Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Lorenza kenapa?


__ADS_3

Masuk ke dalam ruangan sang istri, dimana ia menerobos saat orang orang berkumpul didepan pintu ruangan istrinya.


"Lorenza."


Perwira melihat istrinya berbaring di atas kasur dengan memegang sebuah iPad di tangannya, wanita itu tersenyum dan berkata, " Kenapa?"


Mendekat ke arah sang istri, karena takut terjadi apa-apa, Perwira kini memegang kedua bahu istrinya, " Kamu tidak kenapa kenapa kan?"


Pertanyaan Perwira membuat Lorenza mengerutkan dahinya, karena tiba-tiba saja sang suami bertanya seperti itu, " Memangnya aku kenapa!"


Menghembuskan napas, Perwira memegang kedua pipi istrinya, " Aku kira kamu kenapa-napa, makanya aku berlari."


Lorenza tersenyum setelah mendengar rasa khawatir yang dilayangkan oleh suaminya, Iya kini memegang kedua tangan Perwira, " kamu ini terlalu berlebihan. "


Air mata yang sengaja ditahan oleh Perwira, kini menetes kembali mengenai kedua pipinya, Lorenza yang melihat hal itu perlahan, mengusap Air Mata sang suami. 


"kenapa menangis," pertanyaan Lorenza membuat Perwira ingin sekali memeluk sang istri, namun apa daya,  banyak alat yang menempel pada tubuh istrinya itu. 


Perlahan Perwira melepaskan tangannya, ia mengusap kasar air mata yang terus mengalir mengenai kedua, mengangkat wajah ke arah langit-langit, " Ahk, kenapa mataku ini. "


Lorenza tersenyum dengan perhatian suaminya, " Perwira, apa yang kamu takutkan?'

__ADS_1


Perwira berusaha tetap tenang, ia tak mau menjadikan semua menjadi beban untuk sang istri, jika Perwira terus memperlihatkan kesedihannya. 


"Aku takut akan kematian. "


Deg ….


Siapa yang tak menduga jika perkataan sang suami mampu membuat hati Lorenza berdetak begitu cepat. 


"Lorenza."


Perwira sini memegang kedua tangan istrinya, dan berkata, " aku belum siap kehilangan kamu."


" Kenapa harus takut dengan kematian, semua sudah diatur oleh sang Maha Kuasa, jodoh mati, tinggal kita ikhlas dan selalu berprasangka baik menjalankan semua kehidupan yang kita lalui. "


" Aku sudah tahu akan hal itu, tapi aku belum benar-benar siap. Kehilangan kamu. "


" kamu harus tenang, karena saat aku tidak ada, perlahan-lahan Kamu tidak akan merasakan kehilanganmu."


Air mata itu kini menetes kembali, membuat Perwira tak bisa menahan isak tangis. Sampai akhirnya Lorenza berucap, " kamu harus kuat dan juga tegar, masih ada orang yang harus kamu bahagia setelah kepergian."


Perwira memegang bibir pipis milik istrinya, " Jangan pernah katakan hal itu, aku yakin kita akan bisa membahagiakan anak kita bersama-sama. "

__ADS_1


Perkataan perwira hanyalah harapan kosong,  Lorenza tak  ingin berangan-angan, Ya sudah cukup merasakan semuanya. 


Sampai salah satu suster datang memberikan sebuah surat untuk dibaca oleh Lorenza. 


" Maaf sebelumnya saya lancang masuk ke dalam ruangan ini, " ucap sang suster memberikan sebuah senyuman di hadapan Lorenza.


Dimana Lorenza merasa aneh." Memangnya ada apa? Kenapa kamu memberikan sebuah surat kepada saya?"


Pertanyaan Lorenza membuat Suster itu kini menjelaskan Siapa yang sudah memberikan surat itu kepada Lorenza.


" yang memberikan surat itu adalah suster Ina, dia berpesan kepada saya untuk memberikannya kepada nyonya. "


Lorenza menatap ke arah pintu kamarnya," Kenapa tidak suster Ina saja yang langsung memberikan surat itu?"


" sebenarnya suster Ina sedang dirawat."


Siapa yang tak terkejut dengan hal itu, Lorenza sangatlah nyaman dengan suster Ina, sampai ia membuka surat yang diberikan sang suster.


Perlahan membuka surat itu. Betapa terkejutnya Lorenza, kedua matanya membuat, begitupun dengan mulut yang terbuka lebar.


Ia berusaha menutup mulutnya itu dengan telapak tangan.

__ADS_1


__ADS_2