
"Huuuh, haaaa. Huhhh. "
"Papih ini kenapa?"
"Mami, papih lagi sedih, masa mami nggak
ngerti!"
Lorenza mengerutkan dahinya, setelah mendengar suara tangisan dari mulutnya yang ia rasa cukup aneh.
"Papih, nangis kaya orang yang mau melahirkan tahu nggak?"
"Masa, perasaan nada menangis kaya begini, huuuu, huuuuu. Bukan hihihihi. "
Melihat wajah Perwira yang memprakterkan cara menangis membuat Lorenza tertawa, " bhahhaha, kaya kunti kejepit nyayut. "
"Apaan nyayut?"
"Itu kepunyaan papah!"
Sontak Perwira menutup kembali batang yang terlihat mengeras, ia memukulnya dan berkata, " heh, bukan waktu yang tepat. "
"Kenapa, pah?"
Menggaruk belakang kepala, " ahk, nggak tadi ada kesalah pahaman!"
"Mm, kesalahpahaman, apaan sih?"
"Sudah, mama nggak usah pikirin, hanya papah yang tahu!"
"Idih, papih nggak jelas. "
Natasha mulai masuk ke dalam ruangan, ia menundukkan pandangan merasa bersalah pada ibu mertua.
Sarah yang berada di samping Natasha kini berbisik, " ayo, cepat katakan."
__ADS_1
"Iya mah. "
Natasha perlahan berjalan melangkahkan kaki, mendekati Lorenza yang terbaring lemah di atas ranjang tempat tidur.
"Natasha, mau minta maaf sama mommy, karena sudah menyakiti hati mommy. "
Lorenza tersenyum, meraih tangan sang menantu.
"Mommy sudah memaafkan kamu sayang, sudah jangan bahas hal yang tadi, sebaiknya kamu cepat temui Edwin, kemungkinan dia sudah siuman. "
Natasha lupa jika Edwin sendirian di ruanganya, ia berpamitan pada Lorenza, " ya sudah, Natasha pergi dulu. "
Setelah melangkahkan kaki, untuk keluar dari ruangan sang ibu mertua, Lorenza kini memanggil. " Natasha tunggu."
Natasha membalikkan badan, menatap ke arah Lorenza," iya mom, kenapa?"
"Tolong jangan bilang bilang pada Edwin, mommy sudah menjadi pendonor! Untuk saat ini."
Natasha menganggukkan kepala, ia tahu jika Edwin akan marah besar jika sang pendonor itu adalah ibu kandungnya sendiri.
"Baik mom. "
Sampai di ruangan Edwin, Natasha mengintip di jendela luar ruangan, ia melihat Rudi sang ayah sedang menemani Edwin.
Perlahan masuk ke dalam ruangan, " Papah. "
Rudi tersenyum tipis, ia berdiri, " dari mana saja kamu Natasha? Membiarkan suamimu sendirian. "
"Tadi ada urusan mendadak!"
Rudi kini bangkit dari tempat duduknya, " ya sudah papah pulang dulu, Edwin semoga cepat pulih. "
"Iya, pah. Terima kasih."
Natasha duduk, menatap ke arah suaminya, " dari mana saja kamu?"
__ADS_1
"Ee, maaf tadi aku ada urusan mendadak!"
Perlahan Edwin menatap ke arah istrinya, " urusan apa?"
"Itu anu, ee. "
"Apa kamu sudah tahu siapa pendonor itu?"
Deg ....
Natasha mengangkat kepalanya, ia melihat ke arah Edwin, terlihat lelaki itu bersedih.
"Apa yang kamu pikirkan sekarang?"
"Tidak ada?"
"Sepertinya kamu sudah tahu si pendonor itu?"
"Ahk, aku tidak tahu!"
Natasha berusaha berbohong di depan Edwin, ia tak mau jika Edwin tahu yang sebenarnya.
"Jangan berbohong, padaku. "
"Aku tidak berbohong padamu sama sekali. "
"Kalau memang kamu tidak berbohong, kenapa kamu terlihat begitu takut mendengar perkataanku?"
Edwin terlihat berbeda, ia sedikit menekan Natasha untuk mengatakan siapa yang sudah menjadi pendonor.
"Aku tidak boleh mengatakan jika Mommy adalah pendonor yang sebenarnya. " Gumam hati Natasha, berusaha menutupi semuanya demi kesehatan sang suami.
"Sebenarnya."
Belum perkataan Natasha terlontar Edwin kini berucap, " Mommy kah yang menjadi pendonor itu?"
__ADS_1
Deg ....
Mengerutkan dahi, terkejut dengan perkataan Edwin. " Dari mana Edwin tahu? Apa mommy sudah mengatakannya dari awal? Apa yang harus aku katakan sekarang padanya?"