu tidak. "


Berulang kali Natasha mengusap pelan wajahnya, dan beristigpar beberapa kali.


"Berarti papah yang kesurupan. "


"Lah, gimana ceritanya papah kesurupan, orang papah masih sadar. "


"Hatinya sadar, pikirannya kacau."


Sarah melihat obrolan anak dan suaminya kini mendekat dan bertanya, " apa yang sedang kalian obrolkan, sampai saling bisik seperti itu. "


"Ini, mah. Tadi papah bilang .... "


"Papah."


Melepaskan perlahan tangan, Rudi berusaha berdiri tegap.


"Natasha, apa yang dikatakan papah kamu?"


"Mm, papah tadi bilang menyesal telah berbuat yang tak pantas di depan mama!"


Menatap ke arah Rudi, lelaki tua itu kini menjawab." benar ma, apa yang dikatakan Natasha. "


"Menyesal, setelah masuk liang. kalau sudah tidak mana ada kata menyesal, itu juga karena ketahuan kalau nggak ketahuan, masih berlanjut mungkin," balas Sarah, dengan posisi kedua tangan yang ia lipatkan.


Natasha dan Rudi saling menatap satu sama lain. " Ya sudah mah, maafin papah."


"Idih enak saja maaf, maaf. Mama akan selalu ingat perbuatan menjijikan papah kamu dengan Iyem pembantu baru ini." tegas Sarah, membuat Rudi menelan ludah.


"Jadi besok papah urus perceraian kita, jangan lupa urus peceraian kita, oke. kalau papah tak mau, mama pastikan batang singkong milik papah itu, mama sunat untuk yang kedua kalinya, " ucap Sarah, Rudi terkejut dan memegang otong yang mengkerut miliknya sendiri.


"Mama sayang, jangan begitulah. Kita bisa bicarakan baik baik, please ya. Mam. " balas Rudi memohon mohon kepada istrinya.


Sedangkan Iyem tampak bertepuk tangan ria, karena sebentar lagi ia akan menikah dengan Rudi, lelaki tua kaya raya.

__ADS_1


"Sudah tidak ada yang harus kita bicarakan lagi, pah. Hati mama sudah benar benar sakit dengan kelakuan papah yang durjana ini, " balas Sarah, mengutarakan semua rasa sakitnya.


"Oh ya, Iyem. Kalau kamu mau, ambil saja lelaki badot ini, saya sudah tidak butuh, " ucap Sarah, menunjuk ke arah Iyem.


Tampak Natasha tak terima dengan perpisahan kedua orang tuanya, dimana kedua mata berkaca kaca. " Mama yang benar saja, nanti Natasha jadi anak indohome dong. "


Sontak lelaki tua itu menimpal, " bhahahha indohome apa Natasha?"


"Itu, anak korban perpisahan orang tuanya di sebut indohome!"


Rudi menepuk pipi anaknya. " Bukan Indohome sayang, tapi Broken Hate. "


"Lah, sudah ganti nama ya. "


"Memang namanya seperti itu. "


Melihat perdebatan anak ada suaminya membuat Sarah kini berucap. " DIAM. "


Semua menutup mulut.


"Natasha kamu jangan bodoh ya, kamu itu sudah besar, sudah dewasa," balas Sarah, menarik tangan anaknya.


"Owh ya, untuk kalian berdua, tolong angkat kaki dari sini, karena di rumah ini tidak membutuhkan orang orang sampah seperti kalian, jadi cepat KELUAR SEKARANG JUGA. "


Teriakan Sarah membuat keduanya terburu buru mengemasi barang, namun saat langkah kaki Sarah pergi dari hadapan keduanya.


Rudi kini berucap. " TUNGGU."


Sarah membalikkan badan menatap ke arah Rudi. " APA LAGI. "


"Yang harusnya keluar dari rumah ini, bukan aku atau Iyem tapi KAMU. "


Sarah mendelik kesal, " HEY APA ANDA LUPA, JIKA RUMAH INI DAN PERUSAHAAN YANG KAMU KELOLA INI, SAMUA ATAS NAMA AKU."


"APA?" sontak Rudi terkejut dengan perkataan istrinya.


"Jangan mengaku ngaku kamu, sejak kapan aku mengalihkan harta benda kepada kamu?"


Sarah kini tertawa terbahak bahak, merasa lucu dengan perkataan suaminya itu, " hey, hey. Anda ini berpura pura bodoh, apa memang sudah bodoh dari sananya. "


"Jangan berani mengatakan aku bodoh, bagaimana pun aku ini suamimu yang wajib kamu hormati. "


"Waw, pintar sekali anda berbicara. Suami seperti apa dulu, bandot tua. Sadar diri nggak sih, Halouuuuu, sudah selingkuh dan menghianati istri masih ingin dihormati, ampun deh. Situ waras. "


"Sarah."


"Apa. Masih mau berdalil bahwa seorang suami itu adalah pemimpin di rumah. "

__ADS_1


Rudi terdiam saat perkataanya mampu dibalas sang istri.


__ADS_2