
" Alhamdulillah sekarang keadaanku baik, bagaimana keadaan mommy?"
Perwira tak menyangka, jika anaknya akan bertanya tentang keadaan sang mommy.
Lelaki tua yang menjadi ayah Edwin hanya diam membisu, dimana anak satu-satunya itu mulai bertanya lagi, " Dad, Kenapa Daddy malah diam saja?"
"Sebenarnya!"
Perwira begitu ragu mengatakan kejujuran di hadapan anaknya, " mommy kamu?"
" Kenapa orang-orang di sini begitu takut mengatakan kejujuran tentang keadaan mommy, sudahlah katakan saja bagaimana keadaan mommy sekarang, Edwin sudah tahu kalau pendonor itu adalah Mommy."
Perwira membulatkan kedua matanya, masih tak percaya dengan perkataan yang terlontar dari mulut anaknya.
" Jadi Kamu sudah tahu semuanya? Lantas kenapa mommy tidak boleh memberitahu soal ini?"
"Karena dari awal Edwin tidak setuju dengan rencana mommy, menjadi pendonor! Edwin sempat menentang, tapi mommy bersikukuh. "
Perwira tak tahu jika hal ini akan terjadi, ia juga menyesali semua yang dilakukan Lorenza, dan tak pernah berfikir jika istrinya rela melakukan hal yang malah membuat hidupnya kini menderita.
"Daddy juga menyesal pada diri Daddy, saat mommy kamu mengatakan perpisahaan, Daddy tak berpikir kearah sana."
Air mata menetes kembali, sekarang begitu penuh duka dan juga kesedihan.
Natasha lalu mendekat ke arah ayah mertua dan juga sang suami, " semua tak usah di sesali, sebelum terlambat, sekarang kita hanya bisa membuat mommy bahagia di masa masa hidupnya."
Perwira mengusap air mata dengan jari tangan, ia menatap ke arah menantunya, " benar apa yang kamu katakan Natasha. "
Sarah perlahan mendekat merangkul bahu anaknya, " ini baru anak mama. "
Senyuman dilayangkan Natasha, " semua juga berkat didikan mama. "
Perawat yang masih sok, duduk, ia mengusap ngusap wajahnya. " kenapa ada penampakan iroman, yang menonjol."
Rudi kembali lagi ke ruangan Edwin, ia ingin menemui istrinya, dimana Rudi melihat perawat itu seperti syok berat.
"Iromen. Iromen menonjol. "
Mendengar perkataan sang perawat yang berulang kali di lontarkan, membuat Rudi mengerutkan dahi, ia kini menyapa perawat itu.
"Mbak, mbak. "
Perawat itu langsung terkejut, memalingkan wajah dengan badan bergetar ketakutan.
"Mbak, kenapa?"
"Jangan mendekat, aku takut dengan iromen. "
Perawat itu berdiri, pergi dari hadapan Rudi dengan berlari, mengatakan, " jangan iromen aku belum siap. "
Rumah sakit ini benar benar aneh bagi Rudi, karena melihat seorang perawat yang terlihat seperti orang gila.
"Apa maksud dari iromen ya. "
__ADS_1
Masuk ke dalam ruangan Edwin, Rudi sudah melihat orang orang berdiri dan mempelihatkan raut wajah sedih mereka. " Tumben kumpul. "
Sarah mendekat ke arah suaminya, " papah kemana saja?"
Rudi mengerutkan dahi, " justru papah yang tanya sama mama, mama dari tadi papah cariin nggak ke temu temu. Papah itu tadi nungguin Edwin sendirian di sini. "
"Yang benar pah. "
"Masa papah bohong, tanyain sama menantu dan anak kamu itu. "
Sarah mulai menatap ke arah anak dan juga menantunya dan bertanya, " benar nggak apa yang papah kalian katakan. "
Natasha kini menganggukkan kepala, dimana Edwin menjawab, " benar mah, papah dari tadi nungguin Edwin. "
Memajukkan bibir, dimana Sarah kini berucap, " biasa aja kali pah, jangan kaya ikan ****** gitu. "
"Hah."
Rudi, memegang bibirnya, " masa ia bibir seksi gini kaya ikan ******, mamah jangan ngaur kalau bicara, seksi gini. "
"Bahhaha, seksi. Udah kaya di gigit sarang tawon."
Natasha kini memegang bibirnya merasa jika hinaan sang mama seakan tertuju padanya.
"Mama."
Membalikkan badan, " kenapa Natasha. "
"Mama ini lupa apa, bibir Natasha tebal. Nggak jauh beda sama papah. "
"Idih, nggak jelas banget mama. "
Rudi mulai membahas tentang perawat yang terlihat syok tadi.
"Oh ya, tadi papah pas mau masuk ke sini lihat perawat rumah sakit kaya syok gitu?"
"Syok, maksud papa. Syok gimana?"
Pertanyaan Rudi, membuat Sarah tak mengerti.
"Ya dia, dari tadi itu kaya orang trauma gitu, ngomongnya iromen keras, ah ah. "
"Masa iya ada ah ah. Ngaur papah ini. "
"Nggak sih mah, cuman papah tambahin aja kosi katanya, biar seru. "
Natasha kini menimpal obrolan kedua orang tuanya," Iromen. Itukan. "
Natasha menunjuk ke arah ayah mertuanya, " Daddy. "
Edwin berusaha tetap tenang, ia menurunkan telunjuk tangan istrinya. " Natasha, kamu "
"Eh aku lupa. "
__ADS_1
Rudi semakin penasaran, " kenapa emangnya sama si Perwira ini. "
Rasa malu masih melekat pada diri Perwira, berulang kali ia mengusap keringat yang terus bercucuran.
"Ee, begini ya. Bagaimana kalau kita bahas yang lain. " Ucap Edwin, berusaha menyelamatkan sang ayah dari rasa malu karena kejadian tadi.
Sedangkan Sarah, menarik tangan suaminya keluar dari ruangan. " Ayo pah, kita pulang. Biar Natasha yang menunggu Edwin. "
"Mama, papah belum selesai bicara loh, malah tarik tarik tangan papah, kenapa sih sebenarnya. "
"Ee, tidak kenapa kenapa kok. Pah, hanya saja. "
Sarah tak bisa menjelaskan semuanya dengan detail karena jika dijelaskan rasanya akan memalukkan.
"Sebaiknya kita pulang ya. Pah."
Sarah kembali menarik tangan suaminya. " Tunggu, jangan tarik tarik begini. Coba jelaskan yang benar mama. "
Memijat kepala, " aduh gimana ya, mama bingung sekali menjelaskannya. "
"Bingung kenapa mah?"
"Sudahlah nanti di rumah saja!"
Mereka berdua masih memperdebatkan masalah tentang iromen, dimana Perwira keluar.
"Eh, pas sekali ada orangnya. Pasti Perwira ini tahu kan tentang Iromen. "
Kedua pipi lelaki tua itu memerah, " apa maksud kamu, aku nggak mengerti. "
"Hey, brow. Nggak mengerti bagaimana. Kamu pura pura apa memang malu, ayolah kita kan sesama lelaki , ya. Terbukalah, intinya jangan malu malu. "
Merangkul bahu Perwira, membuat Sarah berusaha menarik kembali tubuh suaminya.
"Rudi, ayolah pulang. Ngapain kamu bahas tentang hal yang tak penting. "
Rudi melepaskan rangkulan tangannya yang merangkul bahu Perwira. " Mama, hal yang tak penting bagaimana, papah hanya ingin mendengar penjelasan yang sesungguhnya. "
Sarah tampak pusing dengan suaminya yang bersikukuh ingin tahu masalah iromen.
Rudi kini mendekat lagi pada Perwira, " hey, brow ayolah katakan. Soalnya tadi Natasha nunjuk ke arah kamu Perwira. Oh ya, Perawat tadi seperti tercandu candu loh, karena iromen itu. "
Mendengar Rudi terus bertanya dan ingin tahu masalah yang terjadi, dengan terpaksa Perwira mulai memberanikan diri mengungkapkan semuanya.
"Karena kamu ingin tahu dan penasaran, ya sudah aku tunjukkan sekarang juga. "
Siapa yang tak terkejut akan hal itu, Sarah berusaha menahan Perwira agar tidak melakukan hal memalukkan.
"Papah ayo kita pulang, sudah stop jangan bikin mama emosi. "
"Ya elah mah, sebentar saja dulu, papa penasaran apa yang akan di tunjukkan si Perwira ini. "
"Aduhh, jangan deh, please ya pah. Yuk Pulang. "
__ADS_1
Rudi tak mendengarkan perkataan istrinya, sampai dimana ia berucap, " ayo Perwira tunjukkan. "