Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 109


__ADS_3

"Aku belum mendapatkan suntikan dana dari kamu. " Bisik Natasha membuat Edwin mengerutkan dahinya.


"Maksud kamu apa?" tanya Edwin, tak mengerti.


"Ya dana itu tuh, " tiba tiba saja, Natasha menunjuk pada batang yang tak sengaja ia pegang. Batang itu begitu keras, membuat gelora jiwa Natasha membara.


"Astaga, aku tak sadar jika batang bisa mengeras saat sedang sakit. " Perkataan Edwin, terdengar begitu nyaring pada semua orang yang ada di sana.


"Edwin, apa maksud kamu, " tegas Lorenza, terkejut dengan perkataan Edwin.


"Itu mah, tadi liat ini apa. "


Terlihat Edwin begitu gugup saat menjelaskan sesuatu yang menyangkut paut soal batang.


"Ehh, mom, sudah matkan belum, kebetulan Natasha tadi beli pisang, maksudnya goreng. Eh. "


Ingin menyela perkataan Lorenza, Natasha malah menjadi gerogi dalam mengungkapkan perkataan di depan mertuanya.


"Kalian ini, aneh. " Ucap Lorenza.


Edwin dan Natasha mempelihatkan kedua pipi mereka yang memerah seperti malu dengan ketidak sengajaan dalam berbicara.


"Nanti anak kita cowok apa cewek ya."

__ADS_1


Lorenza yang mendengar perkataan Edwin, kini menjawab, " Edwin, anak kamu masih sebiji jagung sudah ditayakan jenis jk ya. Aneh."


"Ya elah, mom. Ngehayal boleh kan, siapa tahu cowok, biar Edwin beri nama Sarmin."


Lorenza terkejut dengan pemberian nama cucunya. " Apaan Sarmin, nggak mecing. Sudah biar mommy saja yang kasih nama anak kamu. "


Deg ....


Lorenza sepontan mengatakan hal itu, membuat kedua mata Edwin membulat, " mommy tadi bilang apa?"


" Biar mommy kasih nama anak kamu!" balas Lorenza yang membuat Edwin menghelap napas.


Perkataan dari sang mommy, menyadarkan Edwin, jika Lorenza masih ingin merasakan kebahagiaan, saat Natasha melahirkan seorang anak.


"Memang mommy salah ya, bicara?" tanya Lorenza berusaha menenangkan suasana.


Lorenza malah tersenyum tipis, dan berkata, " cie kalian pada penasaran dengan jawaban mami ya. "


"Mami, mami bikin papih penasaran aja. "


"Sudahlah papih, nanti mami kasih tahu kalau sudah waktunya. "


"Yang benar ya, awas kalau bohong dan nggak ngasih tahu. "

__ADS_1


"Siip."


Edwin berusaha tetap santai, tidak mempelihatkan kesedihannya, karena ia tahu jika dirinya bersedih, Natasha akan bertanya.


"Mommy ingin melihat kalian itu bahagia, tahu tidak."


Edwin mendengar ucapan orang tuanya, kini mejawab, " bukan mommy saja yang mengiginkan seperti itu, Edwin juga ingin melihat Mommy bahagia dan masih ada di sekeliling kita."


Deg ....


Perwira mengerutkan dahi, setelah mendengar hal yang diungkapkan oleh anaknya.


"Edwin, kamu ini bicara kok ngawur gitu, kaya mommy ingin meninggalkan kita diwaktu yang cepat. "


Lorenza berusaha mengalihkan suasana agar Perwira dan Natasha tak curiga, jika Lorenza sudah menjadi pedonor untuk anaknya.


"Memang, Edwin kalau bicara suka ngawur, makanya mommy kadang pengen jewer tuh kuping anak kamu satu satunya. "


Edwin tahu apa yang dirasakan sang mommy, saat itu. Ia hanya menatap sekilas dan memalingkan wajahnya lagi.


"Ya sudah kalau begitu, mommy dan Daddy mau pulang dulu, kebetulan di kantor banyak urusan, " Lorenza berusaha membuat alasan agar tak ada lagi pertanyaan pertanyaan yang membuat Perwira menduga duga.


"Mommy, bukannya Daddy sudah pergi ke kantor, untuk apa sekarang pergi lagi ke kantor. "

__ADS_1


Lorenza kembali menarik tangan suaminya, beberapa kali mengedipkan mata untuk keluar dari ruangan anak satu-satunya itu.


"Ayo keluar sekarang juga. "


__ADS_2